Ceklek, ceklek... Rya membuka kunci pintu kamarnya. Semerbak wangi parfum yang biasa Rya pakai tercium di hidung David saat memasuki kamar Rya yang gelap gulita itu.
"Vidd, gue pinjem korek loe dong?" pinta Rya sambil mencari lilin di laci mejanya. David merogoh tangannya ke dalam kantong celananya untuk mengambil korek.
"Nyalain dong Vidd!" ucap Rya sambil mengulurkan tangannya yang memegang lilin. Crek, Crek... Api dari korek David menyala membakar sumbu lilin itu. Lalu David meletakkan lilin itu di atas meja rias Rya.
"Sekalian nyalain di kamar mandi ya Vidd!" ucap Rya setengah memerintah.
"Baik, bu. Sebentar saya nyalakan dulu." Kata David dengan nada bicara yang formal seolah-olah berbicara dengan boss nya di kantor. "Hahahaha, toloong yaa Vidd..." balas Rya dengan tawanya yang lucu.
Sudah lebih 45 menit listrik di kosan Rya tidak juga menyala. Rya masih bersender di lengan David sambil duduk di atas lantai beralasankan karpet merah yang kiranya cukup nyaman bagi mereka berdua. Hanya sesekali saja terdengar pembicaraan mereka yang kelihatannya hanya basa-basi semata. David cenderung tidak banyak bicara malam itu, hatinya masih berkecamuk tidak menentu. Rya pun menyadari tingkah laku temannya itu sedikit berubah.
"Loe kenapa si Vidd?... dari tadi diem aja?" tanya Rya sambil menatap wajah David dengan wajahnya yang terlihat polos.
"Ga papa kok Rya, Gue juga bingung dengan apa yang gue rasain saat ini..." ucap David dengan tatapan yang kosong.
"Loe ga nyaman ya, kalau kita terlalu deket gini? tanya Rya dengan memalingkan mukanya ke arah lain.
"Jujur gue ngerasa nyaman kok sama loe Rya", ucap David dengan wajah tersenyum. "Tapi gue ngerasain hal lain di hati gue saat ini, gue seperti trauma untuk membuka hati gue buat loe Rya..." sanggah David melanjutkan pembicaraannya.
Rya mengubah posisi duduknya yang kini menghadap David. Kedua tangannya terangkat dan melingkar di kepala David lalu menyandarkan kepalanya bahu David, seraya berkata
"Gue paham banget kok Vidd, loe perlu waktu buat semua ini. Ga papa, gue akan sabar buat hubungan kita ini."
Kini mereka saling menatap, berpegangan tangan. Rya melemparkan senyum termanisnya untuk David sejenak dan mencium pipi David dengan lembut. David hanya terpaku dan memaksa tersenyum di hadapan Rya, lalu berkata "Makasih ya Rya, loe udah jadi temen deket gue selama ini. Apapun yang nanti terjadi dengan kita. Gue akan coba untuk jalanin dulu ke depannya." Rya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengucapkan kata-kata.
"Btw, si Bram kan naksir sama gue Vidd." ucap Rya berkata mengalihkan topik.
"Masa sih? Perasaan dia udah punya cewe deh, apa udah putus ya?" Kata David sambil menatap langit-langit mengigat Bram teman sekantornya mereka.
"Nah itu dia, gue juga sempet liat si Bram jalan sama cewe waktu itu. Ga tau deh kalo udah putus." Jawab Rya.
"Kok loe bisa tau, kalo Bram naksir loe Rya?" Kata David melanjutkan pertanyaannya.
"Dia itu belakangan ini care banget sama gue Vidd, sering Wa nanyain gue lagi ngapain, udah makan belom. Kan dia juga yang ajakin nonton tadi. Cuma gue ga berani kalo berdua doang, jadi gue ajak aja temen-temen gue biar rame. Hahahahahah" Kata Rya menjelaskan pada David.
"Ohh, itu idenya si Bram. Anjir gue ga di ajakin nonton." balas David dengan muka sedikit masam.
"Yaa, ga mungkin laah ngajak loe Vidd, dia kan tau kita berdua deket." ujar Rya sambil melanjutkan dengan pertanyaan, "Loe jealous ya? Hahahahaha..."
Muka David agak memerah dan terlihat gugup menutupi perasaaannya sambil berkata, "Enggaaak kok, hahahahahah..."
Keduanya pun sontak tertawa di kegelapan malam itu, tanpa mempedulikan tetangga sebelah kamar mereka.
