Kupejamkan mata ini
Mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah
Tentang dirimu
Tentang mimpiku
Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan tolonglah...Diriku
Entah dimana
Dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana
Slalu rindukan aku
Seperti diriku yangSelalu merindukanmu
Tak bisa aku ingkari
Engkaulah satu-satunya
Yang bisa membuat jiwaku
Yang pernah mati
Menjadi berarti
Namun kini kau menghilang
Bagaikan ditelan bumi
Tak pernahkah kau sadari
Arti cintamu Untukku
Kenapa rasanya patah hati begitu sakit? Kenapa rasanya ditinggalkan begitu perih? Kenapa rasanya menyayat hatiku? Kenapa aku merasakan begitu nyeri di dadaku? Di ulu hatiku?
Jika aku merasakan cinta, sangat berbanding terbalik saat aku merasakan patah hati. Kenapa begitu? Kenapa lebih nyaman jatuh cinta daripada patah hati? Cinta itu sebenarnya apa? Dia bukan makanan, dia juga bukan sebuah benda. Tapi tidak ada cinta terasa hampa, jika ada cinta rasa berbunga. Aneh!
Aku masih merasakan nyeri di hati ini, aku masih belum berniat keluar kamar. Sejak malam itu, aku lebih senang mengurung diri dikamar, mendengarkan alunan music mellow yang semakin membuat aku Galau.
Aku kembali menatap kartu cantik yang diberikanDimas malam itu.
Malam anniversary kami yang ke 11 tahun, miris memang ya? Sudah pacaran selama 11l tahun tapi malah berpisah, jika dihitung - hitung mungkin selama 11 Aku bisa mengkredit 4 buah motor bebek. "Hahhh." itu suara desahanku.
Aku lelah menangis, aku lelah sekali mengingat - ingat. Aku juga lelah untuk bergalau ria. Sekali lagi,
aku meraih kartu undangan itu dan aku baca dengan baik - baik nama pengantin pria dan pengantin wanitanya.
Laki - lakiku akan menikah dengan wanita lain.
Dan kapan mereka berselingkuh? Kenapa aku tidak tau jika dia memiliki WIL? dan harusnya kan malam kejadian saat dia mengatakan akan menikahi wanita lain, aku harus marah, memaki atau menendang bokongnya karena telah menghianatiku, tapi kenapa aku malah pingsan?
Kejadian memalukan.
Aku sempat merutuki diriku, mungkin ini salahku, karena aku sampai Dimas berselingkuh. Mungkin aku tidak bisa menjadi pacar yang baik untuk
Dimas, sehingga membuat Dimas berpaling. Aku menyesali semua perbuatan kekanak - kanakan yang aku lakukan sampai membuat Dimas berpaling. Ya, aku sempat menyalahi diriku sendiri yang gagal menjaga cinta kekasihku.
Namun seseorang yang aku kenal, yang menjadi sahabat seperjuanganku mengatakan bahwa ini bukanlah kesalahanku. "ini tuh, bukan salah elo! Elo itu gak salah, yang salah to si Dimas kepret! Dia tu yang selingkuhin elo! Kalau dia memang cinta sama elo, baik buruk elo dia akan terima, bukan malah mencari perbandingan terus nyarii wanita lain dengan alasan doi lebih baik daripada kamu. Itu mah salahnya dia, ngelesnya dia aje. Emang kagak ada yang jauh lebih baik dari Dimas? Banyak kali!!
Cuma elo itu sudah komitmen buat setia, makanya dimata elo Dimas yang terbaik!! Harusnya mah
Dimas itu kaya elo!!m
Itu penuturannya yang panjang kali lebar saat aku menangis di pelukannya dan menyalahi diriku karena tidak bisa menjaga dengan baik kekasihku.
Nama sahabatku itu Vera, dia itu seorang wanita yang lucu, riang dan ceria. Dia itu seorang MC sekaligus calon motivator, makanya dia bisa dengan rilex memberikan petuah - petuah dan nasihat - nasihat yang sangat membantu aku buat move on.
Move on dari Dimas? Apa aku bisa? Aku rasa aku gak bisa. Secara selama 11 tahun, Dimas selalu ada di dekatku. Mewarnai hari - hariku. Aku bahkan sampai takut keluar kamar. Karena seluruh penjuru rumah aku seperti melihat beberapa kenangan bersama Dimas. Habya dikamarku saja,
Dimas tidak pernah memasukinya. Kalau aku kekampus aku akan ingat saat Dimas menjemputku, menantiku di parkiran dan mengajakku makan dikantin. Jika aku pergi ke mall aku akan ingat, bahwa kemanapun aku pergi
Dimas selalu bersamaku. Jika aku mengendarai mobil, aku akan berulang kali menoleh kearah sampingku, teringat saat Dimas duduk disana mendampingi aku, mengajarkan aku cara mengemudi. Duh, dimana - mana ada Dimas! Kaya hantu aja sih!
Lebay gak ya aku kalau susah move on dari Dimas?
Dimas itu ganteng, dia baik sama aku, jauh dari kata mengecewakan, Dimas sangat jarang membuatku menangis atau terluka, Dimas itu perawakannya tenang dan menyenangkan. Aku selalu nyaman didekatnya. Dimas lagi Dimas lagi!
Tok tok tok
Aku bisa menebak itu pasti mamaku yang mengetok pintu, membawakan sarapan. Ah! Aku sedang malas berbasa - basi "Sayang, makan dulu yuk?" ajak mamaku sembari meletakkan piring di atas meja sebelah tempat tidurku.
