Sejak kejadian di hari Valentine di IIS (Indonesia International School), Rani benar-benar menghindari apa pun. Ia menghindari kantin, bahkan sengaja berhari-hari membawa bekal agar bisa memakannya di kelas. Ia pergi ke toilet ketika jam pelajaran sedang berlansung, kecuali, ketika jam pelajaran olahraga kelas Edgar atau pun Noah tiba. Ia benar-benar tidak akan keluar kelas saat itu, walaupun hasratnya untuk buang air kecil sangat besar.
Rani malu, tentu saja. Ia tidak mengerti, mengapa ada cowok sejahat Edgar. Mengapa Edgar, yang entah dari mana, datang ke kehidupannya hanya untuk menghancurkan masa-masa SMA nya?
Jika bagi orang lain masa putih abu-abu adalah masa yang menyenangkan dan tidak pernah terlupakan, Rani bersumpah, pengalaman miliknya bahkan jauh dari kata ‘tidak terlupakan’.
Rani sangat ingin melupakannya, walaupun rasanya sangat sulit.
Tyas, sahabatnya itu hampir setiap hari memaksanya untuk keluar dari kelas. Kecuali ketika jam pelajaran olahraga, Rani benar-benar hanya mendekam di kelasnya. Ia benar-benar sangat takut bertemu dengan Noah.
“Ayo lah, Ran, kita ke kantin bareng. Lo kenapa sih? Ada apa sampe-sampe lo begini terus,” ucap Tyas frustasi, gadis itu sedari tadi merengek agar Rani mau keluar dari kelas.
Rani menggeleng, ia mengambil kotak bekalnya dari dalam tas bekalnya.
“Ran, cerita sama gue. Lo udah gak percaya sama gue?” tanya Tyas, ia mulai mengguncang bahu Rani.
Rani mengembuskan napasnya, pasrah, dan ia tidak tahu keputusannya untuk setelah berbulan-bulan merahasiakan hal ini kepada Tyas, akhirnya mau menceritakan semua itu kepada gadis itu.
“Lo beli makanan dulu, gih, baru kita makan bareng dan gue cerita.”
“Bener lo mau cerita?” tanya Tyas, matanya yang sudah bulat dan belo itu menatap Rani seakan-akan ingin keluar dari kelopaknya.
Rani meringis ngeri menatap Tyas, kemudian ia mengangguk, berharap sahabatnya itu lekas pergi dari hadapannya dan ia bisa segera menikmati bekal makan siangnya yang dibuatkan oleh bibi.
Sebuah nasi goreng ayam lengkap dengan tiga potong nugget, buah mangga yang sudah dipotong dan terakhir camilan bakpia yang baru saja dibawa oleh ayahnya dari Jogjakarta. Oleh-oleh favorit Rani dan abangnya.
Semua makanan itu tentu saja dipisah di sebuah kotak bekal tiga tingkat miliknya. Kotak bekal mahal yang dibeli mamanya sekaligus dikoleksi olehnya. Bahkan, Rani sendiri tidak mengerti mengapa para ibu-ibu gemar mengoleksinya.
Baru lima suap Rani memakan bekalnya sambil membaca novel sastra klasik miliknya, Tyas kembali datang dan duduk di sebelahnya sambil membawa sekotak bento. Gadis bertubuh tebal itu tersenyum, lalu siap mendengarkan ceritanya.
“Jadi, mulai dari mana, Maharani?” tanya Tyas, menyebutkan nama lengkap Rani, membuat gadis itu kembali bergidik ngeri.
Tyas dengan segala keanehan dan kegembiraannya akan hal kecil, memang tidak akan pernah tergantikan oleh sahabat mana pun yang Rani punya. Jika Rani bisa mengurutkan, Tyas akan berada di peringkat pertama, dan setelahnya dalah Bella, temannya ketika SMP yang masih berhubungan baik dengannya hingga detik ini.
“Valentine days,” kata Rani, bersiap membuka seluruh aib nya kepada Tyas.
“Ya?”
“Lo tau, nggak, gue waktu itu nyiapin sesuatu buat orang yang gue suka?” tanya Rani.
Tyas mengangguk, “Buat Noah?”
“Sssshhh!!” Rani langsung panik dan mencoba menutup mulut Tyas, takut aibnya ini didengar oleh orang lain yang ada di kelasnya.
“Iya, terus-terus?”
“Gue malah ketemu sama si setan,” kata Rani sebal, dan ia mulai berbisik, “Edgar.”
Tyas tahu soal Edgar. Tyas tahu, pertama kali Rani dan Edgar bertemu. Pertemuan pertama yang sangat menjengkelkan. Saat itu, ketika mereka renang di sekolahnya. Rani terpeleset, sampai menimpa Edgar. Dan tentu saja, hal itu membuat para siswa heboh sampai-sampai meneriaki mereka riuh.
Bukan tanpa alasan para siswa heboh. Melainkan karena posisi mereka yang sangat intim ketika bertubrukan. Saat itu, Edgar mencoba menjelaskan bahwa dirinya tidak ada apa-apa dengan Rani. Semua itu murni kecelakaan dan, sejak itu pula, Edgar sering mengejek dan merendahkan Rani.
Edgar selalu mengejek dan merendahkan Rani ketika ia memiliki saksi. Saksi yang akan menyebarkan hal tersebut hingga seluruh penjuru sekolah, agar ia terbebas dari tuduhan para siswa (bahwa mereka dekat dan memiliki hubungan khusus).
Seakan-akan, Edgar sangat mementingkan citra dan validasi dari orang agar dirinya terus dipandang baik. Yang, menurut Tyas, percuma. Mana ada orang yang dipandang baik ketika ia justru merendahkan dan mengejek orang lain? Apa Edgar sudah gila?
