Aku ingat malam hari setelah berkenalan dengan Denis, merupakan malam panjang.
Kala itu aku bagai menanti turunnya salju di tengah gurun Sahara. Sesuatu yang kemungkinan terjadi dibawah 0,05%. Detik terasa seperti jam. Aku merebahkan diri di kasur empuk dalam kamar sunyi Bulan. Satu-satunya sumber cahaya adalah android yang sembari tadi menawan mata.
Beberapa menit membuka f*******:, aku kembali ke Whats-app. Tiada pesan dari nomor misterius. Beberapa menit menonton Youtube, kembali Whats-app memenuhi layar, masih tak ada nomor Denis
Bukankah dia murid baru? Harusnya sebagai orang yang belum mengenal siapapun di sekolah, aku menjadi pilihan pertama untuk dia hubungi. Apa yang dia tunggu? Apa mungkin nomor yang kutulis terhapus oleh keringat? Atau dia tak punya pulsa?
Di sekolah aku bertemu bidadari itu lagi.Namun kali ini banyak gadis yang mengiringi langkahnya, membuat mendadak nyali jadi ciut. Esoknya pun demikian, esoknya sama, esoknya juga. Nyali, kenapa kau tak mau membantu?
Denis sering memberi senyuman manis. Seperti sekarang ketika aku duduk di pagar lorong depan kelas, dia melintas bersama bunga-bunga cantik sekolah. "Hi Nan."
"Hi." Begitu jawabku, mengamati dia yang berlalu menjauh.
Mungkin Denis tak sempat berhenti, mungkin juga sungkan karena ada Dewo, Benaldi, Eric. Ketiga bocah ini temanku. Benaldi cowok kurus berkulit kuning langsat terawat, dia seperti seorang gadis. Dewo agak gendut, berkulit sawo matang. Sementara Eric, parasnya mirip orang Korea, sipit, bibir tipis, sayang pesek. Aku memungut mereka ketika kegiatan MOS dulu.
"Heleh, b*****g lo Bro," ucap Eric sambil menepuk kepalaku dari samping. "Tuh cewek sudah ngasih lampu hijau, bukannya didekati malah cuma 'Hi' doang. Cemen."
"Berisik, Cuk," jawabku.
"Aku dengar dia ditaksir Rois," celetuk Benaldi.
"Rois anak IPA?" tanyaku.
"Hayo koen, gek ndang, dekati, keburu di-dor Rois, ntar mewek," sambung Dewo.
"Hai gays!" Cecil duduk di sebelahku.
"Gays gays, guys, kalau gays homo dong," jawabku.
"Enggak apa-apa lagi, homo sedang trend," sahut Cecil.
Cecil adalah satu-satunya gadis super gaul yang hobi dekat-dekat anak laki. Walau dia juga populer di kalangan perempuan, tapi entah kenapa lebih sering nimbrung bersama kami.
Dewo menyeletuk. "Cil, Aris nanksir anak baru, tuh."
"Oh ya?" Cecil menoleh ke arah gerombolan siswi yang lewat tadi. "Denis! Aris su-"
Aku membekap mulut Cecil sambil menariknya masuk dalam dekapan. Denis menoleh ke belakang, dia tersenyum bersama siswi-siswi lain, pergi begitu saja. Tak sengaja, serius, tak sengaja banget merempon d**a Cecil.
Da berdiri menutup d**a sambil teriak/ "Heh, kurang ajar lo semua!"
"Enggak sengaja," sahutku.
"Lagian trepes gitu di-rempon juga enggak terasa, ya enggak?" tambah Dewo, menyiram minyak ke nyala api.
Aku ketawa, Eric mengakak, Dewo memilih bungkam, sedangkan Benaldi terbahak sampai jongkok memukul-mukul lantai. Dengan brutal Cecil menendang p****t Benaldi, mendorongku dan Eric sampai terjungkal jatuh ke taman belakang. Kali ini Dewo yang terbahak, berdiri sambil menunjuk-nunjuk kami.
"Mampos! Mampos!" seru Dewo, girang seperti menonton topeng monyet.
Kalau dipikir, Denis termasuk gadis populer. Buktinya dalam waktu beberapa hari menjadi murid di sini, dia berhasil masuk ke dalam geng gadis-gadis populer di sekolah. Bagaimana caraku supaya bisa mendapatkan Denis?
Pikiranku belum berjalan normal bahkan sampai ketika jam pelajaran olah raga tiba.
Seluruh murid kelas XI berkumpul seperti nara pidana, duduk menunggu pak Muhajar memanggil nama kami satu-satu. Hari ini ada test bola basket.
Ketika namaku dipanggil, aku sengaja men-drible bola dengan penuh gaya di depan Denis, supaya dia kagum. Aku juga melempar bola sembarangan karena memang bukan keahlianku bermain basket. Eh, malah masuk.
Suara tepuk tangan dari beberapa teman membuatku tersenyum, terutama dari Denis. Bagai ikan paus kesasar, bukannya kembali ke gerombolan teman-teman, aku memilih duduk di sebelah Denis di pinggir lapangan.
