Sudah dua bulan sejak aku tahu tentang bayi kecil di dalam perutku.
Setiap pagi aku bicara padanya sambil menyentuh perut yang mulai membulat.
“Ayah kamu sibuk, tapi nanti kalau dia pulang, Mama ceritain kalau kamu nendang, ya,” kataku sambil tersenyum sendiri.
Tapi malam-malam belakangan, aku lebih sering tidur sendirian.
Raka pulang makin larut, kadang setelah lewat tengah malam.
Kadang dia bilang “rapat tambahan”, kadang “ngedit laporan”, kadang “ada klien dadakan.”
Aku percaya, karena memang itulah Raka yang kukenal pekerja keras, tanggung jawab, tidak suka bohong.
Tapi entah kenapa, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Nada suaranya di telepon terdengar datar.
Pelukannya tidak seerat dulu.
Tatapannya sering kosong, seperti sedang memikirkan hal lain.
Malam, aku menyiapkan makan malam kesukaannya sambal cumi pedas dan sayur asem.
Aku ingin membuat kejutan kecil.
Lampu ruang makan kubuat temaram, ada lilin kecil di tengah meja.
Aku duduk menunggu, jam menunjukkan pukul delapan.
Delapan lewat.
Delapan empat puluh.
Hampir sembilan.
Lalu pesan masuk.
Raka: “Sayang, maaf ya, lembur lagi. Kamu makan dulu aja.”
Aku membaca pesan itu lama sekali.
Lalu menulis balasan.
Aku: “Oke, hati-hati ya.”
Tapi setelah itu, aku tidak bisa menelan makanan apa pun.
Sambal dingin, lilin padam, dan keheningan tiba-tiba terasa terlalu panjang.
*
Keesokan harinya, Raka pulang dengan wajah lelah.
Aku menatapnya dari dapur, mencoba tersenyum.
“Kamu belum makan, Ka?”
“Udah tadi di kantor,” jawabnya singkat.
Aku terdiam, lalu bertanya pelan, “Aku masak sambal kesukaan kamu semalem, tapi kamu nggak sempet nyicip.”
Dia berhenti, menatapku sebentar. “Maaf, aku lupa bilang. Kerjaan banyak banget.”
Aku mengangguk. “Aku ngerti.”
Tapi di dalam hati, ada rasa yang pelan-pelan tumbuh: rasa dingin.
Bukan karena marah, tapi karena tidak tahu harus bagaimana lagi.
**
Beberapa hari kemudian, Rani datang ke rumah.
Adikku yang paling cerewet, tapi paling tahu bagaimana menenangkan aku.
“Eh, Kak, kamu pucat banget,” katanya begitu masuk.
“Aku capek aja, Ran.”
“Mas Raka mana?”
“Kerja, kayak biasa.”
Rani menatapku lama, lalu duduk di sebelahku.
“Kak, aku bukan mau suudzon ya… tapi kamu yakin dia cuma kerja?”
Pertanyaan itu seperti angin dingin yang menampar pipiku.
Aku tersenyum paksa. “Ran, jangan mikir aneh-aneh. Aku percaya sama dia.”
“Percaya boleh, Kak. Tapi jangan buta.”
Aku tidak menjawab.
Tapi kata-kata Rani menancap dalam pikiranku semalaman.
***
Beberapa hari kemudian, aku menemukan sesuatu.
Saat sedang membersihkan ruang tamu, aku melihat ponsel Raka di atas meja.
Ada notifikasi masuk nama yang asing bagiku: “Dita ”
Aku tidak berniat membuka.
Tapi jari-jariku gemetar.
Aku hanya ingin tahu, sekadar memastikan.
Kutelan ludah, lalu kubuka.
Isinya singkat, tapi cukup untuk membuat jantungku berhenti sejenak.
Dita: “Makasih udah anterin tadi, hati-hati di jalan. Jangan lupa makan, ya
Aku mematung.
Ponsel itu kutaruh kembali, pelan, seolah takut menyentuh kebenaran lebih jauh.
Aku menarik napas panjang, tapi dadaku sesak.
Tanganku bergetar, dan air mata jatuh begitu saja.
Malamnya, Raka pulang seperti biasa.
Aku menatapnya diam-diam dari meja makan.
Ia mencium keningku, tersenyum.
“Gimana kabar dede bayi?”
