Bima Edan
Pendekar Pedang Geni
********************
Eyang Kendil yang sedang memegang sebilah pedang yang berkilauan dan tidak terlalu panjang sekitar empat jengkal tangan orang dewasa berkata kepada Bima.
"Bocah edan kemari kau...!"ucap sang Eyang.
"Baik eyang" sahut Bima.
"Kau lihat pedang ditangan Eyang ini edan? Pedang ini bernama Pusaka Geni tapi rimba persilatan memberikan nama Pedang Geni. Eyang selalu menyuruh kau berlatih dengan pedang kayu menyempurnakan jurus pedang dewa karena inilah alasannya. Pedang ini bukanlah pedang mustika biasa Bima, melainkan sangat ditakuti oleh golongan hitam karena sudah berpuluh-puluh korban yang binasa karena pedang ini. Pedang ini dinamakan Pusaka Geni karena tidak sembarang orang dapat memegang pedang ini, karena pedang ini seperti memiliki roh tersendiri yang dapat menentukan siapa yang dapat memegangnya. Barangsiapa yang memiliki hati culas dan tidak tulus saat orang tersebut menyentuh pedang ini maka akan keluar dari badan Pedang jilatan-jilatan api yang akan menghanguskan orang tersebut terlebih saat orang tersebut memaksakan diri dengan mengerahkan tenaga dalam maka yang akan keluar dari badan Pedang berbentuk kobaran api yang dapat melelehkan apapun terlebih orang yang memiliki hati dan niat jahat, akan tetapi jika orang tersebut berjodoh dengan pedang ini maka pedang ini akan melindungi sang pemilik disaat-saat yang genting dan berbahaya. Bima coba kau perhatikan pedang ini!" ucap Sang eyang lalu dari mulutnya membacakan sesuatu tiba-tiba sesuatu terjadi pedang tersebut menyala laksana api.
Bima kaget dan melompat menjauh.
"Eyang pedang tersebut....!"ucap Bima dengan perasaan kaget.
Sang Eyang tersenyum.
"Bagi musuhmu akan merasakan hawa panas yang sangat menyengat tapi bagi pemiliknya yang akan dirasakannya adalah hawa yang sangat sejuk dan membawa ketenangan bagi dirinya. Saat engkau merapal ajian pusaka geni dan menyalurkan tenaga dalammu pada pedang ini maka badan Pedang yang awalnya akan berkilauan akan berubah menjadi merah laksana api yang menghantarkan hawa panas pada musuh dan saat musuhmu menangkis pedang tersebut maka kekuatan pada pedang ini akan menyedot tenaga pada lawanmu sehingga lambat laun lawanmu akan menjadi melemah tanpa mereka sadari. Satu lagi kehebatan pedang ini apabila engkau menyentuhkan pedang ini pada seseorang yang terkena racun sejahat apapun racun tersebut akan dapat disedot oleh pedang ini tanpa engkau menyalurkan tenaga dalammu dan racun tersebut akan menempel pada badan pedang, engkau tinggal meniupnya maka pedang ini akan kembali seperti semula. Bima sangat memperhatikan dengan seksama setiap perkataan dan penjelasan sang guru dan mengingatnya.
Eyang Kendil menatap sang murid yang diam terpana lalu tersenyum dan berkata.
"Sentuhlah pedang ini Bima!" Perintah sang eyang.
Bima masih tertegun belum berani bergerak untuk menyentuh pedang tersebut.
"Tapi eyang......apabila pedang ini menolak maka aku akan......"ucap Bima yang tidak mau meneruskan perkataannya.
"iya Kowe akan terbakar oleh pedang ini tapi kalau engkau tidak mencobanya engkau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada dirimu"ucap sang eyang.
Bima menguatkan hatinya dan melangkah perlahan kearah pedang yang terulur ditangan Sang Eyang.
Saat Bima menyentuh gagang pedang Bima tersentak ada suatu kekuatan yang hebat mengalir melalui badan Pedang masuk ke tubuhnya.
Bima merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, sesuatu yang sangat dahsyat dia merasakan tubuhnya sangat ringan kekuatan tenaga dalamnya bertambah.
Sang eyang lanjut berkata,"sepertinya Pedang Geni suka akan dirimu bocah edan, lihatlah badan Pedang sangat berkilauan ditanganmu"ucap sang eyang.
Setelah sang guru mengajarkan ajian pusaka geni untuk dilafalkan, sang guru berkata,"coba kau alirkan tenaga dalammu sekarang Bima!" Perintah sang eyang.
