Setelah sebulan, dokter mengizinkan Bimo kembali bekerja secara bertahap. Ia hanya boleh berada di kantor enam jam sehari dan tidak membawa pekerjaan pulang.
Hari pertama membuatnya gelisah. Kotak masuk penuh dan banyak keputusan tertunda. Kebiasaan lamanya ingin menangani semuanya sekaligus.
Fiona yang kini menjadi koordinator tim menahan beberapa berkas. "Pak Bimo cukup kerjain tiga prioritas hari ini. Sisanya udah dibagi."
"Kamu dapat perintah dari Jeslin?"
"Enggak. Dari dokter perusahaan dan dewan. Jeslin bahkan gak tahu jadwal detail Bapak."
Bimo tersenyum malu. Ia mulai mempercayai tim dan menerima bahwa perusahaan tidak runtuh selama dirinya cuti.
Pukul lima sore ia menutup laptop meski satu surel penting belum dijawab. Ia menjadwalkannya untuk esok pagi.
Jeslin menunggu di sebuah restoran. Bimo tiba tepat waktu.
"Gimana rasanya?" tanya Jeslin.
"Aneh. Ternyata orang lain bisa kerja tanpa aku."
"Mengejutkan sekali."
Mereka tertawa. Namun telepon dari kantor masuk di tengah makan. Bimo mendengarkan laporan singkat dan memastikan masalah itu bukan darurat.
"Besok pagi kita bahas," katanya lalu menutup telepon.
Jeslin tidak memberikan pujian berlebihan. Perubahan Bimo bukan pertunjukan untuk mendapatkan hadiah. Itu cara baru menjalani hidup yang harus dipilihnya setiap hari.
Armand menawarkan Jeslin posisi lebih tinggi untuk memimpin proyek selama enam bulan di Bandung. Kesempatan itu sangat baik bagi kariernya, tetapi membuat Jeslin harus menjalani hubungan jarak jauh.
"Kamu pengen ambil?" tanya Bimo.
"Iya. Tapi aku takut kita kembali jauh."
"Jarak kita dulu bukan soal kota. Aku bahkan gak hadir ketika berada di ruangan yang sama."
Bimo mendukung tawaran tersebut. Mereka menyusun jadwal bertemu yang tidak mengganggu pekerjaan dan sepakat tidak menjanjikan panggilan jika sedang sibuk.
Kecemburuan Bimo terhadap Armand masih ada. Ia mengakuinya tanpa menuduh Jeslin.
"Aku takut dia bisa kasih waktu yang dulu gak bisa aku kasih," katanya.
"Aku memilih hubungan sama kamu. Tapi kamu juga harus percaya tanpa mengawasi."
Jeslin menerima proyek itu. Pada hari keberangkatannya, Bimo mengantar ke stasiun tanpa meminta ia membatalkan.
"Enam bulan," kata Jeslin.
"Aku gak akan menghitungnya sebagai hukuman."
"Dan jangan kerja dua puluh jam sehari cuma karena aku gak ada."
"Jadwal konselingku tetap jalan."
Kereta berangkat. Bimo berdiri di peron sampai tidak terlihat lagi, lalu pulang ke apartemennya. Dulu kesepian selalu diisi pekerjaan. Kali ini ia memasak makan malam, membaca buku, dan tidur pada waktunya.
Di dalam kereta, Jeslin memandang kota yang menjauh. Untuk pertama kali ia mengejar karier tanpa harus masuk ke dunia Bimo. Mereka sedang belajar bahwa dua kehidupan dapat tumbuh sendiri tanpa membuat hubungan kehilangan tempatnya.
Minggu pertama di Bandung membuat Jeslin sangat sibuk. Ia harus mengenal tim baru, mempelajari proyek, dan menyesuaikan diri dengan apartemen kecil yang disediakan perusahaan.
Bimo mengirim pesan setiap pagi tanpa menuntut jawaban cepat. Mereka melakukan panggilan video pada malam ketiga.
"Kamu kelihatan capek," kata Bimo.
"Kamu juga. Pulang jam berapa tadi?"
"Jam enam. Aku bahkan punya bukti dari satpam."
Jeslin tertawa. Jarak membuat mereka belajar bercerita, bukan mengawasi.
Masalah muncul ketika Armand mengunggah foto makan malam tim. Jeslin duduk di sampingnya. Bimo merasakan kecemburuan, tetapi tidak menelepon dengan amarah.
