Pagi sidang lanjutan tiba dengan langit kelabu yang berat. Maya tiba di pengadilan dengan mata sembap, semalaman ia berusaha menghubungi Pak Karim untuk memastikan keselamatannya, tapi ponsel lelaki tua itu tidak aktif sejak tengah malam. Kegelisahan menggerogoti perutnya. Bayangan-bayangan buruk silih berganti di kepalanya: mobil hitam itu, ancaman di sekolah cucunya, tubuh tua yang begitu mudah dihilangkan.
Ruang sidang kembali penuh. Pak Surya tampak lebih kurus, tapi matanya kini menyimpan secercah harapan yang ia titipkan pada Maya. Pram duduk dengan ketenangan yang nyaris angkuh, map-mapnya tersusun rapi, senyumnya terkembang tipis. Ia yakin akan menang.
Hakim membuka sidang. "Penuntut umum, silakan menghadirkan saksi."
"Saya panggil saksi, saudara Karim," kata Pram.
Pintu ruang sidang terbuka. Pak Karim melangkah masuk dengan tubuh gemetar, dikawal petugas. Maya menahan napas, dan untuk pertama kalinya sejak tengah malam, ia bisa bernapas lega; lelaki tua itu hidup, di sini, aman. Saat Pak Karim melewatinya, ia berbisik cepat, nyaris tak terdengar, "Saya matikan ponsel semalam, Bu. Saya bawa cucu saya menginap di rumah keponakan saya di kampung, tidak ada yang tahu. Saya takut mereka melacak saya lewat telepon." Maya mengangguk samar, beban berton-ton terangkat dari dadanya. Lelaki tua itu mencari-cari di kerumunan, dan saat matanya bertemu mata Maya kembali, ada sesuatu di sana, ketakutan, tapi juga tekad. Maya mengangguk pelan. Bicaralah jujur. Saya lindungi Bapak.
Pram berdiri, suaranya halus seperti beludru. "Saudara Karim, Anda penjaga gudang Marunda. Tolong ceritakan, apa yang Anda lihat pada malam kejadian. Apakah benar Anda melihat terdakwa, Surya Wijaya, berada di gudang malam itu?"
Seluruh ruangan menunggu. Pak Karim menelan ludah. Ia menatap Pram, lalu menatap Pak Surya, lalu Maya. Tangannya yang tua bergetar di atas pegangan kursi saksi.
"Ya," kata Pak Karim pelan. "Saya melihat Pak Surya datang ke gudang malam itu."
Jantung Maya seakan berhenti. Wajah Pram melebar dalam senyum kemenangan. Pak Karim sudah ditekan. Ia memberi kesaksian yang Pram inginkan. Pak Surya menunduk, harapan padam dari wajahnya.
Tapi Pak Karim belum selesai.
"Saya melihat Pak Surya datang... dan saya melihat Pak Surya pergi," lanjut lelaki tua itu, suaranya menguat sedikit demi sedikit. "Mobilnya keluar dari gudang jam setengah sepuluh malam. Saya yakin, karena saya catat di buku jaga. Setelah itu, gudang kosong. Pak Surya tidak ada lagi di sana."
Senyum Pram membeku.
"Lalu," suara Pak Karim mulai bergetar oleh emosi yang terlalu lama ditahan, "datang orang lain. Pak Daniel Kusuma. Bersama Pak Hendra yang masih hidup. Itu sekitar jam sepuluh. Pak Daniel yang menyuruh saya pulang malam itu, kasih saya uang, suruh saya jangan kembali sampai pagi. Saya pulang. Tapi sebelum pulang, saya lihat mereka berdua masuk ke gudang. Pak Hendra masih hidup. Dan Pak Surya sudah lama pergi."
Ruang sidang meledak. Wartawan berlompatan, blitz kamera memecah seperti badai. Hakim mengetuk palu bertubi-tubi. "Tenang! Tenang di ruang sidang!"
Pram bangkit, wajahnya yang biasa dingin kini merah padam. "Yang Mulia, saksi berubah keterangan! Ini... ini kesaksian yang sudah dipengaruhi oleh pembela! Saya minta kesaksian ini dianulir!"
