Audit menemukan dana perusahaan dipindahkan ke beberapa rekening yang terhubung dengan bisnis pribadi Leonardo. Nilainya cukup besar untuk menjelaskan krisis arus kas.
Bimo menemui ayahnya dengan didampingi pengacara dan anggota dewan.
"Kenapa Ayah melakukan ini?"
Leonardo tidak menyangkal. Ia menganggap dana tersebut milik keluarga dan berniat mengembalikannya setelah merger selesai.
"Ayah hampir mengorbankan karyawan dan memaksaku menikah demi menutupinya."
"Semua dilakukan agar perusahaan tetap besar."
"Perusahaan bukan kecanduan yang harus dipertahankan dengan cara apa pun."
Bimo mencopot ayahnya dari jabatan komisaris dan menyerahkan bukti kepada pihak berwenang. Keputusan itu membuat keluarga besar memusuhinya.
Tekanan pekerjaan kembali meningkat. Bimo mulai pulang larut dan membatalkan dua pertemuan dengan Jeslin. Pada pembatalan ketiga, Jeslin datang ke kantornya.
"Kita mulai mengulang pola lama," katanya.
"Aku lagi menghadapi krisis."
"Aku tahu. Aku gak minta kamu meninggalkan kerjaan. Aku cuma minta kamu berhenti menjanjikan waktu yang gak bisa kamu kasih."
Bimo menatap kalendernya yang penuh. Ia sadar terus membuat janji karena takut Jeslin kecewa, lalu justru mengecewakannya lebih dalam.
Mereka menyepakati satu pertemuan pasti setiap minggu dan kabar jujur jika keadaan berubah. Bimo juga menunjuk tim krisis agar tidak menangani semuanya sendiri.
Audit itu tidak hanya membongkar kesalahan Leonardo. Ia kembali memperlihatkan kecanduan Bimo terhadap perasaan dibutuhkan. Bedanya, kali ini Bimo mengenal tanda-tandanya sebelum kehilangan Jeslin.
Bimo tidak tidur selama hampir dua hari menjelang rapat pemegang saham. Ia minum kopi dan obat penambah konsentrasi yang diberikan seorang kenalan.
Saat presentasi berlangsung, pandangannya kabur. Dadanya berdebar sangat cepat dan tubuhnya jatuh di depan seluruh peserta.
Jeslin menerima kabar dari Fiona. Ia berlari ke rumah sakit dan menemukan Bimo belum sadar.
Dokter mengatakan tubuhnya mengalami kelelahan berat serta reaksi akibat penggunaan obat melebihi dosis aman.
"Overdose?" tanya Jeslin.
"Dosisnya tidak mematikan, tapi kombinasi kurang tidur dan kafein membuat kondisinya berbahaya."
Jeslin duduk di samping ranjang. Ia marah karena Bimo kembali memaksa tubuhnya, tetapi ketakutan membuat tangannya gemetar.
Ketika Bimo sadar, hal pertama yang dilihatnya adalah Jeslin.
"Maaf," katanya lemah.
"Kamu hampir mati karena kerjaan."
"Aku pikir cuma butuh bertahan sampai rapat selesai."
"Selalu ada rapat berikutnya, Bim. Kalau kamu terus begini, tubuh kamu yang bakal berhenti duluan."
Bimo menangis. Untuk pertama kalinya ia mengakui tidak tahu cara berhenti. Pekerjaan membuatnya merasa berguna dan memberinya alasan menghindari ketakutan lain.
Ia bersedia menjalani konseling dan mengambil cuti. Dewan menunjuk pelaksana tugas sementara.
Jeslin tidak menjanjikan akan selalu berada di sisinya jika Bimo menolak berubah. "Aku sayang kamu, tapi aku gak bisa menyelamatkan orang yang terus memilih menghancurkan dirinya sendiri."
Bimo menggenggam tangannya. "Aku mau berubah. Bukan cuma supaya kamu tinggal. Aku capek hidup kayak gini."
Judul yang selama ini hanya menggambarkan kecanduannya pada pekerjaan kini menjadi kenyataan yang hampir mengambil nyawanya. Bimo akhirnya mencapai batas yang tidak dapat diselesaikan dengan satu surel atau rapat tambahan.
Bimo harus menjalani rawat inap selama tiga hari. Laptop dan ponselnya disimpan Jeslin setelah mendapat persetujuan dokter.
"Aku tetap direktur," protes Bimo.
"Sekarang kamu pasien. Pelaksana tugas udah ditunjuk."
Hari pertama terasa seperti hukuman. Bimo terus bertanya tentang rapat dan hasil audit. Jeslin hanya memberikan informasi penting yang sudah disaring tim.
