Beberapa bulan setelah menikah, Bimo melakukan pemeriksaan rutin. Dokter menemukan tekanan darahnya kembali meningkat.
"Kamu bekerja berapa jam sehari?" tanya dokter.
Bimo mengaku beberapa kali membawa pekerjaan pulang tanpa memberi tahu Jeslin. Ia tidak menggunakan obat lagi, tetapi tidur hanya empat jam menjelang laporan tahunan.
Jeslin kecewa ketika mendengarnya. "Kamu melanggar kesepakatan kita."
"Aku takut kamu marah."
"Aku lebih marah karena kamu menyembunyikannya."
Bimo tidak membela diri. Ia meminta maaf dan menghubungi konselornya. Tim kantor kembali mengurangi bebannya.
Jeslin mengambil waktu sehari untuk menenangkan diri. Ia tidak langsung memaafkan hanya karena Bimo sedang sakit.
"Aku butuh bukti kamu memperbaikinya," katanya.
"Aku mengerti."
Selama beberapa minggu Bimo mencatat jam tidur dan bekerja secara jujur. Ia tidak mengirim laporan itu kepada Jeslin sebagai bukti, tetapi membahasnya dengan dokter.
Jeslin melihat perubahan melalui tindakan. Kepercayaannya kembali perlahan.
Kejadian tersebut mengingatkan keduanya bahwa pemulihan tidak berjalan lurus. Menikah juga tidak menyembuhkan kecanduan kerja secara ajaib. Bimo masih dapat jatuh, tetapi kini ia memiliki cara untuk berdiri tanpa menyangkal bahwa dirinya membutuhkan bantuan.
Jeslin terlambat datang bulan dan merasa mual selama beberapa hari. Ia membeli alat tes tanpa memberi tahu Bimo.
Dua garis muncul. Jeslin duduk di kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ia menginginkan anak, tetapi takut kehadirannya membuat Bimo kembali bekerja berlebihan demi menjadi penyedia yang sempurna.
Malamnya ia menunjukkan hasil tes.
Bimo terdiam cukup lama. "Kamu gimana?"
"Senang. Takut juga."
"Aku juga."
Jeslin menjelaskan ketakutannya. Bimo tidak berjanji akan menjadi ayah sempurna.
"Aku akan lanjut konseling dan menjaga kesehatan," katanya. "Tapi kalau aku mulai kelewatan, bilang. Keputusan tetap harus datang dari aku juga."
Mereka memeriksakan diri ke dokter. Kehamilan masih sangat muda dan Jeslin diminta menjaga asupan karena riwayat anemia.
Bimo hampir membuat jadwal makan yang ketat, tetapi meminta izin terlebih dahulu.
"Kita susun bareng," kata Jeslin. "Aku hamil, bukan jadi bawahan kamu."
Mereka tertawa sambil membuat daftar sederhana. Bimo juga menolak menambah jam kerja meski mulai memikirkan biaya masa depan.
Kabar kehamilan hanya diberitahukan kepada keluarga terdekat. Riana menangis bahagia, sementara ibu Bimo langsung menawarkan bantuan tanpa memaksa.
Pada malam hari Bimo menempelkan tangan ke perut Jeslin yang masih rata.
"Aku mau anak kita tahu bahwa hidup gak diukur dari seberapa sibuk dia," katanya.
Jeslin menggenggam tangannya. Mereka belum tahu akan menjadi orang tua seperti apa, tetapi sudah sepakat tidak mewariskan kecanduan dan ketakutan yang hampir menghancurkan hubungan mereka.
Kehamilan membuat Jeslin cepat lelah. Ia tetap menjalankan usaha konsultasinya, tetapi mulai mengurangi jumlah proyek.
Bimo sering khawatir berlebihan. Setiap Jeslin mengeluh mual, ia langsung ingin menelepon dokter.
"Mual itu normal," kata Jeslin. "Kalau ada yang aneh, aku bakal bilang."
"Aku cuma takut terlambat bertindak."
"Takut boleh. Tapi jangan sampai ketakutan kamu mengambil keputusan buat tubuhku."
Bimo meminta maaf. Mereka mengikuti kelas persiapan orang tua agar kekhawatiran tidak berubah menjadi kontrol.
Di kantor, Bimo menolak proyek besar yang mengharuskannya bepergian selama dua bulan. Jeslin mengira ia menolak demi kehamilan.
"Bukan cuma karena kamu," jelas Bimo. "Aku memang gak mau kembali ke jadwal yang membuat kesehatanku rusak."
Jeslin lega. Ia tidak ingin dijadikan alasan atas setiap pilihan Bimo.
Pada pemeriksaan berikutnya mereka mendengar detak jantung bayi. Bimo menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.
"Aku akan banyak salah," katanya.
"Kita berdua akan salah. Yang penting jangan pura-pura selalu tahu."
