Ruang sidang penuh sesak. Wartawan berjejal di bangku belakang, kamera siap menangkap setiap detik dari kasus yang sudah jadi tontonan seluruh kota. Pak Surya duduk di kursi terdakwa, kurus dalam kemeja tahanan, matanya mencari Maya di antara kerumunan. Maya membalasnya dengan satu anggukan kecil. Bertahanlah.
Di meja jaksa, Pram tampak tenang luar biasa, jasnya mahal, rambutnya rapi. Ia tersenyum pada awak media seolah sidang ini hanya formalitas menuju kemenangan yang sudah pasti.
Hakim membuka persidangan. Pram berdiri pertama, dan dengan suara yang dalam dan meyakinkan, ia merangkai ceritanya. Tentang persaingan bisnis yang memuncak. Tentang Surya yang gelap mata karena proyek bernilai miliaran. Tentang pertemuan di gudang yang berakhir dengan tembakan. Tentang sidik jari yang tidak terbantahkan. Ia berbicara bukan seperti seorang jaksa, tapi seperti seorang pendongeng ulung. Saat ia selesai, Maya bisa merasakan ruangan itu sudah condong. Para wartawan mengangguk. Bahkan beberapa orang menatap Pak Surya dengan jijik.
Lalu giliran Maya.
Ia berdiri, dan untuk sesaat, ia merasakan getaran lama, ketakutan yang sama yang membuatnya kalah dari Arman. Tapi kali ini, ia membiarkan ketakutan itu lewat. Ia mengingat lebam mayat yang tidak bisa berbohong. Ia mengingat wajah Pak Karim yang ketakutan. Ia mengingat tangis rekaman di telepon. Lalu ia mulai bicara.
"Yang Mulia, saksi yang terhormat akan menceritakan sebuah kisah yang rapi. Terlalu rapi. Tapi izinkan saya bertanya satu hal sederhana. Di mana Hendra Lim dibunuh?"
Ruangan terdiam.
"Jaksa mengatakan ia dibunuh di gudang Marunda saat bertemu klien saya. Tapi saya akan tunjukkan bahwa itu mustahil." Maya mendekati layar dan menampilkan data lokasi ponsel. "Ponsel korban tercatat berada di Kelapa Gading, sebelas kilometer dari gudang, pada pukul sepuluh malam. Sementara perkiraan waktu kematian paling cepat pukul sebelas. Pertanyaannya, Yang Mulia, bagaimana klien saya membunuh korban di Marunda pada saat korban masih berada di Kelapa Gading dan masih hidup?"
Maya menoleh ke arah Pram. Untuk pertama kalinya, senyum jaksa itu sedikit memudar.
"Keberatan, Yang Mulia," kata Pram bangkit. "Data lokasi ponsel tidak membuktikan keberadaan korban. Korban bisa saja meninggalkan ponselnya."
"Tepat," sahut Maya cepat. "Korban bisa meninggalkan ponselnya. Atau seseorang sengaja membawa ponsel itu ke tempat lain untuk mengaburkan waktu dan lokasi sebenarnya. Yang manapun, Yang Mulia, itu berarti TKP yang disajikan kepada kita bukanlah kebenaran. Dan saya punya saksi ahli yang akan membuktikannya."
Maya memanggil Dokter Renata ke kursi saksi. Dengan ketenangan seorang yang sudah puluhan tahun berhadapan dengan kematian, Dokter Renata menjelaskan tentang lebam mayat. Bagaimana darah mengendap di bagian tubuh terbawah setelah kematian. Bagaimana lebam di punggung korban membuktikan ia berbaring telentang berjam-jam, padahal ditemukan telungkup.
"Kesimpulannya, Dokter?" tanya Maya.
"Kesimpulan saya, berdasarkan ilmu forensik yang tidak bisa dibantah," kata Dokter Renata dengan suara yang jelas memenuhi ruangan, "Hendra Lim tidak dibunuh di gudang itu. Tubuhnya dipindahkan ke sana setelah ia mati di tempat lain. Tempat kejadian perkara yang menjadi dasar dakwaan ini adalah rekayasa."
Ruang sidang gemuruh. Wartawan berbisik panik, pena bergerak liar. Hakim mengetukkan palu meminta ketenangan. Pak Surya menatap Maya dengan mata berkaca-kaca, untuk pertama kalinya ada harapan di wajahnya.
Pram bangkit untuk membantah, dan di sinilah pertarungan sesungguhnya dimulai. Ia menyerang kredibilitas Dokter Renata, mengungkit pemecatannya dari kepolisian dulu. "Bukankah Anda dipecat karena tidak kooperatif, Dokter? Apakah ini balas dendam Anda terhadap institusi?"
Tapi Dokter Renata tidak goyah. "Saya tidak dipecat, Jaksa. Saya mengundurkan diri karena menolak menandatangani laporan palsu. Persis seperti laporan yang sedang Anda perjuangkan hari ini."
Skakmat. Pram terdiam, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya di ruang sidang, ia kehilangan kendali atas ceritanya. Maya melihatnya, dan ia tahu bahwa untuk sekejap, keseimbangan kekuasaan telah bergeser.
Tapi kemudian Pram melakukan sesuatu yang tidak diduga Maya. Ia tersenyum lagi. Senyum dingin itu kembali. "Yang Mulia, terlepas dari teori-teori menarik dari pembela, satu fakta tetap berdiri kokoh. Sidik jari terdakwa ada di senjata pembunuh. Tidak ada teori lebam mayat yang bisa menghapus itu. Terdakwa memegang pistol yang membunuh korban. Titik."
Dan dengan satu kalimat itu, ruangan kembali condong. Karena di mata orang awam, sidik jari adalah bukti yang tak terbantahkan. Maya menyadari bahwa kemenangan kecilnya tadi belum cukup. Selama sidik jari itu berdiri, Pak Surya masih akan jatuh.
Hakim menunda sidang. Saat Maya mengumpulkan berkasnya, Pram melewatinya dan berbisik tanpa menoleh, "Lumayan, untuk pemula. Tapi kamu belum menyentuh kartu truf-ku. Dan aku punya saksi yang akan menguburmu di sidang berikutnya."
Maya menatap punggung Pram yang menjauh. Saksi. Kartu truf. Ia tahu Pram tidak menggertak. Ada seseorang yang belum muncul. Seseorang yang Pram simpan untuk pukulan terakhir. Dan Maya harus menemukan siapa itu, sebelum sidang berikutnya, atau semua yang ia bangun hari ini akan runtuh dalam satu kesaksian.