Happy reading guys
Suasana Desa, memang selalu berbeda dari kota. Jika di kota, kita di bangunkan oleh bisingnya kendaraan. Orang-orang yang saling berdesakan di jalan, tetapi di Desa kita terbangun oleh sejuknya embun. Merdunya kicauan burung, segarnya udara pagi.
Gion yang terlena dengan suasana Desa, terlihat enggang untuk sekedar membuka mata. Bahkan, cahaya matahari mulai mengintip dari jendela pun, tak bisa menggoyahkan kenyamanannya dibalik selimut tebal itu.
Hingga ketukan pintu, sayup-sayup mulai terdengar.
Dengan berat Gion membuka mata, bangkit dari tempat tidur. Lalu berjalan setengah sadar untuk membuka pintu.
Begitu terbuka, Gion disambut oleh teriakan sang mama.
"Ya ampun Gion, jam segini kamu baru bangun." Pekik Meta, melihat muka bantal sang anak.
Bisa ia pastikan Gion baru saja bangun, dengan tampilan begitu berantakan, cuci muka saja pasti belum sempat.
Rasa kantuk yang Gion rasakan seketika hilang, mendengar pekikan sang Mama.
"Gion cape banget ma, belum lagi suasana Desa bikin nyaman untuk tidur,"
Kata Gion terus terang
"Di sini memang nyaman, makanya Mama nyaman. Kamu harusnya sering-sering pulang, jangan cuma sibuk kerja sampe lupa sama orang tua," Omel Meta mengingat Gion memang sangat jarang pulang.
"Iya maaf Ma, Gion janji akan sering pulang."
"Bagus deh, apa lagi kalau udah nikah sama Adelia, dia itu suka berkunjung sebulan sekali ke sini, sana mandi. Mau fitting baju, kan."
Mendengar itu Gion merasa lemas tak bersemangat.
Malam itu, setelah mereka berdebat di taman. Mereka kembali bergabung dengan orang tua mereka, tanpa menampakkan adanya keribut yang mereka lakukan saat di luar.
Malam itu juga, mereka menentukan waktu pernikahan yang akan berlangsung bulan depan.
Merasa tidak bisa menghindar dari perhodohan tersebut, membuat keduanya sepakat untuk mempercepat saja.
"Iya Ma, Gion juga mau sekalian jemput papa. Soalnya semalam Dokter bilang jika papa sudah bisa pulang."
Semalam saat pulang dari rumah Adelia, mereka langsung ke rumah sakit menemani sang papa.
Namun, hanya Meta yang menginap. Gion di suruh pulang untuk istirahat lebih awal. Karena masi akan mengurus persiapannya.
Takut anaknya kecapean, tapi siapa sangka saat kembali dari rumah sakit. Meta justru menemukan sang putra yang masi tertidur.
"Baik sayang, ajak Adelia ya." Sambung Meta kemudian, ia ingin Gion semakin dekat dan kenal Adelia
"Pasti Ma," Balas Gion singkat.
Mendengar itu, Meta merasa senang.
****
Kediaman Adelia
Seperti rencana mereka, hari ini akan melakukan fitting baju di salah satu butik ternama.
Gion kini berada di rumah Adelia untuk menjuemputnya.
Terhitung sudah 10 menit ia menunggu, tetapi Adelia tak kunjung turun. Gion merasa kesal, pasalnya sang Mama sudah sangat mengomeli diri nya yang katanya sudah terlambat.
Nyatanya Gadis itu pun takkala terlambat.
Tak berselang lama Adelia pun datang dan menghampirinya.
Dengan kemeja putih, berpadu dengan rok pict senada dengan hijabnya. Serta sepatu putih kasual. Dan juga make up yang tipis.
Gion sedikit terpukau akan penampilan Adelia hari ini, simple tapi elegan.
Seolah tersadar Gion menggelengkan kepalanya.
Adelia melihat itu, lantas bertanya
"Ada apa?,"
"Hmm tidak, aku hanya lelah menunggu." Kata Gion dingin.
"Maaf." Balas Adelia
Tanpa membalas ucapan Adelia, Gion pun berpamitan pada orang tua Adelia.
Mereka kini di depan, bersiap untuk berangkat setelah berpamitan.
Saat hendak masuk kemobil, Adelia memilih membuka pintu belakang. Baru saja ingin masuk, tapi ucapan Gion menghentikan niatnya.
"Aku bukan sopir kamu!"
Mendengar hal itu, Adelia akhirnya menutup kembali pintu belakang dan duduk di job depan.
