BIMA EDAN
PENDEKAR PEDANG GENI
****************************
Desa Jati Asih adalah sebuah desa yang sangat makmur di daerah timur pada saat itu.
Sebagian besar penduduknya menjalani pekerjaan sebagai petani.
Didepan sebuah kedai makan yang terlihat cukup luas berdiri seorang pemuda berpakaian putih ringkas dan ada benda yang tergantung dipunggungnya.
Pemuda itu berdiri sambil menggaruk-garuk kepalanya di depan sebuah kedai yang cukup besar tapi belum ada satupun pengunjung yang datang.
Terdengar bunyi pada perutnya, "Dasar perut sialan tidak bisa diajak kerjasama" ngomel sang pemuda.
Selepas turun gunung seingatnya dia hanya makan sepotong ubi rebus dan segelas air.
Sambil senyum-senyum sendiri dia mengelus-elus perutnya. "Pantas....pantas...."gumam si pemuda.
Bima memeriksa persediaan uang yang dia bawa.
Sambil melihat uang tersebut, dia berkata kepada dirinya sendiri, "apakah cukup ya?"gumamnya sambil menggaruk kepala.
"Ah lihat nanti saja" gumam si pemuda.
Bima melangkahkan kakinya kedalam kedai dan menuju kesalah satu meja kosong disudut dalam kedai tersebut. Perut yang sangat lapar dan tenggorokan yang kering dahaga membuatnya tidak ambil pusing untuk apapun yang terjadi nanti.
Seorang perempuan setengah baya menghampiri si pemuda. Perempuan ini memakai pakaian yang dipotong cukup rendah pada bagian d**a sehingga membuat sepasang gunung kembarnya yang besar montok dan putih hampir mencuat keluar ditambah celana yang dikenakan tergantung diatas lutut menampilkan paha yang putih bersih membuat setiap mata lelaki tidak bosan-bosan memandangnya bahkan tidak sedikit pengunjung biasanya yang curi-curi pandang kepadanya saat ia melewati mereka membawakan makanan untuk pesanan pengunjung.
Nyi Laras namanya.
"Mau makan apa den?" tanya nyi Laras.
Bima memperhatikan sosok nyi Laras dan meneguk air liurnya biar bagaimanapun Bima adalah seorang lelaki yang tidak pernah melihat pemandangan seperti itu dan tergerak juga matanya untuk melihat sosok yang sangat indah didepannya. "Aden mau makan apa?"tegur sang pemilik kedai sambil tersenyum.
Bagi sang pemilik kedai diperhatikan seperti itu sudah hal yang biasa dalam hidupnya. "Mmmmmh....apa...."ucap Bima tergagap.
"Aden mau makan apa?" Ulang sang pemilik kedai.
"Oh iya Nyi perut saya lapar sekali tapi jujur saya tidak bawa banyak uang, sajikan saja makanan yang murah nyi asal perut saya bisa diisi!"Sahut Bima.
"Panggil Nyi Laras saja kisanak. Aden sepertinya bukan penduduk sini ya?"tanya nyi Laras.
"Iya Nyi saya seorang pengembara yang membiarkan kaki ini membawa saya ketempat yang dia suka"ucap bima dan Nyi Laras hanya bisa manggut-manggut.
Nyi Laras melangkah kedalam untuk menyiapkan pesanan makanan yang dipesan sang pemuda.
Tidak berapa lama nyi Laras kembali dengan membawa sebakul nasi yang masih mengepulkan uap dan sepotong ikan goreng ditambah sekendi air minum.
"Terima kasih Nyi Laras"ucap si pemuda.
Setelah nyi Laras meletakkan semua pesanan dimeja sang pemuda, sambil tersenyum dia berkata, "silahkan makan, nak"ucapnya.
Bima tidak bisa menahan hati lagi melihat makanan tersebut, dia langsung menyantapnya dengan bunyi yang sangat keras.
Nyi Laras yang melihat hal tersebut hanya geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba masuklah dua orang berpakaian hitam dan menenteng sebilah golok didalam sarung duduk dibagian meja paling depan sambil mengangkat kaki sehingga Bima dapat melihat jelas perawakan kedua orang ini. Orang yang baru masuk itu memelihara cambang bawuk yang meranggas dan salah seorang dari mereka ada bekas luka yang cukup panjang dipipinya sedangkan satunya bertubuh gempal dengan cambak bawuk meranggas dan terlihat sangat kasar.
"Nyi bawakan kami makanan yang terlezat disini, cepat.."teriak si codet.
