Lima bulan kemudian….
Lilith memiliki teman baru, seniornya, namanya Prasetyo, Lilith selalu memanggilnya dengan sebutan Mas Pras. Dia manis, hobi mendaki, membaca buku, serta menyukai badminton. Dia adalah salah satu anggota BEM (Badan Esekutif Mahasiswa) yang saat ospek selalu menyelamatkan Lilith dari kakak pembimbing lain yang terlalu galak menurut Lilith. Meski mental Lilith kuat, namun Mas Pras melihat Lilith dengan cara yang berbeda. Sebab saat ditanyakan oleh kawannya di depan Lilith, "Menurutmu Lilith Himalaya ini bagaimana?"
"Lilith Himalaya? Yah, meski dia terlihat kuat sampai-sampai kalian seenaknya membentak, kalian pasti nggak akan lihat banyak sekali luka-luka baru yang agak bikin dia kaget."
Lilith tersentak. Mas Pras benar. Namun Lilith cuma tertawa dan memukul lengan Mas Pras dengan buku yang sedang ia bawa. "Sok tahu kamu, Mas Pras!"
Namun Mas Pras malah membuat Lilith semakin gugup, sebab ia malah menatap ke dalam mata Lilith lebih intens lagi. "Nggak ada yang nyuruh kamu jujur, kok. Nyaris semua orang selalu menutupi jawaban yang sebenarnya. Dari reaksi kamu kaget sama tebakanku, ketara banget kalau kamu nggak terbiasa sama luka-luka itu, kan? Maksudku, karena sebelumnya kamu selalu berada di jalan yang aman, yang nggak terlalu royal, terus sekarang semuanya jadi berbeda, ya?"
Lilith bungkam. Melihat kebungkaman itu, Kak Pembimbing yang lain, kawan Mas Pras, malah bergurau, "Halah! kamu ini mentang-mentang anak psikologi! Jangan-jangan suka sama Lilith, ya? Hei, jangan gitu dong. Kakak Pembimbing nggak boleh jatuh cinta sama anak ospek, nanti kamu jadi nggak adil!"
Mas Pras tertawa. "Loh, yang penting kan aku nggak mencampuri urusan perasaan dan kegiatanku di sini. Lagi pula, kamu nggak berhak lho mencampuri urusan pribadiku, apa lagi soal perasaan. Aku nggak ada hak juga buat dengerin omong kosongmu soal boleh atau enggaknya jatuh cinta. Namanya cinta, mau dia ospek, lebih muda, lebih tua, bahkan belum lahir pun, nggak ada yang ngelarang seseorang buat jatuh cinta. Toh, perasaan nggak bisa memilih kepada siapa aku harus jatuh cinta. Cinta itu bukan soal status, Bro. Bukan soal umur juga. Memangnya kamu jatuh cinta apa mau melamar kerjaan, sih?"
Yang lain tertawa, Lilith pun ikut tertawa. Dan sejak saat itu Lilith mulai menghormati Mass Pras, dari cara lelaki itu berbicara, menatap wanita dengan hormat, Lilith tahu lelaki itu tahu cara menghargai wanita, ia sopan dan baik.
"Hei, tetapi aku kayanya perlu meluruskan sesuatu lho ini, aku nggak lagi jatuh cinta sama siapapun, ya," tambahnya lagi dan membuat mereka kembali tertawa.
Sejak itu lah, Lilith terkadang dikenalkan oleh teman Mas Pras, tetapi teman yang baik-baik. Terkadang mereka juga ke kantin bersama, Lilith jadi seperti adik yang sedang mereka jaga.
lima bulan terlewati, Lilith mulanya baik-baik saja berada di kampus, mencari teman tak sesusah yang dipikirannya. Meski beberapa teman kelasnya ada yang susah didekati, yang sukanya menyendiri, Lilith tak ambil pusing. Menurutnya, tak harus semua orang menjadi temannya. Hanya saja kendalanya, beberapa senior terkadang menghadang Lilith untuk menggodanya.
Seperti saat ini misalnya, ketika ia berada di lorong toilet wanita, segerombolan senior yang menghadangnya, tak memberi celah untuk Lilith lewat. Lima? tidak, mereka ada delapan, seperti personel boyband Korea saja.
"Lilith, ya?"
"Iya, kak."
"Kalian tahu nggak? kisah mitologi Yunani, ada tuh cewek namanya Lilith, suka menggoda dan menyesatkan manusia." Mereka tertawa, menikmatin lelucon sampah. "Coba dong, Lith. Godain kita."
"Udah gue rekam, tinggal lapor aja sih ini."
Lilith tersentak, juga ke delapan lelaki itu refleks menoleh ke belakang. Di sana, seorang lelaki yang susah sekali ditemui Lilith akhir-akhir ini, Danish, sedang menatap Lilith dengan tatapan cemas.
