Jeslin mendapat tawaran menjual sebagian besar usahanya kepada perusahaan internasional. Nilainya cukup untuk membuatnya tidak perlu bekerja selama bertahun-tahun.
Namun syaratnya, Jeslin harus tetap memimpin selama tiga tahun dengan perjalanan hampir setiap minggu.
"Aku takut menolak kesempatan sebesar ini," katanya kepada Bimo.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Dianggap gak ambisius. Menyesal nanti."
Bimo tidak menyuruhnya memilih keluarga. Ia membantu Jeslin memisahkan keinginan sendiri dari tekanan orang lain.
Jeslin akhirnya menolak penjualan penuh dan menawarkan kerja sama strategis. Perusahaan tersebut menyetujui setelah negosiasi panjang.
"Dulu aku mungkin mengambilnya cuma buat membuktikan bisa," kata Jeslin.
"Sekarang?"
"Aku tetap ambisius. Aku cuma gak mau kesuksesan menentukan seluruh jadwalku."
Ia mempertahankan kepemilikan dan memilih pertumbuhan yang dapat dijalani bersama keluarganya. Keputusan itu bukan pengorbanan untuk Bimo atau anak-anak, melainkan bentuk kesuksesan yang sesuai dengan nilai hidupnya sendiri.
Malamnya Arka bertanya apakah Mama bos besar. Jeslin menjawab bahwa dirinya pemimpin yang masih harus mendengarkan orang lain.
"Sama kayak Papa?"
"Papa masih belajar," kata Bimo.
Pada peringatan lima tahun kejadian overdosis, Bimo kembali ke rumah sakit untuk berbicara dalam seminar kesehatan pekerja.
Ia menceritakan bagaimana kecanduan kerja hampir mengambil nyawanya. Ia tidak mengubah kisah itu menjadi cerita kepahlawanan.
"Saya masih bisa jatuh ke pola lama," katanya. "Pemulihan bukan keberhasilan sekali. Ia adalah keputusan yang saya buat setiap hari dengan bantuan banyak orang."
Jeslin duduk di barisan depan bersama Arka dan Aluna. Anak-anak belum sepenuhnya memahami cerita ayah mereka, tetapi suatu hari Bimo akan menjelaskannya tanpa menutupi kesalahan.
Setelah acara, dokter yang dahulu merawat Bimo menunjukkan ranjang tempatnya pernah terbaring.
"Saya gak ingat banyak malam itu," kata Bimo.
"Tubuh Anda memaksa berhenti karena pikiran Anda menolak melakukannya."
Bimo menggenggam tangan Jeslin. "Terima kasih karena waktu itu kamu datang."
"Aku datang karena sayang. Tapi kamu sendiri yang memilih berubah."
Mereka meninggalkan rumah sakit tanpa rasa takut. Tanggal tersebut tidak lagi hanya menjadi peringatan tentang hampir mati. Ia menjadi pengingat tentang kehidupan yang mereka bangun setelah Bimo bersedia berhenti.
Bimo dan Jeslin menulis surat untuk Arka serta Aluna. Mereka ingin anak-anak membacanya ketika cukup dewasa.
Bimo menulis bahwa kerja keras adalah hal baik, tetapi tidak boleh menjadi harga untuk merasa layak dicintai. Ia mengaku pernah memilih laptop daripada orang-orang terdekat dan hampir kehilangan hidup akibat obat serta kelelahan.
Jeslin menulis bahwa cinta tidak memberi hak untuk mengawasi pasangan secara diam-diam. Ia menceritakan keputusannya menjadi karyawan di perusahaan Bimo karena rasa curiga.
"Apa kita harus cerita semuanya?" tanya Bimo.
"Kalau kita cuma cerita bagian bagus, mereka bakal mengira orang tuanya gak pernah salah."
Surat itu disimpan bersama pengunduran diri Jeslin, catatan konseling Bimo, dan foto pernikahan mereka.
Arka masuk ke kamar dan bertanya apa isi kotak tersebut.
"Cerita Mama sama Papa," jawab Jeslin.
"Cerita cinta?"
Bimo tersenyum. "Iya. Tapi isinya juga banyak pertengkaran dan pekerjaan."
"Aku boleh baca?"
"Nanti kalau kamu lebih besar."
Malamnya Bimo menutup laptop pukul tujuh. Ia membantu Arka mengerjakan tugas dan membacakan cerita untuk Aluna.
Surat itu berbicara tentang masa lalu. Tindakan kecil setiap malam menunjukkan masa depan yang ingin mereka wariskan.
