Bimo menghabiskan tiga hari mencari pilihan selain merger. Ia dan tim keuangan menemukan investor baru, tetapi nilainya belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan perusahaan.
Clarina membantu mempertemukannya dengan beberapa mitra tanpa meminta imbalan pribadi. Ia juga menegaskan kepada Jeslin melalui pesan bahwa tidak ada hubungan romantis antara dirinya dan Bimo.
Jeslin membalas dengan sopan. Ia tidak ingin menjadikan Clarina musuh atas keputusan yang dibuat keluarga mereka.
Pada hari terakhir, Leonardo memanggil Bimo.
"Tandatangani persetujuan pertunangan dan merger selesai," katanya.
"Tidak."
"Perusahaan ini dibangun untuk kamu."
"Kalau harus dibayar dengan kehidupan pribadi saya dan Clarina, saya tidak menginginkannya."
Bimo menawarkan restrukturisasi, penjualan beberapa aset, dan pengurangan fasilitas direksi sebelum memecat karyawan. Leonardo menolak karena itu akan menurunkan citra perusahaan.
"Citra gak lebih penting daripada orang-orang yang bekerja di sini," jawab Bimo.
Dewan direksi akhirnya memilih rencana Bimo setelah Clarina menyatakan keluarganya juga menarik syarat pernikahan. Merger dibatalkan, tetapi perusahaan mendapat waktu melalui investasi terbatas dan restrukturisasi.
Bimo keluar dari rapat dalam keadaan sangat lelah. Ia menelepon Jeslin seperti yang dijanjikan.
"Udah selesai," katanya.
"Menang?"
"Gak ada yang menang. Tapi kami punya kesempatan buat memperbaiki keadaan tanpa pernikahan bisnis."
"Aku bangga sama kamu."
Bimo terdiam. Kalimat sederhana itu terasa lebih berharga daripada hasil rapat.
Malamnya Bimo datang ke rumah Jeslin dengan membawa makan malam, bukan bunga. Mereka makan bersama Riana dan ayah Jeslin. Ketika ponsel Bimo berbunyi, ia menjelaskan bahwa itu laporan kantor lalu meminta izin menjawab.
Jeslin tersenyum. Perubahannya masih kecil dan belum teruji waktu, tetapi setidaknya Bimo mulai memahami bahwa hubungan tidak meminta ia meninggalkan pekerjaan. Hubungan hanya meminta dirinya berhenti menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk meninggalkan orang lain.
Bimo berjanji menghabiskan hari Minggu tanpa membuka laptop. Jeslin tidak percaya sampai Bimo datang ke rumahnya hanya membawa dompet dan ponsel.
"Laptop kamu mana?" tanya Jeslin.
"Di rumah."
"Tablet?"
"Juga di rumah."
"Ponsel kedua?"
Bimo menghela napas. "Aku punya satu ponsel."
Mereka pergi ke taman, makan siang, lalu menonton film. Awalnya Bimo tampak gelisah setiap kali ponselnya bergetar. Jeslin tidak melarangnya memeriksa.
"Kalau penting, jawab aja."
"Tim sudah tahu kapan harus menghubungi. Ini cuma grup kantor."
Di tengah film, panggilan darurat masuk. Salah satu mesin produksi berhenti. Bimo menjelaskan keadaan dan keluar ruangan untuk menjawab. Ia kembali lima belas menit kemudian.
"Udah selesai?"
"Sudah diserahkan ke kepala operasional."
Jeslin tersenyum. Dulu Bimo pasti pergi ke pabrik dan tidak kembali sepanjang hari. Kini ia belajar mendelegasikan tanpa mengabaikan tanggung jawab.
Namun malamnya Leonardo menelepon Jeslin. Ayah Bimo meminta perempuan itu menjauh karena dianggap mengubah putranya menjadi lemah.
"Bimo membuat keputusannya sendiri," jawab Jeslin. "Kalau Bapak keberatan, bicaralah langsung dengannya."
Jeslin mengakhiri panggilan lalu menceritakannya kepada Bimo. Ia tidak menyembunyikan kejadian itu untuk menghindari pertengkaran.
Bimo marah, tetapi tidak langsung menemui ayahnya. "Aku akan bicara besok ketika lebih tenang."
