Pagi, aku duduk di balkon dengan secangkir cokelat hangat.
Udara masih lembap, sisa hujan semalam menetes pelan dari atap.
Aku menatap halaman kecil yang mulai ditumbuhi rumput liar.
“Lucu ya,” gumamku sendiri, “rumput aja bisa tumbuh meski terus diinjak.”
Perutku sudah besar sekarang.
Setiap kali bayi di dalamnya bergerak, aku merasa seperti masih punya alasan untuk tersenyum.
Mungkin, pelangi memang datang setelah hujan paling deras.
Siang itu, Rani datang lagi.
Ia selalu muncul tanpa banyak bicara, hanya dengan tatapan penuh sayang.
“Kak, kamu harus makan yang bener. Kamu pucat banget,” katanya sambil menaruh kantong plastik berisi makanan.
Aku tersenyum kecil. “Aku makan kok, Ran. Cuma selera makan lagi nggak karuan.”
Rani duduk di sebelahku, menatap perutku yang bergerak pelan.
“Dia pasti kuat kayak Mamanya,” katanya.
Aku tertawa kecil. “Mudah-mudahan dia nggak mirip Bapaknya.”
Rani ikut tertawa, tapi matanya berkaca-kaca.
Lalu ia menggenggam tanganku.
“Kak… kalau Mas Raka nggak berubah juga, apa Kakak masih mau terusin ini semua?”
Aku terdiam lama.
“Aku nggak tahu, Ran. Kadang aku cuma pengen semuanya berhenti tapi terus aku ingat, ada hidup lain di dalam aku yang harus kulindungi.”
Rani mengangguk, pelan. “Berarti Kakak udah tahu jawabannya.”
Malamnya, aku memberanikan diri membuka galeri foto di ponselku.
Foto-foto lama muncul satu per satu
kami di pantai, di kafe, di acara keluarga.
Senyumku di sana terlihat tulus. Senyum Raka pun sama.
Aku menatap foto itu lama,
lalu berbisik pelan,
“Kamu dulu bahagia, Nin. Jangan biarkan rasa sakit yang sekarang menghapus semua yang pernah indah.”
Aku menangis lagi malam itu.
Tapi kali ini bukan karena kecewa
melainkan karena aku sadar, aku masih punya cinta, tapi bukan untuk diratapi.
Untuk diubah jadi kekuatan.
*
Keesokan harinya, aku mulai menulis.
Sebuah buku catatan kecil yang sudah lama tak terpakai kini penuh tulisan.
Bukan tentang Raka, bukan tentang pengkhianatan,
tapi tentang hal-hal kecil yang masih membuatku hidup.
Hari ini aku menanam bunga di pot kecil.
Hari ini aku tertawa karena bayi di perutku menendang.
Hari ini aku berhasil makan nasi meski cuma setengah piring.
Setiap kalimat terasa seperti jahitan kecil yang menutup luka satu per satu.
Sore Raka datang tiba-tiba.
Aku hampir tidak mengenalinya wajahnya lelah, rambutnya agak acak-acakan, dan matanya tampak bingung.
“Aku boleh masuk?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
Dia duduk di sofa, menatapku lama.
“Maaf, Nin.”
Aku tidak menjawab.
“Maaf kalau akhir-akhir ini aku bikin kamu ngerasa sendiri.”
Aku menatap matanya. “Aku memang sendiri, Ka. Tapi bukan cuma akhir-akhir ini.”
Ia tertunduk, tak sanggup menatapku lama.
“Aku cuma… bingung. Aku merasa kehilangan diriku sendiri.”
“Terus kamu nyari diri kamu di mana? Di pelukan orang lain?” tanyaku pelan tapi tajam.
Raka diam.
Wajahnya menegang, lalu melembut.
“Aku gak bisa bohong, Nin. Aku salah. Tapi aku juga gak tahu kenapa aku kayak gini.”
Aku menatapnya, menahan air mata.
“Ka, aku udah berhenti nunggu penjelasan. Aku cuma pengen kamu sadar, yang kamu lukai bukan cuma aku tapi anak kita juga.”
Raka menunduk lebih dalam.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa kasihan padanya.
Bukan karena cintaku masih besar,
tapi karena aku tahu: penyesalan itu berat, dan dia baru mulai memikulnya.
Setelah beberapa lama, ia berdiri.
“Aku… mau coba benerin semuanya.”
Aku mengangguk pelan. “Benerin hidupmu dulu, Ka. Aku dan bayi ini akan baik-baik aja.”
Raka menatapku lama. “Kamu gak marah?”
Aku tersenyum samar. “Marah cuma bikin aku makin capek. Sekarang aku lebih butuh tenang.”
Dia tidak berkata apa-apa lagi.
Saat melangkah keluar, aku menatap punggungnya
punggung yang dulu begitu kucintai,
sekarang hanya mengingatkanku bahwa beberapa orang datang untuk mengajarkan luka, bukan tinggal selamanya.
Malam itu, aku menulis lagi di buku catatan kecilku:
Hari ini aku belajar bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, tapi berhenti berharap masa lalu kembali seperti dulu.
Aku menutup buku itu, menatap langit dari jendela kamar.
