Sejak hari itu, Lilith benar-benar fokus belajar untuk ujiannya. Wulan bahkan tak membiarkan Lilith mendengar kabar apapun mengenai Tora, abangnya. Kendati Wulan juga sebenarnya ingin berbagi cerita di kala ia lelah sehabis pulang bekerja, namun sampai saat ini Wulan cukup memperhatikan apa yang sekiranya dibutuhkan oleh anaknya.
Sementara Lilith juga sibuk belajar. Ia jarang bermain ponsel atau bahkan duduk di teras ketika malam. Lilith menguras waktunya untuk mengasah kinerja otak. Semua malam yang terlewati cukup damai baginya, sampai di suatu malam ketika Lilith baru selesai belajar, dan ia memutuskan untuk menunaikan ibadah sebentar, ia mendengar suara ketukan dari jendelanya.
Tok...
Lilith sempat terlonjak kaget, namun ia tak segera menengok pada sumber suara, sampai ketukan di jedelanya kembali terdengar, Lilith memberanikan diri melongok ke samping, ia melihat sosok entah manusia atau sejenis hantu yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya dan terus mengetuk jendela Lilith. Karena di luar gelap, dan sosok itu berdiri dengan pakaian serba putih, Lilith bahkan nyaris menyimpulkan bahwa itu benar-benar hantu, ia meraih tasbih dan mulai mengalunkan surah ayat kursi.
Sosok itu malah sibuk mencongkel jendela Lilith, sementara Lilith dengan jantung berdegup kencang semakin mengeraskan suaranya. Dalam hati ia berkata, "Ini hantu apaan deh di bacaan ayat kursi nggak kepanasan? kalo ayatnya aja nggak mempan berarti gue harus lempar kursinya!"
Lilith memejamkan matanya tak mau melihat penampakan di depan jendelanya itu. Mendadak perasaan jeri mengerayanginya mulai dari telapak kaki sampai lehernya. Lilith berkali-kali menggeleng saat bayangan hantu Helen kembali merusak isi kepalanya. "Nggak, jangan sampe dia Helen! Nggak!"
"Woi, lo ngapain?" suara tersebut terdengar lirih karena dibatasi jendela.
"Berusaha mengusir setan yang membandel," jawab Lilith seraya terus menggerakkan tasbihnya.
"Mana?"
"Itu serius di depan jendela."
"Melek deh coba!"
Lilith membuka satu matanya, ia mengintip dan semakin terkejut ketika melihat Rio yang sudah berada di kamarnya.
"Ya ampun Rio!" Pekik Lilith sembari melemparkan tasbih kepada Rio. "Lo ngapain coba pake lewat jendela segala, nakut-nakutin orang aja. Kan ada pintu! Mana pakaian putih semua gitu, gue kira beneran hantu!" protes Lilith.
"Males gue harus muter turun ke bawah, mumpung kamar sama balkon kita nyatu kan gue sekalian memanfaatkan pondasi rumah," Rio nyengir, ia lantas menunjukkan baju kokonya. "Koko gue bagus nggak? Sarungnya juga baru nih!"
"Perasaan biasa aja, koko lo kaya baju osis, bedanya sakunyan di bawah dua, yang bagus apanya lagi?"
Ah, iya, Lilith sangat paham soal itu, rumah mereka memang berdempetan, bahkan balkon Lilith dan Rio hanya dibatasi dengan pagar besi yang tingginya sekitar tak sampai satu meter. Parahnya lagi, jika jendela Lilith dan Rio terbuka, mereka bisa melihat ke dalam kamar satu sama lain. Terkadang Lilith heran, mengapa takdir selalu mendekatkan mereka, sebegitu keras kepalanya untuk menyatukan mereka?
"Ya tapi kan lo bisa lewat pintu, nggak usah nyongkel jendela segala dong, nanti kalau jendela gue rusak gimana?" Lilith gemas ingin menendang Rio kembali ke rumahnya, namun Lilith sadar, dia bukan Samson anak betawi.
"Pintu lo dikunci, gue ketok-ketok aja lo malah bacain gue surat ayat kursi, lo beneran ngira gue hantu? lo kok jadi sepenakut itu sih sejak ketemu Helen?" gurau Rio.