"Kamu hebat, ya," puji Denis kepadaku.
"Hebat dong, Anan gitu loh. Boleh bagi aquanya?"
"Silahkan." Dia memberi botol aqua, tentu kuminum hingga nyaris habis. Dia memperhatikanku sambil tersenyum. "Haus banget ya?"
"Iya nih. Kok kamu enggak meneleponku, sih?"
"Aduh, maaf banget. Nomormu tempo hari kehapus, keringatan soalnya."
Leganya. "Kok enggak minta lagi?"
"Malu."
"Ya sudah nih, aku kasih lagi nomornya."
"Haduh, capek." Rois duduk di sebelah Denis. Tanpa ijin dia mengambil aqua yang aku minum tadi. "Lah, kok tinggal segini?"
"Diminum Anan," jawba Denis.
"Anan?" tanya Rois kepada Denis, keningnya mengkerut kepada Denis, lalu beralih kepadaku. Dia tertawa. "Oalah, namanya Aristyo, bukan Anan."
"Iya tahu, tapi aku manggil Anan."
Aku tahu Rois memiliki paras menarik, tapi ngapain sih, datang-datang mengganggu saja. Mereka malah mengobrol. Sepertinya sudah dekat. Yah, maklum lah sesama anak IPA pasti banyak yang dibahas, pelajaran sama, guru yang mengajar pun sama. Sementara aku? Tapi aku yang mengenal Denis duluan. Harusnya aku dong yang lebih dekat.
"Anan? Kok melamun?" tegur Denis.
"Enggak kok, cuma anu ... ngelihat anak-anak main basket. Ada apa, Nis?"
"Ikut beli buku yuk."
"Kapan?"
"Pulang sekolah."
"Denis," sela Rois. "Aris enggak bisa naik motor."
Denis memandangku dan Rois bergantian. "Oh? Serius?"
"Sebenarnya bisa, sih. Cuma enggak punya motor," jawabku, padahal asli enggak bisa. "Dah dulu ya, mau main basket."
"Ok Bro," sahut Rois sok kenal sok dekat.
Ternyata benar apa kata teman-teman. Rois naksir Denis. Ini tak bisa dibiarkan. Aku duluan yang kenal Denis, aku yang pertama! Kenapa dia yang maju duluan? Pokoknya aku harus bisa naik motor segera.
"Mesra, ya mereka," ucap Cecil, berdiri di sebelahku. "Gue iri banget sama Denis. Lo tahu, kan, gue dulu suka Rois, bahkan sampai gue tembak tuh cowok, tapi dia nolak dengan alasan mau konsentrasi sekolah. Sekarang kok malah ngebet pengen jadian sama Denis."
"Sadar diri dong," jawabku sambil bersandar tiang basket. "Rois mana suka sama yang tomboy."
"Dih, lo lihat, dia juga enggak feminim banget. Dan lo tanya seantero sekolah, gini-gini gue cute."
Aku amati Cecil lekat-lekat, memang manis. "Mungkin masalah t***k-"
"Najis lo!"
Dengan teganya dia mendorong keningku sampai membentur tiang basket, sampai berbunyi tung. Banyak teman-teman menoleh, mereka tertawa. Kan jadi malu.
"Sakit b**o," keluhku.
"Salah siapa membahas d**a orang." Cecil menepuk dadaku dengan punggung jari-jari tangan. "Eh, Kakak lo jomblo, kan?"
"Kakak? Iya, dia selalu jomblo, kenapa?"
"Lo pengen kenal Denis lebih dekat?"
"Banget. Bisa bantu?"
"Bisa lah." Cecil nyengir." Tapi enggak gratis."
Dasar Buaya betina. "Kamu minta bayaran apa?"
Dia menggigit bibir bawah, bersandar tiang basket. "Minta nomor Kakak lo, sama kenalin sekalian, promosikan gitu, bisa, kan?"
Aku tahu betapa tampannya Kakak. Cecil pasti melihatnya ketika dulu mengantarku MOS. Walau Cecil salah satu gadis menyebalkan yang pernah aku temui, tapi menurutku dia gadis polos. Mengenalkan kepada Kakak sama saja merusak kehidupan Cecil.
"Eh, gimana, mau enggak?" tanya Cecil dengan kedua alis naik turun.
"Cil, dengar, Kakakku tuh berandal, dia jomblo tapi suka jalan sama banyak cewek berbeda."
"Terus? Yang penting jomblo, kan?"
Aku sudah memperingatkan, tapi dia tak mau mengerti. Terserahlah, dia sendiri yang mau dan yang penting jangan salahkan diriku kelak jika terjadi masalah serius dengan Kakak.
Aku mengangguk, mengajak Cecil berjabat tangan. "Deal?"
"Deal!"
Bagus! Sepertinya Tuhan ada di pihakku. Dengan bantan Cecil, semua mungkin bisa berjalan dengan mulus. Sekarang, kira-kira siapa yang mau mengajariku naik motor? Aku harus bisa naik motor secepatnya, demi Denis.
****