Lilith kini benar-benar merasa kesepian. Ia bahkan tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Lilith cukup teramat kacau ketika tiba di rumah dan mamanya sedang mengemasi barang-barang ke dalam koper.
"Mama mau ke mana?"
"Eri mau lahiran, Lith. Kamu tahu kan anaknya kembar? Kasihan Nyai lagi sakit, ekonomi abangmu juga lagi terguncang, abangmu minta Mama bantu ngurusin bayinya sementara. Mama sebenarnya nggak tega ninggalin kamu di sini sendiri. Tapi kamu nggak apa-apa, kan? Mama udah bilang ke mamanya Lusy dan mamanya Rio, Mama nitip kamu sebentar, mamanya Lusy juga bilang, katanya kamu disuruh tidur bareng Lusy kalau kamu nggak berani di rumah sendiri."
Lilith menelan saliva getir. "Iya, Ma. Aku berani kok di rumah sendiri. Toh, nantinya juga Lusy bakal di sini."
Wulan bangkit dan memeluk Lusy. "Trevelnya sebentar lagi dateng, kamu janji sama Mama buat nggak keluar malem, ya? Walaupun Mama nggak ada bukan berarti kamu bebas, banyak mata yang ngawasin kamu."
Lilith membalas pelukan Mamanya. "Iya, Ma. Lilith ngerti. Mama hati-hati di jalan, ya. Kalau udah sampai hubungin Lilith juga."
"Iya, Sayang. Nanti Mama juga kayanya pulang sama ayahmu, kok."
Ah, iya, benar, ayah Lilith sudah setahun di Jakarta Selatan, di rumah nenek. Ayah lilith mengidap stroke sejak Lilith berada di kelas 3 SD. Jadi selama ini mama lah yang selalu bekerja untuk keluarga. Cuma setahun terakhir ayahnya Lilith ingin mengunjungi rumah nenek Lilith. Sepupu Lilith juga sangat menyayangi ayahnya karena orang tua sepupu Lilith sudah meninggal, jadi ia menganggap ayah Lilith sebagai ayah mereka juga.
Trevel sudah terdengar sampai di halaman. Tante Muni, Tante Eka (Mama Lusy) dan Tante Tari bahkan keluar untuk menyalami mamanya dan memesan agar si sopir berhati-hati. Mereka paham, selain itu Wulan dengan matanya yang berkaca-kaca, ada Lilith yang terdiam di depan halaman rumah dengan kaku, menahan segala perasaan sepi yang menyayat hatinya. Lilith tidak sanggup membendung air mata. Namun jika Lilith menangis di sini, di hadapan mamanya, Lilith tahu jika mamanya pasti akan cemas di sepanjang perjalanan. Lilith tidak ingin membuat mamanya ikut menangis. Lilith tidak mau mamanya merasakan sakit hati dan kebimbangan.
Lilith mendadak teringat kalimat Danish, cowok itu berharap agar Lilih mampu mandiri dan tak selalu bergantung kepada orang lain.
Lilith melambaikan tangannya pada Wulan ketika mobil trevel tersebut telah menghilang dari halaman rumah. Lilith tidak pernah ditinggal mamanya sejak kecil, hanya hari ini lah, pertama kali Lilith melihat mamanya pergi. Meski cuma sementara, Lilith merasa hatinya mencelus nyeri. Rasa sakit menggerogoti permukaan dadanya. Kedua mata Lilith memerah panas, ia tak bisa menahan bendungan matanya ketika Lusy menghampirinya dan berkata, "Jangan nangis, Kak."
Namun Lilith meraih tubuh Lusy untuk didekap. "Seenggaknya Kak Lilith nggak sendiri, kok. Kan ada Lusy yang bakal nemenin Kak Lilith. Nanti Rio juga pasti selalu main ke sini. Kak Danish kemarin sempat bilang ke aku kalau dia katanya bakal sering main ke rumah Kak Lilith. Nanti ajak Kak Flo juga deh. Mau berburu hantu, nggak?"
Lusy selalu tahu cara menghibur Lilith. Namun air mata Lilith benar-benar mengalir begitu saja. Mengalir dengan deras selayaknya hujan yang dipendam selama ini. Lusy belum mengerti, selain kepergian Mama, ada hal yang paling menyakitkan yang tak pernah Lilith bayangkan. Bayangan Abimanyu dan gadis lain mendadak mengisi kepalanya, menyusup ke jantung dan mengoyaknya dengan sadis. Kenapa hari ini ia terlalu banyak merasakan sakit? Kesalahan apa yang Lilith perbuat?
Lilith menghapus air matanya kala Tante Muni dan Tante Tari menghampiri Lilith untuk memeluk gadis itu.
