Pemuda itu terbangun di tepi sungai, entah berapa lama setelah ia pingsan. Matahari telah tinggi. Burung-burung berkicau seakan tak ada yang terjadi semalam, seakan dunia tak peduli bahwa Embun Pagi telah lenyap dari muka bumi.
Tubuhnya penuh luka. Bajunya compang-camping, gosong di beberapa bagian. Tetapi rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan kekosongan di dadanya. Ia memaksa diri bangun dan berjalan tertatih kembali ke arah padepokan. Ia tahu itu bodoh. Ia tahu para pembunuh mungkin masih berkeliaran. Tetapi ia harus melihat.
Yang tersisa dari Perguruan Embun Pagi hanyalah reruntuhan hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Tiang-tiang yang dulu menyangga atap aula kini menjadi arang. Di mana-mana ada mayat—saudara-saudaranya, kakak-kakak seperguruannya—berserakan tanpa penghormatan. Pemuda itu berjalan di antara mereka, menyebut nama satu per satu dalam hati, karena tak ada lagi yang akan menyebutnya.
Ia menemukan jasad gurunya di tengah halaman, masih dalam posisi seperti hendak bangkit. Pemuda itu berlutut di sampingnya, menggenggam tangan tua yang kini dingin. Ia tidak menangis lagi; tangisnya telah ia tumpahkan semalam sampai kering. Yang tersisa hanya keheningan yang lebih pekat daripada tangisan.
Di samping gurunya tergeletak Hujan Perak—pedang kebanggaan Pendekar Hong Liu—patah menjadi dua di tengah bilahnya. Pemuda itu mengangkat gagang pedang yang masih menyisakan sepertiga bilah. Logamnya menghitam oleh api, ujungnya tajam dan runcing seperti taring yang patah. Ia menggenggamnya erat. Inilah satu-satunya warisan yang tersisa.
Ia mengubur gurunya sendiri, menggali tanah dengan tangan kosong hingga kukunya berdarah. Ia menandai makamnya dengan sebongkah batu. Tak ada nama yang ia ukir, karena ia tak punya alat, dan karena ia tahu gurunya tak pernah peduli pada batu dan ukiran. Ia hanya berbisik, "Aku akan mencari mereka. Sumpah."
Saat hendak pergi, ia teringat sesuatu. Di gerbang utama padepokan—atau yang tersisa darinya—dulu terpampang papan nama besar bertuliskan "Perguruan Embun Pagi" beserta daftar nama murid yang terukir di pilar batu di bawahnya. Sebuah tradisi: setiap murid yang resmi diterima namanya diukir di sana. Pemuda itu, yang belum genap menjalani upacara penamaan, namanya belum pernah terukir. Dan kini ia sadar dengan pahit: secara resmi, ia tidak pernah ada. Tak ada catatan tentangnya. Tak ada keluarga yang akan mencarinya. Tak ada nama yang bisa ditangisi orang.
Para pembunuh telah menghapus segalanya. Bahkan papan nama itu pun telah dibakar dan dirobohkan, seolah mereka ingin memastikan tak ada jejak Embun Pagi yang tersisa di dunia persilatan. Sejarah satu perguruan dihapus dalam semalam.
Pemuda itu berdiri di gerbang yang hangus, memandang reruntuhan untuk terakhir kalinya. Ia tidak punya nama. Ia tidak punya perguruan. Ia tidak punya guru. Yang ia miliki hanya sebilah pedang patah yang menghitam dan sebuah dendam yang membara.
"Kalau begitu," gumamnya pada angin, "biarlah aku tanpa nama. Sampai kuukir namaku dengan darah orang-orang yang melakukan ini."
Ia menyelipkan pedang patah itu ke balik pinggangnya, membungkusnya dengan kain robek agar tak melukai dirinya sendiri. Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan abu di belakangnya.
Di persimpangan jalan pertama yang ia temui, seorang pedagang keliling bertanya, "Hendak ke mana, Nak? Siapa namamu?"
Pemuda itu terdiam lama. Lalu menjawab, "Aku tidak punya nama."
Pedagang itu tertawa, mengira ia bercanda. Tetapi pemuda itu serius. Ia memang tidak punya nama—dan ia memutuskan untuk tidak mencari satu pun, sampai ia menuntaskan apa yang harus ia tuntaskan. Nama, kata gurunya, harus didapatkan dengan jasa. Maka ia akan mendapatkannya. Tapi bukan dengan kebaikan—melainkan dengan keadilan yang ditegakkan ujung pedang.
Hari itu, di bawah langit yang biru tak berdosa, seorang pemuda tanpa nama memulai pengembaraannya. Ia tak tahu ke mana harus pergi. Ia tak tahu siapa yang ia cari. Ia hanya tahu satu hal: ia masih hidup, dan selama ia hidup, para pembunuh gurunya tak akan tenang.