Pada hari keempat pertempuran, hal yang paling Arga takuti mulai terjadi.
"Amunisi menipis di garis utara," lapor Rendi, wajahnya hitam oleh jelaga. "Senapan mesin yang besar tinggal dua peti. Parit timur sudah berbagi magasin satu sama lain."
Arga berdiri di balai desa yang kini jadi pusat komando, peta tergelar, lampu minyak berkedip. Ia menutup matanya sejenak. Bayangan lama menghantamnya—malam itu di pos, menghitung peluru satu per satu, empat magasin per orang, takut habis sebelum fajar. Dirga telentang dengan pistol kosong. Tomas menggenggam granat yang tak sempat dilempar. Bayu bersandar dinding barat dengan senapan di pangkuan.
Habis peluru. Itu yang membunuh mereka. Bukan karena mereka kurang berani. Tapi karena tak ada yang datang membawa peluru.
"Berapa lama lagi kita bisa bertahan dengan yang ada?" tanya Arga.
Wira, yang duduk di sudut sambil membersihkan senapan runduknya, menjawab tanpa mengangkat kepala. "Kalau seperti hari ini terusnya—dua hari. Mungkin kurang."
Dua hari. Dan musuh menunjukkan tak ada tanda akan berhenti. Setiap gelombang yang dipukul mundur digantikan gelombang baru. Mereka punya kedalaman yang Arga tak punya. Dua batalion, mungkin lebih. Lembah ini melawan banjir dengan seember pasir.
"Markas," kata Arga. "Mana bala bantuan markas? Mereka berjanji."
Operator radio menggeleng. "Sambungannya masih ada, tapi jawabannya selalu sama, Kak. 'Konvoi tertahan.' 'Jalur kecamatan diserang.' 'Bertahanlah.'"
Bertahanlah. Kata yang sama yang mereka dengar dulu. Tidak ada yang datang. Atau datang terlambat, setelah tiga pusara di bukit.
Arga merasakan amarah panas menjalar di dadanya. Lalu ia menelannya. Amarah tak membantu. Yang membantu adalah berpikir seperti Dirga.
"Baik," kata Arga, dan suaranya berubah—lebih dingin, lebih tajam. "Kalau peluru kita menipis, kita berhenti menghambur-hamburkannya. Mulai sekarang: tidak ada tembakan tanpa sasaran pasti. Setiap peluru harus mengenai sesuatu." Ia menunjuk peta. "Kita persempit garis. Tinggalkan parit terluar yang terlalu boros dipertahankan, tarik ke garis kedua yang lebih rapat. Lebih sedikit tanah, lebih sedikit dinding yang harus kita lindungi, lebih hemat peluru."
"Dan amunisi musuh yang jatuh?" tanya Wira.
"Kumpulkan semuanya." Arga teringat dulu, peluru dari mayat musuh yang mengisi senapan rampasan di balai. "Setiap musuh yang tumbang di depan parit kita, kita ambil magasinnya saat aman. Senjata kita dan senjata mereka memang beda, tapi kita punya cukup senapan rampasan untuk memakai peluru mereka. Bentuk regu pemulung—malam hari, merayap, kumpulkan semua yang bisa diambil."
Rendi menatapnya. "Itu... berbahaya. Mengambil dari mayat di tengah medan?"
"Semuanya berbahaya," kata Arga datar. "Yang lebih berbahaya adalah mati karena kehabisan peluru sementara ribuan butir tergeletak di depan parit kita."
Malam itu mereka melaksanakannya. Regu pemulung merayap keluar di kegelapan, mengumpulkan magasin, granat, senapan dari yang tumbang. Bahaya, ya—satu pemulung tak kembali. Tapi pagi harinya, peti amunisi mereka sedikit lebih penuh. Cukup untuk sehari lagi. Mungkin dua.
Menjelang fajar, Arga berdiri sendiri di menara pos puncak—menara baru di tempat menara lama runtuh dulu. Ia memandang ke bawah, ke parit-parit yang menyala oleh percik tembakan sporadis, ke desa yang bertahan, ke jalur utara yang masih menelan korban.
Wira naik menyusulnya, terengah di anak tangga terakhir.
"Kau memikirkan mereka," kata Wira. Bukan pertanyaan.
"Aku memikirkan peluru terakhir Dirga," kata Arga, tanpa menoleh. "Pistol dengan magasin kosong di tangannya. Aku terus bertanya-tanya—apa yang ia pikirkan saat menembakkan butir terakhirnya? Apa ia tahu tak ada lagi yang tersisa?"
Wira diam lama. Lalu ia berkata, "Aku tak tahu apa yang Dirga pikirkan. Tapi aku tahu ini—ia menembakkan butir terakhir itu menghadap musuh, bukan membelakangi mereka." Ia meletakkan tangan kanannya di bahu Arga. "Dan kali ini, Arga, kita tak akan kehabisan dengan diam. Kalau pun butir terakhir kita datang, kita akan menembakkannya dengan cara yang membuat mereka ingat."
Di timur, langit mulai memucat. Fajar lain. Hari lain. Dan Arga tahu, hari ini akan jadi salah satu yang terberat.