"Aku lihat foto tim kamu," katanya saat mereka berbicara. "Aku sempat gak nyaman."
"Itu makan malam semua anggota proyek."
"Aku tahu. Aku cuma mau jujur soal perasaanku tanpa menuduh kamu."
Jeslin menghargai caranya. Ia tidak mengirim bukti atau laporan panjang. Kepercayaan tidak mungkin tumbuh kalau setiap kegiatan harus dibuktikan.
Di Jakarta, Bimo menghadiri konseling dan menjaga jam kerja. Ia mulai berolahraga bersama Fiona serta beberapa karyawan setiap Jumat.
Untuk pertama kalinya, hubungan jarak jauh mereka tidak dipenuhi panggilan tak terjawab dan pertengkaran. Mereka tetap rindu, tetapi tidak menjadikan rindu sebagai alasan untuk menguasai waktu pasangan.
Bulan kedua membawa tekanan besar. Proyek Jeslin tertinggal dan Armand meminta tim bekerja sampai tengah malam selama seminggu.
Jeslin mulai melewatkan makan. Ia menutupi kondisi itu dari Bimo karena takut dianggap tidak mampu menjaga diri.
Saat panggilan video, Jeslin hampir pingsan. Bimo langsung menyadari wajahnya pucat.
"Kamu udah makan?"
"Udah."
Jawaban itu terlalu cepat. Bimo ingin memesan makanan dan menghubungi Armand, tetapi berhenti.
"Aku gak akan mengambil alih. Tapi tolong jujur."
Jeslin akhirnya mengaku belum makan sejak siang. Ia juga sudah beberapa hari tidak minum suplemen zat besi.
"Aku takut kamu nyuruh aku pulang."
"Aku gak punya hak nyuruh kamu berhenti. Tapi aku boleh bilang aku khawatir."
Jeslin memesan makanan dan menjadwalkan pemeriksaan. Ia juga berbicara kepada Armand tentang jam kerja tim. Ternyata beberapa anggota lain mengalami kelelahan serupa.
Armand mengubah jadwal dan meminta maaf. Ia tidak pernah memerintahkan mereka melewatkan makan, tetapi gagal melihat tekanan yang diciptakannya.
Jeslin sadar dirinya mulai mengulangi kebiasaan Bimo: menganggap kelelahan sebagai bukti kesungguhan.
"Aku dulu marah lihat kamu kayak gini," katanya kepada Bimo. "Sekarang aku malah melakukan hal yang sama."
"Kita bisa saling mengingatkan tanpa merasa paling benar."
Kesalahan lama tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama. Kadang-kadang ia berpindah kepada orang yang paling sering menyaksikannya.
Pengadilan menyatakan Leonardo bersalah menyalahgunakan dana perusahaan. Ia mendapat hukuman dan wajib mengembalikan seluruh kerugian.
Bimo menghadiri pembacaan putusan tanpa Jeslin karena perempuan itu harus memimpin presentasi di Bandung. Mereka sepakat kehadiran Jeslin bukan ukuran dukungannya.
Setelah sidang, Leonardo meminta berbicara kepada putranya.
"Kamu puas melihat ayahmu dihukum?"
"Enggak. Tapi saya juga gak bisa berpura-pura Ayah tidak melakukan apa-apa."
Leonardo menuduh perusahaan akan runtuh tanpa dirinya. Bimo menunjukkan laporan terbaru. Restrukturisasi mulai berhasil dan tidak terjadi pemutusan kerja besar-besaran.
"Perusahaan bisa hidup tanpa kita," kata Bimo. "Itu bukan kegagalan."
Malamnya Bimo menelepon Jeslin. Ia menangis setelah berusaha kuat sepanjang hari.
"Aku benci keputusan Ayah, tapi dia tetap ayahku," katanya.
"Kamu boleh sedih."
Jeslin tidak menyuruhnya segera memaafkan atau memutus hubungan. Ia hanya mendengarkan.
Keesokan hari Bimo mengambil cuti dan menemui konselor. Ia tidak bersembunyi di kantor seperti dahulu.
Di Bandung, Jeslin menyelesaikan presentasinya dengan baik. Mereka merayakan dua hal yang berbeda melalui panggilan video: keberanian Bimo menghadapi kesedihan dan keberhasilan Jeslin dalam pekerjaannya.