"Loe sama Mba Vita gimana Vidd?" Tiba-tiba Rya bertanya kepada David.
"Ga gimana-gimana kok," Jawab David tanpa melanjutkan pembicaraannya.
"Loe kan deket juga sama Mba Vita, waktu itu gue liat loe balik bareng dia pake mobilnya." Rya masih kepo dengan jawaban David yang tidak memuaskan.
"Iya beberapa kali gue sempet pulang bareng, waktu itu dia minta temenin gue ke toko buku deket stasiun, dia mau beliin anaknya buku gambar sama krayon." Balas David.
"Aneh ya, dia kan punya laki, kenapa selalu rempongin loe sih Vidd? Apa jangan-jangan loe bronis-nya lagi? " Tanya Rya sedikit posesif dengan senyum nakalnya.
David tidak menjawab pertanyaan itu, hanya tertawa dan berkata, "Dahlah ga usah di bahas, gue lagi ga pengen bahas itu Rya.." Jawab David lalu mengalihkan pembicaraannya.
"Terus si Bram gimana? loe demen juga ga sama dia?" Tanya David.
"Bram bukan tipe gue banget Vidd, orangnya sih baik, tapi gue ga bisa klik gitu sama dia. Ada beberapa hal yang jadi concern gue, salah satunya pacarnya itu." ucap Rya lalu terdiam tanpa kata lagi.
David hanya mengangguk pelan, seakan menyetujui ucapan Rya barusan.
"Gerah banget ya, lampunya belom nyala juga lagi." kata David sambil mengipas-kipaskan majalah yang ia temukan di atas meja Rya.
"Makanya loe jangan banyak bacot biar ga panas Vidd." Ujar Rya tertawa terkekeh-kekeh.
Sambil tertawa David menjawab, "Sialan loe, yang ngajakin ketawa ketiwi dari tadi kan elo Rya... Hahahahahahah."
"Vidd kipasing gue dong, panas banget nih." tanya Rya kepada David sambil menunjukkan wajah polosnya.
"Yaudah sini, gue kipasin. Kurang baik apa coba gue sama loe..." David lalu mengipaskan majalah yang ia temukan tadi untuk Rya.
"Aaahh, enak Vidd, adem. Yang kenceng doong!" Perintah Rya kepada David.
"Dih, di kasih hati minta jantung ini anak." balas David setengah kesal.
Sambil menatap David, Rya berkata, "Loe kok sayang sih sama gue Vidd, sampe kipasin gue gini..."
David tiba-tiba tidak bisa menjawab pernyataan itu dan tetap mengkipasi Rya dengan tangan kanannya. Rya hanya tersenyum menoleh ke arah David sambil menikmati angin dari kipas manual itu.
"Bentar ya Vidd, gue ganti baju dulu, jadi makin gerah nih gara-gara loe." ucap Rya sambil bergegas bangun dari duduknya.
"Padahal udah gue kipasin looh... Masih aja ini anak reseknya." Balas David dengan muka masam.
Rya tidak mempedulikan celotehnya David lalu berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi, terlihat bentuk pinggulnya dari bawah. David hanya menikmati pemadangan indah di balik cahaya lilin yang redup tanpa berkata apa-apa. Rya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos tanktop dan celana pendek. Terlihat kakinya yang putih dan mulus terpampang di hadapan David.
"Loe seksi banget si Ryaa.." ujar David sambil menatap kagum melihat Rya berjalan ke arahnya.
"Gue emang seksi kali dari dulu, loe aja ga pernah meratiin, hahahahaha..." balas Rya sambil tertawa.
Rya pun duduk kembali di sebelah David, menyilangkan kakinya dan membuka smartphone nya untuk memeriksa pesan w******p dari teman-temannya. David yang agak sedikit kepo melirik smartphone Rya. Alih-alih melihat pesan singkat itu, cahaya dari layar smartphone memantul di d**a Rya. David pun salah fokus melihat belahan d**a yang kini terlihat jelas di dalam kegelapan.
"Rya ga pake BH, shiiiittt...." Kata David dalam hatinya. Pikirannya kembali kacau, membayangkan b*******a Rya yang membulat kencang di balik tanktop nya. Badannya mulai panas dingin dan hatinya berdebar kencang. Sekali-sekali David memalingkan mukanya sendiri agar tidak terpegoki lagi oleh Rya.
"Loe kepo banget sih liatin gue w******p-an sama anak-anak..." tiba-tiba Rya berbicara kepada David.