"Yang kuat ya, Lith. Kalau ada apa-apa bilang aja sama Tante. Kalau kamu sibuk dan belum sempat masak, ke rumah Tante aja. Kamu udah Tante anggap kaya anak sendiri. Kalau mau nangis, nangis aja ya, jangan dipendam," ujar Tante Muni seraya mengusapi punggung Lilith.
Lilith cuma mengangguk-angguk dan berusaha menahan air matanya. Namun sial, tangis Lilith meledak kala Tante Tari berganti memeluk Lilith dan berkata, "Lith, yang kuat, ya. Calon menantu Tante nggak boleh berlarut dalam kesedihan, nggak baik buat kesehatan mental. Kami selalu menerima kamu, jangan sungkan ke rumah kalau ada apa-apa, meski Abim keliatannya sibuk banget karena sering tugas di luar, dia kalo di rumah pasti nanyain kamu ke Tante kalo nggak bisa main ke rumah kamu, 'Lilith keluar rumah hari ini nggak, Ma? Lilith udah makan belum ya, ma?' Abim sayang banget sama kamu, Lith. Tante juga. Udah ya, jangan nangis terus, mama kamu pasti balik lagi, kok."
Tari tidak mengerti mengapa tangis Lilith kian pecah. Mungkin ia terharu, jadi Tari memakluminya, ia merasa sangat iba dan jadi ingin ikut menangis. Sementara Tante Muni sudah tahu semuanya, alasan mengapa Lilith semakin pecah tangisannya ketika didekap oleh Tari. Muni pernah merasakannya. Muni tahu dari Rio kalau Abimanyu baru saja memutuskan Lilith karena gadis lain, tetapi Abimanyu tak memberitahu keluarganya, Muni juga tak diperboleh oleh Rio untuk memberi tahu siapa pun. Dan di sini, Muni tahu persis rasanya ketika orang yang kita cinta berdusta, namun keluarga mereka masih mengira mereka baik-baik saja, bahkan keluarga tersebut mengidamka Lilith sebagai menantunya.
Muni tahu rasanya, memendam sesuatu yang tertahan sama halnya seperti menusuk hati dengan ribuan duri, apa lagi ketika tubuhnya di dekap, Lilith merasa duri tersebut semakin dalam menghunjam hatinya.
x x x x x
Malam itu, Lusy berinap di rumah Lilith. Gadis itu sedang mencuci kaki dan menggosok gigi, sementara Lilith terdiam duduk di atas rajang memandangi ponselnya. Pesan terakhir dari Abim.
Abimanyu: Maaf banget, Lith. Aku mau fokus kuliah.
Lilith tahu bahwa itu adalah peringatan hubungannya yang bakal kandas. Namun Lilith membiarkannya, Lilith tak membalas pesan Abimanyu. Lilith ingin menanti cowok itu menjelaskannya lebih detil. Lilith ingin sebuah keputusan. Jika Abim ingin mereka putus, maka Lilith ingin Abim mengatakannya di hadapnnya langsung.
Tak lama, Lilith mendapat pesan dari Abimanyu. Tangan Lilith bergetar, hatinya kian terkoyak tanpa sisa kala membaca pesan tersebut.
Abimanyu: Lith, kita sudahi hubungan kita di sini, ya? Aku sayang sama kamu, tapi ada hal yang nggak bisa aku lanjutkan. Aku minta maaf karena sudah menyakiti kamu. Aku berharap kamu memaafkanku Lilith.
Dengan tangan bergetar dan tangis yang tak lagi mampu Lilith bendung, ia mengetik dengan cepat.
Lilith: Ada banyak hal yang mau aku omongin sama kamu, Bi. Ada banyak pertanyaan yang mau aku tanyain ke kamu, Bi. Dan kalau kamu mau kita putus, aku pengin kamu jelasin ke aku, bukan lewat handphone, temui aku sekarang, Bi.
Butuh waktu lama untuk Abi membalas. Dalam waktu menunggu tersebut, Lilith merasakan hatinya semakin sakit. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
Apakah Abim sedang berbalas pesan dengan gadis itu?
Apa Abim bosan dengannya?
Apa Lilith di mata Abim tak secantik dulu lagi?
Apa gadis itu secantik dirnya? atau bahkan lebih?
Siapa gadis itu?
Di mana mereka bertemu?
Bagaimana mereka bisa menjalin hubungan di belakang Lilith.
Apa gadis itu tahu jika sebelumnya Abim adalah miliknya?
Apa Abim memanggil nama gadis itu seperti ia memanggil namanya?
Lantas ketika pertanyaa tersebut mengusik dan melemahkan Lilith, satu balasan dari Abim. Singkat, padas, jelas, serta sangat menyakitkan.
Abimanyu: Aku nggak ada waktu, Lith.
Ya, Abimanyu tak lagi memiliki waktu untuk Lilith.
To be continued...