Tidak lama kemudian muncul nyi Laras dengan gemetar membawakan sebakul besar nasi dan ayam goreng utuh. "Lama benar nyi..."bentak si gempal sambil tangannya merayap menyentuh dan mengusap paha nyi laras yang putih menggoda.
Nyi Laras membiarkan saja tangan tersebut mengelus pahanya tanpa berani menegurnya.
"Mau minum apa kisanak?" kata nyi Laras dengan gemetar. "Bawakan kemari segentong besar tuak yang paling enak"perintah lelaki itu.
"Sa...saya akan segera bawakan kemari" sahut nyi laras sambil melangkah kedalam untuk menyiapkan pesanan tersebut.
Tidak lama kemudian nyi Laras kembali dengan membawa segentong tuak besar yang berbau harum.
"Silahkan disantap kisanak"ucap Nyi Laras.
Bima memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh kedua cecunguk tersebut lalu berkata, "Nyi saya sudah selesai berapa yang harus saya bayar?"ucap bima.
Nyi Laras menyebutkan harga yang harus di bayar.
"Aduh nyi saya sudah bilang jangan mahal-mahal"ucap si pemuda.
"Itu sudah yang paling murah kisanak"ucap Nyi Laras.
Tiba-tiba si codet tertawa terbahak-bahak.
"Monyet gondrong kalau tidak punya uang jangan makan disini masuk hutan cari makanan disana"ucap si gempal pun tertawa terbahak-bahak sehingga paha ayam yang sedang digeragot terlempar keluar.
"Monyet kau mau uang tidak?"kata si codet.
"Mau saja kalau dikasih...." kata Bima.
"Siapa namamu gondrong?" si gempal bertanya.
"Bima..." kata si pemuda,
"Bima apa....!" Bentak sicodet.
"Bima Edan"sahut si pemuda. "Apa....edan....!!!"sahutnya.
"Hahahaha..."kedua bewok ini tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata hanya monyet edan..."ucapnya.
Bima hanya tersenyum.
"Kalau kau mau uang berlutut dan pungut makanan yang jatuh ditanah"ucapnya.
Kedua orang ini tertawa terbahak-bahak.
Bima merogoh kantong dan mengambil uang kepengan yang kecil lalu tanpa terlihat oleh mata siapapun, Bima melemparkan 2 uang tersebut ke pangkal leher kedua bewok tersebut sehingga tiba-tiba suara tertawa mereka menghilang.
Ternyata Bima menotok kedua orang tersebut dengan totokan jarak jauh yang lihai.
Sehingga tampang mereka berdua terlihat sangat lucu dengan mulut yang terbuka.
Si codet sedang memegang kepala sedangkan si gempal sedang mengangkat kedua tangannya.
Nyi Laras yang melihat hal itu sangat kaget dan tanpa dia sadari pemuda tampan tersebut ternyata seorang pendekar.
"Apa yang sudah kau lakukan terhadap mereka?"tanya nyi Laras.
"Hanya memberikan sedikit pelajaran sopan santun nyi agar lain kali bisa hati-hati dalam bersikap"ucap si oemuda. "Sampai kapan mereka akan seperti itu?"kejar nyi laras. "Tepat tengah hari mereka sudah akan lepas dari totokan tersebut, jangan khawatir nyi"ucap pemuda itu.
Lalu Bima berkata kembali, "Nyi Laras ada yang ingin aku tanyakan kepada nyi, apakah nyi tahu dimana letak pekuburan Jati Asih?"tanya si pemuda.
"Untuk apa kau kesana?"tanya nyi Laras.
"Ada makam tua yang ingin aku cari disana nyi makam kerabatku"ucap si oemuda.
"Ooh..." nyi Laras mengangguk. "Dari kedai ini kau terus saja sampai ketemu pertigaan lalu kearah kiri kau nanti akan menemukan pematang sawah yang cukup besar, ikut saja jalan setapak yang ada diujung jalan lalu belok kanan kau akan menemukan tempat yang kau cari. Tempat itu sudah sangat tua jarang ada yang mau memakamkan kerabatnya disana karena sudah tidak terurus"ucap Nyi Laras.
"Terima kasih Nyi atas keterangannya semoga kita bisa bertemu kembali nyai yang cantik"ucap si pemuda.
Nyi Laras merasakan pipinya dikecup seseorang saat dia memandang pemuda tersebut nyatanya pemuda tersebut sudah tidak berada dihadapannya lagi.
Sambil mengelus pipinya yang tadi dikecup dia tersenyum dalam hati dia berkata, "sekalipun pemuda itu minta lebih dari ini aku dengan rela hati memberikan apa yang dia mau....hehehehe..."ucap Nyi Laras sambil senyum-senyum sendiri.
Bersambung...