Tiba-tiba badan pedang yang awalnya berkilauan menjadi merah laksana api yang menghanguskan tetapi Bima hanya merasakan kesejukan disekujur tubuhnya.
"Coba kau mainkan jurus pusaka dewa yang setiap saat kau latih!"perintah sang eyang.
"Baik eyang" kata Bima.
Dengan pedang ditangannya Bima memainkan jurus pusaka dewa yang sudah sangat sempurna dikuasainya.
Sang eyang sangat puas melihat apa yang diperagakan Bima.
Lalu sang eyang berkata,"Bima coba kau gabungkan aji Geni Wisesa dengan pedang ditanganmu!"perintah sang eyang kepadanya.
Saat Bima merapal aji Geni Wisesa selain tangannya menjadi semerah saga pada pedang Geni terjadi perubahan yang lebih hebat terjadi badan Pedang kobaran api yang besar disekujur badan Pedang membuat Bima tersentak tapi Bima tidak merasakan hawa panas sama sekali.
"Bocah edan hantam pohon disebelah sana ulurkan pedang tersebut dan hantam"perintah sang guru.
Kobaran api yang sangat besar melesat keluar dari badan pedang dan menghancurkan pohon hingga hancur berkeping-keping. .
Bima ternganga melihat apa yang terjadi.
"Cukup Bima hentikan aliran tenaga dalammu"ucap sang eyang.
Saat Bima menghentikan aliran tenaga dalamnya maka sang pedang kembali ke bentuk semula berkilauan ditempa sinar matahari pagi.
Masukkan pedang tersebut kedalam sarung ini"perintah sang guru.
Pada badan sarung terlihat gambar seekor naga yang dikelilingi oleh cahaya api.
Bima memasukkan pedang tersebut kedalam sarungnya.
"Bima selepas kau membersihkan dirimu datanglah ke pondok eyang tunggu disana"ucap sang eyang..
"Baik eyang"ucap bima lalu Bima menyerahkan kembali pedang tersebut ke gurunya.
*****
Didepan sebuah pondok terlihat dua orang yang sedang duduk berhadapan.
Si pemuda duduk bersila didepan sang guru.
"Bima setelah kau meninggalkan tempat ini dipuncak gunung salak. Kenakanlah pakaian ini..."ucap sang guru lalu sang mengangsurkan seperangkat pakaian yang berwarna putih dengan ikat kepala putih kepada sang murid dan pedang pusaka geni diserahkan kepada muridnya.
"Jaga baik-baik pusaka ini Bima seperti engkau menjaga nyawamu! Jadilah seorang pendekar yang membela hak orang lemah, membantu yang susah dan memberantas kejahatan. Sekarang itu adalah tugasmu Bima dan setelah engkau meninggalkan tempat ini kenalkanlah dirimu dengan nama BIMA EDAN. Eyang mau lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta meminta pengampunan terhadap kesalahan yang pernah eyang lakukan sepanjang hidup eyang"ucap sang guru.
"Apakah kita akan bertemu kembali, eyang?" Kata Suma yang tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya karena eyang Kendil yang merawatnya sampai sebesar ini.
Sang eyang mengelus rambut sang murid.
"Bocah edan selama langit masih biru dan gunung salak ini masih tetap hijau kita pasti akan bertemu kembali"ucap sang guru..
Bima meraih tangan sang eyang dan menciumnya dengan penuh hormat.
"Sudah jangan cengeng jadilah laki-laki yang kuat dan kau seorang pendekar yang tidak sembarang orang bisa menandingi mu Bima, eyang mau masuk ke pondok eyang lelah mau istirahat setelah itu kau boleh meninggalkan tempat ini!"ucap sang eyang.
"Baik eyang"ucap bima dengan perasaan sedih yang mendalam.
Setelah eyang Kendil menutup pintu dari dalam karena sang eyang tidak sanggup menahan air mata yang jatuh kepipinya sambil mendoakan sang murid agar selalu dalam penjagaan yang Kuasa dan menjadi pendekar yang akan mengharumkan namanya dan memberantas keangkaramurkaan dimuka bumi.
Sang pemuda yang sudah memakai pakaian ringkas putih-putih dengan pedang yang menempel dipunggungnya berdiri didepan pondok sang guru.
Sang murid dengan perasaan sedih hanya menatap pintu pondok dan tidak berniat mengganggu sang guru.
Dalam hati si pemuda mendoakan sang nenek agar senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang oleh Yang Maha Kuasa.....
Bersambung...