Tekanan itu datang tidak dalam bentuk yang Maya bayangkan. Tidak ada preman, tidak ada kekerasan terbuka. Yang datang justru jauh lebih halus, dan jauh lebih menakutkan.
Pertama, Bu Hartati dipanggil oleh seseorang dari kalangan atas. Sepulangnya, wajah perempuan tua itu kelabu. "Maya, ada yang menelepon. Orang penting. Mereka bilang firma kita akan kehilangan beberapa klien besar kalau kita terus membela Surya. Mereka juga... menyinggung izin praktik kita."
Maya menatap senior yang ia hormati itu. "Bu, kalau Ibu mau saya mundur, saya mengerti. Saya tidak mau menyeret firma ini jatuh."
Bu Hartati terdiam lama, menatap foto-foto lama di dindingnya, kenangan dari puluhan tahun berperkara. Lalu ia tersenyum, senyum yang lelah tapi keras kepala. "Saya membangun firma ini dengan satu prinsip, Maya. Bahwa setiap orang berhak dibela, dan tidak ada yang boleh membeli keadilan. Kalau saya mundur sekarang, untuk apa saya berdiri selama ini?" Ia menggeleng. "Lanjutkan. Tapi hati-hati. Mulai sekarang, kita bermain melawan orang yang tidak terlihat."
Tekanan kedua datang ke Maya sendiri. Sewa kosnya tiba-tiba dinaikkan tiga kali lipat oleh pemilik yang biasanya ramah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Rekeningnya diblokir sementara karena "pemeriksaan rutin" yang janggal. Dan suatu malam, ia menerima telepon dari nomor tak dikenal. Hanya napas di ujung sana, lalu suara mesin yang memutar rekaman tangis seorang anak kecil, lalu sambungan terputus. Maya tidak punya anak. Tapi pesannya jelas. Kami tahu cara membuatmu takut.
Maya hampir menyerah malam itu. Ia duduk di lantai kosnya yang sempit, memeluk lutut, menatap dinding. Untuk apa semua ini? Ia bisa mundur. Ia bisa membiarkan Pak Surya menerima nasibnya seperti jutaan orang lain. Ia masih muda, masih punya karier untuk diselamatkan. Tidak ada yang akan menyalahkannya kalau ia memilih hidup.
Tapi kemudian wajah Arman kembali muncul. Senyum tabahnya di ruang sidang. "Ibu sudah berjuang." Dan Maya tahu, kalau ia mundur sekarang, ia tidak akan pernah lagi bisa menatap cermin. Ia akan menjadi persis seperti orang-orang yang ia benci, orang-orang yang memilih nyaman daripada benar.
Keesokan harinya, alih-alih mundur, Maya pergi menemui Pram langsung. Ia menunggu di luar kantor kejaksaan sampai jaksa itu keluar.
"Maya," kata Pram, tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum dengan senyum dinginnya yang khas. "Kamu terlihat lelah. Membela orang yang sudah jelas bersalah memang melelahkan."
"Saya tahu TKP-nya dipalsukan, Pram," kata Maya langsung, menatap mata jaksa itu. "Saya tahu lebam mayatnya tidak cocok. Saya tahu sidik jari di pistol itu terlalu bersih. Dan saya akan membawa semua itu ke pengadilan."
Untuk sepersekian detik, Maya melihat sesuatu berkelebat di wajah Pram. Bukan rasa bersalah. Bukan kekhawatiran. Tapi perhitungan. Mata seseorang yang sedang mengkalkulasi ulang lawan yang ternyata lebih berbahaya dari dugaannya.
Lalu topeng tenang itu kembali. "Kamu tahu apa masalahmu, Maya?" Pram melangkah mendekat, suaranya pelan, nyaris ramah. "Kamu pikir kebenaran itu menang dengan sendirinya. Tapi kebenaran itu lemah. Kebenaran perlu pelindung, perlu kekuatan, perlu orang yang mau membayar harganya. Dan kamu, pengacara muda dari firma kecil yang nyaris bangkrut, kamu tidak punya kekuatan apa-apa."
"Saya punya fakta."
"Fakta." Pram tersenyum, hampir kasihan. "Aku sudah cukup lama di ruang sidang untuk tahu satu hal. Fakta itu seperti tanah liat. Bisa dibentuk. Hakim tidak melihat kebenaran, Maya. Hakim melihat siapa yang menceritakannya dengan lebih meyakinkan. Aku membangun semua ini, dari kasus kecil sampai kasus yang akan menamparkan namaku di koran besok, justru karena aku paham itu. Dan dalam permainan itu, percayalah, kamu belum lahir untuk mengalahkanku."
Pram berbalik dan masuk ke mobilnya yang mengilap. Tapi sebelum pintu tertutup, ia menambahkan satu kalimat yang membuat darah Maya membeku.
"Oh, dan Maya. Klienmu di penjara itu, Arman. Kasusnya bisa dibuka kembali, lho. Bukti baru bisa muncul kapan saja. Atau bukti baru bisa juga tidak pernah muncul. Tergantung. Pikirkan baik-baik kasus mana yang ingin kamu menangkan."
Pintu mobil tertutup. Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Maya berdiri di trotoar dengan tangan terkepal.
Pram baru saja menawarinya sesuatu yang lebih jahat daripada ancaman. Ia menawarkan harapan untuk Arman, dengan syarat Maya mengorbankan Pak Surya. Satu nyawa tak bersalah ditukar dengan satu nyawa tak bersalah lainnya. Itulah cara mereka menghancurkan idealisme, bukan dengan paksaan, tapi dengan membuatmu memilih siapa yang kau khianati.
Maya berdiri lama di bawah terik matahari. Lalu, perlahan, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Dokter Renata. "Dok, kita majukan strateginya. Saya tidak mau mereka punya waktu untuk menghilangkan saksi. Kita serang di sidang pertama."
Mereka pikir mereka sudah memojokkannya. Mereka tidak tahu bahwa pengacara yang tidak punya apa-apa untuk dilindungi adalah pengacara yang paling berbahaya.