Halo guys yuk saling support
Silahkan tinggalkan jejak yah, makasih.
Suasana menegangkan masi menyelimuti kedua pihak keluarga tersebut.
Menanti akan keputusan Adelia berikan.
Andika cukup cemas, jika nanti jawaban putrinya tidak sesuai yang diharapkan, begitupula dengan Meta Mama Gion.
Berbeda dengan Gion yang begitu mengharapkan penolakan dari Adelia.
Namun, sepertinya Adelia tidak mungkin menolak. Secara dia adalah pria idaman setiap wanita. Bahkan selama ini, para wanita lah yang datang padanya.
Pikir Gion penuh percaya diri
"Sebelumnya saya meminta maaf kepada tante Meta, juga Mama dan papa atas kelancangan saya ini." Kata Adelia kemudian
Gion mendengar itu, merasa bingun.
Apa yang Gadis itu ucapkan?
Tanyanya dalam hati
Sebelum akhirnya Adelia melanjutkan ucapannya, tentu saja dengan keberanian yang sedari tadi ia kumpulkan
"Adelia pikir, tidak perlu meminta persetujuan Adel. Seperti yang papa dan mama bilang jika sudah membicarakan hal ini sebelumnya, meski tanpa sepengetahuan Adel." Jelas Adel tersirat rasa kecewa diakhir kalimatnya.
Jawaban Adel tentu membuat semua yang ada di sana tercengang, tak menyangka akan ucapan Adelia barusan.
"Jujur saja Adel sedikit ragu, tapi Adel percaya Papa dan Mama tau yang terbaik buat Adel."
Sambungnya kemudian dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Adel serahkan semua keputusan Pada Papa, Mama, tante Meta, juga Gion."
Adelia mengakhiri ucapannya dan tertunduk
Rita yang paham akan perasaan sang anak, segera menggenggam tangan Adel dari bawa meja.
"Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kami memang telah merencakan sejak lama, tetapi jika Adel tidak setuju kami pun tidak memaksa sayang"
Kata Meta penuh pengertian, ia cukup mengerti perasaan Adelia saat ini.
Terlebih memang sangat mendadak.
"Maafkan, Adelia bu Meta. Dia hanya sedikit kaget, tapi dia bersedia kok menerima perjodohan ini."
Sanggah Andika segera, ia tidak ingin membuat Meta kecewa dengan pernyataan Adeli barusan.
"Iya kan, Adel?" Kata Andika lagi sembil menatap putrinya dalam.
"I-iya Pa, Tante. Adelia bersedia jika Gion juga bersedia." Kata Adelia kemudian.
"Kamu gak terpaksa kan, sayang?" Jelas Meta lagi takut jika Adelia tertekan.
"Tidak Tante, Adelia cukup terharu dengan ini." Bohongnya
Kemudian Meta menatap sang Putra
"Gion juga menerima Ma, Om dan Tante, Gion senang Adelia bersedia menerima Gion sebagia pendamping hidupnya." Kata Gion dengan senyuman setipis tisu
"Alhamdulillah." Kata mereka serempak
"Kalau begitu, mari kita makan dulu, keburu dingin makanannya."
Mereka pun makan dalam keadaan hening setelah menemukan titik keputusan putra dan putri mereka.
***
Ruang tamu
Setelah Menyelesaikan makan malam bersama
Mereka pun berpindah ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus.
"Baiklah, karena keduanya sudah menerima, bagaimana kalau kita bahas mengenai waktu pelaksanaan, bukankah lebih cepat lebih baik,"
Kata Meta memulai percakapan di antara mereka
"Ma, Gion rasa untuk penentuan waktu biar kami berdua yang membicarakannya."
Gion segera menanggapi sang Mama, bagaimana pun dirinya belum siap untuk membahas waktu pelaksanaan, bisa-bisa semakin setres.
"Benar Bu Meta, berikan mereka waktu untuk melakukan pendekatan, agar saling kenal satu sama lain." Andika menanggapi ucapan Gion
Meta tersenyum penuh arti pada sang putra
"Ah baiklah sayang." Meta pikir Gion sengaja agar bisa dekat dengan Adelia
"Kalau begitu Gion ingin berbicara sebentar dengan Adelia, Om." Gion melirik Adelia berharap mengerti maksudnya
"Baiklah silahkan, kalian mengobrol."
