Salam support
Adelia Pov
Seharian ini, tidak banyak yang bisa kulakukan selain mengurung diri di dalam kamar. Aku belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan, bahwa aku akan segera menikah. Terlebih dengan orang yang tidak aku kenali sama sekali.
Yah, kupertegas
Tidak aku kenal sama sekali
Meski orang tua kami menjalin pertemanan sejak lama, tetapi baik aku maupun Gion anak tante Meta tidak saling kenal. Bahkan tak pernah sekalipun aku melihat batang hidungnya.
Artinya kami memang belum pernah bertemu, juga tidak tau seperti apa rupa anak tante Meta.
Padahal aku cukup sering pulang ke kampung saat libur kuliah, tetap saja tidak pernah melihatnya
Pasalnya sedari kecil ia bersekolah di luar kota sedangkan tante Meta dan Om Pratama berada di kampung yang jaraknya tidak begitu jauh dengan tempat tinggalku
Itulah kilas cerita yang mama ceritakan padaku
Aku bahkan pernah mengira jika tante Meta tidak memiliki seorang anak.
Aku juga tak habis pikir, bagaimana mungkin ia begitu jarang mengunjungi kedua orang tuanya di kampung. Belum lagi, Om Pratama sedang sakit
Sungguh terlalu bukan?
Aku jadi bepikir negatif tentang dia, bisa saja dia bukanlah pria yang baik
Ya, Tuhan bagaimana nasibku
Katanya dia begitu sibuk dengan pekerjaan sehingga jarang pulang.
Alasan sangat tidak masuk akal, meski aku tidak tau pasti secara keseluruhan ceritanya tapi aku sudah bisa menarik kesimpulan. Jika dia memang tidak baik.
Mama juga bilang, hari ini anak tante Meta baru berangkat dari kota ke kampung untuk pertemuan yang sudah direncakan kedua keluarga.
Memikirkan nanti malam membuatku tidak tenang.
Aku teringat Rumi sahabatku lebih baik aku telfon saja.
"Halo, Del." Suara riang Rumi diseberang sana membuat hatiku sedikit tenang
" Rum, a-ku tidak bisa,"
Lagi dan lagi, aku tidak bisa menahan tangisku. Aku terisak sebelum bercerita pada Rumi.
Rumi adalah sahabatku selama duduk di bangku kuliah, setiap ada masalah kami memang selalu berbagi cerita. Suka maupun duka, kami seperti saudara yang saling membantu dan mengingatkan satu sama lain.
Dia anak yang manis dan baik, meski dia tak berhijab sepertiku, tetapi sikapnya sangat lembut dan elegan.
"Del, apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?"
Desaknya dengan nada khawatir
"Adelia! Kamu baik-baik saja, kan."
Akhirnya aku menceritakan semua tentang rencana perjodohan ini melalui via telfon. Sebab, Rumi memang menetap di kota paska kami lulus.
Dia pun ikut menangis mendengarnya
Rumi pov
Getaran benda pipi di mejaku pertanda seseorang menelfon
Adelll cute
Tumben sekali anak itu menelfon jam segini
Batinku saat melihat nama yang tertera dipanggilanku
"Halo, Del," Jawabku riang
Meski baru dua hari tak saling tukar kabar, tetapi aku sudah merindukan kegaduhannya.
"Rum, a-aku tidak bisa," Balas Adel yang tidak ku mengerti maksudnya, tapi aku bisa tau jika dia sedang tidak baik-baik saja.
Benar saja, terdengar isak tangis dari Adel, kubiarkan dia menangis sejenak sebelum akhirnya tenang dan menjelaskan padaku
Jujur aku kaget mendengar fakta jika Adel ingin di jodohkan
Aku bisa mengerti posisinya saat ini, bulir-bulir bening pun turut membasahi pipiku.
Meski sedih tapi aku tetap mencoba menenangkan.
Hampir satu jam keduanya menelfon
***
Pukul 16.30
Saat ini Adelia tengah sibuk membantu ibunya memasak untuk jamuan sebentar malam.
Meski tidak menginginkan perjodohan tersebut, tak mungkin juga Adel membiarkan ibunya kecapean sendiri.
Adel tergolong anak yang penyayang dan patuh kepada orang tua.
"Del, kamu mandi saja, biar mama yang lanjutkan," kata mama mengingatkan.
"Baik, Ma," Jawabku pada mama
Namun, saat ingin melangkah mama kembali bersuara
"Del, Mama tau ini berat buat kamu, tapi mama harap kamu bisa iklas sayang,"
Tidak tau ingin menjawab apa, aku hanya mengangguk sembari tersenyum tulus pada Mama. Aku tidak ingin Mama terus merasa bersalah
"Adel pamit siap-siap, ya Ma."
Jantungku semakin tak karuan saja mengingat 2 jam lagi tante Meta akan datang.