Pekuburan Jati Asih....Bima melihat ada papan kecil bertuliskan tempat tersebut. Bima melangkah kedalam pekuburan dan melihat puluhan makam yang sudah tidak terurus oleh pemiliknya.
Ada seorang kakek tua sedang mencabuti rumput disebuah makam tua.
Bima mendekati kakek tersebut dan bertanya, "apakah kakek penjaga tempat ini?"tanya Bima.
Si kakek menoleh kebelakang sambil mengangguk.
"Ada apa nak? Makam siapa yang kau cari?"tanya si kakek penjaga makam.
"Tujuh belas tahun yang silam ada wanita muda yang dimakamkan ditempat ini kek"ucap pemuda itu.
"Tujuh belas tahun...."si kakek menggumam sendiri, otaknya bekerja keras untuk mengingat setiap kejadian yang ada.
"Itu waktu yang sangat lama nak makam siapa yang kau cari?"ucap Si kakek mengulangi pertanyaannya.
"Namanya Harnum Suciwati kek"ucap pemuda itu.
"Apa...."si kakek tersentak kaget.
"Apa hubunganmu dengan perempuan itu?" tanya kakek penjaga makam.
"Saya sendiri belum tahu kek dan saya saat ini sedang mencari jati diri saya kek dan hanya wanita tersebut yang dapat membuka simpul masa lalu saya"ucap si pemuda.
"Apa maksudmu anak muda?"tanya si orang tua.
"Saat saya ditemukan oleh seseorang dalam keadaan masih orok, orang tersebut menemukan wanita yang tergantung tidak jauh dari tempat saya ditemukan"ucap pemuda itu.
"Jadi....jadi.....kau adalah...."Si kakek menangis tersedu-sedu.
Bima yang semakin bingung dengan apa yang terjadi bertanya kepada si kakek, "kek kenapa kau menangis? apa hubunganmu dengan perempuan tersebut?"tanya si pemuda.
Si kakek dengan perasaan haru dan menahan goncangan dalam hatinya berkata bahwa perempuan yang sedang kau cari adalah anaknya sendiri....!!ucap si orang tua.
Bima terkaget dengan pernyataan si kakek.
Begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba timbul di hati Bima tapi pemuda itu tetap mengatupkan mulutnya untuk tidak mengutarakannya dia ingin mendengar penjelasan dari kakek tua tersebut sejelas-jelasnya yang bisa membuka jati dirinya.
"Nama anak siapa?"tanya orang tua itu.
"Saya Bima kek!"ucap si pemuda.
"Bima mari ikut kakek ke pondok sebelah sana. Kakek akan menceritakan semuanya yang kakek tahu kepada nak Bima"ucap si kakek.
"Baiklah kalau begitu mari kek kita kesana"ucap bima.
Sambil melangkah bima memegang tangan si kakek yang sudah sulit untuk melangkah.
***
"Kira-kira tujuh belas tahun silam..."si kakek memulai ceritanya.
Tepat tengah hari tiba-tiba pekarangan rumah kepala desa Jati Asih didatangi oleh empat orang bertampang bengis, mereka memelihara janggut dan berewok yang meranggas seraya memanggil dengan kasar kepala desa untuk keluar. "Surya Atmaja keluar kau atau kami yang akan dobrak!"... Tiba-tiba pintu dibuka dan keluarlah dua orang lelaki yang satu masih muda dan yang satu berumur hampir setengah abad. "Ada apa kisanak-kisanak ini mencariku?"kata Surya Atmaja sebagai kepala desa tersebut.
"Mmmmh jadi ini tampang monyet yang membangkang tidak mau menyerahkan upeti kepada kami!"Umpat Warok Ireng.
"Saya sudah pernah menyampaikan kepada kalian semua bahwa penduduk desa Jati asih bukanlah penduduk yang mapan dan setiap bulan kami harus menyerahkan pajak kepada tumenggung kalau kami memberikan kepada kalian juga kami semua mau makan apa?"ucap kepala desa.
"Cuih.....bangsat... dengar.... kami tidak peduli kalian membayar pajak kepada tumenggung atau raja sekalipun dan kami juga tidak peduli kalian mau makan atau tidak yang pasti upeti harus kalian serahkan kepada kami kalau kau sebagai kepala desa masih menyayangkan jabatan dan nyawamu"ucap orang tersebut.
Dengan menahan geram kepala desa mengepalkan tangannya. "Kalau memang nyawa saya dapat menyelamatkan penduduk kampung ini saya pasrah...."ucap sang kepala desa.
"Jadi kau tetap tidak mau menyerahkan upeti tersebut haaaa..." kata Warok Anom.
Warok bajing yang punya sifat berangasan dan pemarah langsung mendamprat.
"Jadi kau ingin golokku ini berbicara dulu baru kau mau menyerahkan upeti itu?"ancam sang warok.
