Bimo membeli cincin setelah berbulan-bulan memikirkannya. Ia tidak membuat lamaran di depan banyak orang karena tidak ingin Jeslin merasa harus menjawab.
Mereka sedang makan malam di rumah ketika Bimo meletakkan kotak kecil di meja.
"Aku ingin menikah sama kamu," katanya. "Tapi kamu gak harus jawab malam ini."
Jeslin menatap cincin itu. "Kenapa sekarang?"
"Bukan karena semuanya sudah sempurna. Aku cuma tahu aku ingin terus membangun hidup sama kamu."
"Dan kalau aku belum siap?"
"Aku tetap menjalani hubungan ini selama masih sehat buat kita berdua."
Jeslin meminta waktu. Bimo menyimpan kembali cincin tanpa menunjukkan kekecewaan.
Selama dua minggu Jeslin memikirkan pernikahan, bukan pesta. Ia mempertimbangkan kebiasaan Bimo, pemulihannya, dan ketakutannya sendiri kehilangan kemandirian.
Pada akhir minggu kedua, Jeslin mendatangi kantor Bimo setelah jam kerja. Ruangan itu sudah kosong dan laptop Bimo tertutup.
"Aku punya jawaban," katanya.
Bimo berdiri gugup.
"Aku mau menikah sama kamu. Tapi bukan sebagai hadiah karena kamu berubah. Perubahan kamu tetap harus kamu jalani untuk diri sendiri."
"Aku mengerti."
Jeslin mengulurkan tangan. Bimo memasangkan cincin lalu memeluknya.
Mereka bertunangan di ruangan yang dahulu membuat hubungan terasa seperti hubungan direktur dan bawahan. Kini keduanya berdiri sebagai dua orang yang bebas memilih.
Keluarga mereka ingin mengadakan pesta besar, tetapi Jeslin dan Bimo memilih pernikahan kecil. Mereka tidak mau persiapan acara berubah menjadi pekerjaan baru yang menguasai hidup.
Bimo sempat membuat lembar kerja berisi ratusan tugas. Jeslin menatapnya tidak percaya.
"Kamu bikin pernikahan atau proyek pembangunan gedung?"
"Aku cuma pengen semuanya teratur."
"Kita butuh tempat, makanan, pakaian, dan orang-orang penting. Bukan dua belas rapat."
Bimo tertawa dan menghapus sebagian besar daftar.
Masalah muncul ketika ibu Bimo ingin mengundang seluruh rekan bisnis. Jeslin menolak dengan sopan. Bimo mendukung keputusan tersebut tanpa membiarkan Jeslin menghadapi keluarganya sendiri.
Leonardo juga meminta izin menghadiri pernikahan jika memperoleh izin resmi. Jeslin tidak keberatan, tetapi memberi syarat tidak ada pembicaraan perusahaan pada hari itu.
Bimo mengunjungi ayahnya dan menyampaikan aturan tersebut. Leonardo menyetujui.
Di tengah persiapan, dokter kembali memeriksa kesehatan Bimo. Hasilnya membaik, tetapi ia harus tetap menjaga tidur dan tidak menggunakan obat penambah konsentrasi tanpa resep.
"Aku mau masuk pernikahan ini dalam keadaan hidup," candanya.
Jeslin tidak tertawa. "Jangan pernah bercanda soal itu."
Bimo meminta maaf dan menggenggam tangannya. Persiapan pernikahan mereka tidak selalu romantis. Ada batas, pemeriksaan kesehatan, dan percakapan sulit. Justru karena itulah Jeslin yakin mereka tidak sedang mengejar akhir bahagia palsu, melainkan menyiapkan kehidupan nyata setelah pesta berakhir.
Seminggu sebelum pernikahan, perusahaan kembali menghadapi masalah produksi. Bimo menerima laporan saat sedang mencoba pakaian bersama Jeslin.
Kebiasaan lamanya muncul. Ia langsung ingin membatalkan seluruh agenda dan pergi ke pabrik.
"Itu benar-benar butuh kamu atau bisa ditangani tim?" tanya Jeslin.
Bimo menelepon kepala operasional dan memastikan tidak ada keadaan darurat. Ia tetap memberi arahan, tetapi tidak datang sendiri.
"Rasanya bersalah," katanya.
