Maya membawa foto-foto gudang dan laporan forensik ke seorang ahli. Namanya Dokter Renata, mantan dokter forensik kepolisian yang kini mengajar di universitas, perempuan tegas berusia enam puluhan yang dikenal tidak pernah takut mengatakan kebenaran, itulah sebabnya ia tidak lagi bekerja untuk kepolisian.
"Tunjukkan apa yang membuatmu tidak bisa tidur," kata Dokter Renata, menyeruput tehnya di ruang kerjanya yang dipenuhi buku.
Maya menyebarkan foto-foto di meja. "Laporan resmi bilang korban ditembak di gudang lalu jatuh di tempat. Tapi pola darahnya, Dok. Lihat. Ada jejak seret. Dan menurut data ponsel, korban masih di Kelapa Gading satu jam sebelum perkiraan waktu kematiannya."
Dokter Renata memakai kacamatanya, mengamati foto-foto itu lama. Wajahnya yang semula santai perlahan mengeras. "Pola lebam mayat," gumamnya, menunjuk salah satu foto. "Lihat ini. Lebam mayat terbentuk di punggung dan bokong korban. Tapi korban ditemukan dalam posisi telungkup."
"Artinya?" Maya mencondongkan tubuh.
"Artinya, anak muda, korban ini berbaring telentang selama berjam-jam setelah mati, lalu baru dipindahkan ke posisi telungkup di gudang ini." Dokter Renata melepas kacamatanya, menatap Maya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Hendra Lim tidak mati di gudang ini. Dia dibunuh di tempat lain, dibiarkan beberapa jam, lalu dibawa ke sini dan ditata. TKP-nya palsu."
Maya merasakan dingin merayap di tengkuknya. Kecurigaannya benar. Lebih dari benar. "Kenapa tidak ada yang menyebut ini dalam laporan resmi?"
Dokter Renata tertawa pendek, getir. "Karena yang menulis laporan resmi adalah orang yang ingin laporan itu mengatakan sesuatu yang spesifik. Lebam mayat itu, Maya, adalah bukti yang tidak bisa dipalsukan. Tubuh tidak bisa berbohong. Tapi laporan bisa. Cukup tidak menulisnya, dan tidak ada yang akan tahu."
Maya menuliskan setiap kata. "Dok, maukah Anda menjadi saksi ahli dalam sidang ini?"
Dokter Renata terdiam lama. Lalu ia tersenyum tipis, senyum perempuan yang sudah lama berdamai dengan risiko. "Saya kehilangan pekerjaan di kepolisian karena menolak menandatangani laporan yang bohong, Maya. Sebelas tahun lalu. Mereka pikir mereka menghukum saya. Tapi sebenarnya mereka membebaskan saya." Ia mengangguk. "Ya. Saya akan bersaksi."
Dengan satu sekutu di tangan, Maya kembali menyelami berkas. Kali ini ia memfokuskan diri pada bukti utama yang menjerat Pak Surya, sidik jari di pistol. Ia meminta salinan laporan daktiloskopi, analisis sidik jari yang dilakukan laboratorium forensik kepolisian. Berjam-jam ia memelototi pola garis dan titik yang tidak ia pahami, sampai akhirnya ia membawanya ke seorang teknisi laboratorium swasta.
"Sidik jari ini memang milik klien Anda," kata teknisi itu. "Tapi ada yang aneh dengan distribusinya."
"Aneh bagaimana?"
"Biasanya, kalau seseorang memegang pistol untuk menembak, sidik jarinya tersebar, di gagang, di pelatuk, kadang berlapis dan tidak sempurna karena tekanan dan gerakan. Tapi sidik jari ini..." teknisi itu menunjuk diagram. "Terlalu bersih. Terlalu jelas. Hanya satu jari, satu sapuan sempurna di gagang. Seperti seseorang menekan jari ke permukaan dengan sengaja. Bukan seperti orang yang menggenggam senjata dalam keadaan panik."
Maya menahan napas. "Apakah sidik jari bisa dipindahkan? Maksud saya, ditempelkan dari benda lain?"
Teknisi itu mengangkat bahu. "Secara teori, bisa. Dengan gelatin, dengan selotip khusus. Sulit, tapi mungkin. Apalagi kalau pelakunya tahu cara kerja forensik. Kalau dia punya akses ke sidik jari klien Anda dari benda lain, gelas misalnya, atau dokumen."
Maya mundur selangkah, kepalanya berputar. Semuanya mulai jatuh ke tempatnya, dan gambaran yang terbentuk jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan. TKP yang ditata. Lebam mayat yang diabaikan. Gudang yang sengaja dikosongkan. Sidik jari yang terlalu sempurna. Ini bukan kasus pembunuhan yang ceroboh. Ini adalah pekerjaan seseorang yang sangat cerdas, yang merancang Pak Surya sebagai kambing hitam dengan presisi seorang seniman.
Dan kalau seseorang serapi itu mampu menjebak Pak Surya, mereka pasti juga punya kuasa untuk memastikan kebenaran tidak pernah sampai ke ruang sidang. Maya menatap tumpukan bukti di hadapannya, dan untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Bukan takut kalah. Tapi takut pada siapa yang sebenarnya ia hadapi.
Malam itu, ketika ia memarkir motornya di depan kos, ia menemukan secarik kertas terselip di bawah wiper. Tulisan tangan, huruf cetak yang rapi.
"Beberapa kebenaran lebih baik tetap terkubur. Demi keselamatanmu sendiri, berhentilah menggali."
Maya berdiri lama di bawah lampu jalan yang temaram, kertas itu bergetar di tangannya. Lalu, perlahan, ia melipatnya dan memasukkannya ke saku. Bukan untuk dibuang. Tapi sebagai bukti. Karena bahkan ancaman pun meninggalkan jejak.