Pagi itu rumah terasa berbeda.
Tidak ada suara Raka menyapa atau tawa kecil saat ia bercanda sebelum berangkat kerja.
Yang ada hanya suara sendok menyentuh piring dan radio kecil di dapur yang mengumandangkan lagu lama.
Aku duduk di meja makan, mengaduk teh yang sudah dingin.
Perutku semakin besar, usia kandungan tujuh bulan.
Setiap gerakan kecil di dalamnya seperti pengingat bahwa aku tidak sendiri.
Tapi anehnya, aku justru merasa paling sendiri di rumah ini.
Raka keluar dari kamar, memakai kemeja putih rapi.
Aku menatapnya, menahan keinginan untuk bertanya sesuatu yang sudah terlalu sering kutelan.
“Kamu pulang jam berapa nanti, Ka?” tanyaku pelan.
“Belum tahu, Sayang. Tergantung meeting-nya.”
“Masih dengan Dita?”
Raka berhenti sejenak. “Iya, dia bagian desain proyek baruku.”
Aku mengangguk, mencoba tersenyum. “Oke. Hati-hati di jalan.”
Dia menatapku sekilas, lalu hanya berkata, “Iya.”
Lalu pergi.
Suara pintu tertutup itu terasa seperti dinding yang memisahkan dua dunia
aku dan dia.
Siang harinya, aku duduk di ruang tamu menatap foto pernikahan kami.
Dalam foto itu, kami tertawa di bawah janur kuning.
Raka memandangku seolah tidak akan pernah berpaling.
Dan aku dengan mata penuh harapan percaya sepenuhnya pada janji hari itu.
Kini aku sadar, janji tidak selalu hilang karena lupa,
kadang hanya terkikis perlahan oleh rutinitas dan kehadiran orang lain.
Rani datang sore
Ia membawa makanan kesukaanku, tahu isi goreng dan sup ayam hangat.
“Kak, kamu kurusan deh,” katanya sambil menatapku khawatir.
“Aku cuma nggak bisa tidur.”
“Mas Raka masih sibuk?”
Aku menghela napas. “Iya. Tapi aku udah nggak mau ribut soal itu lagi.”
Rani duduk di sebelahku, memegang tanganku.
“Kak, aku tahu kamu sabar. Tapi jangan terus ngalah sampai kamu hilang.”
Aku tersenyum, meski mataku panas. “Aku nggak hilang, Ran. Aku cuma... berusaha tetap ada.”
Malamnya, hujan turun lagi.
Hujan yang dulu selalu kami tunggu, kini jadi pengingat betapa jauhnya kami.
Aku duduk di sofa, lampu redup, sambil menatap pintu.
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Ketika akhirnya pintu terbuka, aku menatapnya diam.
Raka masuk pelan, basah kuyup, tapi bukan karena hujan karena air dari rambutnya yang ia biarkan menetes.
“Kenapa nggak bawa payung?” tanyaku pelan.
“Lupa.”
“Padahal kamu selalu ingat payung waktu dulu kita pacaran.”
Ia tidak menjawab.
Suasana jadi hening, hanya terdengar hujan di atap seng dan detak jam dinding yang pelan.
Aku berdiri, lalu berjalan ke dapur.
“Teh hangat, Ka?”
Raka mengangguk tanpa menatapku.
Ketika kubawa cangkir itu ke meja, aku melihat ponselnya bergetar.
Nama itu lagi Dita.
Tanganku hampir gemetar saat meletakkan teh itu.
“Aku boleh nanya sesuatu?” kataku akhirnya.
Raka mengangkat wajahnya. “Apa?”
“Dia cuma teman kerja, kan?”
Dia menatapku lama.
Matanya tidak sehangat dulu.
“Kenapa kamu nggak percaya sama aku, Nin?”
“Aku percaya. Tapi kamu sekarang bukan Raka yang dulu.”
“Orang berubah, Nin.”
“Kalau berubahnya bikin aku merasa asing, itu masih cinta, atau udah cuma kebiasaan?”
Ia menunduk.
Tidak menjawab.
Dan dalam diam itu, aku tahu: tidak semua cinta bisa diselamatkan dengan sabar.
*
Beberapa hari berikutnya, aku mulai terbiasa hidup dengan keheningan.
Pagi hanya diisi oleh suara burung di luar jendela, siang dengan langkahku yang pelan ke dapur, malam dengan suara detak jam yang seolah mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, tapi kami tidak bergerak ke mana-mana.
Aku mencoba bicara beberapa kali, tapi setiap kali Raka pulang, wajahnya lelah, suaranya datar, dan hatiku semakin kehilangan tempat berpijak.
Saat sore aku menemukan sesuatu di meja kerja Raka kertas kecil dengan tulisan tangan halus:
“Terima kasih buat tadi siang. Kamu emang pendengar yang baik.”
Aku menatap kertas itu lama.
Tidak ada tanda tangan, tapi aku tahu itu bukan tulisanku.
Bukan gaya tulisan teman kerja biasa.
Aku menggenggam kertas itu, meremasnya pelan.
Air mata jatuh, tapi tidak ada suara.
