Hidup tidak mudah seperti angan waktu kecil. Menjadi dewasa tak seindah bayangan dulu. Tetapi manusia diberi hidup memang buat sebuah permainan, bukan? Tidak selalu perkara kalah, juga tidak melulu soal kemenangan. Permainan yang tidak main-main, adalah bertahan hidup.
x x x x x
Room Chat
Lilith : Kamu nggak ada waktu buat aku? Kamu di rumah? Tante Tari bilang ke aku, kok, kalau ada apa-apa aku disuruh ke rumah kamu. Aku ke rumah kamu, ya?
Lilith selalu punya alasan agar Abimanyu tetap menghubunginya.
Abimanyu : Nggak usah, udah malem.
Lilith : Lho, biasanya juga jam segini kamu ke rumah aku, gantian, dong.
Abimanyu: Ya sudah, kamu mau ngomong apa? mau nanya apa? tapi aku nggak bisa lama
Lilith: Kenapa? karena kamu perlu balas chat cewek lain?
Abimanyu: Nggak ada, Lith. Nggak ada cewek lain, aku serius mau fokus kuliah.
Lilith : Jadi kehadiran aku bakal ganggu kuliah kamu? lalu gimana sama yang dulu-dulu? Kita udah tiga tahun lho, Bi.
Abimanyu : Setelah kuliah selesai kita lanjutin lagi hubungan kita.
Lilith termangu sejenak. Jantungnya berdetak kencang. Apa maksudnya?
Lilith: Kamu minta aku buat nunggu, gitu? Apa kamu pikir nunggu itu hal yang mudah, bi? Bisa nggak sih kamu jujur aja ke aku kalau kamu ada cewek lain?
Abimanyu: Kamu ngomong apa sih, Lith? mana mungkin aku ada cewek lain.
#Flashback
Pada saat itu, semua orang mengenalnya dengan nama Abimanyu Nareza, pria satu ini adalah visual di kelasnya, kelas 9 A. Ia terkenal sebagai individu yang sangat jahil sekaligus mampu membuat para gadis di sekolahnya klepek-klepek, begitu penuturan Kevin (sahabat mereka saat SMP) saat disuruh mendeskripsika Abimanyu Nareza. Walaupun tidak terlalu pintar, yang membuat ia mampu memikat hati para cewek adalah kemampuannya di bidang olahgara, terutama basket dan futsal.
Seperti biasa jika hari senin ia selalu datang terlambat. Bahkan jika upacara baru dimulai ia akan menelusup ke belakang sekolah dan memanjat pagar, itu adalah jalan alternatif menuju kantin.
"Eh ada si Abim!"
Sapa mbak Sari, ia adalah penjual makanan di kantin.
"Eh mbak, es teh dong satu."
Abimanyu duduk dengan satu kaki yang ia naikkan. Anak warteg dasar!
"Masih pagi kok minum es sih, teh anget aja mau nggak?"
Tawar mbak Sari. Selain penjual, dia juga peduli dengan kesehatan para pembelinya. Termasuk si Abimanyu ini.
"Enggak ah, es teh aja abis itu baru diangetin mbak Sari. Ha ha ha—"
PLAK! Kevin memukul kepala Abimanyu. "Gue bilangin Lilith, nih, Lilith buat gue nih!"
Abimanyu berdecak kesal, padahal Lilith bukan pacarnyabl saat itu, tetapi Abimanyu sudah menaruh rasa padanya.
"Ih si Aa Abim mah bisa aja," Mbak sari tersenyum malu, pipinya memancarkan rona kemerahan. Satu catatan lagi, Abimanyu sangat ahli dalam bidang menggombal para wanita. Mulai dari anak kecil, gadis, janda, bahkan nenek-nenek.
Ketika sedang bergurau, suara memekik terdengar "Abimanyu!!"
Sebuah jeweran yang langsung menyeret paksa Abimanyu masuk ke dalam lapangan untuk berbaris di dekat tiang bendera, dan di depan para siswa yang sedang melaksanakan upacara.
Seluruh penghuni lapangan menatap mereka.
"Aduh Bu... Udah dong sakit nih."