Lilith berdecak kala diingatkan kembali dengan sosok itu. "Ya kan lo bisa manggil gue, biasanya juga lo teriak-teriak dari kamar kaya orang ayan."
"Ih, apaaan, sih! gue nggak pernah begitu ya, bahkan gue nggak pernah minjem kamar mandi lo kaya lo yang suka mandi di tempat gue dengan alasan air mati, mama lupa bayar pam. Bullshit banget! Bilang aja kalau lo tuh suka aroma cowok maskulin di kamar mandi gue kan?"
"Nah ini? lo dengan nggak sopan nyongkel jendela gue sekarang ada di kamar gue, kalau gue lagi salin gimana?" Omel Lilith.
"Ya salah lo, kenapa lo nggak salin di kamar mandi? lagian baru sekali ini doang, kok."
"Yang dulu-dulu itu lo hilangin ke mana?"
"Aaelah, yang udah mah udah kali, tipikal cewek kalo disuruh move on bakal susah ya begini nih, yang diinget masa lalu terus."
"Apaan sih Rio!" Lilith melempar bantal ke arah Rio.
Rio tertawa sejenak setelah puas menggoda Lilith. "Lith, bagi minum dong. Di kamar lo nggak ada minum ya?"
"Ambil sendiri, biasanya juga ngambil sendiri, kalau males jalan ambil aja itu air keran lo minum deh pake gayung," ujar Lilith seraya melepas mukena atasnya dan mulai melipat.
Rio duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan tumpukan kamus dan buku analisis kesehatan lainnya yang berserakan di atas ranjang Lilith.
"Sana ambil di bawah, sekalian isiin botol minum gue," ujar Lilith lagi.
"Hm, nanti kalau mama lo tau terus dia nanya gue dateng lewat mana, gimana? gue harus jawab apa? Kan nggak sopan kalau seorang Gerio Bahtera tidak mematuhi aturan, bukan gue banget nggak sih?"
"Ya bilang aja lo lewat jalan alternatif, gitu." Lilith lantas membuka mukena bawahnya dan kembali melipat. Sekalian dengan sajadah.
"By thw way, mama lo lagi ngapain?"
"Nggak tau, makanya sana lo liat sendiri dia lagi apa!"
"Kemarin puding buatan mama lo enak banget, mama lo bikin puding cokelat lagi nggak?"
"Nggak tau, Rio!" Lilith setengah kesal.
"Oh, mama lo masak nggak sih? Gue laper nih nyokap gue nggak masak, lagi pada keluar semua."
"Ya Tuhan, gue nggak tau, Gerioa Bahtera, gue dari tadi ada di kamar."
"Lah emang lo belum makan? Kenapa? Diet? Buat nirusin pipi? Percuma nggak bakal tirus itu pipi, kalo udah tembem mah tembem aja. Udah tembem, pendek, hidup lagi. Ha ha ha ha ha." Rio lantas menutup mulutnya. "Ya ampun, maaf, nggak biasanya ya gue begini?"
Lilith menaruh peralatan sholatnya di atas meja dan menatap Rio dengan tatapan lapar, seolah hari ini ia bakal memakan daging cowok itu.
"Lo kenapa sih? udah lama nggak ganggu gue, sekalinya ganggu bikin anak orang darah tinggi."
"Biar lo nggak stres aja, oh iya, kalau lo ada darah tinggi, mending lo donorin aja itu darahnya."
"Darah gue tinggi, bukannya banyak!" Lilith mendesah berat, ia benar-benar sudah di luar batas sabar. Ia berdiri, menarik kerah baju koko Rio kemudian membuka jendela dan mendorongnya. "Dah, cepet pulang! Jangan ganggu gue, gue mau belajar!"
"Lith, sebentar lagi dong, lagian kan gue berbaik hati."
"Nggak! Lo tuh cuma ganggu gue belajar!" ucap Lilith lagi.
Lilith bahkan menendang b****g Rio dan mendesaknya untuk cepat keluar. .
"Sekarang lo balik ke habitat lo!" pekik Lilith.
