Seorang pemuda yang seperti menyimpan sesuatu dibelakang pakaiannya berjalan ditengah-tengah hutan dengan suara siulan yang tidak jelas mengikuti arahan dari anak buah Warok Anom yang sudah diampuninya.
Hutan-hutan besar yang mungkin umurnya udah puluhan tahun berdiri kokoh dengan ranting-ranting yang merambat turun membuat kesan seram saat masuk ke hutan tersebut tapi pemuda tersebut tampaknya tidak peduli semakin dalam dia memasuki hutan tersebut suasana semakin gelap seakan-akan sinar matahari tidak sanggup untuk menembus kerapatan pohon.
Pemuda tersebut terus saja bersiul-siul seperti orang edan tanpa ada rasa takut penghuni-penghuni halus dihutan tersebut mendengar siulannya.
“Aduh perutku lapar sekali...”kata pemuda itu dia lalu melihat sekelilingnya dan ternyata disebelah kanannya ada mangga hutan yang berbuah lebat.
Dia menggenjot kakinya dan langsung melesat ke atas pohon tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Sambil mengunyah mangga-mangga yang sudah dipetiknya dia duduk ongkang-ongkang kaki disebuah dahan yang besarnya hanya sebesar jari telunjuk tapi dahan tersebut tidak ada tanda-tanda akan patah nyatanya hanya orang-orang yang mempunyai tenaga dalam sempurna yang sanggup melakukannya.
Dia melihat dibawah pohon seorang perempuan celingak celiuk seperti mencari sesuatu yang hilang.
"Kemana larinya b*****t itu tidak mungkin hilang begitu saja" keluh perempuan itu.
Pemuda itu melihat dari gerak-geriknya perempuan itu seorang pendekar dengan pakaian hijau dan berpita hijau dengan selendang hijau melilit pinggangnya yang berpinggul besar.
Melihat parasnya yang ayu pemuda gondrong itu tertarik juga.
Gadis itu berparas bujur telur dan molek, kulitnya kuning dan potongan tubuhnya sedap dipandang mata.
Pemuda gondrong itu terus menatap dari atas yang tertutup dedaunan yang lebat saat dia sedang menimbang untuk turun dan berkenalan dengan gadis tersebut tiba-tiba terdengar siulan dari empat penjuru angin dan nyatanya gadis tersebut sudah terkepung oleh 10 orang bertampang bengis dan 1 orang yang berdiri agak jauh dan sepertinya pemimpin dari gerombolan itu.
"Mmmhh...Ternyata si Cepot tidak berdusta perempuan yang mengejarnya berparas sangat ayu" gumam orang tersebut.
Orang tersebut berkata, "siapa yang kau cari gadis ayu? atau kau sengaja datang ketempat ini untuk bersenang-senang denganku hahahahaha”ucap orang tersebut sambil tertawa tergelak.
Sepuluh orang yang mengepungnya hanya tertawa dan membasahi liur mereka.
“Ketua ternyata tidak usah kita cari perempuan untuk kita bersenang-senang sudah datang dengan sendirinya kita akan pesta malam ini warok. Hahahaha”ucap salah seorang dari mereka.
Tawa bergelak terdengar ditengah hutan tersebut.
“Cuih....dengar b*****t aku kesasar ketempat ini orang yang aku cari hilang ditempat ini”ucap perempuan molek tersebut.
“Orang yang kau cari ada di tempatku dan dia adalah anak buahku lebih baik kau datang ketempat ku dan menangkap sendiri orang itu. Bagaimana gadis manis?”ucap sang warok.
“Serahkan orang itu kepadaku sekarang atau aku obrak-abrik tempat ini” ujar sang gadis.
“Saya suka gadis ini beringas, ganas pasti juga ganas kalau ditempat tidur hahahahahaha...”tawa sang Warok.
“Siapa namamu gadis manis?”tanya sang warok.
“Orang sepertimu tidak pantas mengenal namaku lebih baik bawa orang itu kehadapanku atau aku kirim kalian semua ke neraka tempat asal kalian”ucap sang dara.
Masih dalam posisi mengurung sang Warok memberikan perintah, “kalian bertiga tangkap perempuan itu hidup-hidup!!!”perintah sang warok.
Setelah menjura memberikan penghormatan ketiga penjahat tersebut menyerang secara bersama-sama karena mereka memandang enteng sang gadis mereka hanya menggunakan kepalan untuk melumpuhkan sang gadis.
Tiga pukulan menderu dengan suara menggidikkan kearah kepala, d**a dan perut sang gadis. Dengan suara melengking gadis tersebut mengelakkan pukulan yang menderu kearah kepalanya, tangan kiri menangkis pukulan yang menderu ke arah dadanya sedangkan yang kearah perut ditangkis dengan tangan kanan dan tanpa diduga si gadis memutar tubuhnya kakinya terangkat memutar dan menghajar ketiga orang tersebut tanpa ampun.
Ketiganya langsung terkapar dengan kepala rengkah.
"Anjing kurap" maki sang Warok tanpa disangka gadis yang disangka lemah mampu membunuh ketiga anak buahnya dengan sekali gebrakan.
Sang pemuda gondrong diatas pohon kagum dengan gerakan sang dara dan terus mengawasi jalannya perkelahian.