Karena kadang, menangis keras pun tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang diam.
Malamnya, aku duduk di dekat jendela sambil menatap hujan.
Aku bicara pelan pada diriku sendiri,
“Ternyata cinta bisa tetap tinggal, tapi nggak lagi saling menyapa.”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Raka berdiri di sana.
Dia menatapku dengan wajah bingung.
“Kamu belum tidur?”
“Aku udah nggak tahu gimana caranya tidur nyenyak.”
“Kenapa, Sayang?”
“Karena aku nggak tahu, kamu masih di sini... atau cuma raganya aja yang pulang.”
Raka terdiam.
Dia ingin bicara, tapi bibirnya hanya bergetar.
Aku menatapnya, lalu berkata pelan,
“Ka, kamu boleh jujur. Kalau hatimu udah pindah, jangan paksa tinggal di sini. Rumah ini terlalu kecil buat orang yang pura-pura.”
Matanya menatapku lama, lalu ia berjalan keluar tanpa sepatah kata.
Dan malam itu, aku tahu hujan di luar bukan satu-satunya yang turun.
Ada hujan lain, di dalam rumah, di dalam hatiku.
**
Keesokan paginya, aku terbangun sendirian.
Tempat tidurnya kosong, tapi selimutnya masih hangat.
Di meja rias, ada secarik kertas kecil:
“Aku cuma butuh waktu buat mikir. Jangan khawatir, aku tetap sayang kamu.”
Aku memegang kertas itu, tapi tidak menangis.
Karena di titik itu, aku sadar kadang orang yang bilang masih sayang, justru sedang belajar pergi.
Hujan turun sejak pagi.
Aku menatap jendela yang mulai berembun, sementara suara air di atap terdengar seperti napas yang panjang dan berat.
Raka masih tertidur di kamar, tubuhnya membelakangi arahku.
Dulu, setiap kali hujan begini, kami biasa berbagi selimut dan menonton film sambil menyeruput teh hangat.
Sekarang, bahkan sapaan selamat pagi pun jarang terdengar.
Aku berjalan ke dapur, menyiapkan sarapan.
Suara sendok bertemu piring menjadi satu-satunya musik di rumah ini.
Tiba-tiba, langkah Raka terdengar di belakangku.
“Pagi,” katanya pelan.
Aku menoleh dan tersenyum tipis. “Pagi.”
Dia duduk, membuka ponsel, dan hening kembali datang.
Aku perhatikan caranya menatap layar bukan sekadar fokus, tapi seperti sedang berada di tempat lain.
“Ka,” panggilku akhirnya.
“Hm?”
“Kalau aku nggak ngomong, kamu bakal diem seharian ya?”
Dia menatapku sebentar, lalu menunduk lagi.
“Maaf, aku cuma lagi banyak pikiran.”
“Banyak pikiran, atau banyak alasan?” tanyaku setengah bercanda, tapi suaraku terdengar lebih getir dari yang kumaksud.
Raka tidak menjawab.
Dia meletakkan sendoknya, lalu berdiri.
“Aku berangkat dulu, Nin. Nanti malam mungkin pulang agak malam.”
Aku hanya mengangguk, tanpa bertanya kenapa.
Hari itu, aku mencoba sibuk mencuci, menyapu, membereskan lemari.
Tapi setiap hal kecil justru membawa kenangan.
Gelas yang dulu dia pakai setiap pagi, bantal di sofa yang masih menempel bau parfumnya.
Rasanya rumah ini menahan terlalu banyak cerita, tapi tak ada yang berani mengulangnya.
Menjelang sore, hujan belum juga berhenti.
Aku duduk di ruang tengah sambil menggambar di buku sketsa, sesuatu yang dulu kulakukan untuk menenangkan diri.
Aku menggambar pelangi samar dan lembut tapi warnanya cepat memudar karena air hujan yang menetes dari atap bocor.
Aku menatapnya lama, merasa seperti sedang melihat hubungan kami sendiri:
masih ada bentuknya, tapi warnanya perlahan hilang.
Pukul delapan malam, Raka belum juga pulang.
Kuhubungi ponselnya, tapi tak diangkat.
Pikiranku mulai berkelana ke tempat-tempat yang tidak ingin kudatangi.
Rasa curiga bukan lagi tamu, tapi penghuni tetap di dadaku.
Ketika akhirnya pintu terbuka, hujan di luar sudah reda.
Raka masuk dengan wajah letih.
“Maaf, lembur,” katanya singkat.
Aku hanya menjawab, “Iya,” lalu berjalan ke kamar tanpa menoleh.
Di dalam kamar, aku duduk di tepi ranjang.
Dari luar terdengar suara Raka menaruh kunci dan jaket.
Sunyi mengisi ruang di antara kami, tapi justru dari kesunyian itulah aku tahu:
ada yang benar-benar berubah.
Aku memejamkan mata, berharap besok hujan berhenti.
Tapi jauh di dalam hati, aku tahu
yang sedang turun bukan hanya air dari langit,
melainkan air mata yang tak sempat tumpah di antara dua hati yang kini saling asing.