Hari pertama Arka masuk sekolah membuat Bimo lebih gugup daripada putranya. Ia memeriksa tas, bekal, dan jadwal berkali-kali.
"Papa gak ikut masuk kelas, kan?" tanya Arka.
"Enggak. Papa cuma antar sampai gerbang."
Di depan sekolah Arka langsung berlari menemui teman baru. Bimo berdiri cukup lama sampai Jeslin menarik lengannya.
"Dia baik-baik aja."
"Aku tahu. Aku cuma takut dia merasa ditinggal."
Jeslin memahami ketakutan itu berasal dari masa kecil Bimo yang selalu ditinggalkan orang tuanya demi bekerja. Namun mereka sepakat tidak menjadikan pengalaman lama sebagai alasan mengawasi anak berlebihan.
Sore harinya Arka bercerita bahwa seorang teman menertawakan pekerjaannya ketika ia berkata papanya direktur.
"Kata dia direktur itu selalu sibuk," ujar Arka. "Tapi Papa masih sering pulang sebelum aku tidur."
Bimo memeluk putranya. Kalimat itu terasa seperti penghargaan terbesar yang pernah diterimanya.
Ia sadar warisan yang ingin diberikan kepada anak-anak bukan perusahaan atau jabatan. Ia ingin Arka dan Aluna mengingat bahwa ayah mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap pulang.
Kesehatan Leonardo menurun akibat penyakit jantung. Ia harus menjalani operasi dan meminta Bimo datang sebelum tindakan dilakukan.
"Ayah takut," katanya terus terang.
Bimo duduk di samping ranjang. Dahulu ayahnya tidak pernah mengakui rasa takut.
"Dokter yang menangani Ayah bagus. Ikuti sarannya."
Leonardo menyerahkan surat pengalihan seluruh sisa saham kepada Bimo. Namun Bimo menolak menandatangani tanpa memeriksa dampaknya bersama pengacara.
"Bahkan sekarang kamu tetap hati-hati," kata Leonardo.
"Saya belajar dari kesalahan kita."
Operasi berjalan berhasil. Selama pemulihan, Leonardo meminta maaf kepada ibu Bimo dan para mantan karyawan yang dirugikan. Tidak semua menerima permintaan maafnya.
"Ayah kira kalau sudah minta maaf semuanya selesai," katanya.
"Permintaan maaf memberi mereka pilihan, bukan kewajiban memaafkan," jawab Bimo.
Hubungan ayah dan anak itu tidak kembali seperti keluarga sempurna. Namun Bimo akhirnya dapat duduk bersama Leonardo tanpa hanya membawa kemarahan.
Ia memilih memaafkan sebagian, menjaga batas, dan berhenti berharap masa lalu dapat ditulis ulang.
Setelah bertahun-tahun memimpin perusahaan, Bimo mengumumkan akan mundur sebagai direktur utama dan menjadi anggota dewan non-eksekutif.
Keputusan itu mengejutkan banyak orang. Perusahaan sedang berada pada kondisi terbaik dan tidak ada yang memaksanya pergi.
"Kenapa sekarang?" tanya Jeslin.
"Karena aku sudah membangun sistem yang bisa berjalan tanpa aku. Dan aku ingin melakukan hal lain sebelum hidupku habis di ruang rapat."
Bimo berencana membangun lembaga yang membantu perusahaan menciptakan budaya kerja sehat. Pengalamannya akan digunakan untuk mencegah orang lain mencapai batas seperti dirinya dahulu.
Pada hari terakhir, Fiona memberikan sebuah bingkai berisi surel pertama Bimo yang dikirim setelah tengah malam. Di bawahnya ada tulisan: Bukti bahwa manusia bisa berubah.
"Kalian menyimpan ini buat mempermalukan saya?" tanya Bimo.
"Buat mengingatkan, Pak," jawab Fiona.
Bimo menutup laptop kantor pukul lima sore. Ia meninggalkan ruangan tanpa menoleh berkali-kali.
Di lobi, Jeslin dan anak-anak menunggu. Arka memegang papan kecil bertuliskan Selamat Pulang, Papa.
Bimo berlutut memeluk mereka. Mengundurkan diri tidak terasa seperti kalah. Untuk pertama kalinya, ia meninggalkan jabatan karena hidupnya sudah dipenuhi hal lain yang layak dipilih.
Pada ulang tahun pernikahan, Bimo membawa Jeslin ke kedai kopi tempat mereka pertama kali bertemu sebagai dua orang biasa setelah pengunduran diri Jeslin.