"Saya tidak dipengaruhi siapa-siapa," potong Pak Karim, suaranya kini lantang, suara seorang lelaki tua yang akhirnya melepaskan beban berton-ton. "Saya yang dipaksa berbohong! Orang-orang suruhan datang ke rumah saya, mengancam cucu saya, menyuruh saya bilang Pak Surya yang membunuh! Keterangan yang Jaksa ajukan itu bukan saya yang buat dengan sukarela. Tapi saya tidak mau mati membawa dosa orang lain! Yang saya katakan hari ini adalah kebenaran, demi Tuhan!"
Maya berdiri, suaranya menembus kegaduhan. "Yang Mulia! Kesaksian ini, digabung dengan bukti forensik lebam mayat, dengan data lokasi ponsel korban, dengan kejanggalan sidik jari, dan dengan fakta bahwa Daniel Kusuma, satu-satunya orang yang berada di gudang bersama korban yang masih hidup, memiliki motif keuangan miliaran atas tanah proyek Cakrawala, semua ini membuktikan bahwa negara tidak pernah benar-benar membuktikan kesalahan klien saya. Sebaliknya, semua ini membuktikan bahwa klien saya, Surya Wijaya, dijebak!"
Pram berteriak menyangkal, tapi suaranya tenggelam. Hakim mengetukkan palu, wajahnya keras. "Sidang ditunda. Mengingat kesaksian baru dan dugaan rekayasa bukti yang serius, pengadilan memerintahkan penyelidikan ulang dan memanggil Daniel Kusuma untuk diperiksa. Putusan akan dibacakan setelah pemeriksaan lanjutan!"
Di tengah kekacauan itu, Pram menatap Maya menyeberangi ruangan. Tidak ada lagi senyum dingin. Hanya tatapan dingin penuh dendam, tatapan seseorang yang baru saja melihat karier dan ambisinya retak di depan mata. Ia mendekat, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar Maya.
"Kamu pikir kamu menang? Daniel itu cuma bidak, sama sepertimu. Di atasnya ada orang-orang yang tidak akan pernah duduk di kursi terdakwa. Kamu baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup, Maya. Dan kamu tidak tahu apa yang ada di baliknya."
Maya menatap mata Pram, dan untuk pertama kalinya ia tidak gentar. "Mungkin tidak. Tapi setidaknya sekarang pintunya terbuka. Dan saya tidak akan berhenti sampai semua yang bersembunyi di balik bayangan diseret keluar ke cahaya."
Malam itu, sebuah surat resmi dari organisasi advokat tiba di firma. Maya dilaporkan ke dewan etik atas tuduhan, yang ia tahu palsu, "mempengaruhi saksi." Izin praktiknya terancam dicabut. Pram dan kekuatan di belakangnya tidak akan membiarkannya menang tanpa membayar harga. Karier muda Maya, yang baru saja menyala, kini berdiri di ujung tanduk.
Bu Hartati menatap surat itu dengan wajah cemas. "Maya, ini serius. Kamu bisa kehilangan segalanya. Kariermu baru dimulai."
Maya memandang surat itu lama. Lalu ia teringat Arman di balik jeruji, Pak Surya yang menunggu putusan, Pak Karim yang akhirnya berani jujur, Dokter Renata yang kehilangan pekerjaan demi kebenaran sebelas tahun lalu. Ia melipat surat itu dan meletakkannya di samping secarik kertas ancaman yang dulu ia simpan.
"Kalau harga dari memastikan negara tidak menghukum orang tanpa bukti adalah karier saya," kata Maya pelan, suaranya tenang, "maka itu harga yang akan saya bayar. Tapi mereka keliru kalau mengira mengambil izin saya akan membungkam saya, Bu. Karena sekarang saya tahu satu hal yang tidak mereka tahu."
Bu Hartati mengernyit. "Apa itu?"
Maya menatap jendela, ke arah lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan, kota yang menyimpan begitu banyak rahasia di balik gedung-gedung mengkilapnya.
"Daniel Kusuma menelepon saya satu jam yang lalu. Dia ketakutan. Dia bilang dia tidak mau jadi tumbal sendirian. Dia bilang dia punya nama. Nama orang yang memerintahkan semuanya. Orang yang jauh lebih besar dari Pram." Maya berbalik, matanya berkilat oleh tekad yang baru. "Dan besok pagi, dia akan menemui saya untuk menyerahkannya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Pak Surya bebas. Pertanyaannya adalah, apakah Daniel Kusuma akan sempat hidup sampai besok pagi."
Di luar, hujan mulai turun deras membasahi kota. Dan di suatu tempat dalam gelap, sebuah telepon berdering, sebuah perintah dibisikkan, dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.