Ini mamaku, namanya Franda. Dia itu seorang wanita karir, sejak ditinggal papa meninggal, mama yang bekerja banting tulang membesarkan aku dan adikku sampai saat ini. Mamaku orang sibuk, dia bekerja sebagai Direktur Keuangan di sebuah bank swasta. Karirnya selalu meningkat dan membuat aku selalu bangga padanya.
Bukan berarti dia sibuk sampai tak punya waktu untukku dan adik laki - lakiku, mama selalu memiliki waktu luang walau hanya makan malam biasa bersama kami. Dia sosok ibu yang perhatian
Sempat Ikut sedih dan kecewa saat tau anaknya diputusiin dan dicampakkan begitu saja. Mama selalu menguatkan aku, dan membuatku merasa lebih baik "Bagaimana kabarmu hari ini?" Mama melirik kartu undangan yanh sedang aku pegang. Aku berusaha tersenyum
Mama meraih kepalaku dan mengambil kartu undangan itu "Sayang, sudah seminggu dan kamu masih mengurung diri? Kamu boleh saja bersedih, tapi kamu harus lanjutkan hidupmu ya?" "Hhhhh.." itu desahanku. Aku menghela napas "Susah ma, patah hati itu sakitnya tuh disini" aku menunjukk dadaku dan memasang wajah memelas dan sangat menderita. Mama tertawa "Baiklah, sekarang kamu makan. Dan apa hari ini kau akan membolos kuliah dan kerja lagi?" Aku mengangguk "'Aku masih malas bekerja ma, terlalu banyak kenangan ditempat kerja. Mungkin aku akan berhenti saja" ujarku
Mama menatapku tak percaya, "Kau mendapatkan tempat kerja ini dengan susah payah lo. Dan sekarang kamu mau melepasnya begitu saja?"
Aku seorang reporter, aku mencari pekerjaan ini memang sangat susah, namun Dimas selalu membantuku agar aku bisa diterima ditempat ini.
Tuh kan ada Dimasnya lagi? "Aku gak tertarik lagi ma jadi reporter, aku mau fokus kuliah saja dulu. Mengikuti jejak mama sampai S2" "Baiklah baik, apapun yang kamu lakukan asal positif dan baik buat kamu mama mendukung"
"Ma, mungkin besok aku akan mulai kuliah lagi"
Mama tersenyum dan mencium keningku "Kamu harus semangat ya, kamu harus bangkit" Aku mengangguk. Sepertinya air mata akan kembali tumpah dari mataku, namun aku berusaha keras untuk tidak menangis. "Malam ini, aku ingin pergi ke pernikahan Dimas ma" ujarku yang langsung mendapat delikan mata "Tidak! Mama tidak mengijinkanmu" ujarnya keras "Ma, aku hanya ingin memberinya ucapan selamat ma dan menunjukkan padanya bahwa aku kuat dan bukan seorang pecundang yang kalah" "Tapi Aya, kamu .." "Aku baik- baik saja ma. Mama tenang ya. Aku akan pergi bersama Vera"
Mama mendesah pelan dan akhirnya mengangguk lemah, aku tersenyum senang karena mama mengijinkan aku untuk hadir di pesta pernikahan mantan kekasihku.
Sepeninggal mama, aku bangkit dan menuju meja kerjaku. Aku membuka laci meja dan mengambil ponsel yang aku nonaktifkan selama seminggu ini.
Aku menyalakan iphone ku ini, dan aku melihat layar wallpaperku masih terpajang fotoku dan foto
AKU menyalakan iphone Ku ini, dan aku meuhat layar wallpaperku masih terpajang fotoku dan foto
Dimas. Sepertinya Galau membuatku tak sempat membersihkan ponselku dari wajah Dimas.
Aku membelai ponselku mengikuti arah pipi Dimas seolah aku membelai pipi Dimas. Itu foto aku dan
Dimas saat kamu berada di Bali mungkin itu sekitar 2 atau 3 tahun lalu. Aku lupa. Seketika memori tentang Dimas kembali berputar dikepalaku "Dimaas....." "Aku lapar." "Kamu ini manja sekali deh. Nanti kalau kita menikah, kamu harus memanjakan aku!" "Ooh tentu saja, aku akan menjadi istri yang terbaik untukmu. Apa kau akan menikahiku segera??" "Entahlah, tapi aku akan segera melamarmu" "Waaa so sweet, kau harus berjanji akan segera melamarku ya.."
Seketika air mataku menetes saat mengingat percakapan aku dan Dimas beberapa tahun lalu di
Bali itu. Kenangan manis yang harus aku lupakan.
Aku mendelete semua fotoku dan foto Dimas. Aku ingin melupakan dia. Aku membuka kontak dan mencari nama Vera lalu segera menghubunginya "Halo? Aya? ini beneran elo yang nelpon gue?" "lyalah masa hantu" dengusku sebal "Udah bisa move on elo? Padahal gue baru mau menerima jika iphone elo dikasih ke gue" "Itu mah maunya elo!" "Ohya, ada apa elo nelpon gue?" "Gue mau ajak lo keluar malam ini" "Serius eloo mau keluar?? Wah ayoo, elo mau kemana? Mall??" "Kepernikahan Dimas" " Whaat?? Apa gue gak salah denger? Oh Aya, gue pikir elo udah move on" "Ini bukti gue move on keles. Elo mau temeniin gak atau gue sendiri saja?" " Ya ya gue temeniin. Jam 7gue jemput elo"
Aku mendesah pelan sembari memutuskan panggilannya. Aku ingin mengecek sosmedku, pasti semua heboh dengan pernikahan Dimas. Aku yakin banyak yang bersimpati padaku. Ahh