Rengek Abim pada bu Beti, ia adalah guru bimbingan konseling yang bisa di katakan guru ter-lebay di sekolahnya.
"Sakitan mana sama hati saya yang liat pak Bambang jalan sama cewek lain?"
"Sakitan saya bu, liat deh pasti kuping saya merah. Malu lagian juga bu. dijewer kaya emak-emak nyuruh anaknya mandi aja. Mama saya aja nggak gitu."
"Kamu itu kebiasaan, kalo telat bukannya langsung masuk barisan ikut upacara malah ngegodain mbak Sari!"
"Ya gimana bu, hasrat saya susah kalo udah liat cewek bahenol kaya mbak Sari. He he."
"Kkammmuu tuh yyaaa!"
Bu Beti semakin menarik telinga Abimanyu, hingga dia terus merengek kesakitan.
Mereka tampak tidak peduli sedang menjadi bahan tontonan. Kemudian Pak Agil memberi isyarat agar Bu Beti segera kembali ke barisannya.
"Awas yaa Abimanyu, ini udah semestwr terakhir dan kamu hampir lulus, kalau di SMA tingkahmu masih gitu, saya nggak mau tahu, lho, abis ini kamu temui saya d iruang BK."
"Oke mbak, eh Bu."
Alhasil, Bu Beti melepaskan jewerannya, dan memperingati Abim untuk hormat sampai upacara selesai. Abimanyu mengusap telinganya yang tampak panas dan merah.
Seluruh siswi menatap Abimanyu dengan tatapan kemayu. Terutama kakak kelas, tapi Abim mengabaikannya, itu sudah menjadi sejarah bagi Abim karena ketampanannya yang mampu memikat hati siapa pun, tak terkecuali tetangganya, Lilith Himalaya.
Setelah upacara selesai, Abimanyu langsung menemui Bu Beti di ruang BK untuk menerima hukuman selanjutnya. Setelah itu ia kembali ke kelas sedikit terlambat.
"Pagi Cantik..."
Sapa Abimanyu pada gadis yang duduk di depannya, ia adalah Lilith Himalaya.
"Pagi juga tiang klonongan, sukurin kena semprot Bu Beti lagi kan lo?"
Lilith menghadap ke belakang dan mendorong jidat Abimanyu dengan telunjuknya.
Abim tertawa dan balik memukul kepala Lilith dengan buku LKS.
Karena guru belum datang, biasanya kelas dengan mayoritas 70% murid somplak seperti mereka akan menyempatkan waktu luang untuk sekedar meminta contekan PR, menggosip, bermain Ludo King, COC, atau Mobile Legend.
"Dapet berapa poin lo?"
"Dapet 10 poin jadi total semua poin gue ada 75, 25 poin lagi Papa gue bakal dateng ke sekolah buat selametan"
"Selametan?"
Lilith mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan ucapan Abim yang barusan.
"Iya karena gue adalah murid pertama yang mencetak rekor 100 poin di semester pertama kelas 9."
"Dasar d***o! Yang ada lo nggak boleh pulang ke rumah kalo sampe papa lo di panggil ke sekolah," sembur Lilith sembari melayangkan sebuah jitakan.
"Ya abis gimana dong."
"Makanya jadi orang tuh disiplin dikit, dari dulu nggak mau berubah!"
Lilih memasang ekspresi kesal, ia mengembungkan pipinya yang memang sudah chubby sejak lahir.
"Lah kok lo yang ngambek?"
Abimanyu menunjuk kedua pipi Lilith dengan jarinya kemudian tertawa lepas.
"Ih nggak usah ketawa!!"
Lilith mendorong kening Abimanyu kemudian berbalik menghadap ke depan. Namun Abim malah tertawa sembari menendangi kursi Lilith
"Lith, lo kalo tembem gitu gue jadi inget pas kita makan ikan kembung terus lo keselek biji salak. Ha ha ha ha."
"Abimanyu bisa diem nggak?!"
"Terus gue inget pas bibir lo digigit serangga jadi jeding gitu, lucu banget Lith, bibir sama pipi balapan gede-gedean. Kalah deh tuh idung. Ha ha ha ha ha!"
