Dokter memberi tahu bayi kedua mereka perempuan. Arka terlihat kecewa karena membayangkan adiknya tidak akan menyukai mobil.
"Anak perempuan juga boleh suka mobil," kata Jeslin.
"Kalau dia gak suka?" tanya Arka.
"Kamu cari permainan yang kalian suka bareng."
Bimo dan Jeslin memilih nama Aluna. Kali ini Bimo tidak membuat tabel penilaian. Ia hanya menuliskan beberapa nama dan membicarakannya bersama keluarga.
Menjelang bulan ketujuh, kondisi Jeslin lebih mudah lelah. Ia menyerahkan kepemimpinan harian usahanya kepada manajer dan hanya menghadiri rapat penting.
"Aku takut tim gak lagi butuh aku," katanya.
"Pemimpin yang baik justru bikin tim bisa bergerak tanpa menunggu satu orang," jawab Bimo.
Jeslin sadar mereka berdua sudah belajar pelajaran yang sama melalui jalan berbeda.
Leonardo membantu menjaga Arka sesekali. Ia selalu meminta izin dan mengikuti aturan Jeslin. Kepercayaan tumbuh dari tindakan kecil tersebut.
Suatu sore Arka menempelkan telinga pada perut Jeslin. Aluna bergerak dan membuatnya tertawa.
"Dia suka mobil," katanya yakin.
Rumah dipenuhi harapan baru, tetapi Bimo dan Jeslin tidak menganggap kebahagiaan itu kebal dari masalah. Mereka tetap menjaga konseling, kesehatan, dan percakapan jujur yang selama ini menyelamatkan hubungan.
Menjelang persalinan, Jeslin menemukan surat lama yang ditulisnya saat hendak mengundurkan diri dari perusahaan Bimo. Surat itu terselip di antara dokumen rumah.
Ia membacanya bersama Bimo. Setiap kalimat mengingatkan mereka pada rasa curiga, panggilan tak terjawab, dan malam ketika Bimo menunggu di depan kompleks.
"Aku malu baca ini," kata Jeslin.
"Kenapa? Kamu sedang mencoba menyelamatkan dirimu."
"Aku juga berbohong dan mengawasi kamu."
"Kita bisa mengakui kesalahan tanpa membenci diri kita yang dulu."
Bimo menunjukkan catatan dari sesi konseling pertamanya. Di sana ia menulis bahwa berhenti bekerja akan membuat dirinya tidak berguna.
"Sekarang kamu masih merasa begitu?" tanya Jeslin.
"Kadang-kadang. Bedanya, sekarang aku tahu perasaan itu bukan fakta."
Mereka menyimpan surat dan catatan dalam kotak untuk Arka serta Aluna. Suatu hari anak-anak mereka boleh membacanya agar mengetahui orang tuanya pernah salah dan meminta bantuan.
"Kita gak perlu terlihat sempurna di depan mereka," kata Jeslin.
"Tapi kita harus bertanggung jawab kalau kesalahan kita menyakiti mereka."
Masa lalu tidak lagi menjadi ancaman. Ia berubah menjadi pengingat agar mereka tidak kembali menempuh jalan yang sama.
Aluna lahir melalui persalinan yang lebih cepat daripada Arka. Bimo tetap panik, tetapi kali ini berhasil membawa tas yang benar dan tidak melupakan dokumen rumah sakit.
Arka menunggu bersama kedua neneknya. Ia berkali-kali bertanya apakah adiknya sudah bisa bermain.
Saat tangis Aluna terdengar, Bimo mencium kening Jeslin dengan mata basah.
"Terima kasih," katanya.
"Jangan cuma terima kasih. Nanti giliran kamu begadang."
"Siap."
Kondisi Jeslin stabil, tetapi dokter mengingatkan risiko anemia. Bimo tidak membuat aturan sendiri. Mereka menyusun pemulihan bersama dokter.
Ketika Arka masuk, ia menatap adiknya dengan ragu. Aluna menggenggam jarinya dan ia langsung tersenyum.
"Dia boleh pinjam mobilku," katanya.
Leonardo datang sehari kemudian setelah meminta izin. Ia tidak membawa hadiah mahal, hanya buku cerita dan surat untuk kedua cucunya.
Dalam surat itu ia meminta mereka tidak menjadikan pekerjaan sebagai ukuran nilai diri. Bimo membacanya dalam diam.
Kelahiran Aluna tidak menyelesaikan semua luka keluarga, tetapi menjadi kesempatan lain memutus kebiasaan yang diwariskan. Bimo ingin anak-anaknya mengenal kerja keras tanpa kehilangan hak untuk beristirahat dan dicintai tanpa harus membuktikan sesuatu.