Setelah mengizinkan Gion dan Adelia pun melangkah keluar
Kedua orang tua mereka senang menatap putra dan putrinya yang bisa saling menerima.
Tanpa tau apa yang sesungguhnya mereka rasakan.
Selanjutnya mereka kembali berbincang.
***
Halaman belakang Rumah Adelia
Tidak luas, hanya ada satu ayunan besi yang sederhana. Juga beberapa tanaman bunga yang menghiasi, serta lampu remang-remang yang menerangi taman belakang tersebut.
Rumah Adleia memang tak seluas rumah keluarga Gion, sangat berbanding jauh.
Namun, berada di rumah sederhana ini Gion merasa nyaman.
Mungkin karena Gion terbiasa di kota dengan kepadatan manusia serta suara bising kendaraan yang tiada hentinya
Batin Gion
Saat ini keduanya tengah duduk di ayunan besi tersebut.
Jika saat di dalam, Gion terlihat sedikit ramah, tetapi begitu mereka hanya berdua, Gion seakan memperlihatkan wujud aslinya.
Macam monster?
Bercanda guys
Hening!
Satu kata itulah yang mendeskripsikan keadaan mereka sekarang.
"Kenapa?" Kata pertama yang Gion lontarkan
Adelia menatap Gion penuh kebingungan
"Maksudnya?"
Bukannya menjawab, Adelia justru balik bertanya
"Kamu gak usah pura-pura, kamu bisa menolak perjodohan ini, tapi dengan pandainya, kamu seolah terpaksa. Padahal kamu senang, kan?"
Gion mengeluarkan kekesalannya
Dia yakin ini semua rencana Adelia dan keluarganya yang telah mempengaruhi orang tuanya.
"Aku tidak tau, apa maksudmu berkata demikian. Tapi aku sungguh tidak punya pilihan selain menerima." Jelas Adelia dengan tenang
Memang faktanya tak punya pilihan lain.
"Itu karna, rencana kamu dan keluargamu yang ingin hidup layak. Sehingga memanfaatkan perjodohan ini."
Dengan tanpa perasaan Gion berkata demikian, membuat Adelia mulai terpancing emosi.
Gion menghina dirinya, ralat bukan hanya dirinya tapi kedua orang tuanya.
"Jangan asal bicara, jika kamu pun tidak menginginkan ini, harusnya kamu pun bisa menolak."
Meski sudah geram dengan perkataan Gion, Adelia tetap mencoba tenang. Mengingat orang tuanya masi ada di dalam bersama Mama Gion.
Ia tidak ingin membuat keributan. Meski jarak taman belakang cukup jauh dari ruang tamu.
Gion menatap tajam Adelia dengan senyum devilnya.
Apa yang dikatakan Adelia memang benar, ia bisa saja menolak. Namun, keputusan sang Papa adalah mutlak.
"Kamu diberi kesempatan oleh ibuku untuk menolak, jika kamu memang ingin menolak, nyatanya kamu memang sengaja memanfaatkan situasi ini." Kata Gion dengan santainya
Tanpa tahu perasaan Adelia yang semakin dongkol padanya.
"Cukup, Gion, aku memang di beri kesempatan memutuskan tapi tidak untuk memilih menolak perjodohan konyol ini." Sejenak Adelia menjeda ucapannya
"Aku juga tidak menginginkan ini, aku juga benci sama kamu manusia tak berperasaan." Adelia akhirnya mengelurakan unek-uneknya
Ia muak ketika Gion selalu merendahkannya terus menerus
Gion tak menyangka akan reaksi Adelia.
Sejenak ia tersadar apa kah perkatannya melukai Adelia
Tanpa berkata lagi, Gion pun meninggalkan Adelia
Sebelum melangkah ia melihat Adelia yang sedang mengusap air matanya.
Apa iya telalu kejam?
Gion tidak peduli itu
"Tak perlu menangis, aku tau kau tidak bisa menolak karena balas budi. Sebaiknya hapus air matamu atau kita akan dalam masalah."
Setelah berkata demikian Gion kembali melanjutkan langkahnya
Adelia pun menyusulnya.