Lembaga Pemasyarakatan itu berdiri kelabu di tepi kota, tembok tingginya dimahkotai kawat berduri yang berkilau di bawah matahari siang. Maya melewati tiga pemeriksaan sebelum akhirnya duduk di sebuah ruang besuk yang sempit, dipisahkan meja besi dari kliennya yang baru.
Pak Surya tampak lebih tua dari fotonya. Garis-garis di wajahnya dalam, matanya cekung oleh kurang tidur. Tapi ia duduk dengan punggung tegak, dengan martabat seseorang yang terbiasa dihormati, kini dipaksa menelan penghinaan setiap hari.
"Jadi mereka mengirim anak muda," kata Pak Surya, suaranya serak. Ia menatap Maya dari atas ke bawah. "Maaf kalau saya jujur, Nona. Tapi pengacara hebat mana pun sudah menolak saya. Apa yang bisa kamu lakukan?"
Maya tidak tersinggung. Ia justru menghargai kejujuran itu. "Saya Maya. Dan benar, saya muda, dan saya baru saja kalah dalam kasus pertama saya. Jadi mungkin saya bukan pengacara yang Bapak harapkan." Ia mengeluarkan map merahnya. "Tapi saya satu-satunya yang ada di ruangan ini bersama Bapak sekarang. Jadi mari kita manfaatkan itu."
Sesuatu di sudut bibir Pak Surya bergerak. Bukan senyum, tapi mendekati. "Terus terang saja menyenangkan. Akhir-akhir ini tidak ada yang jujur pada saya."
"Saya butuh Bapak menceritakan semuanya. Dari awal. Malam ketika Hendra Lim terbunuh." Maya membuka buku catatannya. "Dan saya butuh kebenaran, bukan versi yang menurut Bapak ingin saya dengar. Karena kalau Bapak berbohong pada saya, satu-satunya orang yang Bapak rugikan adalah diri Bapak sendiri."
Pak Surya menarik napas panjang. "Hendra itu rekan saya selama lima belas tahun. Kami membangun perusahaan dari nol. Tapi setahun terakhir, kami berselisih. Dia mau menjual tanah proyek Cakrawala ke investor asing dengan harga murah. Saya menolak. Ada sesuatu yang busuk dalam kesepakatan itu, saya bisa mencium baunya. Tapi saya tidak pernah, sekali pun, ingin membunuhnya."
"Malam itu," desak Maya.
"Hendra menelepon saya. Katanya dia mau bicara, menyelesaikan perselisihan. Dia minta saya datang ke gudang lama kami di kawasan Marunda, jam sembilan malam. Saya datang. Tapi gudang itu kosong, Nona Maya. Gelap. Saya menunggu setengah jam, menelepon dia, tidak diangkat. Lalu saya pulang." Suaranya bergetar. "Keesokan paginya polisi datang ke rumah saya. Hendra ditemukan tewas di gudang itu. Tertembak. Dan mereka bilang sidik jari saya ada di pistolnya."
Maya mencatat dengan cepat. "Pistol siapa itu?"
"Saya tidak tahu. Saya tidak pernah punya pistol seumur hidup saya. Tapi mereka bilang ada sidik jari saya di sana." Pak Surya menggenggam kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. "Bagaimana mungkin? Saya bersumpah, Nona. Demi anak-anak saya. Saya tidak menyentuh senjata itu."
Maya mengangkat pandangannya. Di mata pria itu, ia melihat sesuatu yang sangat ia kenal. Putus asa yang sama yang ia lihat di mata Arman. Ketakutan seseorang yang terjebak dalam mesin besar yang tidak ia mengerti. Maya merasakan keyakinan lama itu kembali merayap, suara hati yang berbisik bahwa pria ini tidak bersalah. Tapi ia menahan diri. Justru bisikan itulah yang dulu menyesatkannya. Pembunuh yang baik adalah aktor yang baik. Ia tidak boleh terbuai. Tugasnya bukan mempercayai Pak Surya, tapi menguji apakah cerita negara tahan terhadap fakta.
"Pak Surya, saya akan bertanya hal yang tidak menyenangkan. Apakah ada orang lain yang tahu Bapak akan ada di gudang itu malam itu?"
Pak Surya terdiam. "Tidak. Hanya saya dan Hendra. Itulah yang membuat saya bingung. Bagaimana mereka bisa tahu... bagaimana mereka tahu saya akan ada di sana untuk menjebak saya."
Kata itu menggantung di udara. Menjebak. Maya menuliskannya dan melingkarinya tiga kali.
"Satu hal lagi," kata Maya, menatap kliennya lurus-lurus. "Jaksa yang menangani kasus Bapak adalah Pram. Dia ambisius dan dia bermain keras. Dia menginginkan Bapak dipenjara bukan hanya karena ingin keadilan, tapi karena nama Bapak akan mengangkat kariernya. Itu artinya dia tidak akan berhenti pada kebenaran. Dia akan mengejar kemenangan, dengan cara apa pun."
Wajah Pak Surya memucat. "Lalu apa harapan saya?"
Maya menutup buku catatannya. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia merasakan keyakinan dingin yang menenangkan mengalir di tubuhnya. "Harapan Bapak bukan terletak pada apakah saya percaya Bapak atau tidak, karena itu tidak penting di ruang sidang. Harapan Bapak adalah saya akan membaca setiap halaman berkas perkara ini sampai mata saya perih. Dan kalau ada satu saja celah, satu saja keganjilan, satu kebohongan kecil dalam tumpukan bukti itu, saya akan menemukannya. Karena tugas saya memaksa negara membuktikan ceritanya, dan kebohongan, Pak Surya, selalu meninggalkan jejak."
Saat ia berdiri untuk pergi, Pak Surya memanggilnya. "Nona Maya. Kenapa kamu mau membela saya? Semua orang sudah memutuskan saya bersalah."
Maya berhenti di ambang pintu. Ia berpikir sejenak, lalu memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Karena klien terakhir saya juga sudah diputuskan bersalah oleh semua orang. Saya percaya dia tidak bersalah, dan saya menjadikan keyakinan itu senjata saya. Saya keliru, Pak. Bukan karena keyakinan saya salah, tapi karena bukan itu yang harus saya buktikan. Sekarang dia di penjara. Maka saya tidak akan membela Bapak dengan bertanya apakah Bapak bersalah. Saya akan membela Bapak dengan memastikan tidak ada orang, siapa pun dia, boleh dihukum sebelum negara benar-benar membuktikannya. Itu hak Bapak. Itu hak semua orang. Dan itulah yang akan saya perjuangkan."