"Haha, bullshit banget!"
"Idih, serius!" Lusy menendang b****g Rio, kesal karena temannya itu tak percaya. Mereka baru saja pulang dari swalayan karena mendadak Lusy meminta Rio untuk mengantarkannya untuk membeli bahan-bahan kue. Padahal Rio masih berada di mall dan gadis annoying itu meneleponnya, katanya, Lusy kemarin dipalak sama anak kecil, jadi dia tidak berani pergi ke swalayan lagi.
"Ah, kalau pengin dianter cowo maskulin mah bilang aja, nggak usah ngeles anak kecil malak lo segala!"
Mereka tiba di depan rumah Lusy dengan keadaan basah karena tak sempat berteduh saat hujan. Jadi kini Rio hanya menaruh belanjaan Lusy di atas meja teras rumahnya.
"Gue pulang, ya! Baju basah nih, lo nggak mau minjemin baju sih." Rio pura-pura merajuk.
"Kamu mau pake baju cewek?" Lusy mencibir. "Eh iya, makasih banyak, ya. Hujan-hujanan gini kita kaya dua tokoh utama di novel horor, deh!"
"Apaan maksud lo?"
"Sebagai pocong dan kuntilanak yang kehujanan," jawab Lusy sambil cengengesan.
Rio cuma berdecak dongkol menanggapi leluconnya. Tetapi omong-omong, pikirannya mendadak penasaran dengan Lilith. Gadis itu sedang bersama Abimanyu dan sore ini hujan. "Dia berlindung di bawah atap apa berlindung di bawah hujan, ya?"
"Huh?" Lusy mendengar gumaman Rio.
Lelaki itu cuma menggeleng dan berbalik untuk pulang. Namun, terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah Lilith, hanya berjarak tiga rumah dari rumah Lusy.
"Rio!" panggil Lusy, ia lantas mensejajari Rio yang tak menjawabnya. Jadi Lusy sengaja bilang, "Kak Lilith nggak berlindung di keduanya, melainkan di balik punggung kekasihnya. BWAHAHAHAHA!"
Rio terlonjak kaget karena suara tawa Lusy yang mendadak membahana. "Beneran mirip kunti lo! tawanya nggak etis banget!" gerutu Rio. "Minjem payung, dong!"
"Buat apa? kan kamu usah basah kuyup begitu."
"Buat mayungin pohon kelapa, ya buat payungan gue lah biar nggak basah!"
Namun Lusy kembali ke dalam setengah berlari dan kembali membawa payung hitam. Setengah tersenyum laknat, Lusy menyodorkan payungnya, "Nih, Yo! Pasti buat mayungin hati kamu biar nggak basah, ya?"
Rio berdecak lagi. Ia menatap payung hitam itu dan setengah ngedumel, "Nggak ada payung lain? harus banget warna hitam nih? Kaya mau ke makam aja gue!"
"Kamu kan lagi berduka, hatinya gugur lagi! BWAHAHAHAHA!"
Lagi, tawa Lusy begitu nyaring dan membuat Rio kembali terlonjak hingga ia membuka payung tersebut dan berjalan untuk pulang.
x x x x x
Sesampainya di rumah, Lilith tak mengatakan apapun lagi pada Abimanyu. Lelaki itu segera menarik gasnya dan pulang. Jadi Lilith segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Matahari sudah larut lima belas menit lalu. Lilith mengecek ponselnya sebelum mengisi daya dan bersiap mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah. Ia mendapat pesan dari Gerio Bahtera.
Bahtera: Bisa nggak nanti malam? lo kayanya tadi pulang kehujanan, kali aja malesn keluar habis ba'da isya.
Maka Lilith segera mengetikkan balasan.
Lilith: Bisa, kok. Kalau nunggu habis isya kelamaan nggak sih? Kalau lo nggak terlalu sibuk, habis ba'da maghrib aja, Ini gue mau sholat sebentar. Kalau iya lo ke rumah gue, ya?
Setelah itu Lilith mengecek chat room-nya dengan Abimanyu. Lelaki itu sedang aktif namun tidak mengirimi pesan. Well, setidaknya Lilith perlu ditenangkan setelah kejadian barusan.
Lilith lantas segera sholat sebelum Mama masuk kamar dan menemukannya masih bermain ponsel. Tak lama, hanya lima menit dan berdoa, ia mengharapkan yang terbaik. Untuk keluarganya, untuk hubungannya, untuk kelancaran ujiannya, juga untuk rezekinya. Tak lama setelah itu, Mama mengetuk kamar Lilith dan masuk.
"Tamu, tuh!" katanya. "Kamu mau ke mana sih?"
Ia pikir Rio menyetujuinya. Jadi Lilith segera melepas mukena dan melipatnya kembali. "Mau nemenin Rio nyari sesuatu buat Tante Tari."
"Oh, rame amat!"
"Huh?"
Lilith tidak paham dengan ucapan mamanya. Sebelum dia menanyakan lagi, Wulan sudah melenggang pergi dan Lilith baru menyadari ketika ia turun ke bawah. Di ruang tamu sudah ada Rio, Abimanyu, serta Lusy.
"Apa-apaan, nih? Kok mainnya keroyokan?"
"Mereka mau ikut katanya," ujar Rio.
Lalu Lusy menambakan, "Soalnya Kak Abimanyu ikut, karena tadi Rio udah nganter aku, jadi aku mau ikut nolongin Rio."
"Nolongin nyari hadiah buat mamanya?" tanya Lilith.
"Nggak, nolongin biar nggak jadi obat nyamuk aja." Lantas Lusy mengedipkan sebelah matanya kepada Rio.
To be continued...