Lilith lantas segera menutup jendela itu dan menguncinya. Ia tak peduli dengan suara Rio yang terus memanggilnya atau bahkan kembali mengetuk jendelanya. Lilith menutup gorden dan kembali ke meja belajarnya.
Namun tetap saja ia masih bisa mendengar suara Rio. "Lith, ada bintang nih! Lo nggak mau rehat sebentar terus nontonin bintang?"
"Halo, Lilith? Ini ada bintang sirius lho, bintang yang kata lo paling terang itu!"
"Woi Lith! Idih jahat banget sih, ayok lah ngopi-ngopu di teras sebentar, lo bakal stres kalo sehari-hari lo pantengin itu buku sama kamus seharian. Take a rest sebentar nggak apa-apa lah!"
Dan Rio masih di sana, di balkon Lilith memghadap ke jendela berusaha ngomong dengan Lilith dan membujuknya untuk istirahat sebentar.
"Ya Allah, ampuni dosa Rio karena udah ganggu aku, ya Allah" gumam Lilith.
x x x x x
"Lith, tolong anterin puding cokelat buat Rio, ya?" ujar Wulan ketika melihat Lilith turun dari tangga dengan seragam sekolahnya.
"Mama pagi-pagi bikin puding? Tumben benget," Lilith menusuk potongan puding cokelat buatan mamanya dengan garpu.
"Iya, semalem adaRio kan di kamar kamu? Mama denger kok pas lewat kamar kamu."
Lilith duduk, ia mengangguk sembari melahap mengunyah puding terlezat buatan mamanya.
"Iya tuh, tumben banget lewat balkon, dia semalem dia nanyain mama, mama bikin puding nggak? Mama masak apa? gitu-gitu deh."
"Iya semalem mama denger, tapi setelah itu mama ke kamar pas mau balik ke kamar kamu lagi suaranya udah nggak ada, jadi sepi banget. Emang Rio langsung pulang?"
Lilith mengangguk. "Iya aku usir."
Wulan mengernyit. "Kok kamu gitu?"
"Abisan Rio ngeselin, pake masuk lewat jendela segala ngagetin orang aja, udah gitu bawel tumben banget itu anak."
"Jadi sebenarnya kemarin pas Mama pulang kerja, Mama liat Rio lagi di teras, terus Mama panggil, Mama suruh dia ngajak kamu keluar, soalnya Mama takut kamu stres kalau seharian belajar terus begitu."
"Nggak kok, Ma. Nggak sampai stres. Mama nggak usah cemas, kalau lelah Lilith pasti istirahat, kok."
Lilith segera menghabiskan puding terakhir dan beranjak untuk berangkat sekolah. Ia kemudian meraih kotak puding kemudian menyalami mamanya.
"Aku berangkat sekolah ya, Ma."
"Hati-hati di jalan ya, Jangan ngebut bawa motornya."
"Iya Ma."
"Jangan lupa pudingnya kasih Rio ya, buat Rio ya, Lilith. Bukan buat orang lain, apa lagi dimakan kamu."
"IYA MAMA…." Lilith mengeraskan suaranya ketika ia memasukkan kotak pudingnya ke dalam tas.
Lilith keluar rumah, ia menengok ke samping karena suara motor Abimanyu yang menarik perhatiannya.
"Lith bareng aku aja."
Teriak Abimanyu yang melihat Lilith sedang mengeluarkan motornya. "Tumben banget dia udah bangun, biasanya juga berangkat telat," gumam Lilith.
Abimanyu sudah stay di depan gerbang dengan motor hitamnya, lalu tanpa menunggu lama, Lilith menghampirinya.
"Tumben banget jam 6 udah mau berangkat, biasanya jam 8 kamu baru berangkat, nggak lagi kerasukan apa gitu, kan?" tanya Lilith dan memakai helm yang Abi sodorkan padanya.
"Kemarin motor kamu sempet mogok, aku takut motor kamu mogok lagi. Ia kalau mogok pas di pinggir jalan, kalau pas di tengah jalan raya terus belakang kamu ada truk kontainer gimana?"
"Ih kok kamu gitu!" Lilith memukul pundak Abimanyu sebelum akhirnya ia naik di belakang cowok itu.
"Loh, kan itu berarti namanya aku peduli sama kamu," respons Abimanyu dan mulai menjalankan motornya.