“Oh iya, si banci itu, terus, dia ngapain lo lagi?” tanya Tyas, wajahnya mulai serius dan ia mulai kesal serta muak kepada cowok lemes itu.
“Dia nebak kalau yang gue kasih itu buat si N, dan ketika N datang… Seperti biasa, dia ngerendahin gue, ngejek gue, pokoknya melakukan hal yang bagi gue… Menyakitkan… Gue gak mau nunjukin diri gue lagi di depan N, Tyas. Atau pun si setan itu…”
Tyas sekarang mengerti, mengapa semua kejadian traumatis itu membuat Rani tidak ingin keluar dari kelas kecuali ketika ingin ke toilet, dan pulang. Ia menghela napasnya, lalu menatap Rani dengan tatapan nanar.
“Sori ya, gue gak tau, habisan lo gak cerita sama gue dari kemaren-maren sih.”
Rani mengangkat bahunya, dan mulai menikmati buah mangganya karena nasi goreng dan nuggetnya sudah tandas.
“Gue butuh waktu, Tyas. Healing atau apa lah itu namanya.”
“Ya tapi masa lo sampe lulus mau ngedokem terus di kelas?”
“Kalau bisa, akan gue lakuin.”
“Sinting.”
Rani tersenyum jahat, “Gue bersumpah ya, Tyas. Gue akan balas semua yang dilakuin sama si setan itu ke gue. Entah lewat apa, kalau bisa gue santet, ya gue santet.”
Sambil mengunyah makanannya, Tyas menggelengkan kepalanya dan kembali berucap…
“Sinting.”
*
Secepat kilat, Rani keluar kelas sebelum semua kelas benar-benar bubar. Ia berlari secepat mungkin sampai di parkiran, mencari sopirnya yang sudah ia pesankan untuk menjemputnya dua puluh menit sebelum bel sekolah berbunyi.
Namun memang nasibnya sungguh sial, lagi-lagi, Rani menabrak Edgar. Si setan itu, si setan yang ingin Rani santet hingga muntah paku.
Keduanya tersungkur, dan Rani tersadar, sebelum hal yang sama terulang, ia buru-buru bangkit dan pergi. Namun, Edgar ternyata menahan tangannya.
“Lo, abis nabrak gue, mau pergi gitu aja? Lo gak ada minta maaf sama sekali sama gue?!” tanya Edgar, yang dari sorot matanya, benar-benar menuntut permintaan maaf yang tulus dari Rani.
Rani menarik napasnya, “Oke, gue minta maaf. Jadi, sekarang lepasin gue, oke?”
Edgar yang sadar tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Rani pun segera melepaskannya seakan-akan ia sangat jijik dengan Rani.
“Lain kali, luluran ya,” ujar Edgar, yang seketika langsung pergi, meninggalkan Rani yang masih menatap cowok itu tidak percaya.
LULURAN?! Batin Rani berteriak, tanpa elo suruh, Edgar. Gue bersumpah, setiap hari gue luluran supaya kulit gue putih! Emang dasar SETAN!
Rani pergi, berlari menuju mobilnya dan menutupnya dengan keras. Sampai-sampai, supirnya mengamatinya dengan bingung.
“Gak usah tanya-tanya pak, Rani lagi sebel sama orang,” ujar Rani, meminta agar supirnya itu tidak bertanya lebih lanjut.
“Oke, siap non.”
Apa gue beneran santet aja ya, si Edgar?
Segala sumpah serapah, niat-niat buruknya terhadap Edgar, sudah dipikirkan matang-matang oleh Rani. Sial, sial…
“Pak, tau jasa santet terdekat nggak?” tanya Rani, membuat mata supirnya itu melebar dan menatapnya melalui spion tengah dengan ngeri.
“Duh gusti, non… Kan saya udah gak tanya-tanya sama non, kok saya mau disantet?”
“Aduh, pak Idho, yakali saya mau nyantet bapak…”
“Lagian non Rani mau nyantet siapa sih?”
“Ih pak, jawab dulu pertanyaan saya. Kok malah nanya balik sih pak?”
“Saya tahu sih non, tempatnya. Tapi saya gak mau ambil resiko diomelin sama pak Seno. Lagian nih ya non, gak boleh gitu. Sekesel-keselnya kita sama orang, gak boleh sampai berurusan sama jin buat nyelakain orang itu. Dosa, neng.”
Kalau yang dilakukan oleh Rani adalah dosa besar, yaitu mengirimkan santet kepada Edgar, lalu yang dilakukan Edgar kepadanya bagaimana? Merendahkannya, dan menyakiti hatinya. Ini semua sungguh tidak adil.
“Ish, yaudah-yaudah, gak usah bilang-bilang papa aku mau nyantet orang ya pak.”
“Iya enggak lah non, kalau saya bilang, pak Seno paling ngetawain non Rani. Ayahnya non Rani kan, orangnya rasional. Mana ada percayaan sama santet.”
Benar juga, batin Rani. Ayahnya, atau bahkan keluarganya adalah orang-orang yang berpikir rasional, realistis. Tidak akan percaya dengan hal-hal ghaib yang hanya akan dianggap konyol oleh mereka.
Oke, Rani sepertinya harus menelan bulat-bulat semua yang dilakukan Edgar kepadanya. Ia benar-benar harus sabar sampai setidaknya, ia bisa lulus dari IIS dan bisa berkuliah di Universitasnya dengan baik.
Soal kulitnya yang masih keling itu, tidak masalah. Jaman sekarang, sudah banyak teknologi yang bisa ia gunakan untuk memutihkan kulit. Ia akan meminta kepada orang tuanya untuk membantunya keluar dari neraka ‘kulit keling yang terlihat dakian’ ini.