Seperti biasa, sekolah Indonesia International School mengadakan acara valentine day hampir di setiap tahunnya. Tidak seperti di sekolah- sekolah biasanya, sekolah ini mengadakan pentas seni kecil- kecilan yang akan menampilkan klub drama memainkan sebuah drama romantis seperti Romeo dan Juliet, Beauty and the Beast, Snow White, dan dongeng- dongeng lainnya.
Selain pentas seni yang akan menampilkan klub drama dan beberapa penampilan artis yang sengaja diundang, para siswa juga biasanya menyatakan perasaan mereka kepada orang- orang yang mereka suka. Mereka juga memberikan hadiah- hadiah kecil seperti prakarya yang mereka buat sendiri, cokelat, bunga atau pun cake.
Seperti kebanyakan siswa lain, hari ini Rani juga berencana untuk memberikan sesuatu kepada laki- laki yang sangat ia suka. Yaitu Noah, salah satu seniornya yang merupakan ketua klub karate. Rani sering menonton pertandingan karate Noah bersama sahabatnya, Tyas. Dan sejak pertama kali menonton, Rani langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Noah.
Terhitung, sepertinya sudah sekitar satu tahun Rani naksir kepada Noah. Dan, hari ini, ia baru berani untuk mengungkapkannya kepada cowok itu. Bukan tanpa alasan kenapa Rani baru mau mengakui perasaannya. Lima bulan pertama, Noah masih mempunyai pacar. Tidak mungkinkan Rani menurunkan harga dirinya untuk mengungkapkan perasaannya saat itu?
Lalu di bulan- bulan berikutnya, banyak sekali gadis- gadis yang mencoba mendekati Noah dan semuanya gagal. Gadis- gadis itu tentu saja bukan cewek sembarangan. Mereka cantik- cantik, tidak seperti Rani yang saat ini berkulit gelap, apa lagi rambutnya yang berwarna kecokelatan membuat hal tersebut semakin buruk.
Tapi, Rani sudah bertekat hari ini. Ia tidak peduli dengan warna kulitnya yang tidak berubah menjadi putih setelah ia mencoba berbagai macam cara. Yang terpenting, kini ia sudah cukup ‘bersih’ dan tidak ‘menjijikan’ ketimbang beberapa bulan lalu.
Rani berdiri di koridor yang cukup sepi untuk menunggu Noah lewat. Biasanya, Noah lewat koridor tersebut jika ingin pergi ke ruang Latihan karate.
Namun, alih- alih Noah yang muncul, justru laki- laki lain lah yang muncul sambil tersenyum mengejek ke arah Rani. Ia lalu menghampiri Rani, sambil melihat ke arah kotak dan sebuah cokelat yang ada di genggaman cewek itu.
“Lo mau nembak cowok ya?” tanya laki- laki itu, yang Rani tahu belakangan ini, sering sekali mengejeknya. Ya, dia adalah Edgar Malik, anak kelas sebelas IPS dua. Rani sendiri tidak tahu apa alasan Edgar selalu mengganggunya seperti ini akhir- akhir ini.
Rani berdecak, “Apaan sih lo? Bukan urusan lo!” katanya kesal.
“Siapa sih? Ketua basket ya? Ian? Atau…” ucapan Edgar berhenti dan melihat ke arah ruangan klub karate, “Noah? Iya lah udah pasti Noah!”
Rani membeku, kenapa tebakan Edgar benar sih?
“Denger ya, Ran. Udah banyak banget loh cewek- cewek yang ngelamar jadi pacarnya Noah, tapi mana? Noah masih belom move on dari mantannya yang cantik itu, Ashila!” kata Edgar menjelaskan, “kalau yang cantik aja nggak diterima, apa lagi yang kayak lo? Buluk, dekil, kurus, rambutnya juga terlalu cokelat!”
Rani memandang Edgar dengan marah, kenapa sih memangnya kalau dia berkulit gelap? Meskipun hendak marah dan menangis karena ucapan Edgar, Rani tetap berdiri di tempatnya saat itu. Padahal, kini kakinya sudah bergetar tidak karuan menahan amarah.
Dan saat itu juga, entah bagaimana, Noah melewati mereka berdua dan Edgar memanggil Noah untuk mendekatinya.
“Noah!” panggil Edgar, “ada yang mau ngasih cokelat sama kado buat lo nih, katanya mau nembak lo.”
Rani merunduk, ia menahan air matanya dan tidak berani mendongak untuk melihat wajah Noah. Edgar merangkul laki- laki itu, dan Noah kini memandang Rani dari bawah kakinya hingga kepalanya.
“Masa sih?” tanya Noah penasaran, ia melirik ke arah Edgar.
Edgar tertawa terbahak- bahak, “Jawabannya udah pasti enggak kan? Lo nggak akan nerima dia kan?” tanyanya. “Udah jelek, buluk dan dekil lagi!” kata nya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Rani yang saat itu sudah tidak tahan karena Edgar menghinanya di hadapan Noah, laki- laki yang sudah setahun belakangan ini ia sukai, akhirnya menjatuhkan kotak yang sedari tadi ia sudah cengkram dengan kedua telapak tangannya. Cokelat tersebut yang sudah tidak jelas bentuknya pun ikut terjatuh, setelahnya, ia berlari ke arah kamar mandi dan bersumpah tidak akan pernah melihat Edgar atau pun Noah lagi.