Bimo menerima tawaran menjadi direktur utama setelah perusahaan kembali stabil. Jabatan itu dahulu menjadi impian terbesarnya, tetapi kini ia tidak langsung menerimanya.
"Kenapa ragu?" tanya Jeslin.
"Tanggung jawabnya besar. Aku takut kembali seperti dulu."
Bimo meminta dewan mengubah struktur kepemimpinan. Ia hanya bersedia menerima jika kewenangan dibagi dengan direktur operasional dan jam kerjanya tetap memiliki batas.
Sebagian anggota dewan menganggap syarat tersebut menunjukkan kurangnya komitmen.
"Komitmen gak diukur dari berapa malam saya tidur di kantor," jawab Bimo. "Perusahaan yang bergantung pada satu orang adalah perusahaan yang tidak sehat."
Dewan akhirnya menerima. Bimo menjadi direktur utama tanpa mengambil seluruh kuasa ke tangannya.
Jeslin tidak membuat pesta besar. Ia hanya menyiapkan makan malam bersama Arka.
"Aku bangga karena kamu menerima dengan cara yang berbeda," katanya.
"Dulu aku mau jabatan ini supaya merasa cukup. Sekarang aku tahu jabatan gak akan pernah bisa melakukan itu."
Bimo tetap menghadiri konseling dan pulang sesuai jadwal pada minggu pertamanya. Ia mengerti tantangan sebenarnya bukan mendapatkan jabatan, melainkan tidak membiarkan jabatan kembali mendapatkan seluruh hidupnya.
Usaha Jeslin tumbuh dan membutuhkan tambahan modal. Armand menawarkan investasi dengan syarat memperoleh empat puluh persen kepemilikan.
Bimo merasa syarat itu terlalu besar, tetapi tidak langsung melarang.
"Aku bisa minta tim hukum memeriksa kontraknya kalau kamu mau," katanya.
Jeslin setuju. Hasil pemeriksaan menunjukkan beberapa pasal dapat membuat Armand mengendalikan keputusan usaha.
"Aku percaya dia sebagai teman, tapi kontrak tetap harus jelas," kata Jeslin.
Ia menegosiasikan bagian kepemilikan lebih kecil dan mempertahankan kendali operasional. Armand menyetujui setelah perdebatan panjang.
Kabar kemitraan itu memicu kecemburuan lama Bimo. Namun ia membicarakannya langsung.
"Aku tahu ini urusan profesional. Aku cuma masih gak nyaman karena dia sering dekat sama kamu."
"Aku bisa memahami perasaanmu, tapi aku gak akan membatalkan keputusan bisnis yang sehat karena rasa cemburu."
"Aku gak meminta itu."
Bimo memilih mengenal Armand lebih baik dalam pertemuan terbuka. Ia menemukan bahwa lelaki itu sudah bertunangan dan tidak mempunyai niat romantis terhadap Jeslin.
Jeslin tertawa ketika Bimo mengaku lega. "Setidaknya sekarang kamu jujur."
Kemitraan baru berjalan baik. Jeslin memimpin perusahaan tanpa bergantung pada nama Bimo, sementara Bimo mendukung tanpa berdiri di depan pencapaiannya.
Leonardo menyelesaikan masa hukumannya dan kembali ke rumah. Ia tidak lagi memiliki jabatan di perusahaan dan sebagian besar hartanya digunakan untuk mengganti kerugian.
Ibu Bimo meminta putranya membantu ayahnya memulai hidup baru. Bimo bersedia, tetapi memberi batas yang jelas.
"Ayah gak bisa langsung masuk lagi ke perusahaan," katanya.
Leonardo mengangguk. "Ayah mengerti."
Ia mulai bekerja sebagai penasihat sukarela untuk usaha kecil, menggunakan pengalamannya tanpa menerima kekuasaan besar. Bimo tetap mengawasi tindakannya dari jarak aman.
Jeslin mengizinkan Leonardo bertemu Arka secara berkala. Pertemuan selalu dilakukan bersama keluarga sampai kepercayaan terbentuk.
Suatu sore Leonardo meminta maaf karena dahulu menjadikan Bimo penerus bisnis sebelum menganggapnya sebagai anak.
"Ayah pikir tekanan akan membuatmu kuat," katanya.
"Tekanan itu hampir membunuh saya."
"Ayah tahu."
Bimo belum mampu memeluk ayahnya, tetapi ia bersedia melanjutkan percakapan lain waktu.
Di rumah, Bimo mengatakan kepada Jeslin bahwa dirinya merasa bersalah karena tidak langsung memaafkan.
"Pengampunan bukan utang," jawab Jeslin. "Kamu boleh membutuhkan waktu."
Pulangnya Leonardo tidak mengembalikan keluarga seperti dulu. Ia memberi mereka kesempatan membentuk hubungan baru tanpa berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi.