Hujan sudah reda.
Dan di balik awan, samar-samar kulihat pelangi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum tulus.
Karena aku tahu, pelangi itu bukan tanda dari cinta yang kembali,
tapi tanda bahwa luka akhirnya menemukan tempatnya untuk sembuh.
Aku menutup buku itu, menatap langit dari jendela kamar.
Hujan sudah reda.
Dan di balik awan, samar-samar kulihat pelangi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum tulus.
Karena aku tahu, pelangi itu bukan tanda dari cinta yang kembali,
tapi tanda bahwa luka akhirnya menemukan tempatnya untuk sembuh.
Raka menatap kosong ke arah jendela apartemen kecilnya.
Lampu kota berpendar seperti kunang-kunang di tengah kabut indah, tapi tak memberi hangat.
Di meja, dua cangkir kopi tergeletak: satu penuh, satu setengah habis.
Cangkir kosong itu, entah kenapa, membuat dadanya terasa sesak.
Sudah tiga minggu sejak ia meninggalkan rumah.
Sejak percakapan terakhir dengan Anindya di telepon, ia belum punya keberanian untuk menatap matanya lagi bahkan melalui foto.
Ia sibuk menyibukkan diri.
Meeting pagi, lembur malam, mencari alasan agar waktu berlalu tanpa suara hati menjerit pelan.
Namun semakin ia berlari, semakin terasa sunyi mengejarnya.
Kadang, ia mendengar bayangan suara Anindya di kepalanya:
“Kalau cinta butuh jarak, semoga jarak itu nggak bikin kamu lupa jalan pulang.”
Dan setiap kali mengingatnya, Raka tahu mungkin ia memang sudah lupa arah.
Sore, ketika hujan baru saja berhenti, ponselnya bergetar.
Nama di layar membuatnya terdiam: Livia.
Adik Anindya.
Ia sempat ragu untuk menjawab, tapi kemudian menarik napas panjang.
“Ka, aku Livia. Aku… cuma mau pastikan Kak Anin baik-baik aja. Dia nggak cerita banyak.”
Suara di seberang terdengar lembut, sedikit ragu.
Raka menatap keluar jendela. “Dia baik. Kuat seperti biasanya.”
“Benar?”
“Ya,” jawabnya singkat.
Ada jeda hening, sebelum Livia kembali bicara.
“Aku tahu Kak Anin kuat, tapi orang kuat juga bisa lelah, Ka.”
Kalimat itu menamparnya pelan.
Raka tak bisa menjawab. Ia hanya menatap genangan air di luar sana sisa hujan yang memantulkan warna pelangi samar.
Seketika, sesuatu di dadanya terasa hangat, aneh, seperti dorongan ingin bicara.
“Livia…” katanya pelan. “Kamu sendiri gimana? Masih di rumah Mama?”
“Iya. Kadang bantu-bantu Kak Anin juga.”
Raka tersenyum kecil, tapi hatinya malah terasa lebih berat.
**
Minggu berikutnya, Livia mengirim pesan lagi.
Bukan tentang Anindya, tapi tentang hal-hal remeh: buku yang ia baca, film yang ia tonton, bahkan tentang langit sore yang katanya mirip cat air.
Entah kenapa, Raka mulai menunggu pesan itu setiap malam.
Dia tahu seharusnya tidak, tapi rasa sepi membuatnya ingin merespons.
Suatu malam, mereka bertemu.
Bukan direncanakan hanya kebetulan di kafe kecil dekat kantor.
“Ka?”
Raka menoleh, dan di sana Livia berdiri, mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua.
Wajahnya mirip Anindya, tapi ada sesuatu yang berbeda lebih muda, lebih cerah, dan mata yang belum pernah mengenal patah hati.
Mereka mengobrol lama. Tentang hidup, tentang pilihan, tentang kenangan yang sulit dijelaskan.
Raka tertawa lagi malam itu tawa yang sudah lama hilang.
Dan di antara tawa itu, ada rasa bersalah yang mulai tumbuh diam-diam.
Setelah pertemuan itu, Raka pulang dengan langkah gontai.
Ia menatap langit malam yang mendung, lalu menengadahkan wajahnya pada cahaya lampu jalan yang temaram.
Ada perasaan yang tak seharusnya hadir, tapi menolak pergi.
Di kamarnya, Raka duduk memandangi ponsel.
Sebuah pesan baru muncul:
“Terima kasih sudah dengar aku malam ini. Entah kenapa, bicara sama kamu bikin aku tenang. Livia”
Raka mengetik balasan:
“Aku juga. Hati-hati pulang, ya.”
Namun sebelum menekan “kirim”, ia berhenti.
Tangannya bergetar, dan matanya memandang bayangan diri di jendela
seseorang yang tampak asing, dan mungkin mulai kehilangan arah sepenuhnya.
Ia menghapus pesan itu.
Lalu berbaring, menatap langit-langit kamar.
Tetes hujan kembali jatuh, membentuk irama lembut yang menenangkan sekaligus menyiksa.
Dalam diam, Raka berbisik pelan,
“Kenapa justru di sepi ini aku mulai menemukan hal yang seharusnya kutinggalkan?”