Setiap manusia pasti selalu dikejutkan dengan takdir mereka. Ada yang kemarin sehat-sehat saja, lantas hari ini kabarnya sudah meninggal dunia. Ada yang kemarin menyebar undangan dan tinggal menghitung jam, lalu hari ini salah satu mempelainya berdusta, selingkuh, menghamili gadis lain, atau bahkan ternyata sudah berkeluarga. Ada yang kemarin miskin merana, lalu hari ini mendapat rezeki luar biasa. Hidup selalu tak pernah sesuai jalan, bukan?
Rencana manusia yang katanya sempurna saja masih bisa terhambat dan bahkan gagal. Namun dari semua itu sudah selayaknya disadari bahwa setiap perkara terjadi bukan karena sengaja. Mereka telah diatur sedemikian rupa, namun bukan berarti jika ia gagal hari ini, sedih hari ini, bukan berarti ia tak lagi bisa merasakan kemenangan atau kebahagiaan. Selama hidup belum berakhir, maka perjuangan masih dapat diteruskan.
Orang-orang selalu memiliki harapan, bukan? mereka berharap mimpinya terkabul. Tak masalah, toh, itu wajar, manusiawi sekali, normal sekali. Orang-orang memang berhak berharap, bahkan mungkin pemilik semesta ini juga meminta agar manusia berharap. Harapan tak selalu bertemu dengan rasa kecewa, kok, selama manusia itu sendiri mampu menempatkan dirinya untuk berharap pada siapa, dengan porsi yang sekiranya tak akan membuarnya terlena dan putus asa. Berharap lah ketika kamu sedang berjuang, berharaplah dengan keyakinan bahwa sesempurna apapun rencana seseorang, ia bisa saja gagal. Maka berharaplah dengan manusiawi, dengan sadar diri bahwa apa yang kita putuskan, itu yang kita pilih.
Selayaknya ketika kau jatuh cinta, sadarlah jika cinta bukan hanya satu rasa. Mengertilah bahwa cinta sama seperti melamar pekerjaan, mereka selalu memiliki penolakan, memiliki alasan, melihat apakah yang ia butuhkan kau memilikinya?
Maka sejak awal ketika Lilith merasakan seolah dunia berpihak padanya, Lilith telah melewati satu kesadaran yang penting: bahwa hidup ini layaknya roda yang terus berputar membawamu pada tujuan yang seseorang mau. Lilith lupa menyadari bahwa ia bisa saja berada di bawah. Hidup memang seperti itu, bukan? Hidup selalu semengejutkan itu. Bahkan ketika ia telah selesai untuk ujian sekolahnya dan hendak mendaftar ke universitas, kabar buruk menghantamnya. Tora masih berhubungan dengan wanita selingkuhannya. Eri berkali-kali bilang bahwa ia akan menceraikan Tora.
Lilith samar-samar mendengar suara Eri dari seberang ponsel mamanya. "Aku sudah nggak tahan, Ma. Aku nggak tahu harus gimana lagi. Tora masih saja berhubungan dengan wanita itu. Padahal dia tahu aku lagi hamil, tapi Tora selalu pergi buat nemuin wanita itu. Aku udah nggak bisa bilang apapun lagi ke dia, hari ini pun dia pergi ke puncak sama wanita itu … Aku akan bercerai saja. Aku nggak bisa bertahan kalau dia keras kepala dan nggak bisa dimaafkan."
Dan untuk kali ini, Lilith yakin sekali bahwa mamanya sudah tidak bisa menahan perasaan sedihnya, sakitnya, kecewanya ia terhadap Tora. "Mama malu, Er. Mama malu karena anak Mama kurang ajar, Mama malu karena Tora nyakitin kamu, selingkuh dari kamu. Mama malu sampai rasanya nggak bisa memaafkan anak Mama sendiri." Suara tangis Wulan adalah lukanya yang ia tahan sejak kemarin, yang meledak saat ini juga.
Lilith berlari kembali ke kamarnya. Hatinya kepalang sakit mendengar mamanya menangis. Lilith tidak pernah mendengar mama menangis kecuali saat dokter mendiagnosa bahwa papa terkena stroke dan lumpuh. Lilith tak bisa membendung sedhnya seperti apa yang selalu mamanya lakukan, Lilith gadis lemah yang akan selalu menangis bila mendengar suara mamanya mulai bergetar. Lilith tak sehebat mamanya yang mampu menahan semua luka dan rasa lelahnya sendiri. Lalu kini, mama harus merasakan rasa bersalah pada Eri karena perbuatan anaknya sendiri, meski sebenarnya itu jelas bukan salah didikan mamanya. Lilith yakin, mamanya akan merasa jadi orang tua yang telah gagal mendidik anaknya.
