Sebenarnya malas banget dekat-dekat kakak. Bukan karena dia tukang bully, hanya saja dia membuatku minder. Bukan karena kalah ganteng dan kalah seksi, tapi bagaimana mungkin seorang cowok jomblo mempunyai Kakak playboy? Namun, kala itu aku terpaksa menemui Kakak demi satu hal, memperkenalkan Cecil kepadanya. Tidak secara langsung, hanya menunjukkan foto gadis itu.
Kala itu tepatnya hari Sabtu sore, aku membantu ibu di warung. Pelanggan membeludak. Selain menjual rujak cingur, ibu juga memiliki satu hidangan istimewa, yaitu sego resek dan aku membantu beliau memasak. Sego resek itu nasi khas Jawa Timuran yang berisi segala hal, mulai dari nasi, kubis, kecambah, cabai, jamur, telur ayam goreng, mie goreng, cuiran daging ayam goreng, semua dimasak menggunakan wajan dengan mencampur bumbu-bumbu rahasia. Nama nasi ini lebih dikenal dengan nama nasi sampah, karena ya tadi, isinya campur aduk.
Setelah berjibaku sampai mandi keringat, gerombolan pelanggan mulai berkurang. Ibu dan Bibi kembali santai melayani pelanggan. Aku pergi ke rumah menemui Kakak. Dia sedang di kamar bersama seorang gadis yang dia 'selundupkan' melalui kaca jendela kamar.
Semakin dekat dengan kamar Kakak, semakin jelas lantunan keras musik rock. Aku mengetuk pintu kamar berulang kali, hingga terdengar suara kunci diputar. Tak lama kemudian wajah tirus pemuda tampan menyapa. Kakak tak mengenakan apapun saat ini dan sedikit dari celah pintu aroma bau pesing membuatku menutup hidung. Selain itu juga nampak seorang wanita t*******g bulat sedang duduk meminum aqua, aku hanya bisa melihat bagian punggung, sayang sekali. Mbak, ngadep sini dong, mau lihat.
"Heh, ngapain ganggu orang aja, kau," ucap Kakak, mematahkan lamunan.
"Ahm mau bicara, Kak."
"Ntar aja."
"Sekarang aja, mumpung masih sepi."
Kakak sepertinya enggan, dia berdecak menoleh ke belakang. Gadis itu menoleh, tersenyum ramah sambil melambai kecil, cukup cantik. Kakak menutup jalur pandangan dengan badannya.
"Tunggu di meja makan," perintah Kakak.
Kakak kembali ke kamar. Mungkin masih nanggung dengan apa yang dia lakukan bersama gadis itu. Aku duduk di kursi makan menanti pintu yang tak kunjung dibuka. Tak lama kemudian Kakak keluar. Badannya yang seksi hanya berbalut celana boxer yang jelas botol aqua besar itu bergelantungan di antara s**********n. Itu alasan lain kenapa para wanita takluk kepadanya. s****n, kapan aku punya seperti itu.
Kakak menepuk kepala sambil duduk mengangkat satu kaki di kursi makan. Sekarang dua sudah memakai celana boxer. "Lihat apa? Kau homo?"
"Enggak lah."
"Ya udah buruan, mau apa?"
Aku menaruh android ke atas meja makan. "Nih, ada yang mau kenalan, cewek manis banget, siapa tahu Kakak suka."
Dia tersenyum memperhatikan layar android. "Bayar enggak?"
"Gratis tis tis. Bagaimana, manis kan?
Kakak seperti biasa, tak langsung menjawab malah menggosok layar android, sepertinya menikmati setiap foto di sana. "Lumayan, manis, putih, sayang masih bocil. Apa enggak ada yang dadanya matang?"
"Ada banyak di pasar," jawabku.
"Nih bocah yang minta kenalan?"
"Iya."
"Dalam rangka apa?"
"Barter, dia ngenalin aku ke temannya, aku ngenalin dia ke Kakak."
Kakak terkekeh. "Oalah, ya sudah, suruh add f*******: aja, ntar malam coba aku chat. Dah, sekarang kau pergi mandi, tidur, jangan ganggu Kakak sampai besok, Ok?"
"Ya. Mau lanjut?"
"Tanggung."
Kakak berjalan ke kamar memasukkan jari jempol tangan ke antara jari telunjuk dan tengahnya. Kurang ajar, kan. Dia n***e dalam kamar, kala orang tua dan adiknya sibuk bekerja. Orang seperti ini yang para gadis sayangi? Cuih, benar-benar katarak. Bukan iri atau apa, tapi ayolah, banyak cowok baik di luar sana yang menanti untuk menjadi Imam salah satu gadis cantik, kenapa para cantik memilih begundal yang hanya ingin merasakan m***k mereka saja?
