Penjaga gudang itu bernama Pak Karim, seorang lelaki tua bertubuh kurus dengan tangan gemetar. Maya menemuinya di rumah petaknya yang sempit di balik tumpukan barang rongsokan. Pak Karim adalah orang yang menemukan jenazah Hendra, dan menurut berkas, satu-satunya saksi yang berada di sekitar lokasi malam itu.
"Saya sudah cerita semua ke polisi," kata Pak Karim, matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan Maya. "Saya tidak mau cari masalah, Bu."
"Saya tidak akan membawa masalah, Pak," kata Maya lembut, duduk di bangku plastik yang ditawarkan. "Saya cuma mau tahu apa yang Bapak lihat. Bapak menemukan jenazah Pak Hendra pukul tujuh pagi, betul?"
Pak Karim mengangguk pelan.
"Tapi Bapak menjaga gudang itu sepanjang malam. Apa Bapak tidak mendengar apa-apa? Suara tembakan? Mobil datang?"
Hening sejenak. Pak Karim mengusap wajahnya. "Saya... saya tidak bertugas penuh malam itu, Bu. Ada yang menyuruh saya pulang lebih awal. Bilang ada perbaikan listrik, gudang harus kosong."
Maya menegakkan punggungnya. Ini tidak ada di berkas mana pun. "Siapa yang menyuruh Bapak pulang?"
"Orang dari kantor pusat. Saya tidak kenal. Dia datang sore hari, kasih saya uang lebih, suruh saya libur sampai pagi." Pak Karim menunduk. "Saya cuma penjaga, Bu. Kalau atasan suruh pulang, ya saya pulang. Saya tidak tanya-tanya."
"Apakah Bapak menyebut ini ke polisi?"
Pak Karim menggeleng cepat, terlalu cepat. "Mereka tidak tanya. Mereka cuma mau tahu jam berapa saya temukan mayatnya. Saya jawab itu saja. Saya tidak mau... saya tidak mau ikut campur, Bu. Orang yang suruh saya pulang itu... matanya tidak enak. Saya takut."
Maya menatap lelaki tua itu, dan ia melihat ketakutan yang tulus. Bukan ketakutan orang yang berbohong, tapi ketakutan orang kecil yang tahu sesuatu yang terlalu besar untuk ditanggungnya. Inilah fakta yang hilang. Seseorang sengaja mengosongkan gudang itu malam itu. Seseorang yang tahu apa yang akan terjadi.
"Pak Karim," kata Maya hati-hati, "kalau Bapak bersedia menceritakan ini di pengadilan, ini bisa menyelamatkan nyawa seseorang."
Wajah Pak Karim langsung berubah pucat. "Tidak, Bu. Saya mohon. Saya punya cucu. Saya tidak mau berurusan dengan orang-orang itu. Tolong jangan paksa saya."
Maya tidak memaksa. Ia tahu rasanya menjadi orang kecil yang berdiri di depan kekuatan besar. Tapi ia mencatat setiap kata, dan menyimpan nama Pak Karim sebagai potongan yang harus ia lindungi.
Sore itu Maya pergi ke gudang Marunda. Bangunan tua itu dikelilingi garis polisi yang sudah mulai pudar. Ia menyelinap masuk lewat celah pagar, langkahnya menggema di lantai beton yang berdebu. Di tengah ruangan, masih ada bercak gelap di lantai. Darah Hendra. Maya berdiri di sana, mencoba membayangkan malam itu.
Ia memperhatikan posisi bercak darah, lalu membandingkannya dengan foto-foto dalam berkas. Sesuatu mengganjal. Dalam foto resmi, ceceran darah terlihat melebar ke satu arah, seolah tubuh Hendra ditarik. Tapi laporan menyatakan korban ditembak di tempat dan jatuh seketika. Kalau ia jatuh seketika, kenapa ada jejak seret?
Maya memotret semuanya dengan ponselnya, dari setiap sudut. Ia mengukur jarak dengan langkah kaki, mencatat di mana cahaya masuk lewat jendela pecah, di mana bayangan jatuh. Otaknya bekerja seperti mesin, menyusun kembali kepingan-kepingan yang oleh semua orang dianggap sudah selesai.
Saat keluar dari gudang, hari sudah gelap. Maya merasakan tengkuknya meremang. Ia menoleh, dan untuk sekejap ia bersumpah melihat sebuah mobil hitam terparkir di kejauhan, lampunya padam, kacanya gelap. Saat ia menatapnya lebih lama, mobil itu menyalakan mesin dan pergi perlahan, tanpa terburu-buru, seolah ingin ia tahu bahwa ia sedang diperhatikan.
Maya berdiri mematung, jantungnya berdebar. Ia mengambil ponsel, mencatat keganjilan itu. Untuk pertama kalinya sejak menerima kasus ini, ia menyadari satu hal yang dingin dan menusuk.
Ia tidak hanya sedang membela seorang terdakwa. Ia sedang mengganggu seseorang. Seseorang yang punya kuasa untuk mengosongkan gudang, menyeret tubuh, dan menyusun bukti serapi puzzle. Dan orang itu kini tahu bahwa Maya sedang menggali.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Maya tidak lagi merasa seperti pemburu. Ia merasa seperti seseorang yang baru saja sadar bahwa di rimba ini, ia mungkin juga adalah mangsa.