Rio sedang melakukan video call dengan Lilith untuk memilih barang apa yang sekiranya akan mereka beli untuk hadiah mamanya.
"Kalau lo nggak keberatan, parfum aja gimana? Mama lo suka aroma kaya apa?" usul Lilith. Tampak gadis itu sedang berada di sebuah kafe di seberang sekolah mereka dengan Abimanyu.
"Duh, gue nggak tahu aroma favorit Mama gue." Sementara Rio menunjukkan ekspresi kebingungan. "Tas aja kali, ya?"
"Loh, masa lo nggak tahu, sih? Biasanya mama lo kalau habis mandi atau lagi dalam momen apa gitu, suka wangi aroma parfum gitu nggak? jangan bilang bau bumbu dapur kalau lo nggak mau jadi Malin Kundang!"
Rio tertawa di sana. "Aroma bedak bayi sih yang sering gue cium, aromanya Dara." Dara adalah adik Rio yang berusua satu tahun dan baru saja bisa berjalan.
"Kalau parfum, gue saranin aroma lavender atau aroma sea salt gitu sih, soalnya bisa buat aroma terapi juga, secara orang tua pasti butuh aroma kedamaian setelah seharian ngurus anak-anaknya. Apa lagi lo cukup bikin orang tua darah tinggi, kan?" Abimanyu mendadak muncul di frame ponsel Rio bersama Lilith.
Rio mendengus. "Mana ada, yang ada gue ini anak tetangga banget karena nggak pernah dibanding-bandingin kaya lo. Iya, iya, gue tahu setelah kemarin kita dapet skor sama, gue denger lo dongkol karena diejek Lusy nggak bisa menandingi skor gue, kan?"
Abimanyu berdesis. "Kalau deket rasanya gue pengin banget nimpuk bola basket ke kepala lo!"
Lilith mengambil alih ponselnya dan kembali bericara dengan Rio. "Lo pulang deh, nanti gue mau main ke rumah lo, sekalian bantuin persiapan arisan komplek dan kepo dikit-dikit, malemnya gue bisa nemenin lo buat beli hadiah buat mama lo."
Rio mengangguk-angguk. "Well, good idea, sis!"
Lilith tampak berdecak karena Rio sudah mengganggu kencan mereka dan gadis itu memutuskan untuk memutus sambungan video call-nya.
Setelah itu, di Kafe Ruby, Lilith dan Abimanyu berada di tengah, di samping dinding kaca. Lilith sesekali melihat ke jalanan seraya menyeruput green tea. Sementara itu Abimanyu tampak susah payah menelan ludah setiap kali pandangi penampilan Lilith. Gadis itu tumbe banget memakai dres berwarna peach dengan motif floral di bawahnya dan menggunakan kardigan wol berwarna mocca. Lilith juga mengenakan topi bundar yang terlihat sangat santai yang senada dengan motif floral dari dressnya.
"Kamu tumben banget punya selera berpakaian yang bagus, biasanya pakai celana sama kaos biasa gitu," kata Abimanyu.
Lilith menatapnya heran, "Aku terpaksa pakai dres ini karena semua celanaku belum garing, tau!" Lilith menunjukkan kardigannya. "Ini aku pakai karena dress-nya lengan pendek."
"Terus topinya? kaya lagi dipantai aja!" Abimanyu terkekeh. "Pasti nggak mau kepanasan, kan?"
"Kamu tahu, aku lebih suka hujan. Sayang banget hari ini nggak hujan."
"Kalau hujan terus nanti Jakarta banji lagi, Lith!"
"Tapi kan ini di Yogya, Manyuuu!"
"Celana kamu belum garing, kan?"
Lilith kalah telak, ia akhirnya tertawa dan tanpa sadar minumannya telah tandas. Lilith mengerling ke arah ice coffe latte milik Abimanyu yang masih penuh. Mengerti bagaimana antusias sang pacar dengan segala hal tentang es, Abimanyu lantas menyodorkan gelasnya untuk Lilith. "Kalau sakit gigi aku nggak tanggung jawab, ya?"