"Masa? Terus kenapa kamu kemarin mau ninggalin aku sendirian di parkiran?"
"Kan aku cuma mau godain kamu doang, lagian juga pas aku puter balik jemput kamu, kamu udah sama Rio, kan?"
Lilith bisa lihat di spion cowok itu, ia tengah memasang ekspresi kecewa.
"Lagian sih kamu becanda mulu, keburu aku sama Rio kan."
"Terus kamu maunya apa? aku seriusin gitu, hm?"
"Udah lah ayo buruan kebut, nanti telat ih!"
"Nggak mau ngebut kalau lagi bawa cewek cakep gini, nanti kalau kenapa-napa para penggemar rahasia kamu ngeroyok aku gimana?
"Apaan sih Abimanyu, kamu tumbenan masih pagi udah letoy gitu."
Lilith meringis sembari memukul lengan Abimanyu cukup keras.
"Sakit tau Lith!"
"Sakitan mana sama hati saya lihat Pak Bambang jalan sama Bu Siti?"
"HAHAHAHAHA!"
Abimanyu terbahak ketika Lilith menirukan gaya bicara bu Ratih, guru BK yang secara terus terang mengagumi Pak Bambang.
Lilith lantas berpegangan pada Abimanyu, di sepanjang perjalanan mereka bercanda seperti biasa, membahas apapun yang akan membuat mereka tertawa. Seperti yang biasa dilakukan sahabat lainnya. Tak lama, mereka telah tiba lebih pagi dari biasanya. Abimanyu memarkir motornya, mereka berjalan beriringan melewati koridor sekolah. Karena mereka berangkat cukup pagi, jadi suasana sekolah belum seramai biasanya.
"Jadi kamu berangkat pagi karena mau latihan basket dulu?"
"Iya, Lith. Latihan sekali lagi. Setelah itu udah deh, tinggal fokus ujian."
"Lagian kenapa sih ngadain acara lomba pas mepet hari ujian? Kan nggak afdhol aja gitu, nanti kalau ada yang cedera gimana?"
"Itu dia, makanya pertandingan kali ini kita punya banyak pemain cadangan. Sebenarnya sih maunya pas udah kelar ujian gitu, tapi menurut kami enakan mau ujian, karena kita punya kenangan dan pasti suasana lomba masih terbawa sampe ujian, jadi seneng aja gitu."
"Ada ya orang gitu? Kalau kalian kalah?"
"Aku dan tim udah latihan dan kami nggak peduli menang atau kalah, skil kita bakal ketahuan nanti, kok."
"Jadi, Rio juga ikut ya?"
Abimanyu mendadak menatap Lilith. "Ikut, mau lihat pertandingannya?"
"Nggak deh, aku mau belajar. Mumpung Rio ikut jadi kan nanti aku belajar nggak ada yang ganggu."
"Yakin banget kamu? Emang Rio akhir-akhir in sering ganggu kamu?"
"Nggak sih, cuma semalem tumben aja dateng lewat balkon, kayanya dia lagi gabut banget."
Abimanyu tertawa lirih. "Dia lagi sedih tahu, Lith."
"Kenapa?"
"Hila katanya pindah lagi, yang aku denger dari Danis, kesehatan mental Hila sempet terguncang dan katanya dia perlu rehabilitasi."
"Serius?!" Lilith membelalakkan matanya.
Abimanyu mengagguk-angguk. "Terus aku denger lagi sih katanya kemarin Hila ditabrak mobil gitu dan sekarang dia di rumah sakit, koma."
Lilith mendadak terdiam. Merasakan betapa sakitnya semua itu terjadi pada Hila dalam waktu yang bersamaan. Apa hidup memang akan selalu sekejam itu? Apa gadis itu baik-baik saja? Apa ini semua ada sangkut pautnya lagi dengan Helen?
"Kamu serius nggak tahu kabar itu?"
Lilith menggeleng. "Enggak, nggak ada yang ngomongin hal itu di kelas, biasanya Flo suka cerita, tapi dia juga kayanya fokus belajar."
Namun, ada satu hal yang Lilith sadari. "Jadi Rio itu benar-benar ada perasaan sama Hila?"
To be continued....