Saat mobil melaju, hanya ada keheningan. Tidak ada yang memulai pembicaraan, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Gion melirik Adelia dari kaca mobil
Berharap perempuan itu mengeluarkan sepata kata.
Meski saling tak menyukai, namun berdiam-diaman seperti ini juga bukan hal yang Gion mau.
Namun, tidak ada tanda-tanda dari Adelia untuk memulai pembicaraan, ia hanya fokus menatap keluar jendela.
"Setelah fitting baju, kita ke rumah sakit jemput Papa. Mama yang Aku yang minta untuk mengajak kamu,"
kata Gion, tidak lupa menjelaskan jika Meta yang berkata demikian, dia tidak mau Adelia merasa kepedean.
Sekilas Adelia menoleh padanya
"Baiklah." Setelah berkata demikian Adelia kembali menatap keluar jendela.
Melihat sikap Adelia cuek padanya, membuat Gion merasa sedikit kesal.
Berpikir apakah pemandangan di luar lebih menarik dari pada dirinya.
Gion secepat kilat tersadar
Ngapain juga aku merasa kesal, bukankah bagus
Karena jarak ke bukit lumayan jauh, Gion memilih mampir di sebuah Indomaret untuk membeli minum.
Sebelum turun ia melihat kearah Adelia
"Ingin minum sesuatu?" tanya Gion
Adelia mengangguk
"Tolong belikan aku air putih dan buah mangga kupas," Adelia cukup haus dan ingin makan mangga
"Tak apa kah aku menunggu di sini?" Tanya Adelia lagi, takut membuat Gion repot.
"Terserah kamu saja." Balas Gion kemudian berlalu
Namun langkahnya terhenti saat Adleia kembali memanggilnya
"Gion tunggu," Cicitnya
Gion mendengus dan berbalik
"Apa lagi?" Kesalnya
Adelia segaera membuka tas, mengambil pecahan uang 50 ribu dan memberikannya pada Gion.
"Pake ini." Katanya sembari menyerahkan uang itu
Gion melongo, tak habis pikir jika Adelia akan memberi uang hanya untuk membeli air putih dan mangga kupas.
Apa dia pikir aku tidak punya uang
"Aku tidak mau kau menggunakan uangmu." Adelia berucap dengan santainya
"Kamu pikir uangku, uang haram." Kesal Gion
"Bukan begitu.. Aku hanya tidak ingin berutang padamu." Cicit Adelia
Mendengar itu Gion semakin kesal, akhirnya ia segera ke dalam tanpa mengambil uang Adelia.
Adelia turun menyusul Gion.
Saat di dalam ia melihat Gion mengambil air putih dan mangga. Adelia segera mengambilnya
"Biar aku saja,"
Gion cukup kaget ketika Adleia tiba-tiba muncul dan mengambil alih belanjaan pesannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gion tak mengerti
Adelia tidak peduli, ia berjalan menuju kasir tanpa menghiraukan Gion.
Saat di meja kasir mereka kembali ribut, sebab tidak ada yang mengalah.
Adelia menyerahkan uangnya pada kasir, tapi di halangi oleh Gion.
"Mba pake ini saja," Kata Gion menyerahkan kartu debitnya
"Jangan mba, khusus air dan mangganya saya bayar sendiri." Adelia tetap tidak ingin mengalah
"Pake ini saja Mba." Kata Gion lagi
Mereka terus berdebat dan membuat penjaga kasir kebingungan.
Sampai akhirnya perdebatan mereka terhenti oleh salah satu pelanggang
"Kalain kalau mau ribut jangan di sini dong, lihat ada kami yang mengantri."
Sontak keduanya menoleh ke belakang.
Benar saja!
Sangat banyak yang antri di belakang mereka. Tanpa mereka sadari.
Mendadak Gion memiliki ide gila yang akan membuat Adelia mengalah.
"Maaf Bu, calon istri saya sedang marah jadi seperti ini." Kata Gion membuat ibu-ibu yang mengantri, tadinya ingin marah jadi gemas sendiri.
Adelia mematung dengan ucapan Gion
Melihat itu Gion mengambil kesempatan
segera membaya pada kasir.
Yang ternyata ikut tersenyum
"Aduh romantis sekali calon suamimu Mba, semoga di lancarkan ya acaranya."
Kata salah satu ibu-ibu
"Amin, makasih ya, bu."
Balas Gion, membuat Adelia semakin tak bisa berkutik
Setelah menyelesaikan pembayaran Gion pun berpamitan dengan menggandeng tangan Adelia ke luar.
See you guys