“Baik,” jawabku singkat.
“Bagus. Aku mau mandi dulu ya, Sayang.”
Suaranya tenang, seolah tidak ada apa-apa.
Dan aku, yang tahu sesuatu, hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh ke kamar mandi.
Aku tidak bertanya malam itu.
Bukan karena tidak berani, tapi karena takut
takut semua dugaanku benar.
****
Beberapa hari berlalu, dan aku mulai belajar menyembunyikan keresahan.
Aku tetap tersenyum, tetap menyiapkan sarapan, tetap menanyakan kabar.
Tapi di setiap “iya” dan “baik-baik aja” yang aku ucapkan, ada air mata yang kutahan di balik senyum.
Kadang, saat ia bicara di telepon, aku berdiri di belakang pintu, mendengarkan dari jauh.
Nada suaranya lembut, seperti nada yang dulu hanya untukku.
Aku menutup mata, dan bisikan kecil di hatiku berkata pelan,
“Pelangi kita mulai pudar.”
Malam, aku akhirnya memberanikan diri bertanya.
Setelah makan malam, aku duduk di sampingnya di sofa.
“Ka,” kataku pelan.
“Hm?”
“Siapa Dita?”
Raka terkejut, lalu mencoba tenang. “Teman kerja.”
“Teman kerja yang kamu anterin pulang malam-malam?”
Ia menatapku, lalu menunduk.
“Sayang, jangan mikir aneh-aneh. Dita cuma bantu aku di proyek kantor.”
“Bantu proyek atau bantu kamu supaya lupa pulang?” tanyaku, suara gemetar tapi tegas.
Ia terdiam.
Hening beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Aku capek, bisa kita bahas lain kali?”
Aku menatapnya lama, dan dalam tatapan itu, aku tahu
ada sesuatu yang hilang.
Bukan hanya kejujuran, tapi rasa yang dulu membuat kami bertahan di tengah hujan.
Malam itu aku menangis pelan di kamar.
Bayi dalam perutku bergerak, seolah tahu bahwa ibunya sedang berjuang menahan sakit.
Aku mengusap perutku, berbisik,
“Maaf ya, Nak… Mama kuat, kok. Kamu tenang aja.”
Di luar kamar, suara hujan terdengar pelan.
Dulu hujan selalu mengingatkanku pada awal cinta kami.
Sekarang, setiap tetesnya terasa seperti perpisahan kecil yang jatuh perlahan
tak terdengar, tapi meninggalkan bekas.
Awalnya, aku pikir semua baik-baik saja.
Raka masih pulang setiap malam, masih menanyakan kabar, masih memelukku sebelum tidur.
Tapi ada yang berbeda pelukannya tidak lagi hangat, lebih seperti kebiasaan yang dijalankan tanpa perasaan.
Pagi, saat menyiapkan sarapan, aku memperhatikan caranya menatap layar ponsel.
Wajahnya serius, senyumnya muncul tanpa sebab.
Aku sempat ingin bertanya, tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan.
Ada ketakutan aneh yang belum berani kuakui: takut mendengar jawaban yang menyakitkan.
“Hari ini lembur lagi?” tanyaku pelan.
“Iya, banyak proyek,” jawabnya cepat, tanpa menatapku.
Padahal aku tahu proyek itu sudah selesai seminggu lalu.
Keheningan mulai jadi tamu di rumah kami.
Kami bicara seperlunya, tertawa sesekali, tapi tak lagi saling bercerita.
Aku mencoba tetap tenang, tapi diamnya Raka adalah suara yang paling bising di kepalaku.
Malam ini, aku duduk di ruang tamu sendirian, lampu temaram.
Raka pulang larut, matanya letih tapi ada sesuatu di sana rasa bersalah yang coba disembunyikan.
Dia meletakkan jaketnya, lalu duduk di sofa tanpa banyak bicara.
“Kamu nggak tidur?” tanyanya.
“Lagi nggak bisa.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya lama. “Mungkin karena aku nggak tahu kamu masih di sini… atau cuma numpang.”
Raka terdiam. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri, berjalan menuju kamar tanpa sepatah kata.
Suara langkahnya terasa seperti paku yang menancap pelan di dadaku.
Aku memandang ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa rumah ini terlalu besar untuk dua orang yang saling diam diri.
Dindingnya masih berdiri, tapi hatinya mulai retak.