"Tenang, lagi pula kalau aku sakit gigi larinya nggak ke kamu, kok," kata Lilith.
Abimanyu mengernyit. "Terus ke siapa? Ke Gerio Bahtera?"
Lilith tertawa. "Apaan, sih, jelas ke dokter gigi lah. Oh iya, mumpung minuman belum habis, kamu mau ngomong apa?"
"Aku mau nerusin di IT Bandung, Lith," ujarnya. Lantas menatap Lilith dengan serius. "Kita bakal jadi LDR, kayanya. Aku agak bingung sama kamu."
"Kenapa bingung sama aku?" Lilith tersenyum masam. Fakta bahwa mereka akan berhubungan LDR cukup membuat hati Lilith sakit. Bagaimana pun, mereka tidak terbiasa bersama dan Lilith paham jika Abimanyu bukan tipikal yang bisa menjalin hubungan jarak jauh. Lilith terlalu mencintai Abimanyu untuk waktu yang sangat lama.
"Bisa nggak, ya?" tanya Abimanyu ragu, seolah-olah pertanyaan yang ingin ia lontarkan bakal jadi sembilu bagi keduanya.
"Perasaan kamu bagaimana, Bi?" Lilith menyembunyikan tangannya di atas pangkuan.
"Masih sama kaya dulu. Aku masih selalu menyayangi kamu. Aku merasa nggak bisa pisah dari kamu. Tapi, jalan yang kita pilih berbeda."
Lilith mengerti. "Kalau begitu, jangan jadikan hubungan kita sebagai penghalang buat mimpi kamu. Kamu bisa percaya kalau aku di sini bakal setia buat kamu. Kamu juga bisa meyakinkan aku kalau kamu bakal setia di sana. Kita masih bisa komunikasi, kan? Kamu bisa telepon atau video call aku kapan aja."
Abimanyu mengangguk. Namun tampaknya itu bukan masalah utama. Lilith perlahan merasa kegetiran di dala sudut hatinya. Perasaan curiga itu terus saja berada di sana dan membuat perutnya merasa tak nyaman. Jadi Lilith memberanikan diri untuk bertanya, "Apa lagi masalahnya, Bi?"
Namun Abimanyu segera menatap Lilith dengan tatapan yang tak bisa membohongi saat ia menjawab, "Nggak, kok, nggak ada. Ya sudah, yuk, pula—"
Lilith segera mencengkeram lengan Abimanyu kala lelaki itu meraih kontak motornya dan hendak berdiri. Lilith harus menyelesaikannya di sini atau dia akan selalu merasa bad mood jika kegundahannya belum terselesaikan.
"Sebentar," Lilith menarik Abimanyu untuk duduk kembali. "Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Apa kamu cemburu sama kedekatan aku dengan Rio?"
Abimanyu terbelalak. Namun ia berusaha menetralkan ekspresinya. "Enggak, kamu udah pernah bilang kalau nggak mungkin kamu suka sama Rio karena dia adik kelas kamu."
"Kamu yakin? Bukankah cinta tidak memandang usia? Rio akan semakin tumbuh nyusul aku. Dia akan semakin dewasa. Kamu yakin kamu nggak cemburu sama dia?"
Raut Abimanyu mendadak tidak enak. "Lantas mau kamu apa kalau aku bilang aku selalu cemburu sama dia? Bahkan semenjak awal kita pacaran, aku tahu Rio saat itu masih kaya anak kecil yang nggak pantes buat kamu. Tapi aku tahu, Rio sebenarnya cinta sama kamu. Aku bisa tahu dia tertarik sama kamu udah sejak lama. Bahkan mungkin sebelum aku dan kamu pacaran."
Lilith tak bisa membungkam fakta itu. Di beberapa kesempatan, dahulu saat Rio masih memasuki bangku SMP, dia beberapa kali pernah mengakui perasaannya kepada Lilith. Rio bilang, dibalas atau tidaknya sebuah perasaan, dia tidak ingin menjadika perasaannya yang terpendam itu menjadikannya sesal di kemudian hari. Namun Lilith tak mengatakan apapun pada Abimanyu.
