Wira benar. Yang berikutnya tidak ceroboh.
Gelombang kedua datang dua hari kemudian, dan kali ini musuh tidak menghambur ke jalur sempit. Mereka pecah jadi beberapa tombak. Sebagian menahan perhatian pertahanan di jalur utara dengan tembakan tak henti. Sebagian lain—yang Arga tak sadari sampai terlambat—memanjat lereng barat yang curam, sisi yang dikira terlalu sulit untuk dilewati pasukan besar.
"Sisi barat!" Suara Rendi pecah lewat radio lapangan, panik. "Mereka di sisi barat! Mereka menerobos parit—kami kewalahan—"
Arga merasakan perutnya jatuh. Sisi barat adalah titik lemah. Ia tahu itu, tapi ia menempatkan lebih sedikit orang di sana karena lerengnya curam, karena ia kira musuh tak akan repot-repot. Kesalahan. Kesalahan yang Dirga tak akan buat.
"Wira, ambil alih garis utara!" teriak Arga, sudah berlari. "Aku ke barat!"
Ia berlari menyusuri parit penghubung, peluru berdesing di atas kepalanya, sambil menyambar setiap orang yang bisa ia lepaskan dari garis lain. "Ikut aku! Kau, kau, kau—ke barat, sekarang!"
Ketika ia tiba di lereng barat, pemandangannya membuat darahnya membeku. Musuh sudah masuk parit terdepan. Pertarungan jarak dekat—bayonet, popor senapan, pisau. Ia melihat seorang prajurit muda pengganti—anak yang baru ia kenal namanya minggu lalu—tumbang dengan loreng musuh di atasnya. Ia melihat milisi desa, seorang peternak kambing yang dulu mengantar susu ke pos, bertarung mati-matian dengan parang melawan bayonet.
"SERANG!" Arga menerjang masuk.
Yang terjadi selanjutnya kabur dalam ingatannya nanti—kekacauan, teriakan, tubuh berbenturan tubuh. Ia menembak musuh dari jarak satu meter. Ia menghantam yang lain dengan popor. Ia menarik seorang milisi yang terluka ke balik tembok parit. Garis barat bergoyang di ambang patah—satu dorongan lagi dari musuh dan mereka akan tembus, dan kalau mereka tembus, mereka akan menggulung seluruh pertahanan dari sisi.
Di tengah kekacauan, Arga melihat Jaka.
Pemuda itu berdiri di celah parit yang paling terancam—titik di mana musuh paling banyak menerobos—menembak dengan tenang, menahan celah seorang diri sementara yang lain mundur. Wajahnya yang dulu pucat ketakutan kini keras seperti batu.
"JAKA! Mundur, terlalu terbuka di situ!"
"Kalau aku mundur, mereka tembus!" balas Jaka, masih menembak. "Aku tahan dulu! Bawa yang terluka ke belakang!"
Arga mengertakkan gigi. Anak itu benar. Seseorang harus menahan celah itu sementara garis ditata ulang. Ia memutuskan dalam sepersekian detik—membawa yang terluka mundur, menarik orang-orang segar ke posisi, sambil Jaka dan dua milisi menahan celah dengan nyawa mereka sebagai taruhan.
Selama beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup, garis barat tergantung di benang.
Lalu bala bantuan yang Arga kerahkan tiba di posisi. Senapan mesin diseret ke punggung lereng, mulai menyapu. Tekanan di celah berkurang. Jaka, yang lengannya kini berdarah dari serempetan, masih berdiri, masih menembak, masih menahan.
Perlahan—sangat perlahan—musuh di lereng barat mulai goyah. Mereka kehilangan momentum. Tanpa terobosan cepat, posisi mereka di lereng curam jadi jebakan: terlalu jauh dari kawan, terlalu terbuka. Satu per satu mereka tumbang atau merangkak mundur.
Garis barat menahan. Nyaris patah, tapi menahan.
Ketika tembakan reda, Arga menghampiri Jaka. Pemuda itu terduduk di dasar parit, gemetar, lengannya berdarah, tapi hidup. Di sekelilingnya tergeletak yang tak seberuntung dia—prajurit muda, milisi, tubuh-tubuh yang pagi tadi masih bernapas.
Arga berlutut di samping Jaka, mencengkeram bahunya.
"Kau gila," bisik Arga, antara marah dan kagum. "Kau bisa mati."
"Tapi garisnya menahan," kata Jaka, suaranya parau. Lalu ia menoleh, melihat tubuh-tubuh di sekelilingnya, dan wajahnya runtuh. "Pak Sukri... peternak itu... dia menahan di sebelahku. Dia tidak..."
Arga mengikuti pandangannya. Peternak yang dulu mengantar susu ke pos terbaring tak bergerak, parang masih di tangannya.
Arga menutup mata pria itu dengan tangannya. Lalu ia berdiri, dan menatap ke utara, dan tahu bahwa malam masih panjang.