Serangan terbesar datang di siang hari kelima, ketika garis pertahanan sudah ditarik ke posisi terdalam dan peluru dihitung butir demi butir.
Musuh tampaknya tahu pertahanan melemah. Mereka melempar segalanya ke depan sekaligus—mortir tak henti, infanteri bergelombang, bahkan satu kendaraan lapis baja ringan yang merangkak masuk lewat jalur utara yang sudah mereka bersihkan dari rintangan.
"Kendaraan lapis baja!" teriak Rendi. "Senapan kita tak menembus itu!"
Kendaraan itu merayap maju, senapan mesin di atasnya menyapu parit-parit, memaksa pembela menunduk, membuka jalan bagi infanteri di belakangnya. Di mana pun ia mengarah, garis pertahanan tertekan turun, dan musuh maju. Ia merangkak menuju titik tersempit di garis kedua—titik di mana, jika ia tembus, seluruh pertahanan akan runtuh seperti domino.
Arga memutar otak panik. Bahan peledak mereka sudah habis dipakai. Granat tak cukup kuat. Roket anti-tank yang dijanjikan markas tak pernah datang.
"Wira!" Arga berputar mencari mentornya. "Tangki bahan bakar! Di mana titik lemahnya?"
Wira sudah di posisi runduknya, mata di teropong, tubuh setengah tertimbun karung pasir. Tangan kirinya yang cacat menahan ujung depan senapan sebisanya, tangan kanannya di pelatuk. Ia tak menjawab Arga. Ia hanya menatap kendaraan lapis baja itu lewat lensa, mempelajarinya seperti dulu ia mempelajari segalanya—dengan kesabaran yang tak masuk akal di tengah neraka.
"Wira, jawab aku—"
"Diam," kata Wira pelan. "Aku sedang menghitung."
Detik-detik berlalu seperti jam. Kendaraan itu makin dekat ke titik sempit. Senapan mesinnya menggerus. Seorang pembela tumbang di parit depan. Lalu satu lagi.
Wira melihat apa yang ia cari. Di sisi kendaraan, di sela pelindung—celah sempit tempat pengemudi mengintip, dan di baliknya, ruang sempit yang tak terlindung pelat tebal. Sasaran sebesar telapak tangan, bergerak, di tengah asap, dari jarak ratusan meter.
Tangan kiri Wira gemetar. Tangan yang cacat sejak granat di gudang pos, delapan bulan lampau—tangan yang membuatnya tak bisa lagi memegang senapan biasa, yang membuatnya jadi penunjuk arah dan bukan prajurit garis depan. Tangan yang menyimpan luka lamanya seperti pengingat abadi.
Arga melihat tangan itu bergetar, melihat Wira menggertakkan gigi, memaksa otot-otot yang tak lagi sepenuhnya menurut untuk diam, hanya untuk satu detik, hanya untuk satu tembakan.
"Tetaplah berdiri," gumam Wira pada dirinya sendiri—filosofinya sendiri, dipinjamkan pada tangannya yang cacat. "Sekali lagi. Cuma sekali lagi."
Ia menahan napas. Dunia menyempit jadi satu titik di ujung lensa. Kendaraan itu bergerak, ia memimpin sasaran, mengoreksi, dan di sela detak jantungnya—
Wira menarik pelatuk.
Tembakan tunggal itu nyaris hilang di tengah riuh pertempuran. Tapi di sela pelindung kendaraan lapis baja, di celah sempit yang hanya bisa dilihat mata yang terlatih delapan tahun, peluru itu menemukan jalannya.
Kendaraan itu terhuyung. Berhenti. Asap mengepul dari celah. Lalu pintunya terbuka dan awaknya berhamburan keluar—langsung jatuh oleh tembakan para pembela yang siaga.
Sejenak, seluruh medan seolah menahan napas. Kendaraan yang akan menembus garis itu kini diam mati, menghalangi jalur sempit, menutup jalan bagi infanteri di belakangnya.
"Dia kena!" teriak Rendi, suaranya pecah oleh ketakjuban. "Si tua kena! Dia kena!"
Sorak menjalar di sepanjang parit. Para pembela yang lelah dan terhimpit menemukan napas baru. Tanpa kendaraan itu, serangan musuh kehilangan ujung tombaknya. Mereka tersendat di jalur sempit, terjebak di belakang bangkai kendaraan mereka sendiri, dan tembakan dari lereng kembali menghujani mereka.
Arga merangkak ke posisi Wira. Kopral tua itu telentang di balik karung pasir, napasnya berat, wajahnya pucat oleh nyeri. Tangan kirinya yang cacat ia tekuk ke dada, gemetar tak terkendali sekarang setelah usaha mahaberat itu.
"Wira—" Arga mencengkeram bahunya.
Wira menatapnya, dan di sela rasa sakit, ia tersenyum—senyum lelah seorang lelaki yang baru saja meminta tubuhnya yang rusak melakukan hal yang mustahil, dan tubuh itu menurut.
"Kau lihat tadi?" bisik Wira, parau. "Tangan ini... masih bisa menembak sekali lagi."
Arga menahan sesuatu di tenggorokannya—antara tawa dan tangis. "Sekali yang terbaik yang pernah kulihat seumur hidupku."
Di utara, serangan musuh mulai tersendat di balik bangkai kendaraan, ragu untuk pertama kalinya hari itu. Tapi Arga tahu keraguan itu takkan bertahan lama. Mereka akan datang lagi—lebih marah, lebih banyak.
Ia menatap bangkai kendaraan yang menyumbat jalur utara, menatap Wira yang terbaring kelelahan, menatap parit-parit yang masih menahan dengan peluru terakhir mereka. Lembah ini belum jatuh. Tapi malam sebentar lagi turun, dan ia tahu malam akan jadi yang terpanjang dari semuanya.