Selama tiga malam berturut-turut, lampu di sudut kantor Hartati & Rekan tidak pernah padam. Maya membenamkan diri dalam berkas perkara Pak Surya seperti penyelam yang menahan napas terlalu lama. Cangkir kopi menumpuk di mejanya, halaman demi halaman bertaburan di lantai, ditandai dengan stabilo warna-warni dan catatan kecil di tepiannya.
Semua bukti tampak rapi. Terlalu rapi. Sidik jari Pak Surya di pistol. Motif perselisihan bisnis yang sudah jadi bahan gosip kantor. Ketiadaan alibi karena Pak Surya mengaku sendirian di gudang. Bahkan rekaman telepon antara Surya dan Hendra di hari kejadian. Semuanya tersusun seperti bata yang dipasang oleh tukang yang sangat teliti. Dan justru kerapian itulah yang mengganggu Maya.
"Dalam kasus yang sebenarnya," gumamnya sendiri, mengutip dosennya dulu, "selalu ada yang berantakan. Kebenaran itu kotor. Yang terlalu bersih biasanya disapu seseorang."
Ia kembali ke laporan otopsi. Jenazah Hendra Lim ditemukan pukul tujuh pagi oleh penjaga gudang. Penyebab kematian: luka tembak di dada. Maya membaca perkiraan waktu kematian dari dokter forensik. Antara pukul sebelas malam hingga satu dini hari.
Pukul sebelas malam.
Maya berhenti. Tangannya yang memegang stabilo membeku di udara.
Pak Surya bilang ia tiba di gudang pukul sembilan, menunggu setengah jam, lalu pulang. Itu berarti ia meninggalkan gudang sekitar pukul setengah sepuluh. Tapi waktu kematian Hendra paling cepat pukul sebelas. Ada selisih waktu setidaknya satu setengah jam.
Jantung Maya berdebar. Ia meraih berkas lain, catatan kronologi dari penyidikan polisi. Menurut jaksa, Pak Surya membunuh Hendra di gudang itu pada malam pertemuan mereka. Tapi rekaman telepon menunjukkan panggilan terakhir Hendra ke Surya adalah pukul delapan empat puluh lima malam. Setelah itu, ponsel Hendra tidak menunjukkan aktivitas apa pun.
Maya membuka laptopnya, mencari laporan analisis ponsel. Di sana ada satu baris yang sebelumnya ia lewati, terkubur di antara data teknis yang membosankan. Lokasi terakhir ponsel Hendra Lim terdeteksi bukan di gudang Marunda. Tapi di sebuah menara seluler di kawasan Kelapa Gading, sebelas kilometer dari gudang, pada pukul sepuluh malam.
Maya menahan napas. Kalau ponsel Hendra masih di Kelapa Gading pukul sepuluh, dan dia mati paling cepat pukul sebelas, maka Hendra belum tewas saat Pak Surya sudah lama meninggalkan gudang. Entah Hendra dibawa ke gudang setelah dibunuh di tempat lain, atau ia masih hidup dan bergerak satu jam setelah Surya pulang. Dua-duanya menghancurkan teori jaksa bahwa pembunuhan terjadi saat pertemuan mereka.
"Tidak mungkin tidak ada yang melihat ini," bisik Maya. Tapi kemudian ia tersadar. Tentu saja tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang mau melihatnya. Polisi sudah punya tersangka. Jaksa sudah punya cerita. Media sudah punya monster. Untuk apa repot-repot mencari kebenaran ketika kebohongan jauh lebih nyaman?
Maya menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kantor yang dipenuhi noda air. Selama ini ia mengira keadilan dikalahkan oleh kejahatan. Tapi malam ini ia mengerti sesuatu yang lebih menakutkan. Keadilan lebih sering dikalahkan oleh kemalasan, oleh ambisi, oleh kenyamanan orang-orang yang sudah merasa tahu jawabannya.
Ponselnya menunjukkan pukul tiga pagi. Maya tidak merasa lelah sama sekali. Ia merasa hidup. Untuk pertama kalinya sejak kekalahan Arman, ia tidak merasa seperti pengacara yang gagal. Ia merasa seperti pemburu yang baru saja menemukan jejak kaki di lumpur.
Ia mengambil selembar kertas kosong dan menuliskan satu pertanyaan di tengahnya, lalu memberi tanda kurung besar di sekelilingnya.
"Kalau Hendra masih hidup di Kelapa Gading pukul sepuluh malam, siapa yang bersamanya?"
Maya menatap pertanyaan itu lama sekali. Ada celah di antara detik-detik malam itu, ruang kosong satu jam setengah yang tidak dijelaskan oleh siapa pun. Dan di dalam ruang kosong itulah, ia yakin, terkubur kebenaran yang akan membebaskan kliennya, atau membuktikan ia benar-benar bersalah.
Apa pun yang ada di sana, Maya bertekad menggalinya. Bahkan jika untuk itu ia harus menggali sendirian.
Ia mengumpulkan berkasnya, mematikan lampu, dan keluar ke jalanan kota yang basah oleh embun pagi. Sidang perdana tinggal dua minggu lagi. Dan ia baru saja menemukan benang pertama yang, kalau ditarik dengan benar, mungkin akan menguraikan seluruh kebohongan ini.