Sontak David kaget dan berusaha mencari jawaban yang masuk akal, "Kagak, gue ga liat chatting-an loe kok..." jawab David sambil merogoh smartphone di kantong celana sebelah kanan dan memikirkan kembali ucapannya.
"Terus ngeliat apa? hayooo ngaakuuu?..." balas Rya sambil melirik David dan melemparkan senyum nakalnya. David cengengesan dan memalingkan mukanya untuk menahan malu. Jepitan b*******a Rya di balik tanktop-nya sepintas terlihat oleh David. David tidak kuasa menahan matanya untuk tidak melihat belahan b*******a itu. Lalu keduanya tertawa kecil seolah-olah saling mengerti apa yang David lihat.
Tiba-tiba lampu menyala, serentak David dan Rya berteriak kegirangan. "Yeeeeey, nyalaaa...." Rya berdiri lalu berjalan menuju lilin-lilin untuk memadamkannya. David masih tidak beranjak dari tempat duduknya, dan kembali menikmati pemandangan indah di depannya. Matanya masih terpaku kepada kedua b*******a itu. Terlihat sedikit bergoyang seirama dengan langkah kaki Rya.
"Loe pede banget sih ga pake BH di depan gue. emang ga malu?" tiba-tiba David bertanya kepada Rya.
Lalu Rya membalas dengan senyum nakalnya, "Ga papa lah, di depan loe ini, bukan di depan orang lain, hehehehe"
"Wah gue boleh liat isinya dong kalo gitu?" balas David kepada Rya.
"Muataaamuuuu...." Ucap Rya sembari menoyor kepala David. Keduanya pun tertawa mengakhiri pembicaraan itu.
David meminta izin untuk pulang. "Gue baik ya, makasih atas pengertian loe selama ini" ujar David. Rya tersenyum lalu mencium pipi kiri David. David pun membalas dengan kecupan di keningnya Rya. David berbalik dan memakai jaket dan tas hitamnya yang berisi laptop. Ketika kakinya hendak melangkah ke luar pintu, dengan sigap Rya menarik tangan David ke arahnya. Kini mereka saling bertatap muka. Kaki Rya mulai jinjit untuk mendekati wajah David. Tanpa perkataan apapun, bibir Rya mencium bibir David dengan lembut. Jantung Rya berdebar dengan kencang. David hanya terdiam dan terperanjak kaget dan membalas ciuman Rya tanpa ia sadari. Ciuman itu adalah ciuman mereka pertama kalinya. David tidak bisa berkata apa-apa, Rya lalu tersenyum dan mengantarkan David menuju pintu kamarnya.
"Gue ga nganter ke bawah ya... ga enak nanti ada yang liat gue ga pake BH." kata Rya pelan kepada David.
Mendengar itu David pun mencuri pandang untuk yang terakhir kalinya ke belahan b*******a Rya dan berkata, "Iya ga papa, gue juga ga rela t***t loe di liatin orang lain." jawab David tersenyum.
"Hahahahaha" Rya hanya tertawa pelan mendengar jawaban dari David.
Tidak berapa lama, motor David menyala dan terdengar pergi menjauhi Indekost Rya. Malam itu merupakan malam pengakuan terberat bagi mereka berdua. Waktu sudah menujukkan pukul 2 pagi. Rya mulai menarik selimut dan memejamkan kedua matanya untuk melamuni kejadian yang terjadi hari itu. Terkunci di lift bersama David, kaos V-neck yang David belikan, ciuman pertama mereka yang sangat mendebarkan dan David yang mencuri pandang melihat buah dadanya. Kedua tangan Rya mulai meraba-raba kedua b*******a untuk memastikan besarnya cukup. Bisa di bilang lebih besar dari ukuran rata-rata wanita seumurannya. Rya mulai menghayal dalam hati, "Apa besok gue pake kaos aja ya, biar keliatan lebih menonjol... hihihihi..." Rya tertawa pelan dalam lamunannya dan tidak berapa lama kemudian, Rya pun terlelap tidur.
Rya memang seorang wanita yang berani dan percaya diri, ia tidak segan-segan untuk tampil sedikit seksi di depan umum terutama di depan David. Tapi di balik semua itu, Rya seorang sosok yang baik dan penyayang. Ia selalu dapat di andalkan oleh teman-teman di kantornya, tidak terkecuali kepada David. Rya adalah anak tunggal dan terlahir dari keluarga yang berada. Kedua orang tuanya selalu mendidiknya dengan baik. Maka tidak heran Rya tumbuh menjadi wanita yang pintar, mandiri, baik hati dan lugas.