Tiga hari menuju sidang lanjutan, Maya nyaris tidak tidur. Ia harus menemukan saksi rahasia Pram, dan ia harus menemukan siapa yang membunuh Hendra Lim sebenarnya. Dua pertanyaan itu, ia mulai yakin, memiliki jawaban yang sama.
Ia kembali ke benang merah yang ia tinggalkan. Proyek Cakrawala. Perselisihan Surya dan Hendra soal penjualan tanah ke investor asing. Pak Surya menolak, mencium sesuatu yang busuk. Maya menelusuri siapa investor itu. Setelah berhari-hari menggali dokumen perusahaan yang berlapis-lapis, ia menemukan satu nama yang terus muncul di balik perusahaan-perusahaan cangkang. Seorang pengusaha bernama Daniel Kusuma. Dan dalam catatan kepemilikan saham yang nyaris terkubur, Maya menemukan kejutan kedua: Daniel Kusuma adalah sepupu jaksa Pram.
Tangan Maya gemetar saat menyusun potongan-potongan itu. Hendra ingin menjual tanah Cakrawala ke Daniel dengan harga murah, terlalu murah. Surya menolak karena tahu ada yang tidak beres. Selama Surya hidup dan bebas, penjualan itu terhalang. Tapi kalau Surya dipenjara sebagai pembunuh, dan Hendra mati, siapa yang menguasai tanah miliaran itu? Dan siapa jaksa yang memastikan Surya dipenjara?
Motifnya bukan milik Surya. Motifnya milik orang lain. Pembunuhan Hendra dan penjebakan Surya adalah satu paket. Satu kejahatan, dua keuntungan: menyingkirkan Hendra yang mungkin sudah jadi beban, dan menyingkirkan Surya yang menghalangi.
Tapi Maya tahu, teori tanpa bukti hanyalah dongeng. Ia butuh seseorang yang ada di sana malam itu.
Jawaban datang dari arah yang tak terduga. Pak Karim, penjaga gudang yang ketakutan itu, menelepon Maya larut malam. Suaranya bergetar. "Bu Maya... cucu saya. Mereka mendatangi sekolahnya. Mereka cuma berdiri di pagar, melihat. Tapi saya tahu apa artinya." Lelaki tua itu terisak. "Saya tidak bisa diam lagi, Bu. Kalau saya diam, saya pengecut. Saya mau bicara. Saya mau jadi saksi Ibu."
"Apa yang Bapak tahu, Pak Karim?" tanya Maya, jantungnya berdebar.
"Orang yang menyuruh saya pulang malam itu. Saya berbohong waktu bilang tidak kenal dia. Saya kenal. Dia sering datang ke gudang menemui Pak Hendra. Namanya Pak Daniel. Dan malam itu, sebelum saya pulang, saya lihat dia datang bersama Pak Hendra ke gudang. Pak Surya sudah lama pergi waktu itu, Bu. Saya lihat mobil Pak Surya keluar jam setengah sepuluh. Daniel dan Hendra datang setelahnya."
Maya mencengkeram ponselnya. Inilah saksi yang ia butuhkan. Saksi yang menempatkan korban hidup di gudang bersama Daniel, jauh setelah Surya pergi. Saksi yang meruntuhkan seluruh dakwaan.
"Pak Karim, ini sangat penting. Bapak bersedia mengatakan ini di pengadilan, di depan hakim?"
Hening sejenak di ujung sana. Lalu, suara Pak Karim, gemetar tapi mantap. "Ya, Bu. Demi cucu saya. Saya tidak mau dia tumbuh besar dengan kakek pengecut."
Maya menutup telepon dengan tangan dingin. Ia mendapatkannya. Bukti yang akan membebaskan Pak Surya. Tapi ia juga tahu, kalau Pram dan Daniel sadar Pak Karim akan bersaksi, nyawa lelaki tua itu dalam bahaya. Ia harus melindunginya sampai sidang.
Tapi twist sesungguhnya datang keesokan paginya. Maya menerima berkas dari pengadilan, daftar saksi yang akan dihadirkan jaksa di sidang lanjutan. Dan di sana, di urutan teratas, tercantum satu nama yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
Saksi rahasia Pram, kartu trufnya, adalah Pak Karim.
Maya jatuh terduduk di kursinya. Pram mendaftarkan Pak Karim sebagai saksinya sendiri. Itu artinya Pram sudah lebih dulu mendekati, atau menekan, Pak Karim. Mungkin sejak lama. Pantas saja, pikir Maya, ketika ia membaca seluruh berkas penyidikan berhari-hari di kantor dulu, ia tidak pernah menemukan satu baris pun keterangan Karim yang memberatkan Surya; di BAP awal polisi, Karim hanya ditanya jam penemuan mayat, persis seperti yang lelaki tua itu ceritakan padanya. Keterangan "resmi" Karim yang menyebut ia melihat Surya membunuh ternyata baru dimasukkan belakangan, bukan lewat penyidikan polisi, melainkan lewat berkas tambahan yang diajukan jaksa menjelang persidangan, di luar map yang Maya pelajari. Pram menyimpannya rapat-rapat, menanamnya di waktu yang tepat agar tak ada yang sempat memverifikasi. Penjaga gudang itu sudah dipersiapkan sebagai kartu truf, untuk memberi kesaksian palsu yang menjebak Surya, dan baru sekarang, karena ketakutan akan cucunya, ia berbalik ke pihak Maya.
Dua versi Pak Karim akan bertabrakan di ruang sidang. Versi yang Pram persiapkan, dan versi kebenaran yang baru saja ia ceritakan pada Maya. Seorang saksi, dua cerita yang berlawanan. Dan siapa pun yang berhasil menguasai kesaksian Pak Karim di hadapan hakim, akan menentukan nasib Pak Surya.
Maya menatap nama itu di kertas, otaknya berpacu. Ini bukan lagi soal siapa yang punya bukti lebih banyak. Ini soal siapa yang akan menguasai detik-detik ketika seorang lelaki tua yang ketakutan membuka mulutnya di bawah sumpah. Dan Pram, dengan segala kekuasaan dan kelicikannya, akan melakukan apa saja untuk memastikan Pak Karim mengucapkan kata-kata yang ia inginkan.
Sidang lanjutan adalah besok. Maya hanya punya satu malam untuk memastikan kebenaran tidak dibungkam sebelum sempat diucapkan.