Perubahan dalam hidup mereka datang cepat. Namun kali ini tidak ada seorang pun berusaha menghadapinya sendirian.
Memasuki bulan keempat, Jeslin mendapat kabar bahwa salah satu klien besar menghentikan kerja sama karena menganggap kehamilan akan mengganggu pekerjaannya.
"Mereka bahkan gak nanya kesanggupanku," keluh Jeslin.
Bimo menawarkan bantuan hukum, tetapi menunggu persetujuannya. Jeslin memutuskan meminta penjelasan resmi dan menolak menerima perlakuan diskriminatif.
Masalah tersebut membuatnya takut usaha yang baru dibangun akan berhenti. Ia mulai bekerja larut untuk mencari pengganti klien.
Bimo mengenali kebiasaan yang sama dengan dirinya. "Kamu sedang panik dan mengobatinya dengan kerjaan."
Jeslin marah, tetapi kemudian menyadari Bimo benar. Ia menutup laptop dan berbicara dengan Riana.
"Aku takut cuma dikenal sebagai ibu setelah bayi ini lahir," katanya.
"Menjadi ibu gak menghapus siapa kamu sebelumnya," jawab Riana. "Tapi kamu juga gak harus membuktikannya sampai tubuhmu sakit."
Jeslin membagi tugas kepada rekan lepas dan menyusun cuti melahirkan. Ia memenangkan persoalan kontrak setelah klien setuju membayar kompensasi.
Malamnya ia berkata kepada Bimo, "Ternyata aku juga bisa overdose kerjaan."
"Kita harus saling mengingatkan. Tapi bukan saling menjadi polisi."
Jeslin mengangguk. Ketakutan mereka berbeda, tetapi cara menghindarinya sering kali sama.
Leonardo mendapat izin keluar sementara untuk menghadiri pemeriksaan kesehatan. Ia meminta bertemu Bimo dan Jeslin.
Jeslin menyetujui pertemuan di rumah ibu Bimo. Leonardo terlihat jauh lebih kurus dan tidak lagi berbicara seperti pemimpin perusahaan.
"Saya dengar kalian akan punya anak," katanya.
"Iya," jawab Bimo.
Leonardo meminta maaf kepada Jeslin karena pernah menyalahkannya dan mencoba mengatur pernikahan Bimo.
"Saya belum bisa menganggap semuanya selesai," kata Jeslin. "Tapi saya menghargai Bapak mau mengakuinya."
Leonardo mengangguk. Ia tidak menuntut pengampunan ataupun meminta melihat cucunya kelak.
Setelah pertemuan, Bimo mengaku merasa lega sekaligus takut berharap terlalu banyak.
"Satu permintaan maaf gak langsung mengubah orang," kata Jeslin. "Lihat tindakannya nanti."
Leonardo mulai mengikuti program pemulihan dan memberikan keterangan tambahan tentang aliran dana. Tindakannya membantu perusahaan mendapatkan kembali sebagian kerugian.
Bimo tidak mencabut batas hubungan, tetapi bersedia menerima panggilan ayahnya seminggu sekali.
Ia belajar bahwa memaafkan bukan berarti melupakan atau menyerahkan kepercayaan sekaligus. Kesempatan dapat diberikan sedikit demi sedikit dan dihentikan jika kembali disalahgunakan.
Dokter memberi tahu bahwa bayi mereka laki-laki. Bimo membuat daftar dua puluh nama, lengkap dengan arti dan tabel penilaian.
Jeslin menatap tabel itu tidak percaya. "Kamu bikin nama anak kayak menyeleksi karyawan."
"Aku cuma pengen keputusan yang terukur."
"Nama gak butuh skor."
Mereka berdebat sambil tertawa. Akhirnya Jeslin mengusulkan nama Arka, yang berarti cahaya.
"Arka Diven?" tanya Bimo.
"Gak harus semua nama keluarga kamu masuk. Dia punya identitas sendiri."
Bimo setuju. Mereka memilih Arka Mahendra Leonardo, memadukan nama keluarga tanpa menjadikannya beban.
Kamar bayi disiapkan bersama. Bimo sempat membeli terlalu banyak perangkat pemantau sampai Jeslin mengembalikan sebagian.
"Bayi kita gak tinggal di laboratorium."
"Aku mau memastikan dia aman."
"Keamanan gak sama dengan mengawasi setiap detik."
Kalimat itu juga berlaku bagi hubungan mereka. Bimo belajar bahwa menjadi ayah bukan kesempatan baru untuk mengontrol, sedangkan Jeslin belajar menerima bantuan tanpa merasa kehilangan kemandirian.
Pada malam hari Bimo membacakan laporan perusahaan kepada perut Jeslin. Bayi itu menendang keras.
"Tuh, Arka juga bosan sama kerjaan kamu," kata Jeslin.
Bimo menutup laporan dan memilih membacakan cerita anak.