"Karena kamu terbiasa merasa perusahaan gak bisa hidup tanpa kamu."
Di sisi lain, usaha Jeslin juga mendapat proyek baru dengan tenggat berdekatan dengan pernikahan. Jeslin hampir menerimanya karena takut kehilangan klien.
Bimo tidak melarang. Ia hanya bertanya apakah Jeslin memang memiliki waktu.
Jeslin akhirnya menawarkan jadwal baru kepada klien. Ternyata mereka bersedia menunggu.
"Kita sama-sama masih gampang panik kalau melihat pekerjaan," katanya.
"Setidaknya sekarang kita bisa mengingatkan tanpa saling mengatur."
Malam sebelum acara, mereka tidak bertemu. Bimo menulis pesan singkat bahwa ia gugup, sedangkan Jeslin mengaku merasakan hal yang sama.
Tidak ada janji bahwa pernikahan akan menyelesaikan semua persoalan. Mereka hanya sepakat datang keesokan hari sebagai dua orang yang sudah mengetahui kekurangan masing-masing dan tetap memilih berjalan bersama.
Pernikahan berlangsung di halaman rumah orang tua Jeslin. Hanya keluarga, sahabat, dan beberapa rekan terdekat yang hadir.
Fiona membantu Jeslin mengenakan gaun. "Gue masih gak percaya perjalanan lo dari pegawai rahasia sampai jadi istri direktur."
"Jangan bilang istri direktur. Gue tetap Jeslin."
"Baik, Bos Konsultan."
Bimo menunggu dengan wajah tegang. Saat Jeslin berjalan mendekat, ia menutup mata sejenak seolah sedang meyakinkan diri bahwa kesempatan tersebut nyata.
Dalam janjinya, Bimo berkata, "Aku gak bisa janji gak akan pernah terlalu sibuk. Tapi aku janji gak akan lagi memakai sibuk sebagai alasan untuk menghilang dari hidupmu."
Jeslin membalas, "Aku gak akan mengawasi kamu untuk merasa aman. Aku akan bertanya, mendengar, dan pergi kalau hubungan kita berhenti menghargai kami berdua. Hari ini aku memilih tinggal."
Leonardo menghadiri acara dengan pengawasan. Ia tidak membicarakan perusahaan dan hanya mengucapkan selamat.
Clarina mengirim bunga dari Singapura dengan pesan bahwa pernikahan tanpa syarat bisnis ternyata terlihat jauh lebih baik.
Setelah acara, Bimo mematikan ponselnya selama satu malam penuh. Tidak ada laporan, surel, atau rapat. Hanya dirinya dan Jeslin yang duduk di teras setelah tamu pulang.
"Akhirnya selesai," kata Bimo.
"Pestanya selesai. Pernikahannya baru mulai."
Tinggal bersama memperlihatkan kebiasaan yang tidak terlihat saat berpacaran. Bimo suka menyusun barang terlalu rapi, sedangkan Jeslin sering meninggalkan gelas di meja kerja.
Masalah pertama muncul ketika Bimo mengubah salah satu kamar menjadi ruang kerja tanpa berdiskusi.
"Aku mau pakai kamar itu buat studio kecil," kata Jeslin.
"Kamu gak pernah bilang."
"Kamu juga gak pernah tanya."
Pertengkaran berlangsung cukup lama. Bimo merasa ruang kerja dibutuhkan agar ia tidak kembali bekerja di kantor sampai malam. Jeslin merasa keputusan rumah dibuat sepihak.
Setelah emosi mereda, mereka membagi kamar tersebut menjadi dua area. Jadwal penggunaan dan batas penyimpanan dibuat bersama.
"Kedengarannya gak romantis," kata Bimo.
"Pernikahan memang gak selalu romantis. Kadang isinya negosiasi rak."
Mereka tertawa. Bimo juga membuat aturan untuk dirinya sendiri: pintu ruang kerja ditutup pukul tujuh malam kecuali keadaan darurat.
Jeslin belajar menghormati waktu konseling dan istirahat Bimo. Ia tidak menggunakan kesalahan lama setiap kali mereka berselisih.
Atap yang sama tidak otomatis membuat keduanya lebih dekat. Kedekatan itu dibangun melalui keputusan kecil, mulai dari pembagian pekerjaan rumah sampai keberanian berkata membutuhkan waktu sendiri.