"Lo ngapain sih! Siapa sih lo?!" salah satu dari mereka hendak merebut ponsel yang ia panggil.
"Mahasiswa baru juga kayanya," sahut yang lain.
"Kenapa? lo pacarnya?" tantang yang lain.
Namun tatapan Danish tak pernah lekang dari kedua iris Lilith. "Dosen udah pada nunggu kalian di depan, tengok aja kalo nggak percaya," ujar Danish datar.
Lantas kedelapan lelaki itu tampak saling berpandangan sebelum akhirnya pergi. Di sana, Lilith segera menghampiri Danish. "Makasih ya, Dan."
"Sama-sama," balas Danish.
Dulu, jika ada situasi seperti ini, Abimanyu lah yang selalu ada di sana. Menyelamatkan Lilith dan menggoda gadis itu dengan bualan, 'Makanya jadi cewek tuh jangan terlalu cantik, jangan populer, aku kan jadi kewalahan jagain kamu.'
"Memang ya, cantik itu bencana," ujar Danish membuyarkan lamunan Lilith. "Malah ngelamun sih? Ngelamunin apa? Abim? Salah kalian nggak satu kampus."
Lilith tertawa. "Apaan sih, enggak lah!"
"Taman depan, yuk? cuacanya lagi bagus buat ngobrol nih."
Setelah mengiyakan, Lilith dan Danish benar-benar duduk di salah satu kursi panjang, tepat di sebelah gedung fakultas. Selain perpustakaan dan kantin, banyak sekali yang selalu berada di sini selagi menunggu jam masuk mereka. Lilith dan Danish memilih kursi panjang tepat di bawah pohon rimbun, setidaknya agar mereka tidak kepanasan meski cuacanya sejuk.
"Sekali lagi, makasih banyak ya, Danish. Gue selalu nggak bisa berpikir jernih kalo udah di situasi kaya tadi. Bawaannya panik."
"Iya, gue tahu."
"Omong-omong, kok lo bisa ada di sana?"
"Tadi gue emang niat nyari lo sih, jadi gue nanya ke temen yang satu kelas sama lo. Mereka bilang lo ke toilet, pas gue liat ada banyak cowok masuk ke toilet cewek, gue tahu kalo mereka pasti mau macem-macem sama lo."
"Macem-macem?"
"Nggak seliar apa yang ada di pikiran lo sih, tapi namanya cowok, pastilah ada yang nakal. Apa lagi mereka kelompoknya si Bram."
"Bram?"
"Lo nggak kenal? Dia udah tua, lho. Tapi nggak lulus-lulus karena kelakuannya. Well, karena orang tuanya berpengaruh, jadi dia nggak dikeluarin walaupun sukaanya bikin onar."
Lilith menghela napas. "Well, namanya dunia, entah kemana gue pergi, pasti ada aja anak bandelnya."
"Right! Dan lo harus inget, kemana pun lo pergi, lo harus jadi cewek yang lebih dewasa, karena nggak setiap lo lagi kesulitan, seseorang selalu datang kaya pahlawan. Ada kalanya gue pengin liat lo mandiri dan tegak sama semuanya yang udah terlewati."
Lilit menatap Danish dengan heran. "Omongan lo kok tumben bermakna dan berteka-teki gitu, ada apa? Dan lo juga tumben hari ini nyari gue."
Danish mendesahkan napas, ia merogoh ponsel di sakunya dan tampak mencari sesuatu.
"Gue tadinya nggak mau ngasih tau lo, cuma entah sebentar atau lama, pasti lo bakal tahu. Ya namanya luka, dikasih tahu sekarang atau besok, rasanya pasti sama aja menyakitkan, kan?"
Danish lantas memperlihatkan sesuatu kepada Lilith. Sebuah foto Abimanyu sedang bersama seorang gadis di sebuah kafe, kafe tempat dulu Lilith dan Abimanyu sering kencan di sana. Namun Lilith berusaha mengendalikan rasa curiganya, meski rasanya panas sekali.
"Itu, cuma temen kali."
Danish tertawa. "Gue baru tahu sih kalo Abim bisa begini. Gue nggak tahu dia ini mau nyari cewek kaya gimana lagi." Lalu Danish memperlihatkan sebuah foto Abimanyu yang sedang memeluk gadis itu. Karena ingin benar-benar menyadarkan Lilith, Danish lantas menggulir lagi sebuah foto di mana Abimanyu tampak mencium kening gadis itu. "Ini mereka temen? Kalau begitu lo tahu dong dia siapa?"