Tempat itu hampir tidak berubah. Mereka duduk di meja yang sama dan memesan makanan serupa.
"Dulu kamu taruh ponsel di tas supaya kelihatan berubah," kata Jeslin.
"Sekarang aku bahkan lupa bawa ponsel."
"Jangan terlalu ekstrem. Nanti anak-anak nyariin."
Mereka tertawa. Bimo mengeluarkan salinan surat pengunduran diri Jeslin dari tas.
"Aku simpan karena surat ini mengubah hidup kita."
"Aku pikir overdosis kamu yang mengubah semuanya."
"Itu memaksaku berhenti. Tapi kamu sudah lebih dulu memilih keluar dari hubungan yang gak sehat antara direktur dan staf."
Jeslin membaca kembali kalimat terakhir surat tersebut. Ia tidak lagi merasa bersalah atau malu.
"Kita masih orang yang sama," katanya. "Kamu masih suka kerja, aku masih gampang curiga kalau lagi takut."
"Tapi kita gak membiarkan kebiasaan itu memimpin seluruh hidup."
Bimo menggenggam tangannya. Mereka tidak berubah menjadi pasangan sempurna. Mereka hanya menjadi dua orang yang lebih mengenal diri sendiri dan berani meminta pertolongan sebelum semuanya terlambat.
Lima tahun kemudian, lembaga Bimo bekerja sama dengan usaha Jeslin untuk mengadakan program kesehatan kerja di berbagai perusahaan. Mereka tetap memiliki kantor berbeda dan kontrak profesional.
Pada satu seminar, Bimo berdiri di depan ratusan pemimpin muda. Ia menceritakan saat tubuhnya jatuh dalam rapat setelah mengonsumsi obat dan memaksa diri tidak tidur.
"Saya pikir kerja berlebihan adalah bukti komitmen," katanya. "Sebenarnya saya sedang menggunakan pekerjaan sebagai obat untuk rasa takut gagal. Dan seperti semua yang digunakan secara berlebihan, pekerjaan hampir menjadi racun."
Jeslin berbicara di samping panggung. Ia bercerita tentang bagaimana dirinya ikut kehilangan identitas karena berusaha mengawasi pasangan melalui kantor.
"Mendukung seseorang tidak berarti mengorbankan diri atau mengambil tanggung jawab atas kesembuhannya," katanya. "Kami belajar menjaga batas dan tetap tinggal karena memilih."
Setelah seminar, mereka menjemput Arka dan Aluna dari sekolah. Bimo menolak panggilan rapat yang dapat dijadwalkan ulang.
Di rumah, Leonardo datang makan malam bersama keluarga. Hubungan mereka dibangun perlahan, tidak sempurna tetapi jujur.
Arka bertanya mengapa buku yang sedang ditulis Bimo berjudul Overdose.
"Karena Papa pernah melakukan sesuatu terlalu banyak sampai hampir kehilangan semuanya," jawab Bimo.
"Minum obat?"
"Bukan cuma obat. Papa bekerja terlalu banyak dan lupa hidup."
"Sekarang Papa udah sembuh?"
Bimo memandang Jeslin. "Papa terus belajar."
Malam semakin larut. Setelah anak-anak tidur, Bimo menutup laptop sesuai jadwal. Masih ada pekerjaan yang belum selesai dan surel yang belum dijawab. Semuanya dapat menunggu sampai pagi.
Jeslin duduk di teras membawa dua cangkir teh. Bimo menghampiri dan meletakkan ponselnya di meja.
"Hari ini capek?" tanya Jeslin.
"Lumayan. Tapi capek bukan lagi sesuatu yang kubanggakan."
"Bagus. Besok kita masih punya banyak kerjaan."
"Dan banyak kehidupan selain kerjaan."
Mereka memandang lampu rumah yang hangat. Perjalanan mereka dimulai dari panggilan yang tidak dijawab, kebohongan, kecemburuan, dan seseorang yang hampir mati karena tidak tahu cara berhenti.
Kini Bimo tetap mencintai pekerjaannya. Jeslin tetap mengejar mimpinya. Bedanya, mereka tidak lagi meminum ambisi sampai melebihi batas dan menyebut rasa sakit sebagai keberhasilan.
Bimo menggenggam tangan istrinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, tidak ada target berikutnya yang harus dikejar malam itu.
Yang ada hanya waktu, keluarga, dan dua orang yang akhirnya tahu kapan harus berhenti.
TAMAT