Konselor rumah sakit datang pada hari kedua. Bimo awalnya berkata dirinya hanya terlalu lelah, bukan kecanduan kerja. Namun ketika diminta menyebutkan kapan terakhir beristirahat tanpa merasa bersalah, ia tidak mampu menjawab.
"Kalau saya berhenti, semuanya bisa berantakan," katanya.
"Apakah itu fakta atau rasa takut?" tanya konselor.
Bimo terdiam. Sejak kecil Leonardo mengajarkan bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pencapaian. Kegagalan sekecil apa pun selalu dianggap kelemahan.
Jeslin mendengarkan dari samping. Ia baru memahami pekerjaan bukan sekadar kesukaan Bimo. Itu adalah tempat persembunyiannya.
Setelah pulang dari rumah sakit, Bimo tinggal sementara di rumah ibunya. Ia mengambil cuti sebulan dan menyerahkan seluruh akses operasional kepada tim.
"Aku gak tahu harus ngapain seharian," katanya kepada Jeslin.
"Mulai dari tidur, makan, dan ikut konseling. Kamu gak harus produktif setiap menit."
Bimo mencoba. Pada hari ketiga tanpa kerja, ia akhirnya tidur siang tanpa memasang alarm.
Jeslin mengunjungi Bimo setiap dua hari. Ia menolak berada di sana sepanjang waktu karena tetap memiliki pekerjaan dan kehidupan sendiri.
Ibu Bimo sempat menganggap Jeslin terlalu tega.
"Bimo membutuhkan kamu sekarang," katanya.
"Saya mendukung dia. Tapi saya bukan obat dan bukan perawat pribadinya."
Bimo mendengar percakapan tersebut dan membela Jeslin. "Dia benar, Ma. Aku yang harus menjalani pemulihan ini."
Konseling membuat Bimo mulai mengenali pola hidupnya. Ia memakai kesibukan untuk menghindari konflik dan menjadikan lelah sebagai bukti pengorbanan.
Jeslin juga menemui konselor sendiri. Ia menyadari selama bertahun-tahun selalu mencoba menarik perhatian Bimo dengan pertengkaran, ancaman putus, atau bekerja diam-diam di perusahaannya.
"Aku gak mau hubungan kami cuma bertahan karena aku terus mengawasi dia," katanya.
Pada akhir minggu, mereka duduk bersama membuat batas baru. Bimo tidak boleh berbohong tentang jam kerja atau kondisi kesehatannya. Jeslin tidak boleh memeriksa pekerjaan dan komunikasi pribadi Bimo secara diam-diam.
"Kalau salah satu batas dilanggar?" tanya Bimo.
"Kita bicara dan lihat apakah hubungan ini masih sehat."
"Kamu bisa pergi?"
"Aku bisa. Kamu juga bisa. Kita tinggal karena memilih, bukan karena takut sendirian."
Jawaban itu menakutkan, tetapi juga jujur. Bimo akhirnya memahami cinta tidak dapat dipertahankan dengan membuat seseorang merasa bertanggung jawab atas kesembuhannya.
Leonardo diperiksa atas penyalahgunaan dana perusahaan. Ia meminta bertemu Bimo sebelum memberikan kesaksian.
"Kalau kamu mencabut laporan, semua bisa diselesaikan secara keluarga," katanya.
"Ini bukan cuma masalah keluarga. Ada karyawan dan pemegang saham yang dirugikan."
Leonardo menuduh Jeslin memengaruhi keputusan putranya. Bimo tidak membiarkan nama Jeslin dijadikan alasan.
"Saya membuat keputusan sendiri. Bahkan Jeslin meminta saya memisahkan urusan hubungan dan perusahaan."
Ayahnya kemudian menyerang titik paling lemah Bimo. Ia berkata Bimo tidak akan mampu memimpin perusahaan jika harus bergantung pada konseling.
"Meminta bantuan tidak membuat saya lemah," jawab Bimo. "Berpura-pura mampu sampai hampir mati justru membuat saya berbahaya."
Pertemuan berakhir tanpa perdamaian. Bimo keluar dengan tangan gemetar, tetapi tidak kembali bekerja untuk menekan emosinya. Ia menelepon konselor lalu berjalan di taman sampai pikirannya tenang.
Jeslin baru diberi tahu malamnya.
"Kenapa gak langsung telepon aku?" tanyanya.
"Karena aku perlu memakai bantuan yang tepat. Aku cerita sekarang karena gak mau menyembunyikannya."
Jeslin memeluknya. Bimo tidak menggunakan pelukan itu sebagai satu-satunya cara untuk merasa baik. Ia telah belajar bahwa pasangan dapat menemani, tetapi bukan bertanggung jawab memperbaiki seluruh luka masa kecilnya.