Lilith menggeleng. Rasanya sakit sekali. Sekujur tubuhnya seperti baru saja di guyur lava panas. Lilith ingin menangis, namun ia tak mampu.
"Kalo gue jadi lo, Lith, gue nggak akan nyiramin tanaman yang gue tahu kalo itu tanaman beracun. Tapi gue tahu lo, lo pasti mau bertahan, kan?"
Lilith masih memikirkan perkataan Danish tadi siang dan hal tersebut jelas sangat mengganggunya. Lilith jadi merasakan hatinya lebih berat dari sebelumnya, mmebuatnya jadi banyak beroikir dan terpaksa melakukan kegiatan seperti biasa. Lilith mengambil buku diarynya dan mulai menulskan tanggal. Lilith selalu melakukan hal tersebut bila hatinya sudah terasa terbebani dan dan tak mampu ia ungkapkan pada siapapun, namun sebelum kata pertama tertulis, Lilith mengurungkannya dan tertarik untuk mellihat tulisan yang ia tulis sebelumnya.
-Diary Lilith-
Menulismu di sini, tak ubahnya menabur garam pada luka menganga.
Sejenak terdiam, menarik napas perlahan sebelum jemariku menari lambat di atas mesin ketik arkais pemberianmu terakhir kali. Merasakan d**a mengetat sakit tatkala isi kepala terpaksa menghadirkan dirimu kembali. Nahasya, menuliskan surat untukmu tak semudah dulu, saat tungkai ini berlari mencapaimu dan berjinjit untuk menggapai sepucuk kertas berisi prosa pertamaku yang mengapit di kedua jarimu. Aku menyerah lebih awal, membiarkan isi lembar putih yang terbelai udara siang di sisa jam istirahat tersebut dibaca olehmu. Sebab aku menyukainya, saat kamu menjadi orang pertama yang membaca dan berkomentar tentang senandung hatiku. Sebab aku juga tak memiliki alasan lain selain menulis untukmu, caraku menyuarakan perasaanku padamu.
“Aku ingin melihat kamu menulis lebih banyak lagi,” katamu saat mengembalikan lembar tersebut padaku dengan senyum ranum yang menyentuh mata. Seolah kamu ingin aku mengutarakan lebih jelas lagi perasaanku kala itu. Kendati mungkin dirimu telah mengerti suara detak jantungku yang menyentuh hatimu.
Dulu, selalu ada setumpuk kalimat yang menggantung di belakang kepala. Aku selalu mampu menyelesaikan beberapa lembar prosa, menumpahkan isi hatiku tanpa ragu. Tanpa peduli patah. Sebab saat aku membubuhkan namamu, semuanya jadi terasa mudah dan indah. Senantiasa hangat dalam sajak yang tertata rapi di kotak memori yang telah terkunci, yang bertajuk Memori Rasa.
Perasaan yang sama dalam persahabatan tak akan mengubah apa-apa bila salah satunya tak melangkah lebih dekat. Setelah mengepak niat dan tekad, aku memintamu datang ke suatu tempat. “Aku akan menunggumu, aku juga ingin menanyakan sesuatu,” katamu di malam yang gerimis saat menungguku kembali dari rumah. Tetapi aku tidak menemuimu lagi, membiarkan dirimu membeku di bawah naungan halte bersama riuhnya tetesan yang membasahi sebagian hatimu. Kepingan maaf serta penyesalan telah kupersiapkan untukmu, tetapi dirimu justru mengatakan, “Tak masalah, aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan, dan kamu juga tahu apa yang akan aku tanyakan. Teruslah menulis! Aku suka mendengar suara hatimu. Aku ketagihan merasakan perasaanmu.”
Dalam perjalanan hidup yang kian menipis, dirimu menjadi sejarah yang tak tergantikan, alasanku memulai untuk menulis. Meski selalu hadir dalam setiap rangkai kata, mungkin bagimu menyelami diriku membuatmu banyak menemukan ragam perasaan yang sulit ditampik, yang terkadang menjadi alasanmu untuk berhenti. Kecemasan, kesedihan, cemburu, serta amarah yang meluap secara gamblang membuatmu perlahan berjalan lambat, berhenti dan berlayar pada pelabuhan lain tanpa salam perpisahan.
Barangkali memang sudah takdirnya begini, kamu hadir sebagai pelajaran serta luka tak terlupakan. Janji yang menggunung pada akhirnya meletus bersama air mata dan jerit kebencian. Perasaan sedalam lautan akan mengering dan gersang. Bila hujan datang, hanya akan meninggalkan genangan bayang lampau.
Selepas satu pesanmu tiba di alamat emailku, aku ingin membinasakan kotak kenangan kita yang dingin membeku. Namun sialnya aku tak mampu. Hidup tanpamu seperti memeluk udara kosong.