Lilith terbahak, ia memegangi perutnya. Kakinya ia hentakkan berkali-kali.
"DIIIAAAMM ABIIIMMM!!" Pekik Lilith membuat beberapa pasang mata yang ada di sana menatapnya. Sedangkan Abim terus tertawa hingga terbahak mengingat masa kecil mereka, dulu sebelum TK Lilith pindah ke Jakarta. Meski mereka tidak bersama sejak lahir. Ya, karena kedua orang tua mereka juga memiliki hubungan persahabatan yang erat. Namum Ahimanyu menginhatnya dengan jelas sebagai cinta pertamanya.
Jam pelajaran berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga, Abimanyu selalu menggoda Lilith dengan menarik-narik rambut gadia itu ke belakang. Terkadang Lilith membuat kegaduhan dengan menggoda siswa lain.
"Lith, gue laper," Bisik Abim dari belakang.
"Ngapain laper ngadu ke gue? Emang gue emak lo!" gerutu Lilith.
"Ih Lilith masih ngambek aja, nanti pipinya jatoh loh."
Lilith geram, ia menyobek kertas dan mengepalnya hingga menjadi sebuah bulatan-bulatan kecil.
"Lith... Ke kantin yuk, gue yang bayar deh, tapi pa—"
Sebelum kalimat itu terselesaikan, Lilith segera menyumpal mulut Abim dengan kertas yang sudah ia bentuk sedemikian rupa.
"Tapi apa? Tapi pake duit gue kan? Makan tuh kertas sampe kenyang!"
Abimanyu ternganga, ia mengeluarkan seluruh kertas itu dan menatap datar Lilitj. Niatnya ingin membujuk Lilith agar tak lagi marah padanya, malah ia kembali terkena semprot.
"Siapa yang piket hari ini? Tolong ambilkan jurnal saya di kantor!" tutur pak Bambang sembari melirik seluruh murid.
Abim mengangkat tangannya.
"Hari ini piket saya sama Lilith, pak."
"Dih, piket gue hari rabu," elak Lilith. Tak mau tau, Abim segera menarik lengan Lilith agar ikut bersamanya.
"Kamu saja Abimanyu Nare, orang cuma satu buku kok masa nggak kuat."
"Biar romantis pak berdua, kita kan couple goals."
"Eaaaaaaaaaa!"
Kegaduhan kelas kembali tercipta.
"Hari ini piket lo sama Bela, Bim!" Lilith menangkis tangan Abimanyu ketika ia terus menariknya.
"Bodo! aku maunya sama kamu."
"Cieeeeeee!"
"Huuwuwuwuwuwuwu..."
"Ahh Abim mah siapa aja diembat, domba pake kebaya aja dia embat!" Cetus Bryan membuat gelak tawa seisi kelas.
"Cocotmu..."
Seketika kelas pun ramai. Di sisi lain Abimanyu berhasil menarik Lilith keluar kelas.
"Bilang aja lo mau bolos ke kantin kan?"
"Iya dong, kan tadi gue bilang laper."
"Bolos aja sendiri nggak usah ngajak gue. Lo tuh emang hobi banget bikin gara-gara."
"Nggak baik lah, masa gue makan sambil godain mbak Sari di kantin sedangkan lo pusing-pusing mikirin rumus matematika."
Mereka berbelok menuju ruang guru, yang kebetulan semua guru sedang mengajar di kelas lain.
"Lith, kalo kita langsung ke kantin ntar gue ketangkep basah lagi sama Bu Beti."
"Urusan lo!"
Lilith mengambil jurnal, sedangkan Abimanyu memencet tombol merah di samping pintu. Bel istirahat berbunyi, Lilith membelalakkan matanya. Tak menyangka dengan kelakuan Abimanyu yang menjadi-jadi.
"Ini tuh belum waktunya istirahat, lo gila yaa cari masalah mulu!"
Abimanyu terkekeh ketika mereka mendengar sorakan ramai dari beberapa kelas yang menyambut waktu istirahat dengan cepat.
x x x x x