Skor akhir mereka sama. Agak mengejutkan. Namun Hal itu cukup membuat kesal lantaran di sekolah Lusy sering datang cuma untuk menggoda Abimanyu seperti, "Eheii! masa kakak kelas kalah sama adik kelas, sih?" Lusy lantas mengibaskan rambutnya dan berkata dengan percaya diri, "Ternyata skil itu nggak bisa dilihat dari usia, ya?"
Abimanyu yang geram pun membalas, "Bukan kalah, ya! kami seri!"
"Ah sama aja kalah, kan Kak Abimanyu kapten basket, masa kalah sama tim amatir?"
Di kantin itu, Danis menepuk-nepuk d**a Abimanyu dan diminta untuk bersabar. "Adik kelas kaya Lusy berbakat bikin kakak kelas darah tinggi, ingat man, Lilith udah nganggep Lusy kaya adiknya sendiri. Kalau dia nangis pasti ngadu ke Lilith dan lo nanti diputusin, mau?"
Abimanyu terkekeh. "Kayanya pacar gue nggak segitunyan juga, sih." Sejujurnya Abimanyu ingin sekali menjewer telinga Lusy saat gadis itu menjulurkan lidah padanya, sayangnya, ia lebih ngeri karena Lusy seperti aibnya yang berjalan. Bagaimana pun, gadis itu memiliki rahasia Lilith dan Abimanyu.
"Pergi sana, Lus! Dari pada akunmu aku hack terus nggak bisa main game lagi, mau?" ancam Abimanyu pada akhirnya dan membuat Lusy merengut sambil berdiri membawa kotak bekalnya yang telah ia habiskan. Benar, jadi Lusy duduk bersama mereka hanya ingin menggoda Abimanyu habis-habisan.
"Dasar kelinci, wleee!" Lusy lalu melenggang pergi dari sana.
"Lo ada dendam apa deh sama tuh anak?" tanya Danis, melanjutkan menyantap baksonya.
"Nggak tahu, akhir-akhir ini dia jadi suka banget bikin darah tinggi." Abimanyu masa bodo dan kembali menyantap makanannya.
"Omong-omong, gue jarang banget liat Lilith ke kantin, kenapa?"
"Dia bawa bekal kali, katanya mau diet."
"Gue heran sama cewek," aku Danis, menatap Abimanyu. "Mereka nggak gemuk tapi sok-sokan mau diet, apanya yang mau dikecilin?"
"Hatinya kali," jawab Abimanyu agak tidak bersemangat.
"Lo juga kenapa deh? galau mulu yang punya pacar, ngejomblo aja!"
Namun kali ini tak ditanggapi Abimanyu karena mendadak Arum berada di meja makan mereka. "Nebeng boleh nggak?"
"Bayar dua puluh ribu," jawab Danis. "Lagian kaya di motor aja pakai nebeng segala."
Abimanyu tak bergeming meski Arum berada di sampingnya. Lelaki itu tampak fokus menghabiskan makannya.
"Lo nggak sama Lilith, Rum?" tanya Danis.
"Lilith lagi negoisasi sama Rio."
Mata Abimanyu terbelalak dalam sejenak, namun masih, ia mengatensikan seluruh perhatiannya untuk makanan. Butuh tenaga lebih untuk melewati hari yang semakin berat.
Merasa tak mendapat jawaban, Arum pun melanjutkan, "Rio nemuin kertas krusialnya Lilith, jadi sebagai tebusan dia minta temenin nonton sekalian beli hadiah buat mamanya."
Abimanyu berdeham. Ia tak bernafsu. Kerongkongannya mendadak serak. Tangan Abimanyu menjulur untuk meraih jus mangga di hadapannya dan menandaskannya. Melihat hal itu, Danis berdecak jengkel. "Perasaan lo tadi pesen es teh, deh. Itu jus kan gue yang pesen! Asal ngambil aja lo!"
"Sekali-kali nggak apa-apa, lah!"
"Iya, kalau sekali-kali gue ajakin Lilith jalan juga nggak apa-apa, ya?" Mulut Danis terbungkam setelah mendapat tatapan tajam dari Abimanyu.
"Coba aja, kalau Lilith mau!"
x x x x x
"Jadi gimana? Mau nggak?" Rio menyelipkan kertas yang kemarin Abimanyu dan Lilith cari itu di sakunya. "Lagian kan gue nggak bisa milih barang-barang buat perempuan, apa salahnya coba ngajak lo?" Rio menatap Lilith yang sedang berada di kursinya, sementara Rio setengah duduk setengah berdiri di meja Lilith.
"Tapi gue ada janji sama Abimanyu—"
"Ya lo bilang aja yang sejujurnya ke dia kalau lo may bantuin gue nyari kado buat Mama. Simpel, kan?" Rio mengendikkan bahunya.
"Lo sendiri tahu hubungan gue sama dia lagi di ambang kehancuran gini," keluh Lilith.
"Apa?" Rio tertawa. "Makanya hubungan tuh dibangun pakai bahan-bahan yang berkualitas dan teruju halal biar nggak gampang hancur," kelakarnya.
Lilitu tertawa menanggapi lelucon Rio. "Suka banget sih akhir-akhir ini nyindir gue! Nggak lo, nggak Mama, sama aja!"
"Jangan sedih gitu, dong. Tapi kalau nggak bisa gue nggak maksa, sih. Mungkin lo udah ada janji sama Abimanyu?"
"Nggak ada sih, cuma hari ini ada yang mau gue bicarain sama dia. Lebih cepat lebih baik, kan? Sebagai manusia kan gue nggak tahu bisa jadi ini kesempatan terakhir buat gue bisa ngomong sama dia, kan?"
Rio justru tertawa keras. "Omongan lo udah kaya orang yang lagi sekarat terus nggak tahu sampai kapan lo bisa bernapas. Ya udah, gue balikin ini kertas setelah gue dapet hadiah buat Mama, ya?"
Lilith mengangguk. "Nanti gue usulin barang-barang yang biasanya disukai mama sosialita gitu, deh. Lo bisa video call gue kok, Yo," tawar Lilith pada akhirnya.
Rio dengan cepat menyetujuinya. Ia lantas berdiri dari sana dan mengakhiri percakapan mereka karena ia harus pergi ke kelas karena beberapa teman Lilitu sudah pulang dari kantin dan menyapanya.
"Gimana sih kalian, di kantin Abimanyu lagi sama Arum, di kelas Lilith sama Rio. Lagi lomba bikin cemburu, kah?" celetus Flo, wakil kelas sekaligus teman yang cukup dekat dengan Lilith. Gadis itu memang agak gamblang kalau bicara, seperti seorang kritikus, namun bagi Lilith, Flo cukup pintar memilih kata ketika ia akan berkomentar sehingga tidak membuat lawan bicaranya terluka.
Namun Rio justru menyahuti, "Cinta itu kadang diukur dari rasa kecemburuan mereka."
To Be Continued...