Helo guys, yuk saling support ?
Kediaman Pratama
Saat ini Meta tengah berada di depan gerbang, untuk menjemput sang Putra yang akan segera tiba. Benar saja, tak berseling lama, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang.
Dialah Gion Pratama, sosok putra sulung dari Pemilik Pratama Group.
Begitu mobil terparkir
Munculah sosok Gion dengan postur tubuh tinggi, rahang tegas, mata tajam dan terlihat sangat cuek.
Berbanding terbalik ketika sang Meta memanggilnya
"Sayaaang." Sambut sang Mama bahagia
Terukir senyum tipis dari bibirnya sembari mengecup punggung tangan sang Mama
Kemudian mereka berjalan ke dalam rumah
"Gion, kok kamu lambat banget si berangkatnya,"
Meta mengintrogasi sang Putra pasalnya 30 menit lagi mereka sudah harus ke rumah orang tua Adelia
"Kita bisa terlambat loh."
Kesal Meta, pasalnya anaknya ini hanya diam menanggapi pertanyaan darinya.
"Maaf Ma, Gion mendadak ada urusan, belum lagi macet di jalan." Gion sengaja beralasan macet dengan begitu sang Mama tidak punya alasan untuk marah.
Lagi pula memang benar macet
Meski sedikit mengulur waktu
"Ya udah sekarang kamu mandi dan bersiap," Kata sang Mama tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi.
Gion pun mengerti dan segera menuju kamarnya untuk bersiap.
Soal perjodohan dia sudah tau, Sang Mama mengunjuninya seminggu yang lalu membicarakan hal ini.
Gion tidak habis pikir pada orang tuanya, mengapa jaman sekarang masi saja ingin menjodoh-jodohkan. Padahal Gion sendiri sudah punya kekasih dan mereka saling mencintai
Namun, tetap saja ia akan mengikuti keinginan orang tuanya. Bagaimna tidak, dia diancam akan di coret dari kartu keluarga bila menolak perjodohan ini.
Sebenarnya Gion tidak peduli akan ancaman itu, hanya saja di sisi lain sang papa sedang sakit. Dan ini merupakan keinginan papanya.
Gion begitu menghormati Papanya
Sampai akhirnya ia bersedia menerima dengan sangat terpaksa.
Terlebih Gadis yang di pilihkan orang tuanya adalah gadis kampung yang kolot dan tidak modis, berbanding terbalik dengan perempuan di sekitarnya di Kota, yang menjadikan penampilan mereka nomor satu.
Itulah penilain Gion terhadap Adelia, saat sang Mama menunjukkan foto sosok Adelia yang berhijab pink dengan tampilan sederhana.
Begitu memasuki kamarnya Gion langsung membanting diri ke atas kasur.
Pikirannya sangat kacau saat ini.
Huf
Ia menghela napas dengan berat
"Argh, Mengapa harus menikah si,"
Gion mengusap muka dengan prustasi
Tak ingin mendengar omelan sang Mama Gion pun sudah siap dengan setelan kemeja berwarna putih berpadu dengan celan abu tua.
"Wah anak Mama ganteng banget." Goda Meta melihat putranya memang sangat tampan
"Ayo Ma, berangkat."
***
Sedang di kediaman Andika, tepatnya di ruang tamu. Mereka sudah berkumpul sudah ada Rita Mama Adelia, dan Abel adik Adelia.
Adelia sendiri masi berada di kamarnya, ia akan turun bila keluarga Pratama tiba.
Di kamar, Adelia menatap kosong langit-langit kamarnya, pikirannya berkecamuk, rasa ragu begitu kuat dalam hatinya.
Ya Allah jika ini yang terbaik buat aku, maka kuatkan lah aku
Pasrah adel
Adelia melihat jam diponsel tengah menunjukkan pukul 19.30, jika dari waktu perjanjian seharusnya mereka sudah tiba.
Batinnya
Tapi Abel belum datang memanggilnya, berarti mereka belum tiba.
Abel yang akan menjemput ke kamar ia sudah mengkode adiknya tadi, ia sengaja tak ingin ikut menyambut kedatangan Gion anak tante Meta.
Adelia tidak mau jika Gion berpikir ia sangat excited menunggunya jika dirinya ikut menjemput di depan.
Tak berselang lama terdengar suara klakson mobil di bawah sana.
Adelia belari kecil mengintip di jendela.
Tidak salah lagi, mereka sudah tiba.
Adelia merasa gugup dan sebal secara bersamaan
Ia menatap dirinya di depan cermin.
Malam ini Ia memakai dress berwarna putih, pilihan sang Mama berpadu dengan hijab cream.
Tok. tok, tok
"Kak Adel, di panggil Mama."
Teriak Abel, di balik pintu
Tanpa menjawab Adelia segara membuka pintu dan mengikuti sang Adik untuk ke meja Makan.
Di sana terlihat dua keluarga telah berkumpul
Sampai akhirnya ia mendengar sang Mama menyebut namanya, membuat seluruh pasang mata melihat ke arahnya
Terkecuali satu orang yang sama sekali tidak menoleh, hanya fokus pada benda pipi di tangannya.
"Itu, Adelia." kata Rita yang melihat putrinya berjalan menuju meja makan
"Wah Adel, kamu cantik sekali sayang." Sambut Meta kala Adelia sudah duduk di kursinya tepat berhadapan dengan Gion.
Adel membalas sambutan Meta dengan hangat tidak lupa menyalami dan mencium kedua pipinya
"Makasih tante, Lama tidak bertemu tante baik, kan?"
"Baik, sayang, kamu baik juga, kan?" Meta bertanya balik
Adelia tersenyum
"Alhamdulillah baik tante."
Interaksi keduanya tak luput dari perhatian Gion
Melihat bagaiman seorang Gadis di depannya yang begitu mudah mengambil hati Sang Mama.
Meta menyenggol Putranya
"Ah, ini anak tante."
"Gion."
Singkat Gion sambil mengulurkan tangan pada Adelia
Dan
Adelia pun menerima uluran tangan Gion
Meski berhijab, Adelia tidak menolak bersalaman dengan lawan jenis, selagi tidak mendatangkan sahwat bukanlah masalah.
Terlebih ia tidak ingin melukai perasaan Gion, yang ada orang akan menilainya sangat munafik.
"Adelia." Balasan Adelia sama seperti yang di lakukan Gion, kemudian segera menarik tangannya.
Gadis kecil yang sombong
Batin Gion dengan senyum devil
Para orang tua yang melihat kecanggungan antara keduanya, hanya bisa memaklumi. Terlebih mereka tidak saling kenal.
"Bagaiman keadaan pak Pratama bu?" Tanya Andika memecah kecanggungan
"Alhamdulillah ada perubahan," Jawab Meta
"Alhamdulillah."
"Seperti Yang Bu Rita dan pak Dika tau, kedatangan kami ini dengan niat baik akan segera meminang Adelia untuk Gion putra Kami." Meta memulai percakapan
"Adel, apa kamu mau menerima lamaran tante?"
Meski telah di rencanakan oleh pihak orang tua, tetapi Meta mau mendengar jawaban dari Adelia sendiri.
Kini semua pasang mata kembali tertuju pada Adelia, bagaimana pun sekarang keputusan ada di tangan Adelia.
Adelia menatap kedua orang tuannya
Pilihan ada pada dirinya
Jika salah memilih maka akan tau resikonya
Adelia sejenak memejamkan mata sebelum akhirnya berucap....