Semoga Cecil baik-baik saja, jangan sampai terjerumus ke dunia Kakak. Kembali lagi, dia yang minta! Dia ingin mengenal siapa cowok cool yang pernah mengantarku pergi ke sekolah di kala MOS. Yang penting tugasku usai. Ini adalah barter.
Tiga hari berlalu, selama itu aku menanti dan tak lupa bertanya kepada Cecil tentang Denis. Dia menceritakan sedikit demi sedikit apa yang dia tahu. Bukan hanya aku yang mendengarkan, tapi Dewo, Benaldi dan Eric juga ikut menguping.
Denis tinggal bersama ibunya yang seorang pegawai bank. Ayah kerja jauh di luar daerah, Kakaknya kuliah di Jakarta. Dia pindah karena ibunya dipindahkan ke kantor cabang di Surabaya.
Denis suka membaca dan menulis, jadi mungkin kaca mata itu efek dari hobinya. Gadis itu sangat suka nasi goreng dan telur mata sapi, ditambah dia tak suka cowok bau dan benci dibohongi, begitu kata Cecil.
"Dah dulu, untuk selanjutnya nunggu bagaimana reaksi Kakak lo ke gue, oke."
Benaldi, Eric dan Dewo bertukar pandang lalu memandang lekat pada Cecil yang pergi menjauh, meninggalkan kami duduk di pagar taman pembatas lorong depan kelas.
"Bro, kamu beneran jual Cecil ke Kakakmu?" tanya Benaldi.
"Bukan jual, dia sendiri yang minta dikenalkan," jawabku.
"Wah, kau nih," lanjut Eric. "Ntar kalau Cecil diapa-apain bagaimana? Pikir dong, pikir! Dia sahabat kita juga, keles."
"Tega kau, Yo," tambah Dewo. "Tahu Kakakmu hobi n***e malah Cecil kau kasih ke dia, ntar kalau hamil bagaimana?"
"Eh, Kakakku tuh enggak nafsu sama bocil, " jawabku. "Dia suka yang dadanya gede. Aku yakin, Cecil cuma akan diajak keluar sekali, setelah itu diputusin."
"Sebenci-bencinya, Cecil tuh manis banget," sahut Eric seakan tak terima. "Dan Kakakmu tuh nafsunya gede, hyper, jaminan apa yang bisa kau berikan!" Eric bangkit mencengkeram kerahku. "Ingat, kalau sampai Cecil kenapa-napa, aku enggak segan matahin lehermu, paham?"
"Eh, biasa aja dong!" sentakku, menepis tangan Eric.
Aneh banget, kenapa dadanya kembang kempis, melotot seakan mata itu hendak keluar. Dan apa masalahnya? Eric mendorongku, berjalan pergi menuju kelasnya di ujung lorong. Tak biasanya dia bersikap seperti ini.
"Marah, kan," ujar Benaldi. "Tahu temannya naksir sama Cecil, malah kau jual ke Kakakamu, tega banget."
"Siapa yang jual? Sudah deh, mending kalian berdua bantuin aku," ucapanku membuat Dewo dan Benaldi bertukar pandang."
"Bantu apa, hmm? Maafan sama Eric?" tanya Dewo, "Susah Bro, ingat, cewek lebih penting dari sahabat."
Aku menggeleng. "Bukan, bukan itu. Ajari naik motor, dong."
Sontak Sadewo dan Benaldi terbahak kencang. Serius, mereka tega banget tertawa, padahal kan aku beneran minta tolong.
"Mau nolongin enggak?" tanyaku memastikan.
"Oke, kami tolong, tapi motornya pakai punya siapa?" tanya Dewo.
"Dan lagi buat apa sih, belajar motor?" tambah Benaldi. "Bukannya dulu kau bilang, aku terlalu sempurna untuk menyupir motor, selama masih ada kaki aku akan menggayuh sepeda, demi mengurangi polusi di bumi?"
Beda cerita. Ini demi Denis, supaya aku mampu sejajar dengan Rois. Seperti kemarin, aku malu banget. Gara-gara tak bisa mengendarai motor, gagal ikut beli buku.
Rencananya jika sudah bisa mengendarai motor, aku akan mengantar jemput Denis ke sekolah, menemaninya jalan-jalan di Surabaya, lalu pada menyatakan cinta kepadanya. Siapa yang bisa menolak Aristyo Ananto, kan?
****