Hujan turun tipis sejak tengah malam, dan di bawah cahaya kelabu subuh, jembatan kayu di ujung utara lembah tampak seperti tulang punggung yang patah tapi belum mau roboh. Arga berbaring di balik tanggul lumpur, teropong basah menempel di matanya, menghitung bayangan yang bergerak di seberang.
"Tiga gelombang," bisik Wira di sampingnya. Kopral itu berbaring miring, tangan kiri yang cacat disangga di atas batu, tangan kanan menggenggam senapan runduk. "Mereka tidak buru-buru menyeberang. Itu yang membuatku takut. Orang yang sabar biasanya yakin akan menang."
Arga tidak menjawab. Ia menurunkan teropong dan menatap jembatan itu — penyeberangan satu-satunya yang menghubungkan lereng utara dengan jantung lembah. Selama berhari-hari mereka memperebutkannya. Darah sudah meresap ke papan-papannya. Dan sekarang, dengan musuh menumpuk kekuatan di seberang sana untuk dorongan besar, jembatan itu berubah dari berkah menjadi pisau yang teracung ke leher mereka sendiri.
"Kalau mereka menyeberang malam ini," kata Arga pelan, "mereka masuk langsung ke desa. Tidak ada lagi garis di antara mereka dan rumah Pak Karto."
"Maka jembatan itu tidak boleh berdiri." Wira mengatakannya datar, seperti membaca cuaca.
Mereka berdua tahu artinya. Jembatan itu juga jalur pulang mereka sendiri — satu-satunya cara cepat menyeberangi sungai yang membengkak oleh hujan. Meledakkannya berarti memutus tangan mereka sendiri agar musuh tak bisa menggenggamnya.
Arga merangkak mundur ke parit, di mana Jaka dan dua prajurit pengganti — Hendra dan Rendi — menunggu dengan dua peti bahan peledak yang diselamatkan dari gudang lama. Tangan Jaka gemetar, bukan karena takut, tapi karena dingin dan kurang tidur yang menumpuk berhari-hari.
"Kau yakin tahu cara memasangnya?" tanya Arga.
"Wira yang mengajariku kemarin," jawab Jaka. "Tiga muatan di tiang tengah, satu di tiap pangkal. Sumbu listrik ditarik ke parit. Aku ingat."
Arga menepuk bahunya. "Aku ikut. Kau pasang, aku jaga. Hendra, Rendi — kalian tahan garis pepohonan. Kalau ada yang menyeberang sebelum kami selesai, hentikan. Jangan biarkan satu pun sampai tengah jembatan."
Mereka bergerak saat kabut paling tebal, menyusuri tepi sungai yang berlumpur. Air menggeram di bawah mereka, cokelat dan ganas. Arga membawa senapan siap, dadanya menempel di papan basah, sementara Jaka merayap dari tiang ke tiang, mengikat muatan, menusukkan detonator. Tangan pemuda itu kini mantap. Perang punya cara memaksa tangan menjadi tenang.
Tembakan pertama datang saat mereka di tiang kedua. Peluru menghantam papan sejengkal dari kepala Jaka, memuntahkan serpihan kayu.
"Mereka lihat kita!" teriak Hendra dari garis pepohonan, lalu senapannya menyalak, menjawab.
"Teruskan," kata Arga, berlutut, melepas tembakan ke arah kilatan moncong di seberang. Satu bayangan terjengkang. "Jaka, jangan menengok. Kerjakan."
Jaka tidak menengok. Ia mengikat muatan terakhir di pangkal seberang, jari-jarinya berdarah karena tertusuk kawat, lalu menarik sumbu mundur sambil merangkak. Peluru musuh kini berhamburan, mengoyak permukaan sungai, menumbuk tanggul. Rendi mengerang — sebutir menyerempet lengannya — tapi ia tetap menembak.
"Sumbu sampai parit!" Jaka berguling masuk lubang, basah kuyup, napas tersengal.
Arga menyusul, jatuh ke lumpur di sampingnya. Di seberang, ia bisa melihat mereka sekarang — bukan lagi bayangan, tapi sosok-sosok loreng berlari menuju jembatan, mencium bahaya, ingin menyeberang sebelum terlambat. Sepuluh. Lima belas. Mereka memenuhi pangkal jembatan, sepatu mereka menggedor papan.
"Tunggu," kata Wira dari parit sebelah, mata di teropong runduk. "Biarkan mereka di atas jembatan. Lebih banyak di atas, lebih sedikit yang sampai ke kita nanti."
Arga menggenggam detonator. Jantungnya berdebar di telinga. Ia menonton musuh memenuhi jembatan, berlari ke arah mereka, dua puluh langkah, lima belas. Wajah-wajah yang tak ia kenal, anak-anak orang lain, dikirim mati oleh perwira yang duduk di balik gunung.
"Sekarang," kata Wira.
Arga menekan tuas.
Dunia terbelah dengan suara yang menghantam dada lebih dulu sebelum sampai ke telinga. Jembatan terangkat di tengah, papan-papan beterbangan seperti daun, tiang-tiang patah, dan sosok-sosok loreng terlempar ke sungai yang lapar. Asap hitam membubung, ditelan kabut. Lalu yang tersisa hanya gemuruh air dan dua pangkal kayu yang menganga, terpisah oleh arus deras yang kini tak bisa diseberangi siapa pun.
Keheningan jatuh, ditingkahi rintik hujan dan erangan dari seberang.
Jaka menatap reruntuhan itu, wajahnya pucat. "Itu... jalan pulang kita juga."
"Ya," kata Arga. Ia bangkit, lumpur menetes dari seragamnya, menatap jurang air yang kini memisahkan mereka dari utara. "Kita baru saja membakar perahu kita sendiri. Tidak ada mundur lewat sini lagi."
Wira menurunkan senapan, wajah tuanya keras. "Mereka akan mencari penyeberangan lain. Itu butuh waktu. Waktu yang kita beli dengan tangan kita sendiri."
Dari seberang sungai, di antara kabut yang menipis, terdengar sebuah perintah dilolongkan dalam bahasa tetangga — tajam, marah, penuh tekad. Dan Arga, yang kini cukup lama mendengar bahasa itu untuk menangkap nadanya, tahu artinya tanpa perlu menerjemahkan kata.
Mereka tidak akan berhenti. Mereka akan datang dari arah lain. Dan komandan yang meneriakkannya — Arga mengenali suara itu sekarang — adalah orang yang sama yang dulu meratakan posnya.