Setahun setelah Aluna lahir, perusahaan Bimo mencapai kondisi terbaik sepanjang sejarahnya. Dewan memberikan penghargaan dan menawarkan bonus besar.
Dahulu pencapaian itu akan membuat Bimo bekerja lebih keras mengejar target berikutnya. Kali ini ia mengajak seluruh tim merayakan dan memberi cuti tambahan.
"Target berikutnya apa, Pak?" tanya Fiona.
"Memastikan keberhasilan ini gak dibayar kesehatan kalian."
Jeslin juga membuka cabang kecil usahanya. Ia memilih pertumbuhan perlahan daripada menerima semua proyek sekaligus.
Pada akhir tahun, Bimo mengambil libur dua minggu untuk bepergian bersama keluarga. Ia hanya membawa satu ponsel darurat yang dipegang bergantian dengan wakilnya.
Di pantai, Arka dan Aluna bermain pasir sementara Jeslin duduk di samping Bimo.
"Kamu gelisah gak buka surel?" tanyanya.
"Sedikit. Tapi aku lebih takut melewatkan ini."
Arka memanggil mereka melihat istana pasir. Bimo berjalan mendekat tanpa membawa ponsel.
Ia akhirnya menemukan hidup setelah target. Bukan hidup tanpa pekerjaan, melainkan kehidupan tempat pekerjaan memiliki batas dan tidak menelan seluruh hal lain yang membuatnya menjadi manusia.
Fiona pingsan di kantor setelah bekerja tiga malam berturut-turut. Kejadian itu mengingatkan semua orang pada overdosis Bimo.
Bimo membawanya ke rumah sakit dan menghentikan sementara proyek yang membuat tim bekerja berlebihan.
"Saya yang membiarkan jadwal ini terjadi," katanya kepada dewan.
Fiona mengaku tidak berani meminta bantuan karena ingin membuktikan dirinya layak menjadi koordinator.
"Gue pikir kalau Pak Bimo aja bisa kerja segila itu, gue juga harus bisa," katanya kepada Jeslin.
Bimo terpukul. Meskipun dirinya berubah, budaya lama yang ia bangun masih hidup di dalam tim.
Ia melakukan evaluasi menyeluruh, membatasi pesan di luar jam kerja, dan memasukkan kesehatan tim sebagai ukuran keberhasilan manajer.
Beberapa pemimpin menolak karena menganggap produktivitas akan turun. Bimo tetap menjalankan perubahan.
"Saya hampir mati karena sistem yang memuji kelelahan," katanya. "Saya gak akan membiarkan orang lain mengulanginya untuk membuat saya kaya."
Fiona kembali bekerja setelah pulih dengan jadwal lebih sehat. Peristiwa itu mengajarkan Bimo bahwa pemulihan pribadi belum cukup. Ia juga harus memperbaiki lingkungan yang pernah dibentuk oleh kebiasaan buruknya.
Enam bulan setelah aturan baru diterapkan, produktivitas perusahaan tidak turun. Kesalahan kerja justru berkurang dan lebih banyak karyawan bertahan.
Bimo membentuk program kesehatan mental serta melarang pemberian penghargaan berdasarkan jam lembur. Dewan yang sempat menolak mulai melihat hasilnya.
Leonardo menghadiri acara perusahaan sebagai tamu. Ia melihat nama Bimo pada piagam pemimpin terbaik, lalu berkata, "Kamu membangun perusahaan yang berbeda dari milik Ayah."
"Saya mempertahankan bagian baik dan menghentikan bagian yang menyakiti orang."
Leonardo mengangguk. Untuk pertama kalinya ia tidak memberi nasihat atau mengambil kredit.
Jeslin juga diundang sebagai konsultan independen untuk menilai komunikasi internal. Kontraknya diputuskan oleh komite, bukan Bimo.
Mereka bekerja dalam satu gedung lagi, tetapi keadaannya berbeda. Jeslin tidak menyembunyikan hubungan dan bebas menolak pendapat suaminya dalam rapat.
"Rekomendasi kamu mahal banget," keluh Bimo setelah bekerja.
"Profesional yang bagus memang mahal."
Mereka tertawa. Hubungan mereka tidak lagi terancam oleh pekerjaan yang sama karena batasnya jelas.
Perusahaan itu belum sempurna, tetapi tidak lagi berdiri sebagai altar tempat Bimo mengorbankan kesehatan dan hubungannya.