“Pesen yang tower aja ya?” ucap David.
“Gilaaa, banyak banget, lo kira gue unta padang pasir? Hahahahaha,” jawab Rya dengan ketawanya yang khas.
David pun ikut tertawa mendengar celetuknya.
“Yaudah pesen yang pitcher aja mas”, sambil menegaskan pesanannya kepada waiter di depannya.
“Eh bentar ya gue ke toilet dulu,” kata David. Rya hanya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan chat-nya di smartphone miliknya.
David bergegas bangkit dan berjalan keluar dari cafe itu tanpa sepengetahuan Rya. Dalam perjalanan menuju cafe sebelumnya, Ia sempat melihat sebuah distro baju yang berada di sebelahnya. Tanpa pikir panjang David kemudian masuk ke toko tersebut dan memilih sebuah kaos perempuan V-neck berwarna gelap di salah satu display yang terpajang. Setelah membayar kaos tersebut, David dengan cepat berlari kembali menuju cafe tempat ia meninggalkan Rya.
Dengan perlahan David meletakkan bungkusan plastik putih berlogo distro di atas meja. “Ini ganti dulu baju lo Rya, lepek kan dari tadi basah.” ujar David dengan nada lembut.
Rya tertegun sesaat, matanya agak kaget melihat bungkusan berisi kaos berwarna hitam di depannya. “Lo kok so sweet banget sii Vidd, pake beliin gue kaos gini.” ucap Rya sambil menatap David dengan memasang wajah imutnya. Terlihat di kedua mata Rya yang polos menatap David.
Sambil tertawa David berkata, “Gue ga mau lo diliatin orang-orang pake kemeja lepek gitu. Mana transparan lagi.”
Rya tersenyum manis tanpa berkata apa-apa, ia hanya melihat wajah David beberapa saat lalu berdiri dan bergegas menuju toilet di cafe tersebut. Selang 5 menit kemudian Rya pun kembali duduk di meja berhadapan dengan David.
“Vidd, makasih ya. Kaosnya enak banget, ukurannya pas lagi. Lo tau aja.” ucap Rya dengan wajah berseri. Pipinya terlihat beralaskan merah dari perona pipi yang ia kenakan.
David tersenyum sambil mematikan sisa rokoknya di asbak hitam yang berada di sebelah kanannya sambil berkata, “Iya, kaosnya bagus, pas buat lo Rya.”
“Kok lo apal sih gue suka kaos V-neck gini Vidd?” tanya Rya penasaran.
“Gue kan kenal lo bukan sehari dua hari Ryaa, gue tau banget lo suka kaos model begitu.” balas David dengan tenang.
Rya tak habisnya menatap David kagum, ia tidak menyangka teman kantornya ini begitu perhatian dan tau hal-hal detail mengenai dirinya.
Kemudian seorang waiter tiba-tiba datang dan memecah percakapan kedua sahabat ini. “Silakan, ini Calamari nya, pesanannya sudah semua ya Pak,” ujar waiter tersebut.
“Iya terima kasih mba,” balas David. Kemudian David menuangkan bir putih dari pitcher itu ke gelasnya dan mengisinya sampai penuh.
“Tuh kan, lo tau banget kalo gue doyan Calamari,” ujar Rya sambil mencelupkan sepotong Calamari ke dalam saus tartar berwarna putih.
“Lo GR banget si Rya, gue juga doyan kali, makan Calamari,” balas David dengan terkekeh-kekeh.
“Aah sialan lo, kirain beneran tau kalo gue doyan Calamari,” jawab Rya sambil memukul lembut tangan David di atas meja dan melanjutkan pembicaraan, “Gila ya tadi, ga sangka gue, kita bakal kejebak di dalam lift. Padahal ga pernah tuh ada kejadian gitu selama kita ngantor disana ya,” ujar Rya memulai topik baru.
“Gue juga kaget, tiba-tiba liftnya berhenti di tengah-tengah tadi, sempet panik juga sih, cuma tengsin aja kan kalo gue ketakutan depan lo. Hahahaha,” jawab David setengah tertawa.
Mata Rya melotot seketika, lalu berkata, “Beneran lo ketakutan juga tadi di lift!! Hahahahahaha,” Rya tertawa dengan gelinya mendengar pengakuan jujur dari David.
