Sudah hampir dua minggu Raka jarang pulang tepat waktu.
Kalaupun pulang, suaranya hanya sebatas sapaan pendek:
“Udah makan?”
“Udah.”
“Aku mandi dulu, ya.”
Begitu saja.
Lalu hening.
Dan di dalam hening itu, aku seperti berbicara dengan tembok bukan lagi dengan suami yang dulu kupercaya bisa membuat segalanya terasa indah.
Pagi aku bangun lebih awal, menyiapkan sarapan.
Aku buatkan nasi goreng sederhana dan segelas kopi hitam, kesukaannya.
Kupikir, mungkin jika aku mulai lagi seperti dulu, suasana akan membaik.
Ketika Raka keluar dari kamar, aku tersenyum.
“Pagi, Ka. Aku buatin sarapan,” kataku pelan.
Dia melihat ke meja, lalu ke arah jam di dinding.
“Maaf, Sayang, aku buru-buru banget. Meeting pagi ini penting.”
Aku mencoba menyembunyikan kekecewaan.
“Bawa bekal aja deh, ya. Aku bungkusin.”
Jawaban itu menampar lebih keras dari yang terlihat.
Aku hanya mengangguk, menatap punggungnya saat ia pergi
punggung yang dulu begitu kukagumi, kini rasanya asing dan dingin.
“Gak usah repot, aku makan di kantor.”
Siang, aku menghabiskan waktu di ruang tamu.
Hujan turun di luar, menetes di kaca jendela seperti melodi yang menyedihkan.
Aku menyalakan televisi, tapi tak benar-benar menonton.
Pikiranku melayang.
Dulu setiap hujan seperti ini, kami suka duduk berdua di balkon,
membicarakan hal-hal kecil tentang masa depan, anak-anak yang ingin kami punya,
atau sekadar menertawakan hal-hal sepele.
Sekarang, hanya suara hujan yang menemaniku.
Aku menatap perutku yang makin besar dan berbisik,
“Nak, nanti kalau kamu lahir, Mama janji kamu gak akan ngerasa sendirian.”
Sore hari, ponselku berbunyi.
Nama “Rani” muncul di layar.
Rani: “Kak, aku lewat kantor Mas Raka tadi.”
Aku: “Iya?”
Rani: “Aku kayak liat dia bareng perempuan. Tapi aku nggak yakin, Kak.”
Aku menatap layar lama sekali.
Jantungku berdetak cepat, tapi aku mengetik balasan pelan:
Aku: “Makasih, Ran. Mungkin cuma mirip aja.”
Aku tahu Rani tidak asal bicara. Tapi kali ini, aku memilih diam.
Karena terkadang, mengetahui kebenaran terlalu cepat justru lebih menyakitkan daripada menunggu kebohongan berakhir sendiri.
Malamnya, aku duduk di sofa dengan lampu temaram.
Raka pulang lebih larut dari biasanya.
Baju kerjanya masih rapi, tapi wajahnya tampak kelelahan atau mungkin bosan.
Aku berdiri menyambutnya.
“Sudah makan?” tanyaku pelan.
“Udah, di luar.”
“Oh…”
Aku ingin bertanya dengan siapa, tapi lidahku menahan diri.
Kalimat itu seperti batu besar di tenggorokanku yang tak bisa kutelan atau kulepaskan.
Raka berjalan ke arah kamar, meletakkan tas, lalu kembali duduk di kursi.
Aku duduk di seberangnya, menatapnya dalam diam.
“Ka,” kataku akhirnya, “kamu masih bahagia, kan, di rumah ini?”
Ia menatapku, lalu menghela napas panjang.
“Kenapa nanya begitu?”
“Aku cuma pengen tahu, rumah ini masih terasa pulang buat kamu atau nggak.”
Raka diam beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Kadang aku cuma capek, Nin. Semuanya terasa berat akhir-akhir ini.”
Aku mengangguk. “Aku juga capek, Ka. Tapi aku tetap di sini.”
Hening.
Hanya jam dinding yang berdetak.
Aku berdiri, mendekatinya.
Kupikir, mungkin aku bisa memeluknya.
Mungkin sedikit hangat bisa menembus jarak yang sudah terlalu panjang.
Tanganku hampir menyentuh pundaknya… tapi dia berdiri lebih dulu.
“Aku mau tidur, besok pagi meeting lagi.”
“Ka…”
Dia hanya menatapku sebentar, lalu melangkah ke kamar.
Aku berdiri mematung.
Tanganku terulur di udara
tapi pelukan itu tak pernah sampai.
Malam itu, aku baru benar-benar mengerti makna sepi.
Sepi bukan ketika seseorang pergi,
tapi saat dia masih di sini,
namun tak lagi ingin memelukmu.
*
Pagi berikutnya, aku bangun dengan mata sembab.
Kupandangi bantal yang basah oleh air mata semalam.
Kupaksakan tersenyum di depan cermin.
“Kamu kuat, Nin,” bisikku pada bayangan sendiri.
