Hujan turun lagi hari itu. Seolah langit ingin ikut mengiringi langkah kami menuju pelaminan. Di bawah tenda putih yang sederhana, janur kuning bergoyang tertiup angin. Aroma bunga melati bercampur dengan tanah basah, menciptakan wangi yang anehnya menenangkan.
Aku berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya krem lembut. Mama menata rambutku pelan, sementara Rani adikku sibuk memastikan riasanku tidak luntur karena udara lembab. “Deg-degan?” tanya Rani dengan senyum usil. “Banget,” jawabku sambil tertawa kecil. “Tenang aja, Kak. Mas Raka keliatan siap banget kok di depan. Tadi dia bahkan sempet bantuin tukang parkir.”
Aku tertawa. “Dia emang gitu orangnya.”
Di luar, suara gamelan lembut terdengar, menyatu dengan rintik hujan yang mulai turun lagi.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
“Udah siap?” suara Papa dari luar.
Aku menarik napas panjang. “Siap.”
Ketika aku melangkah keluar, waktu seakan berhenti.
Raka berdiri di depan, mengenakan beskap abu muda.
Matanya menatapku, lembut, hangat, penuh arti.
Senyumnya seperti pelangi setelah hujan.
Di hadapan penghulu, dengan saksi dan doa keluarga, kami mengucapkan janji.
Suara Raka bergetar saat menyebut namaku lengkap, tapi matanya teguh.
Tangannya menggenggam tanganku erat, dan untuk pertama kalinya, aku merasa ini rumah yang sesungguhnya.
“Saya terima nikahnya Anindya Putri binti Haris dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Seketika, suara hadirin bergemuruh pelan.
Mama meneteskan air mata, Rani menepuk tanganku, dan Raka tersenyum lega.
Kami resmi menjadi suami-istri, di bawah hujan yang tidak juga berhenti, seolah langit ikut memberkati.
Setelah acara usai, kami duduk di beranda rumah.
Tamu sudah pulang, lampu tenda mulai dipadamkan.
Hujan masih menetes di daun-daun kelapa di depan rumah.
Raka menggenggam tanganku.
“Aku nggak nyangka, akhirnya kita sampai juga di sini.”
Aku tersenyum. “Dulu cuma hujan dan jas hujan robek.”
“Sekarang masih hujan, tapi bedanya... kita nggak berteduh lagi. Kita jalan bareng.”
Aku menatapnya lama.
Rasanya hangat, tapi juga berat.
Karena di balik kebahagiaan itu, aku tahu, yang kami hadapi nanti tidak akan selalu mudah.
*
Beberapa minggu kemudian, kami mulai hidup bersama di rumah kecil di pinggiran kota.
Rumah sederhana dengan pagar kayu dan pot bunga di depan jendela.
Raka menepati janjinya dulu punya halaman kecil untuk menanam.
Setiap pagi, ia menyiram bunga sambil menyanyikan lagu lama yang fals tapi lucu.
“Sayang, lihat deh,” katanya suatu pagi.
“Apa?”
“Bunganya mekar. Katanya kalau bunga pertama mekar, rumah ini bakal penuh berkah.”
Aku tertawa. “Yang ngomong siapa?”
“Internet,” jawabnya santai.
“Wah, sumber terpercaya banget tuh.”
Kami tertawa bersama, dan hari-hari terasa ringan.
Namun seiring waktu berjalan, kesibukan kembali datang.
Raka mulai sering pulang malam, membawa pekerjaan ke rumah.
Aku berusaha mengerti.
Kadang aku menunggu sambil menyiapkan teh hangat, kadang ketiduran di sofa.
Raka selalu datang pelan-pelan, mencium keningku, lalu berbisik,
“Maaf, pulang malam lagi.”
Malam aku terbangun dan melihatnya duduk di ruang tamu, menatap laptop.
Cahaya layar membuat wajahnya tampak lelah.
Aku menghampiri pelan. “Belum tidur?”
“Lagi revisi laporan. Kliennya rewel banget.”
Aku duduk di sampingnya. “Kamu harus jaga kesehatan juga, Ka.”
“Iya, Sayang. Aku cuma mau nyelesain ini dulu.”
Aku mengangguk, lalu bersandar di bahunya.
“Dulu kita sering ngobrol sampe tengah malam. Sekarang kamu ngobrolnya sama laptop.”
Raka menoleh, tersenyum kecil. “Lagi musim kerja keras, bukan musim ngobrol.”