“Makanya jangan sok-sok an cool deh, kalo beneran takut. Hahahaha,” Ujar Rya yang masih tertawa geli melihat David yang kini mukanya agak kemerahan karena malu.
“Yee, gue kan harus tegar menghadapi situasi genting nan panik di dalam lift tadi Ryaa,“ jawab David mencoba berkelit dari tuduhan Rya. “Kalo ga gitu, nanti lo malah tambah panik,” kata David melanjutkan.
Rya sedikit mengangguk dan berkata. “Bener juga sih Vidd, kaki gue aja udah lemes banget tadi. Takut banget kalo lift nya jatoh ke bawah.”
David mengangguk sambil meminum bir dari gelasnya. Suasana di cafe begitu tenang, tidak banyak orang yang datang malam itu dan hanya sesekali terdengar riuhnya tawa dari tamu-tamu yang lain.
“Vidd, waktu itu cepet banget ya, perasaan baru kemaren gue kenal sama lo. Gue masih inget dulu pertama masuk ga ada temen.” ujar Rya memecah keheningan.
David sedikit mengangguk dengan gaya sok cool nya berkata, “Kalo gue ga ajak lo rokok di bawah, lo ga bakal kenal sama cowo paling keren di kantor! Hahahaha”
“Asli deh lo kepedean amat dari tadi, ahhahahha. Tapi emang sih, lo good looking, enak diliatnya,” balas Rya sambil menundukkan wajahnya karena tidak berani menatap David.
“Lo juga cakep kok Rya, jujur nih. Lo tuh tipe gue banget. Cuma kadang lo suka ngeselin sih. Jadi gue suka ilfil,” ujar David sambil tersenyum simpul.
Rya menatap tajam ke mata David, tapi seperti enggan untuk melanjutkan ke arah yang lebih serius dan berkata, “Tapi gue ngangenin kaaan??” balas Rya dengan setengah tertawa. Mereka pun tertawa bersama-sama dan David pun tidak membalas pertanyaan itu. Rya sepertinya benar menebak apa yang David rasakan.
Mereka pun sepertinya saling mengerti perasaan masing-masing, tapi tidak ada dari mereka yang memulainya lebih dulu. Pertemanan mereka selama ini telah membuat benih-benih cinta mulai tumbuh tanpa mereka sadari.
Waktu telah menunjukkan pukul 11.57 malam, Tapi mereka masih asyik mengobrol dan menikmati bir yang tersisa. Rya pun tampak lugas bercerita, menceritakan keluh kesahnya kepada David, seakan ia tahu bahwa David selalu memperdulikannya.
“Rya, udah jam 12 nih, cabut ga? lo udah cape kelihatannya dari tadi bawel banget,” ujar David memotong topik.
“Hahahah rese banget sih, ntar kalo gue diem, lo kangen lagi mau denger suara gue,” sanggah Rya membalas David.
Sambil mematikan rokoknya David balas berkomentar, “Kadang iya sih, gue suka kangen juga ga denger suara lo Rya.” Senyum David tampak jelas terlihat dan Rya pun membalas senyumnya sambil menunduk malu tanpa berkata apa-apa. Bagi Rya, David seperti sosok yang selalu dapat diandalkan. Rya bisa menceritakan apapun kepada David tanpa harus merasa sungkan.
Rya mulai merapikan tas nya, mengenakan jaket dan menenteng plastik dari Distro yang berisikan kemeja basahnya. “Yuk,” ucap Rya mengajak David untuk pergi. David pun beranjak berdiri dan berjalan bersebelahan dengan Rya menuju meja kasir dan terjadilah perseteruan kecil antara David dan Rya.
“Gue aja yang bayar,” kata Rya.
“Enggak usah, kan gue yang ngajak,” balas David.
“Ga papa, lo kan udah jadi pendengar setia gue tadi,” balas Rya sambil mengeluarkan kartu debit ke meja kasir.
David pun tidak mau kalah, ia menimpakan beberapa lembar uang kertas di atas kartu debit Rya dengan berkata kepada waiter di meja kasir, “Pake ini aja mbak, biar mecahin kembalian buat parkir.” sambil menatap Rya dengan penuh kepuasaan. Rya pun tersenyum kecut dan mengambil kartu debitnya kembali.
Mereka pun berjalan ke arah parkiran motor tidak jauh dari lokasi cafe berada. “Lo masih kuat bawa motor kan Vidd?” tanya Rya setengah khawatir.