"Ya, tetapi Rio tahu kalau aku pacar kamu dan Rio paham cinta seseorang itu nggak bisa dipaksa. Bahkan—"
"Bahkan apa, hm?" Abimanyu menyela. "Bahkan kalau dia hari ini bakal ngungkapin perasannya ke kamu? Kamu tahu nggak, Lith? bahkan kalau kamu sudah menolak dia, bukan berarti patah hatinya bikin dia melupakan kamu gitu aja."
Lilith tercekat. "Yang punya perasaan ke aku kan dia, ya aku nggak bisa ngelarang dia buat jatuh cinta sama aku. Salah ya orang jatuh cinta?"
Abimanyu tertawa masam. "Nggak kok, nggak salah. Yang salah karena kamu kaya memberi harapan palsu buat dia, dan dia masih berharap sama kamu. Itu yang ganggu aku!"
"Aku nggak memberi harapan palsu, kok," Lilith mencoba membela dirinya. Ia berusaha mengecilkan oktaf suara agar pelanggan lain tak mendengar percakapan panas mereka. "Dia juga nggak berharap apapun dariku. Dia tahu posisinya kok, Bi. Rio tahu kalau aku cuma nganggap dia sebagai saudara. Toh, bukannya udah kewajiban aku kalau aku terkesan baik ke dia? Apa mau kamu aku ngejauhin Rio hanya karena dia punya perasaan ke aku? Terkesan ggak adil banget, ya? Kalau begitu, orang-orang nggak ada yang mau jatuh cinta kalau sebuah penolakan nggak bisa diperbarui dengan persahabatan?"
Jelas sekali, Lilith bisa melihat mata Abimanyu penuh amarah, namun seperti yang Lilith tahu, lelaki itu mencoba menahan lukanya. "Kamu yakin, Sayang? Kamu yakin bia ngehandle perasaan kamu? Apa kamu lupa dulu berapa kali kamu tertarik sama cowok lain dan mulai selingkuh dari aku?" Abimanyu mendengus muak. Lilith mengakui ia telah bersabar sepanjang waktu bahkan ketika Lilith berselingkuh dulu. Abimanyu sudah banyak bertahan di atas luka karena mencintai Lilith. Saking sedihnya, Abimanyu pernah nyaris meneteskan air mata karena takut cerita indah mereka hanya bertahan sekejap saja. Namun, Abimanyu tak segera memutuskan Lilith saat itu. Ia justru mengatakan jika dia akan selalu ada bila Lilith dipatahkan hatinya, Abimanyu akan selalu menjadi tempat Lilith pulang.
Lilith sendiri tak mampu menyangkal dan berkutik jika Abimanyu sudah mengungkit masalah tersebut. Jadi ia hanya bisa terdiam saat Abimanyu menariknya untuk pulang. Lihat? Bahkan dalam lingkar amarah lelaki itu, Abimanyu tak membiarkan Lilith pulang sendirian. Lilith percaya, jika dalam pertengkaran seperti ini, kebanyakan lelaki akan meninggalkan gadisnya. Bagaimanapun, perselingkuhan sebenarnya tak patut dimaafkan. Namun Abimanyu memang lelaki dengan kesabaran yang tiada batas.
Hingga ketika Lilith sudah berada di atas motornya. Cuaca yang mulanya panas mendadak mendung. Ah, benar, prediksi cuaca bahwa sore ini akan turun hujan. Lantas tak lama rintik mulai mengetuk kaca helm Abimanyu dan Lilith. Selayaknya perasaan mereka yang sama basahnya, hujan kian deras. Ketika pengendara motor lain memarkirka motornya di pinggir jalan guna mengenaka mantel hujan atau sekadar bertenduh di halte dan di bawah naungan pohon, Abimanyu justru menerobos hujan. Perasaan dinginnya mendapat dekapan hangat dari lengan Lilith yang melingkar di perutnya dengan erat. Namun samar-samar, di balik punggung dan di bawah guyuran hujan, Abimanyu merasakan isak tangis kekasihnya. Sementara perkataan maaf yang Lilith uraikan teredam oleh gemuruh hujan.
To Be Continued...