**
Beberapa bulan setelah itu, aku hamil.
Hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku.
Aku bahkan belum sempat bilang ke siapa pun ketika Raka pulang.
“Aku punya kabar!” seruku begitu dia masuk rumah.
Raka menatapku, bingung. “Kabar apa?”
Aku mengulurkan hasil test pack dengan dua garis merah.
“Ka… kita bakal punya bayi.”
Untuk sesaat, Raka hanya diam.
Lalu ia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Serius?”
Aku mengangguk, senyumku lebar sekali.
Ia langsung memelukku erat-erat, begitu hangat, begitu tulus.
“Ya Tuhan… terima kasih.”
Malam itu, kami tertawa seperti dulu.
Tidak peduli hujan di luar, tidak peduli pekerjaan.
Hanya ada dua orang yang sedang bersyukur atas cinta yang tumbuh jadi kehidupan.
***
Hari-hari setelahnya dipenuhi tawa dan rencana.
Raka mulai mengecat kamar bayi, membeli buku-buku parenting, bahkan belajar masak.
Setiap malam ia berbicara dengan perutku.
“Anak Papa harus kuat, ya. Mama udah hebat banget ngandung kamu.”
Aku bahagia.
Tapi di sela kebahagiaan itu, aku mulai memperhatikan sesuatu:
Raka sering menerima telepon larut malam.
Kadang ia keluar ke teras dengan alasan “klien mendadak”.
Aku tidak berpikir buruk belum.
Aku percaya padanya.
Tapi entah kenapa, sejak malam itu… ada jarak yang tidak bisa kujelaskan.
malam, aku terbangun karena mendengar suara pelan dari ruang tamu.
Raka sedang bicara di telepon.
Nada suaranya lembut bukan nada formal seperti biasanya.
Aku hanya mendengar sepatah dua patah kata: “iya… nanti aku kabarin lagi, jangan begadang.”
Aku berdiri diam di depan pintu kamar.
Jantungku berdebar, antara penasaran dan takut.
Ketika ia masuk kembali, aku pura-pura tidur.
Ia mencium keningku, seperti biasa, tapi kali ini aku tidak bisa tenang.
****
Pagi harinya, aku menatap wajahnya yang sedang sibuk memeriksa email di ponsel.
“Ka,” kataku pelan.
“Hm?”
“Aku pengen nanti sore kita makan di luar. Kayak dulu.”
Ia menghela napas. “Kayaknya nggak bisa, Sayang. Ada meeting mendadak.”
“Oh… ya udah.”
Ia menatapku sebentar, lalu mencium keningku. “Maaf, ya.”
Aku tersenyum. “Aku ngerti.”
Di luar, hujan turun perlahan.
Aku duduk di dekat jendela, memandangi butir-butir air di kaca.
Di luar sana, ada langit yang sama tapi rasanya tidak seperti dulu.
Pelangi yang dulu kami lihat bersama, kini terasa semakin jauh.
Dan entah kenapa, di antara suara hujan itu, aku berbisik sendiri,
Tapi kali ini, aku tidak benar-benar mengerti.
“Tuhan, kalau cinta ini harus diuji, semoga kami masih ingat cara saling menemukan di tengah hujan.”
*****
Pagi pertama di rumah baru terasa seperti awal dari segalanya. Raka masih sibuk menata buku-bukunya di rak, sementara aku mencoba menyesuaikan aroma dapur yang masih asing. Di antara suara paku dan gelas yang bersinggungan, aku mendengar tawanya tawa yang dulu membuatku jatuh cinta, kini memenuhi setiap sudut rumah.
“Aku nggak nyangka kita beneran nikah, Nin,” katanya sambil menatapku dari pintu dapur. Aku tertawa kecil. “Kenapa? Takut aku cuma mimpi?” Dia mengangguk pura-pura serius. “Kalau mimpi, aku nggak mau bangun.”
Kami makan siang dengan menu sederhana telur dadar dan sambal terasi.
Tapi entah kenapa, rasanya seperti makan di restoran paling mahal di dunia.
Mungkin karena di meja kecil itu, ada cinta yang tumbuh diam-diam tanpa butuh banyak kata.
Sore harinya, kami menulis nama kami di bagian bawah rak buku kecil, tapi cukup untuk jadi tanda bahwa kami pernah bahagia di sini.
Aku tak tahu, bertahun kemudian coretan itu akan jadi saksi dari janji yang mulai pudar perlahan.