"Kalau memang seperti itu apa boleh buat"tantang kepala desa.
Surya Atmaja sempat belajar silat satu dua jurus sebelum dia menjadi kepala desa.
Surya Atmaja berkata kepada lelaki disebelahnya.
"Ayah bawa Harnum dan anakku dari sini larilah ke hutan dan bersembunyilah disana biar saya yang akan menghadapi mereka apapun yang terjadi jangan pernah kembali kesini. Cepat ayah" desak Surya saat dia melihat salah seorang dari mereka turun dari kuda dan menghampirinya.
Ayah Surya langsung masuk kebelakang dan berkata kepada Harnum untuk segera pergi dari rumah lewat pintu belakang. "Tapi ayah bagaimana dengan kang Surya?"ucap perempuan muda itu.
"Jangan terlalu memikirkan suamimu Harnum yang penting kau dan anakmu selamat"ucap sang ayah.
"Tidak ayah.....biar bagaimanapun saya akan mendampinginya sekalipun nyawa saya taruhannya"ucap harnum.
"Harnum kamu jangan keras kepala seperti ini kamu tidak tahu siapa mereka dan bagaimana kejamnya mereka kepada siapapun yang menentangnya mereka perampok b******n Dari Timur"ucap sang ayah meminta pengertian harnum.
"Tapi ayah....."bantah harnum kembali.
"Tidak ada tetapi Harnum cepat kau bawa anakmu dan ikut ayah, kita menyingkir ke hutan. Setelah keadaan aman kita kembali kesini"perintah sang ayah.
Lalu Harnum menggendong anaknya yang sedang tertidur pulas dan melarikan diri lewat pintu belakang.
Tidak begitu jauh setelah mereka masuk ke hutan terdengar suara teriakan yang menggidikkan hati.
Harnum tiba-tiba berhenti dan berkata, "itu suara kang Surya ayah, kang Surya ayah...."ucap harnum sambil menangis.
"Jangan berhenti Harnum terus jalan"ucap sang ayah.
"Kang Ireng mereka melarikan diri" teriak Anom.
Lalu Warok Ireng memberi perintah ....."bajing....sanca lekas kejar mereka biar kakang dan Anom akan membakar tempat ini bersama dengan b******n yang sudah jadi mayat itu"perintah sang warok.
Ayah Harnum melihat sekilas tampak jenazah Surya terbacok di bagian d**a dan leher dan mereka melemparkannya ke dalam rumah tampak air mata menetes dipipinya melihat pemandangan itu sambil menguatkan hatinya dia menarik tangan Harnum untuk lebih cepat berlari.
Secepat apapun mereka berlari terlebih seorang perempuan biasa yang sedang menggendong bayi yang terlelap pasti cepat atau lambat akan terkejar.
Harnum menyadari hal itu saat dia melihat semak belukar yang cukup lebat dibelakang pohon besar yang tidak terlihat lalu Harnum meletakkan bayi yang sedang terlelap tersebut dengan sangat hati-hati sambil menciumnya berulang-ulang sepertinya Harnum punya firasat bahwa ini adalah hari terakhir dia bisa menatap anaknya tersebut lalu menutupnya dengan semak sehingga tidak terlihat.
Harnum menatap bayinya untuk terakhir kali dengan berlinangan air mata.
Sang ayah memegang pundaknya dan berkata, "biarkan takdir yang akan menentukan jalan hidupnya. Harnum ayo kita pergi"ucap sang ayah.
Tidak jauh setelah mereka meninggalkan bayi tiba-tiba melesat turun dua orang dari atas pohon dengan sikap menghadang.
"Ck...ck..ck ternyata bidadari yang sedang kita buru sanca" kata bajing.
Sambil meneguk air liurnya berulang-ulang melihat kemolekan dan kemontokan tubuh perempuan dihadapan mereka berkulit putih bersih, tubuh montok dan berdada besar membuat mereka ingin segera memperkosanya.
Ayah Harnum maju kedepan dan berkata, "bangsat....pergi kalian... tidak cukupkah kalian membunuh suaminya?"ucap sang ayah.
Bajing menatap sanca lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Siapapun yang menghalangi kami akan kami bunuh begitupun dengan kau b******n tua"ancam warok tersebut.
Ayah Harnum menghunus golok yang dia bawa dan dengan secepat kilat menyabetkan golok tersebut kearah d**a kedua orang tersebut.
Mendapatkan serangan yang tiba-tiba bajing dan sanca menghindar ke belakang menghindari sabetan golok lalu kaki bajing menderu kearah badan golok sehingga golok tersebut patah dua.
Ayah Harnum melihat kenyataan tersebut melemparkan patahan golok yang masih berada ditangannya ke arah bajing.