“Anak-anak cincang perempuan tersebut!” perintah sang Warok.
Tujuh orang yang tersisa langsung menghunuskan golok masing-masing dan memperketat kurungan mereka.
Sang dara segera membuka selendang hijau yang melilit di pinggangnya.
Selendang tersebut diputar disekeliling tubuhnya.
Selendang yang terbuat dari kain bergerak lamban diseputar tubuhnya karena dialiri oleh aliran tenaga halus.
Mata jeli sang pemuda gondrong diatas pohon sudah mengetahui bahayanya saat lawan menyambutnya karena selendang tersebut akan menyerang balik dengan sangat cepat.
Ketujuh golok menderu kebeberapa bagian vital si gadis, kepala, d**a dan perut adalah bagian yang dipilih mereka untuk mencincang sang gadis.
Dengan tenang si gadis menyalurkan tenaga dalam pada selendangnya yang seperti hidup selendang tersebut bergerak menangkis setiap serangan golok yang menderu ketubuhnya.
Selendang sang gadis berbentrokkan dengan ketujuh golok membuat ketujuh penyerang melompat mundur dengan tangan yang mati rasa tetapi tetap mengurung sang gadis.
Sang Warok berkata, “Dara manis urusan bisa kita hentikan sampai sini jika kau bersedia ikut ke tempatku”ucap sang warok.
“Cuih....”si gadis meludah.
“Aku Dewi selendang maut hijau tidak takut dengan ancamanmu”ucap sang dara.
Tergetar juga sang Warok mendengar gelar sang gadis.
Dia tahu pendekar ini berasal dari pulau seberang tapi kini bisa berada di pulau Jawa berarti ada sesuatu yang dikejarnya.
"Ternyata pendekar besar dari pulau seberang" ucap sang Warok berpura-pura memberi hormat tapi tiba-tiba dari tangannya menderu cahaya biru angker menderu dengan cepat ke arah si gadis.
“Pukulan jalur biru” desis sang gadis.
Si gadis melipatgandakan tenaga dalamnya pada aliran selendang sehingga selendang berputar dengan sangat cepat sehingga cahaya hijau berpijar diseputar tubuhnya seperti menara yang sulit untuk ditembus.
Sang Dewi menyentakkan selendang hijaunya menyambut cahaya biru yang menderu kearah tubuhnya.
Sang dewi mengeluarkan pukulan selendang mengincar nyawa berpapasan dengan pukulan jalur biru menghasilkan suara dentuman keras tangan Warok Anom bergetar hebat!
Tiada nyana tenaga dalam sang Dewi yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya.
Dengan jungkir balik diudara sang Warok jauhkan diri untuk mengatur jalan nafas serta peredaran darahnya dengan cepat!
Ketika dia memandang sekelilingnya terkejutlah ia ketujuh anak buah yang masih tersisa menggeletak bergelimpangan ditanah berwarna hijau dan berwarna biru akibat dua pukulan sakti yang saling berbenturan dan menghantam mengenai anak buahnya yang berada tidak jauh dari pertemuan dua pukulan sakti tersebut serta mengepulkan asap.
”Gadis lacur......aku akan mengadu nyawa denganmu”ucap sang warok.
Sedangkan selendang sang Dewi robek diujungnya akibat benturan pukulan sakti tersebut.
"Dewi selendang hijau!" Desis sang Warok.
"Detik ini juga jangan harap engkau bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup....!”ancam sang warok.
Dari dalam bajunya sang Warok mengeluarkan senjata berupa sebuah tongkat mustika yang memancarkan cahaya hitam menggidikkan membuat sang Dewi sedikit tergetar dengan senjata ditangan lawannya.
Dia mulai memompa tenaga dalamnya kembali sehingga selendang tersebut meliuk seperti hidup.
“Dewi apa kau mengenal tongkat ditanganku ini? tongkat ini aku rampas dari tempat asalmu pulau seberang”ucap sang warok.
"Tongkat hitam kematian" desis sang Dewi.
Sepertinya sang Dewi sangat mengenal dengan pemilik dari tongkat tersebut.
“Kang Rawe Jembor......pantas kita tidak pernah berjumpa lagi ternyata kau sudah tiada dipulau ini ditangan b******n-b******n ini”gumam sang dewi.
Antara sang Dewi dan Rawe Jembor punya hubungan istimewa dimasa lalu sekilas bayangan-bayangan indah masa lalu terlintas dibenaknya saat mereka memadu kasih sayang disebuah teluk dipulau seberang tanpa terasa sebutir air mata jatuh dipipinya yang halus.
Dengan menahan kegeraman yang sangat sang Dewi berkata, “b*****t serahkan mustika tersebut kepadaku kau tidak punya hak memegang mustika tersebut”ucap sang dewi.
“Kalau kau punya kemampuan ambillah mustika ini dari tanganku sendiri sambil melintangkan tongkat yang memancarkan cahaya redup angker”tantang sang warok.
Sang Dewi dalam kemarahan yang luar biasa menyentakkan kain selendangnya.
Selendang tersebut laksana hidup mematuk ke arah Warok Anom.
Sang Warok memutarkan tongkatnya sehingga terlihat cahaya redup melindungi sang Warok.