Hari tanpa pekerjaan mereka tidak sempurna. Namun kesempurnaan memang bukan tujuan. Yang mereka butuhkan adalah kesediaan kembali kepada satu sama lain setelah gangguan datang.
Setelah kesehatannya pulih, Jeslin mulai mencari pekerjaan. Ia ingin memastikan tempat baru tidak memiliki hubungan dengan perusahaan Bimo.
Fiona mengirim informasi lowongan pada perusahaan pemasaran. Jeslin mengikuti wawancara dan mendapat posisi sebagai analis junior.
"Kamu yakin gak mau istirahat lebih lama?" tanya Bimo.
"Aku udah cukup istirahat. Dan aku butuh hidup yang bukan cuma tentang kamu."
Bimo sempat terluka mendengar kalimat itu, tetapi memahami maksudnya. Ia membantu Jeslin memilih pakaian wawancara tanpa mencoba menggunakan koneksi.
Hari pertama kerja terasa asing. Tidak ada Bimo di lantai atas dan tidak ada kebutuhan menyembunyikan hubungan. Jeslin dapat memperkenalkan diri hanya sebagai Jeslin.
Atasan barunya, Armand, bersikap ramah dan menghargai pekerjaannya. Ketika Bimo mengetahui nama itu, ia terlihat sedikit cemburu.
"Dia sering menghubungi malam-malam?"
"Kalau ada revisi. Sama seperti kamu menghubungi stafmu."
"Aku cuma tanya."
Jeslin menatapnya. "Kamu boleh cemburu, tapi jangan mengatur pekerjaanku."
Bimo mengangguk. "Maaf. Aku lagi belajar."
Beberapa minggu kemudian Jeslin dipercaya memimpin presentasi kecil. Bimo ingin hadir, tetapi acara itu tertutup untuk internal perusahaan.
"Nanti aku ceritain hasilnya," kata Jeslin.
Presentasi berjalan berhasil. Jeslin pulang membawa rasa bangga yang tidak bergantung pada penilaian Bimo.
Bimo merayakannya dengan makanan sederhana. Ia tidak mengambil kredit atau mengatakan keberhasilan itu terjadi karena dukungannya.
"Aku bangga sama kamu," katanya.
Jeslin tersenyum. Kali ini kalimat tersebut tidak terdengar seperti pujian seorang atasan, melainkan dukungan seorang pasangan.
Clarina mengundang Bimo dan Jeslin makan malam. Ia ingin memberi tahu bahwa dirinya akan pindah ke Singapura untuk memimpin cabang perusahaan keluarganya.
"Aku capek dijadikan alat pernikahan bisnis," katanya. "Di sana aku bisa membuktikan kemampuanku tanpa nama Bimo."
Jeslin meminta maaf karena pernah menilainya hanya sebagai ancaman.
"Aku juga salah," jawab Clarina. "Aku sengaja membiarkan kalian cemburu karena kupikir itu akan mempercepat penolakan Bimo terhadap merger."
Bimo menatapnya. "Kita sama-sama memakai perasaan Jeslin tanpa mengajaknya bicara."
Clarina mengangguk. Ia memberikan seluruh dokumen mengenai masalah arus kas perusahaan. Dalam berkas tersebut terdapat transaksi mencurigakan yang dilakukan Leonardo.
"Ayahmu memindahkan dana sebelum mendorong merger," katanya. "Mungkin perusahaan sengaja dibuat terlihat sekarat agar dewan menerima kesepakatan."
Bimo terpukul. Jika benar, ribuan karyawan hampir kehilangan pekerjaan karena permainan ayahnya sendiri.
Ia memberi tahu Jeslin malam itu, bukan menyembunyikannya sampai memiliki jawaban.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jeslin.
"Audit independen. Kalau Ayah bersalah, aku harus melaporkannya."
"Itu akan berat."
"Iya. Aku cuma ingin kamu tahu sejak awal."
Jeslin menggenggam tangannya. "Aku akan ada sebagai pacar kamu. Tapi keputusan perusahaan tetap harus kamu buat sebagai direktur."
Keesokan harinya Clarina berangkat. Ia meninggalkan kehidupan Bimo tanpa menjadi lawan atau calon istri. Untuk pertama kalinya ketiganya memahami bahwa mereka tidak perlu bersaing atas hidup yang sebenarnya dapat dipilih sendiri.