Aku selalu suka pagi yang tenang.
Udara masih lembut, belum banyak suara kendaraan, dan aroma kopi dari dapur mama selalu membuat rumah terasa seperti pelukan.
Tapi pagi itu berbeda. Ada pesan masuk di ponselku, dari Raka.
Raka: “Nanti malam aku nggak bisa jemput. Ada rapat mendadak di kantor.”
Aku: “Oke, hati-hati kerja ya.”
Raka: “Maaf ya, kayaknya makin sering ngaret sekarang.”
Aku: “Aku ngerti kok. Kamu kerja buat masa depan kita, kan?”
Pesan terakhir itu kukirim dengan senyum kecil.
Tapi setelahnya, ada hening di layar.
Tanda dua centang biru, tanpa balasan.
Aku menatap jendela, langit masih abu-abu.
Sudah beberapa minggu ini Raka sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan media digital.
Sementara aku masih sibuk dengan skripsi dan bimbingan akhir.
Waktu kami untuk bertemu semakin sedikit, dan aku mulai merindukan hal-hal kecil yang dulu terasa sepele seperti tawa di tengah hujan, atau kopi yang dibagi dua di kafe favorit kami.
Sore harinya, aku duduk di bangku taman kampus.
Langit tampak mendung, tapi tidak hujan.
Aku membuka catatan kecilku, halaman yang sudah mulai penuh dengan tulisan tangan.
Aku menulis lagi, seperti kebiasaanku setiap kali merasa rindu.
“Cinta itu mungkin bukan soal sering ketemu, tapi tentang tetap merasa dekat meski jarak mulai tumbuh.”
“Masih suka nulis, ya?”
Suara Raka tiba-tiba terdengar di belakangku. Aku terkejut.
Ia berdiri sambil membawa dua gelas es teh.
“Kok kamu di sini? Katanya rapat?”
“Udah kelar. Aku mikir, kalau rapat bisa selesai, tapi kangen harus diselesain juga.”
Aku tertawa, setengah lega. “Padahal aku udah siap jadi penonton drakor sendirian malam ini.”
“Wah, bisa kalah aku sama aktor Korea kalau gitu,” katanya, duduk di sampingku.
Kami duduk lama tanpa banyak bicara.
Hanya menikmati sore yang mulai berwarna jingga.
Raka menggenggam tanganku.
“Maaf ya, aku akhir-akhir ini sibuk banget,” katanya pelan.
“Aku tahu. Aku ngerti kok.”
“Tapi aku takut, kamu ngerasa aku jauh.”
Aku menatapnya. “Raka, aku sayang kamu bukan karena seberapa sering kamu dateng. Aku sayang kamu karena aku tahu, kalaupun kamu jauh, kamu tetap inget aku.”
Dia tersenyum. “Itu kalimat paling manis yang aku denger hari ini.”
“Jangan manis di kata doang, ya.”
“Tenang, aku manis di perbuatan juga.”
Aku menatap wajahnya yang mulai tampak lelah.
Ada lingkar hitam di matanya, tapi senyumnya masih sama seperti dulu.
Sederhana, tapi menenangkan.
*
Beberapa hari berikutnya, rutinitas kembali menelan kami.
Raka sering pulang larut, aku sibuk dengan revisi skripsi.
Kami mulai jarang bertemu, tapi masih saling mengabari lewat pesan.
Meski kadang balasan datang terlambat, aku belajar menunggu.
Suatu malam, aku menelponnya.
Nada dering panjang. Tak diangkat.
Lalu pesan masuk:
Raka: “Maaf, lagi rapat. Nanti aku telpon balik.”
Aku menaruh ponsel di meja belajar, menatap foto kecil kami di bingkai kayu.
Di foto itu kami tertawa, basah kuyup di bawah hujan, memegang jas hujan robek separuh.
Aku tersenyum samar.
Tapi entah kenapa malam itu, senyum itu terasa berat.
**
Hari Minggu, akhirnya kami sempat bertemu.
Aku menyiapkan bekal kecil dan kami pergi ke taman kota.
Cuacanya cerah, angin berhembus lembut, tapi suasananya terasa berbeda.
Tidak ada tawa keras, tidak ada cerita panjang seperti dulu.
“Kamu capek ya, Ka?” tanyaku.
Raka mengangguk. “Kerjaan lagi banyak banget. Kliennya rewel.”
“Aku bisa bantu sesuatu?”
“Cukup kamu temenin aja kayak gini. Itu udah bantu banget.”
Kami diam beberapa menit.
Lalu aku berkata, “Aku pengen kita kayak dulu. Banyak ketawa, banyak cerita, nggak mikirin waktu.”
Raka tersenyum kecil. “Dulu kita belum banyak tanggung jawab, Sayang. Sekarang beda. Tapi bukan berarti aku nggak bahagia.”
“Kamu masih bahagia?”
“Masih. Karena kamu masih di sini.”
Aku terdiam.
Jawabannya lembut, tapi aku tahu ada sesuatu di balik kalimat itu.
Mungkin lelah, mungkin jarak. Atau mungkin waktu memang sedang menguji kami.
Malamnya, aku menulis lagi di buku kecilku.
“Kadang cinta diuji bukan oleh orang ketiga, tapi oleh waktu yang membuat dua hati lupa bagaimana cara saling bicara.”
Aku menatap tulisan itu lama sekali.
Lalu kuambil ponsel, mengetik pesan:
Aku: “Ka, aku rindu ngobrol lama sama kamu.”
Raka: “Aku juga, Sayang. Nanti kita sempetin, ya.”
Aku: “Jangan cuma nanti.”
(Pesanku hanya dibaca, tanpa balasan.)
***
Beberapa hari kemudian, Raka datang ke rumah tanpa kabar.
Aku baru selesai mencuci gelas ketika mendengar suara motornya.
Ia datang dengan senyum lelah dan sebungkus donat.
“Peace offering,” katanya sambil mengangkat kantong kertas.
Aku tertawa kecil. “Udah kayak diplomat aja.”
“Ya harus. Soalnya kalau kamu ngambek, negosiasinya susah.”
Kami duduk di teras sambil makan donat.
Raka cerita tentang proyek barunya, aku tentang dosen pembimbing yang rewel.
Untuk sesaat, semuanya terasa normal lagi.
Hangat, akrab, seperti dulu.
Tapi ketika malam makin larut, Raka menatap langit dan berkata,
“Kamu tau nggak, kadang aku takut. Takut terlalu nyaman.”
Aku mengerutkan dahi. “Kenapa takut?”
“Soalnya kalau udah terlalu nyaman, orang suka lupa bersyukur.”
Aku terdiam.
Lalu menjawab pelan, “Kalau gitu, jangan lupa, ya. Aku bersyukur tiap kali kamu datang.”
Ia menatapku lama, lalu tersenyum.
“Aku juga. Kamu rumah buat aku, tahu nggak?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menggenggam tangannya erat-erat, seolah takut waktu akan merenggut momen itu.
Dan malam itu, di bawah langit yang tenang tanpa bintang, aku kembali berdoa
semoga kami tidak berubah.