Ketika Raka keluar dari kamar, aku menyapanya pelan.
“Selamat pagi.”
“Iya.”
“Jangan lupa makan siang, ya.”
“Iya.”
Hanya dua huruf yang ia ucapkan, tapi cukup untuk membuatku sadar:
kami masih tinggal serumah,
namun sudah lama tidak benar-benar pulang.
Sebelum ia berangkat, aku memanggilnya pelan.
“Ka, nanti malam aku mau cerita sesuatu, ya.”
Ia berhenti sejenak. “Tentang apa?”
“Tentang kita.”
“Lihat nanti aja, ya, kalau nggak lembur.”
Pintu tertutup.
Dan di balik pintu itu, aku tahu
hari ini mungkin akan jadi hari yang panjang.
Malamnya, aku menunggu lagi.
Lampu ruang makan menyala lembut, meja sudah rapi,
dan piring berisi makan malam menunggu di atas meja.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Belum ada tanda-tanda Raka pulang.
Akhirnya aku duduk di kursi sendirian, memandang dua piring yang dingin.
Aku tersenyum pahit dan berbisik pada diri sendiri,
“Ternyata pulang juga bisa terasa sepi kalau tak ada pelukan menunggu di depan pintu.”
**
Keesokan paginya, aku menemukan secarik kertas di meja makan:
“Aku pergi dulu, jangan lupa sarapan.”
Tulisan tangan Raka masih sama seperti dulu sedikit miring ke kiri, tergesa, tapi kali ini tak ada emotikon senyum kecil di ujungnya.
Aku duduk menatap kertas itu cukup lama.
Antara ingin menangis atau tertawa.
Lucu, rasanya. Dulu dia selalu pamit dengan pelukan, dengan janji kecil bahwa malam nanti dia akan pulang membawa cerita. Sekarang, hanya ada huruf-huruf dingin yang menandakan kepergian tanpa janji kembali.
Hari itu aku mencoba menjalani semuanya seperti biasa.
Kukunjungi warung kopi tempat kami dulu pertama kali bertemu.
Pemiliknya, Bu Lilis, menyapaku ramah.
“Sendirian, Nak Anindya? Biasanya berdua.”
Aku tersenyum, menahan getir. “Iya, Bu. Sekarang cuma saya.”
Bu Lilis ikut tersenyum kecil, tapi matanya seperti mengerti sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
Aku duduk di meja dekat jendela, tempat favorit kami.
Kupesan kopi hitam dan roti bakar, lalu menatap hujan yang turun pelan.
Tiba-tiba, kenangan itu datang tanpa permisi
suara tawa Raka, caranya menatapku sambil bercanda, dan tangan hangatnya yang dulu selalu menggenggamku dari seberang meja ini.
Aku memejamkan mata sejenak.
Andai waktu bisa kembali, aku ingin mengulang hari-hari sederhana seperti ini.
Yang tak butuh banyak kata, cukup duduk berdua, membicarakan hal-hal kecil, dan merasa dunia baik-baik saja.
Tapi waktu tidak pernah kembali.
Yang bisa kulakukan hanya belajar berdamai dengan kenangan yang menolak pergi.
Sore harinya, aku pulang ke rumah.
Langit cerah, pelangi tipis melengkung di ufuk barat.
Aneh, pelangi itu membuat dadaku sesak mungkin karena warnanya mengingatkanku pada janji-janji yang dulu kami buat.
Bahwa cinta kami akan tetap berwarna, meski hujan turun berulang kali.
Aku berdiri di depan jendela lama, memandangi pantulan wajahku yang tampak asing.
Tiba-tiba ponselku berdering.
Nama Raka muncul di layar.
Aku tertegun, menatapnya lama sebelum menjawab.
“Halo…”
Suara di seberang terdengar pelan, ragu. “Nin… aku cuma mau bilang, aku sampai. Maaf kalau aku bikin kamu nunggu.”
Aku menarik napas dalam-dalam. “Kamu nggak perlu minta maaf, Ka. Mungkin kita memang butuh jarak biar nggak saling melukai.”
Sunyi beberapa detik.
“Jarak?” katanya lirih. “Apa jarak bisa nyembuhin yang udah retak?”
“Kalau nggak bisa nyembuhin, setidaknya bisa bikin kita berhenti saling menyalahkan.”
Di ujung telepon, hanya ada napas panjang.
Kemudian, suara Raka terdengar pelan, nyaris seperti gumaman:
“Aku rindu kamu, Nin. Tapi mungkin aku terlambat belajar caranya mencintai dengan benar.”
Aku terdiam.
Mataku mulai hangat, tapi bibirku memaksakan senyum.
“Nggak apa-apa, Ka. Kadang cinta juga butuh belajar untuk pergi.”
Setelah panggilan itu berakhir, aku menatap pelangi yang mulai memudar di langit.
Indah, tapi sebentar.
Seperti kami.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar tahu:
Raka tidak akan kembali malam ini
mungkin juga tidak akan pernah kembali dengan cara yang sama.