Arka terserang demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Bimo sedang memimpin rapat ketika Jeslin menghubunginya.
Ia menyerahkan rapat kepada wakilnya dan langsung pergi. Tidak ada keraguan atau alasan bahwa pekerjaan tidak dapat ditinggalkan.
Dokter mengatakan Arka mengalami infeksi yang dapat ditangani, tetapi harus dipantau semalam. Bimo dan Jeslin bergantian menjaganya.
"Aku takut," kata Bimo saat Arka tidur.
"Aku juga."
Ketakutan membuat Bimo ingin memeriksa setiap alat dan bertanya berulang kali kepada dokter. Jeslin mengingatkannya untuk mempercayai tenaga medis.
Sebaliknya, Jeslin merasa bersalah karena beberapa hari terakhir sibuk bekerja. Bimo menolak membiarkannya menyalahkan diri.
"Anak sakit bukan bukti ibunya kurang hadir."
Arka membaik keesokan pagi. Ketika mereka pulang, Bimo menerima puluhan pesan kantor. Ia membalas yang penting setelah Arka tertidur.
"Dulu aku mungkin tetap memimpin rapat," katanya.
"Tapi sekarang kamu tahu ada pekerjaan yang bisa diwakilkan dan ada momen yang gak bisa diulang."
Hari itu berat, tetapi juga memperlihatkan seberapa jauh Bimo berubah. Ia tetap seorang pemimpin perusahaan, tetapi tidak lagi menganggap kehadirannya di kantor lebih penting daripada seluruh kehidupan lain.
Jeslin mengetahui dirinya hamil lagi ketika Arka berusia hampir tiga tahun. Kabar itu tidak langsung disambut tawa. Mereka mengingat kelelahan, tekanan darah, dan masa sulit setelah kelahiran pertama.
"Kamu mau mempertahankannya?" tanya Bimo dengan hati-hati.
"Iya. Tapi aku butuh bantuan lebih banyak kali ini."
"Kita atur bersama."
Mereka berkonsultasi dengan dokter dan menyusun pembagian tanggung jawab sebelum kehamilan semakin besar. Jeslin menunjuk manajer operasional untuk usahanya, sedangkan Bimo menolak jadwal perjalanan panjang.
Arka belum memahami arti adik. Ia hanya bertanya apakah bayi itu bisa diajak bermain mobil-mobilan.
"Nanti kalau udah besar," jawab Jeslin.
Leonardo mendengar kabar tersebut dan mengucapkan selamat tanpa menawarkan rencana apa pun. Perubahan kecil itu membuat Bimo tersenyum.
Kehamilan kedua berjalan lebih tenang karena mereka tidak berusaha menjadi orang tua sempurna. Jeslin beristirahat ketika lelah. Bimo meminta bantuan ketika pekerjaannya berbenturan dengan kebutuhan keluarga.
Pada pemeriksaan pertama, suara detak jantung memenuhi ruangan. Bimo menggenggam tangan Jeslin.
"Kita mulai lagi," katanya.
"Bukan dari nol. Kita mulai dengan semua yang udah kita pelajari."
Bimo mengangguk. Keluarga mereka bertambah, tetapi janji yang mendasarinya tetap sama: tidak ada seorang pun harus menghancurkan dirinya sendiri untuk membuktikan cinta.
Kehamilan kedua Jeslin bertepatan dengan masa ekspansi usahanya. Ia mulai menerima lebih banyak klien, sedangkan Bimo menghadapi pembukaan cabang perusahaan.
Mereka menempelkan kalender bersama di dapur. Bukan untuk mengawasi, tetapi memastikan salah satu selalu punya waktu untuk Arka dan pemeriksaan kandungan.
"Selasa aku harus ke dokter," kata Jeslin.
"Aku sudah blok jadwalnya."
"Kalau ada rapat darurat?"
"Wakilku yang menangani."
Pada minggu berikutnya, justru Jeslin yang hampir melanggar kesepakatan karena klien meminta pertemuan pada jadwal pemeriksaan. Ia ingin menunda dokter.
Bimo tidak melarang. "Kamu yakin rapatnya gak bisa dipindah?"
Jeslin menghubungi klien dan ternyata jadwal dapat digeser. Ia menertawakan dirinya sendiri karena hampir menganggap semua permintaan sebagai keadaan darurat.
Mereka mulai mengerti keseimbangan bukan kondisi yang tercapai sekali. Setiap minggu membawa kebutuhan berbeda dan harus dibicarakan kembali.
Arka ikut menempelkan gambar mobil pada kalender. Ia mengatakan itu jadwal bermain bersama Papa dan Mama. Bimo memastikan gambar tersebut tidak tertutup catatan rapat.