Dengan mudahnya sang Warok menghindari serangan tersebut lalu menangkap patahan gagang golok dan melemparkan ke arah lelaki tersebut tepat menancap diperutnya.
Setelah dilihat lelaki tersebut tersungkur tidak bergerak mereka menyangka orang tersebut sudah meninggal, mereka langsung menangkap Harnum yang sedang berlari menuju ayahnya yang tersungkur bersimbah darah.
"Ayah jangan tinggalkan Harnum...."jeritnya histeris. "Pergi kalian bangsat... dasar binatang jangan sentuh aku...."ucap harnum.
Dimaki seperti itu tidak membuat mereka marah malah tertawa terbahak-bahak dan semakin beringas menjadi-jadi.
Sanca mulai merobek kain pakaian Harnum yang mulai berontak memukul sanca tapi tidak dipedulikannya bagi sanca pukulan tersebut sebagai penyemangat untuk segera menuntaskan birahinya dan tidak butuh waktu lama hampir semua kain penutup tubuh Harnum sudah terkoyak sehingga kedua p******a Harnum terpampang didepan mereka dengan buasnya mereka merobek sisa kain yang masih melekat pada tubuh Harnum sehingga tidak ada satupun kain yang masih melekat.
Tubuh Harnum yang tidak tertutup selembar benangpun dan dengan sangat ketakutan mencoba menutupi bagian-bagian aurat yang terlarang dengan tangannya sambil memohon supaya mereka tidak menjamahnya lagi, tapi kalau otak mereka sudah rusak dengan kemesuman dan nafsu setan menggerogoti pikiran tidak akan pernah punya perasaan kasihan terhadap orang yang memelas.
Bajing dan sanca berusaha menggagahi perempuan tersebut tapi tiba-tiba ada suara yang menggelegar ditengah hutan.
"Bajing...sanca berani kowe meneruskan niat kalian berarti kematian menunggu kalian!"ucap sang warok.
"Maafkan kelancangan kami kakang yang sudah berani mendahului kakang"ucapnya.
"Bajing, sanca, Anom pegang perempuan itu biar kakang yang menggagahinya terlebih dahulu setelah itu kalian"perintah sang warok.
Harnum yang mendengar hal itu semakin ketakutan.
"Pergi kalian iblis....setan....jangan sentuh aku...."ucap harnum dengan penuh ketakutan.
Ireng membuka ikatan celananya dan mulai menggagahi perempuan tersebut.
Teriakan kesakitan Harnum terdengar ditengah hutan tanpa ada seorangpun yang bisa menolongnya.
Keempat b******n tersebut terus menggagahi perempuan tersebut sampai jatuh pingsan. Setelah selesai mereka melampiaskan nafsu setan mereka, Ireng menyalurkan tenaga dalamnya dan memukul kepala perempuan tersebut sampai rengkah.
Bajing, sanca dan Anom yang melihat hal itu hanya terkekeh karena bukan kali yang pertama mereka melihat kelakuan pemimpin mereka.
"Bajing, sanca gantung perempuan ini dan cepat kita tinggalkan tempat ini"perintah sang ketua warok.
*****
Bima setelah mendengar penuturan tersebut, air mata jatuh dipipinya tapi dia tetap harus tegar.
"Jadi kau adalah kakekku sendiri....."ucap bima lalu memeluk orang tua itu dengan penuh haru.
"Kek bagaimana engkau bisa selamat saat kejadian tersebut?"tanya bima.
"Saat kejadian tersebut kakek sudah sekarat darah yang terus keluar membuat kakek tidak bisa menggerakkan tubuh tetapi pendengaran kakek mengingat semua kejadian tersebut. Penduduk kampung saat mengetahui kakek masih hidup sekalipun peluang sangat kecil langsung membawa kakek ke tabib untuk mendapatkan pertolongan dan Tuhan masih membiarkan kakek hidup agar dapat menceritakan kisah sebenarnya kepadamu. Kamu sudah tumbuh dewasa sekarang Bima... raut wajahmu mengingatkan kakek kepada mendiang ayahmu yang berwajah mirip denganmu"ucap sang kakek.
"Kalau seandainya eyang Kendil tidak menolong saya mungkin saya tidak ada lagi kek"ucap bima.
"Eyang Kendil dari puncak gunung salak?"tanya sang kakek.
"Iya kek, eyang yang merawat Bima. Mengajarkan baca, tulis dan berbagai ilmu kesaktian. Bima ingin membalaskan sakit hati bapak dan ibu kek"ucap bima.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabmu nak" kata kakek..
"Bima sebelum kau cari b******n-b******n itu ayo kakek antarkan mengunjungi makam bapak dan ibumu mereka pasti senang melihat kau mengunjungi mereka di alam mereka"ucap sang kakek.
"Iya kek, Bima juga ingin melihat makam bapak dan ibu"ucap pemuda itu.
Bersambung...