Lilith membenamkan wajahnya di atas bantal ketika isak tangisnya tak lagi bisa ditahan. Jujur saja, Lilith mendadak mencemaskan banyak hal. Selama ini biaya sekolah dan semua kebutuhan sekolah dibiayai oleh Eri. Lilith tak mengerti apa yang sebenarnya manusia inginkan? Tora memiliki cinta yang sempurna dari istrinya, bahkan ketika Tora berada di bawah, Eri tidak meninggalkannya, Eri tidak menuntut Tora untuk menjadi lelaki sempurna. Bahkan menurut Lilith, Tora lah yang banyak memiliki kekurangan, namun mengapa lelaki itu tak bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan?
Lantas bagaimana bila nanti mereka bercerai? Apakah Lilith masih bisa melanjutkan untuk kuliah? Apakah salah satu dari mereka masih mau membiayainya? Apakah jika ia tidak melanjutkan pendidikan, Lilith tidak bisa mencapai mimpinya untuk sukses? Untuk membahagiakan mama. Sejak tadi pertanyaan-pertanyaan itu tersangkut di kepalanya, mencari jawaban, mencari jalan pulang, namun pertanyaan itu justru semakin banyak dan berakar, membuat kepala Lilith terasa sakit, seolah kepalanya sedang diisi dengan kerikil yang semakin banyak dan besar, menyakitkan dan buat Lilith susah bernapas. Kepalanya teramat nyeri, memilukan. Ditambah dengan air mata Lilith yang berderai.
Lalu tak lama, suara ketikan di pintu kamarnya cukup mengejutkan Lilith. Lilith tidak ingin mama melihatnya menangis, Lilith tidak ingin melihat mama menangis. Lilith tidak ingin mereka menangis bersama. Namun sialnya, ketika pintu terbuka dan Lilith merasakan permukaan ranjangnya bergerak, Lilith tak bisa menahan pedihnya air mata tatkala Wulan mengusap punggung Lilith.
"Jangan terlalu dipikirkan, ya. Nggak apa-apa, namanya rumah tangga pasti diterjang badai sana sini. Kalau nggak kuat, ya pasti rubuh."
Lilith tidak mengerti mengapa mamanya masih bisa menenangkan Lilith di saat Lilith menyadari bahwa wanita itu lah yang paling banyak terluka. Lilith mendadak ingin sekali membenci abangnya. Rasanya ia ingin sekali mendatangi abangnya dan mengamuk di sana, bahkan Lilith ingin sekali menampar w************n yang mau saja mengganggu rumah tangga orang lain. Toh, mereka sama-sama perempuan, apa tidak bisa membayangkan sakitnya ditinggalkan? sakitnya didustai? Sial, sial, Lilith jadi ingin sekali berdoa semoga Abimanyu kelak tidak seperti abangnya.
"Lith, seorang istri tidak akan meninggalkan suaminya meski ia sengsara dan penyakitan, namun seorang wanita tak bisa tetap tinggal jika lelakinya memiliki selingkuhan."
Lilith masih membenamkan wajahnya di atas bantal, menahan isak tangis agar tak meledak di depan Mama kala wanita itu kembali berujar, "Mama masih bisa membiayai kamu kuliah, kok. Kamu jangan cemas bila nanti abang kamu lepas dari janjinya. Masih ada Mama, Lith. Semuaya akan baik-baik saja. Jangan mencemeskan mimpimu, Mama masih mampu bekerja, Mama sudah biasa merasakan lelah."
Ah sial, Lilith bahkan tak bisa berhenti menangis kala Mamanya berkata demikian. Sudah biasa merasakan lelah, katanya? benar-benar sial, Lilith bingung harus mengutuk siapa, dan itu adalah kebenaran. Kebenaran jika Mamanya selalu merasakan lelah, seolah jika ia tidak lelah sedikit saja, orang-orang yang ia cintai akan mati. Lilith jad membenci semesta dengan segala isinya.
"Mereka mengerti bahwa Mama ini wanita yang hebat, bukan? lantas mengapa mereka membiarkan Mama merasakan lelah? Mengapa harus Mama yang selalu merasakan sakit? Apa semesta sibuk dengan manusia lain hingga tak mampu melihat betapa hebatnya wanita satu ini? Mengapa? mengapa selalu Mama yang tersakiti di sini?" Lilith mengerang dalam hati. Ia tengah menentang pada semesta yang mulanya ia pikir bahwa semesta berpihak padanya. Namun ketika menyadari bahwa hidup tak selalu memiliki keadilan, Lilith jadi salah satu manusia yang menggertak pada semesta.
Lilith bangkit, menatap wajah mamanya yang masih tersenyum dengan mata yang sama bengkaknya dengan dia. Lantas tak butuh waktu lama, Lilith melepaskan tangisnya dan memeluk mamanya.
To be continued...