David menjawab dengan tenang, “Masih kok, gue gak mabok kalo cuma bir doang Rya.” sambil tersenyum dan memberikan sebuah helm half face kepadanya. Setelah siap, Rya pun mencoba naik ke atas motor David. Tanpa arahan, David pun memberikan sebelah tangan kirinya untuk menjadi pegangan kepada Rya. Motor sport David memang lumayan tinggi untuk dinaiki.
David memacu motornya dengan agak cepat setelah keluar dari parkiran. Mudah bagi motor David untuk mencapai akselerasi penuh dalam hitungan detik. Tiba-tiba Rya menempelkan badannya ke punggung David, dan meletakkan kedua tangannya menyilang di perut David. David pun sepertinya agak terkejut dan helm-nya terlihat menoleh setengah ke kiri, seperti ingin mengucapkan sesuatu kepada Rya, tapi tidak jadi ia katakan. David pun melaju dengan cepat di atas motornya dan Rya tampak tidak memperdulikan hal itu. Ia masih merasa nyaman memeluk David dari belakang tanpa berkata apa-apa.
Tidak hentinya Jantung David berdegup kencang. Baru kali ini Rya memeluknya di atas motor. Pikirannya berkecamuk, hatinya tidak menentu dan badannya tidak kuasa menahan betapa kenyalnya b*******a Rya menempel di pundaknya.
Sesampainya di sebuah gang Indekos tempat Rya tinggal. David pun mematikan motornya dan melihat sekeliling perumahan itu. Nampak gelap gulita dan tidak ada lampu yang menyala.
“Waduh, mati lampu lagi,” ucap Rya membuka percakapan dan mengeluarkan smartphone nya untuk menyalakan senter. David tidak menjawabnya lalu berkata, “gue langsung cabut ya?”
“Eh jangan dulu dong, temenin gue dulu sampe lampunya nyala, gue ga berani gelap-gelapan begini Vidd,” jawab Rya spontan dengan wajah sedikit panik. David terdiam sebentar dan pikirannya mulai meracau tanpa arah, membuat jantungnya semakin berdebar kencang. Lalu David membuka helm-nya dan menarik nafas untuk mencoba tetap tenang di depan Rya.
“Oke, gue parkirin motor dulu,” jawab David dengan cool. David menenteng motornya ke arah parkiran Indekos itu dan meletakkan helm-nya di atas tangki motor. Rya mengajaknya untuk naik ke lantai 2. Kamar Rya terletak di ujung belakang Indekos itu. Ada beberapa kamar yang mereka lewati untuk sampai ke kamar Rya. David mengeluarkan smartphone nya untuk menyalakan senter dan terlihat jari tangannya mulai mengetik. "Bentar gue kabarin yang jaga kosan gue dulu, biasanya kalau gue balik malem dia suka ketiduran, terus pagernya di gembok." Ujar David kepada Rya. Rya hanya mengangguk pelan dan mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Gila gelap banget, gue ga pernah balik ke kosan dalam keadaan mati lampu gini sebelumnya." kata Rya sambil tetap menggenggam tangan David. Entah apa yang merasuki Rya, David masih berpikir keras untuk memproses bahasa tubuh Rya yang tidak biasa ia lakukan sebelumnya. Dari tatapan Rya yang berbeda di caffe tadi, lalu pelukan Rya di atas motor dan genggaman tangan Rya yang tanpa sungkan ia lakukan, seolah-olah seperti sepasang kekasih.
Indekos itu terdengar sunyi, sepertinya para penyewa kamar sudah terlelap tidur. Sudah sering kali David mengantarkan Rya, tapi baru kali ini Rya mengajak David masuk ke kamarnya. Tangan kiri Rya menggenggam tangan David, dan senter smartphonenya masih menyala ke arah lorong Indekos itu. Waktu seakan berhenti di pikiran David, langkah kakinya seakan tak ada habisnya melangkah menuju kamar Rya di ujung sana. Jarak lorong ke kamar Rya kurang lebih 10 meter, tapi bagi David jarak itu seakan sangat jauh di pikirannya. Hatinya mulai tidak menentu, semua bahasa tubuh Rya gagal ia terjemahkan ke hatinya. Hanya pikiran m***m yang sejak tadi terlintas di otaknya.